
Hari itu aku melihatnya, melihat mas Dipta yg mungkin untuk pertama kali. Sejak mata ini menangkap sosoknya, seperti ada magnet yg terus membuatku ingin melirik ke arahnya. Selama 21 tahun hidupku, baru kali ini aku melihat sosok tampan yg nyata di depanku. Mungkin ada di luaran sana, tapi selama ini hidupku yg hanya di hadapkan dengan memenuhi kebutuhan hidup jadi tak pernah memperhatikan. Sejak saat itu hatiku bergetar, ku rasa aku telah jatuh cinta untuk yg kedua kalinya dalam hidupku. Setelah cinta pertamaku meninggal beberapa tahun yg lalu.
Secara garis besar mas Dipta memang tampan. Di usianya yg 28 tahun bahkan kita seperti sebaya. Kulitnya putih halus, alisnya tebal, meski matanya sedikit sipit tapi sungguh serasi dengan hidungnya yg mancung, bibirnya tak tebal malah sedikit tipis tapi sungguh berisi di atas dan bawahnya, rambutnya di potong cepak meski rambut depan sering menutupi sebagian dahinya apabila sedang tak mengenakan gel rambut. Aku yg perempuan jadi merasa kalah cantik dengannya.
Mas Dipta bukan orang yg ramah, meski mungkin sikapnya itu hanya dia tunjukkan padaku. Tapi setidaknya dia juga bukan pria yg dingin. Beberapa kali aku diam2 melirik ke arahnya, tapi sepertinya dia sama sekali tak tertarik padaku. Meski dia tak menolak perjodohan yg di lakukan mamanya, namun dia juga tak menerima dengan antusias.
Aku memang akhirnya menerima persyaratan yg di ajukan tante Ratna padaku. Sebelumnya aku mendapatkan kabar dari bibiku bahwa kondisi ibu semakin menurun dan operasi harus segera di lakukan. Maka dengan pertimbangan itu aku menyetujui perjodohan ini, apalagi tante Ratna bahkan berjanji untuk membiayai seluruh pengobatan ibu dan menanggung hidup adikku sampai semua pendidikannya. Begitu banyak yg ku dapat, jadi apakah menjadi serakah apabila mengharap perasaan ini terbalas oleh calon suamiku yg tampam itu?
Malam itu aku di minta menginap di rumah tante Ratna. Rencana yg tadinya malam ini aku akan langsung kembali ke kampung, namun ternyata ini di luar rencana. Besok aku akan kembali ke kampung dengan pesawat penerbangan pagi. Selesai makan malam, tante Ratna membawaku ke kamar yg akan ku tempati malam itu. Diapun membawakanku baju ganti untuk ku pakai malam itu. Sebuah baju terusan longgar dengan motif bunga2 yg akan nyaman di pakai saat tidur.
" mandilah, nanti selesai mandi tante akan menemuimu lagi." Ujar tante Ratna, kemudian berlalu keluar kamar. Akhirnya akupun mandi dan mengganti bajuku dengan baju pinjaman dari tante tadi.
Baju ini begitu pas di badanku. Dan terlihat manis saat aku mengenakannya, yah mungkin efek bajunya yg bagus. Baju siapa kira2 ini, apakah baju tante Ratna sewaktu muda dulu. Karena tante Ratna sekarang lebih berisi, sedangkan baju ini mungkin akan kekecilan kalo di badan tante Ratna. Entahlah.
Ku putuskan untuk keluar kamar mencari tante Ratna. Saat ku lewati ruang tangah, tak ada orang di sana, terus menuju dapur hanya ada seorang asisten rumah tangga di sana, saat ku tanya keberadaan tante Ratna, wanita separuh baya itu menjawab tak tahu.
__ADS_1
Aku keluar rumah melewati pintu belakang, siapa tahu tante Ratna ada di taman belakang rumah. Sepi di sana, namun aku menangkap sosok yg beberapa saat lalu ku kagumi, sosok itu berdiri dekat kolam ikan membelakangiku. Sepertinya dia sedang berbicara dengan seseorang di telpon, hingga kehadiranku tak di sadarinya.
" mas Dipta!" Panggilku, seketika mas Dipta memutar tubuhnya ke arahku dan menatapku.
Saat aku tersenyum melihat ke arahnya, berbeda dengan tatapan mas Dipta padaku. Dia seperti terkejut, matanya memindai dari atas ke bawah, kemudian ke atas lagi. Wajahnya menegang, matanya melebar dan ekspresinya seperti orang menahan amarah.
" kau? Baju itu...siapa yg mengijinkanmu memakainya?!" Tanya mas Dipta dengan penuh penekanan, rahangnya mengencang menahan ledakan amarahya.
Aku terhenyak, baju? Aku menunduk, melihat baju yg ku pakai. Kenapa dengan baju yg ku pakai ini, kenapa mas Dipta seperti marah sekali. Aku kembali menatap mas Dipta, kalo dia semarah ini aku bisa berganti lagi dengan bajuku yg tadi. Tak apa bau, tapi setidaknya tak menimbulkan kemarahan orang.
" mama yg meminjamkannya pada Kania..." tante Ratna mendekat ke arahku, kemudian meraih lenganku mendekapnya hangat.
" Kania tak membawa baju ganti, jadi mama meminjamkannya untuk di pakainya malam ini." Lanjut tante Ratna menatap ke arah mas Dipta.
Mas Dipta tak berucap apapun, dia hanya membuang muka sambil mengambil napas panjang. Mungkin sedang meredam amarahnya. Tante Ratna menarik tanganku, mengajakku kembali masuk. Sampai di dalam kamar, kami duduk bersisihan di pinggir ranjang.
__ADS_1
" kenapa tante ingin menikahkan kami, sepertinya mas Dipta tak menyukaiku" adu ku pada tante Ratna. Wanita itu tersenyum mengelus lenganku.
" dia bukannya tak menyukaimu Nia, hatinya hanya sedang bingung. Tante berharap hadirnya dirimu nanti bisa membimbing hatinya yg sedang hilang arah." Jawab tante Ratna dengan lemah lembut.
" tante...saya sendiri tak percaya diri. Bagaimana tante bisa berharap pada saya?" Tanyaku lagi, bagaimana bisa percaya diri. Bahkan sekalipun ku lihat mas Dipta tak melirikku. Tadi saja aku hampir kena semprot olehnya, gara2 baju yg ku pakai. Sebenarnya baju siapa ini?
" Kania, tante mengenalmu sejak kamu masih kecil dulu. Tante sedikit banyak tahu tentang dirimu, kamu adalah gadis yg pantang menyerah dan pekerja keras. Bersabarlah nanti ketika menghadapinya. Kamu ingat, pepatah jawa? Witing tresno jalaran saka kulino. Tante yakin dengan seringnya kalian bersama nanti akan luluh juga hati Dipta. Sejatinya Dipta bukan orang yg kasar, meski dia orang yg tak peka tapi dia orang yg baik. Percaya dirilah Nia..." tante Ratna mengusap punggungku, seakan sedang menguatkan aku. Ku tatap wajahnya yg masih terlihat ayu itu meski usianya sudah tak lagi muda. Ada ketulusan di matanya. Aku kemudian mengangguk, menjawab penjelasannya. Tante Ratna kembali tersenyum, dan bernapas lega.
" sekarang istirahatlah, besok pulanglah. Sembuhkanlah ibumu, dan tunggu kedatangan kami. Tante sudah tak sabar menanti hari itu." Tante Ratna mengusap kepalaku, kemudian berdiri hendak keluar kamar. Aku mengangguk, kemudian ingat akan satu hal.
" tante...kalo boleh saya tahu, memang baju siapa yg sedang saya pakai sekarang ini?" Tanyaku menghentikan tante Ratna yang akan membuka pintu hendak keluar. Tante Ratna menoleh ke arahku.
" itu punya Delia anak perempuanku, adiknya Dipta." Jawab tante Ratna kemudian membuka pintu dan benar2 keluar.
Aku tercenung mendengar jawaban dari tante Ratna. Tante Ratna punya anak perempuan? Lalu dimana dia sekarang? Yg ku lihat tadi hanya mas Dipta dan Dino. Kalo benar baju ini punya adik mas Dipta, kenapa dia harus semarah itu? Seakan tak rela baju ini di pakai orang lain.
__ADS_1