Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Baju dinas malam


__ADS_3

Tiba- tiba tubuhku tertarik ke belakang dan sosok kokoh mendekap erat melindungiku agar aku meredam sikap bar- bar yg barusan ku tunjukkan. Tentu saja aku kaget, tapi ketika melihat keadaan yg sudah terkendali aku mengatur nafas yg ngos- ngosan.


Di sana sudah ada Papa, yg mungkin kembali lagi tak jadi kerja karena mendengar kabar bahwa di rumahnya ada keributan dan Mama yg menengahi. Dan sosok yg mendekapku tentu saja adalah pak suami yg dari tadi ku tungu- tunggu.


"Ada apa ini?" Tanya Papa dengan gaharnya. Ku akui di usia Papa yg sudah tak muda lagi, tapi Papa masih terlihat gagah dan tampan. Ku dengar sih, Papa masih ada keturunan Belanda jadi tak heran wajah Papa mertua masih nyrempet kebule- bulean.


"Siapa anda? Kenapa pagi- pagi membuat keributan di rumah kami?" Kembali lagi Papa bertanya pada perempuan yg bergaya bak sosialita yg ternyata dia juga sedang mengatur nafasnya.


"Saya Anita, sebenarnya kedatangan saya kemari mencari Delia. Tapi wanita itu tak memberitahukan keberadaan Delia" Jawabnya setelah menarik nafas panjang. Dia menunjuk ke arahku dengan dagunya.


Eh busyeeeng... songong banget nih perempuan satu. Gimana mau ngasih tahu, dia tadi udah nyolot duluan. Aku udah mau protes gitu, tapi saat mau buka mulut pak suami langsung mencegahku. Alhasih aku hanya mrengut dengan bibir manyun.


"Ada kepentingan apa anda mencari Delia?"


"Apakah saya bisa menemui orangnya saja? Kepentingan saya dengan wanita itu, jadi tolong panggil dia kemari!" Jawab Anita kekeh tetep pengen bertemu Delia.


"Delia sedang tak ada, kami orang tuanya. Jadi anda bisa berbicara dengan kami." Ucap Papa tegas.


Anita nampak terkejut. Dia memandang Papa dan Mama yg berdiri di depannya secara bergantian, kemudian bibirnya nampak menyunggingkan senyum sekejap.


"Jadi ****** itu masih punya seorang ayah?" Dia bergumam untuk dirinya sendiri tapi itu terdengar oleh telinga kami yg berada di sana.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Kali ini Mama terdengar shock mendengar gumaman Anita.


"Baiklah.. sebenarnya saya kemari mencari Delia, tapi karena dia tidak ada, saya akan bicara saja dengan Om dan tante." Anita mengambil nafas sebelum melanjutkan perkataanya.


"Tolong Om dan tante bicara pada Delia agar dia menjauh dari Papa saya. Saya rasa dia tak kekurangan kasih sayang dari ayahnya hingga dia mencari sugar daddy di luaran sana."


What? Aku yakin bukan hanya aku saja yg shock saat ini. Semua nampak mematung dan hening seketika. Ini hanya tuduhan saja atau memang sebuah fakta.


Ku lihat Mama memucat, dia bahkan limbung seketika dan Papa dengan sigap menopangnya.


"Sebaiknya.. ehem.. sebaiknya kita bicara di dalam saja." Ucap Papa nampak berusaha menormalkan suaranya.


Kami kemudian masuk, kecuali pak satpam, pak tukang kebun dan sopir Anita tentu saja. Papa mempersilahkan Anita memasuki ruang kerjanya dengan di ikuti Mama.

__ADS_1


Sebenarnya aku juga pengen ikut, tapi Mas Dipta tentu saja mencegahku.


"Ayo kita pulang!" Ajaknya.


Hah, yg benar saja.. Dia gak pengen tahu gitu apa yg akan terjadi selanjutnya. Bukankah ini menyangkut Delia, saudari angkatnya yg bahkan sempat mesra dengannya.


Aku harus cari alasan agar tetap berada di situ. Gak mau aku ketinggalan info sedikitpun. Apalagi ini sebuah issue yg serius.


"Tapi Mas, aku belum sarapan.." kataku yg apa adanya karena tadi aku menunggu dia untuk sarapan bareng.


"Nanti kita sarapan di jalan. Apa yg masih ketinggalan di kamar, ambil sekarang!" Katanya menarik tanganku untuk menaiki tangga menuju kamar.


Ampuuun deh, bete banget gak sih? Akhirnya akupun pulang karena Mas Dipta maksa. Kayak lagi nonton drama yg pas lagi seru- serunya kemudian malah bersambung, begitulah gaes aku sekarang.


.


Hari berlalu dengan cepat, sehari setelah kejadian itu ku dengar Delia sudah boleh di bawa pulang.


Dan sampai sekarang aku masih bertanya- tanya sendiri, kira- kira bagaimana kelanjutan drama yg bikin aku penasaran setengah mati itu.


Aku akan memikirkan strategi baru. Kira- kira apa yg bisa membuat dia mengajakku ke rumah mertua agar aku bisa mencari tahu sendiri.


Ahaaa.. seketika lampu bohlam menyala terang di atas kepalaku. Menjenguk Delia, ku rasa itu alasan yg tepat. Apalagi aku belum menjenguknya dari terakhir kita bertemu di rumah sakit itu.


Pas sekali, ku dengar mobil Mas Dipta memasuki garasi. Padahal ini baru jam 8 malam, kemarin- kemarin dia pulang pasti di atas jam 10 malam.


Aku menyambutnya dengan penuh antusias karena pengen menyampaikan usulanku tadi.


"Assalamualaikum." Salamnya, aku berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum yg ku pasang semanis mungkin.


"Walaikumsalam" jawabku kemudian menyalim tangannya.


"Hari ini gak lembur sampai larut Mas? Sudah makan?" Tanyaku perhatian. Mas Dipta tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berjalan memasuki kamar kami, aku terus saja mengekorinya di belakang.


"Aku mandi dulu ya. Habis itu aku masih harus menyelesaikan pekerjaan." Ucapnya.

__ADS_1


Aku bengong, jadi dia pulang dengan membawa pekerjaanya? Lalu untuk apa dia pulang, dia bisa bekerja di kantornya?


Dan benar, setelah dia mandi, sudah segar, sudah wangi. Tapi sayangnya, dia sedang tak menginginkanku. Dia menuju kamar sebelah yg sudah dia sulap menjadi ruang kerjanya dia.


Aku mondar- mandir sendiri di kamar, mencari cara agar bisa menyampaikan ide ku tadi dan bisa langsung di acc.


Akan aku buat dia menginginkanku malam ini, dan ketika dia sudah di ujung hasratnya aku harus memaksanya untuk mengajakku ke rumah mertua.


Aku mengubek- ubek isi lemari untuk mencari hal yg bisa mendukung ide gilaku ini. Ku lihat di dasar lemari ada beberapa bungkus belanjaan yg belum sempat ku bongkar. Seingatku itu belanjaan yg di belikan Mama ketika kita ke mall bareng beberapa bulan yg lalu.


Dan ketika ku buka. Whoaaaa... ternyata isinya baju dinas malam. Bisa cucok ini..


Sebuah dress malam berwarna hitam dengan bahan menerawang. Ketika ku pakai begitu menempel di badan. Belahan dadanya sangat rendah, dan di bawah ada belahan hingga ke paha.


Aku sangat malu ketika melihat diriku sendiri di cermin. Ketika Mama membelikan ini, kira- kira apa yg sedang di pikirkan Mama saat itu.


Aku menyahut sebuah kimono untuk menutupi tubuhku saat aku akan menghampiri Mas Dipta di ruangan kerjanya.


Dengan membawa segelas kopi yg masih mengepul asapnya aku mengetuk pintu ruangan kerja Mas Dipta.


Tok tok tok


"Masuk!" Ku dengar suara Mas Dipta dari dalam.


Dengan perlahan aku membuka pintu, dan ku lihat Mas Dipta duduk menghadap laptopnya tanpa menoleh ke arahku.


Hatiku berdebar dan tiba- tiba langkahku ragu untuk memasuki ruangan itu. Duh.. bagai masuk ke kandang singa ini.


Ayo Kania... jadilah gila malam ini. Lagian kamu juga sudah di anggurin beberapa malam ini.


"Kopi Mas.." ucapku dengan suara bergetar.


"Oh.. makasih." Jawab Mas Dipta tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Nampaknya layar laptop lebih menarik daripada wajah istrinya. Dia belum tahu saja, kalo istrinya sudah berubah binal malam ini.

__ADS_1


__ADS_2