
Perjalanan kali ini terasa berbeda, mungkin karena bersama dengan orang yg tercinta kesedihan saat berpisah dengan Ibu dan adikku sudah tak begitu lagi terasa.
Sepanjang perjalanan Mas Dipta terus memperhatikan kenyamananku, membuat 3 jam perjalanan darat dan udara tak begitu terasa. Kita tiba di rumah Mama Ratna menjelang waktu makan malam tiba. Yang tak seperti biasa, kedatangan kami di sambut oleh Mama yg seperti acuh pada Mas Dipta. Sikapnya bertolak belakang terhadapku. Dia memeluk, mencium kedua pipiku dan menanyakan kabar Ibu dan adikku yg di kampung.
Aku melirik Mas Dipta, yg sepertinya dia maklum dengan sikap Mama Ratna yg seperti itu. Entah apa yg membuat sikap Mama jadi seperti itu pada Mas Dipta, yg pasti ku yakini ini berhubungan dengan pagi- pagi dia menelpon Mas Dipta saat masih berada di kampung.
"Kita langsung makan saja ya. Kalian ke ruang makan dulu, Mama akan panggil Papa dulu di ruang kerjanya." Kata Mama kemudian berlalu menuju ruang kerja Papa.
Aku dan Mas Dipta saling pandang, namun Mas Dipta lebih dulu memutus pandangannya padaku.
"Ayo kita tunggu Mama dan Papa di ruang makan." Ajaknya lebih dulu melangkah ke sana, aku pun mengikutinya.
"Mas, ada apa dengan Mama? Apa Mas Dipta bertengkar dengan Mama?" Tanyaku ketika kita sudah duduk berdua di meja makan.
Ku dengar Mas Dipta mengambil nafas dalam. Setelah itu dia memegang tanganku yg berada di bawah meja, ku rasakan genggamannya begitu erat. Aku menatap genggaman tangannya yg seakan dia membutuhkan kekuatan tambahan dariku.
"Aku harap kamu akan selalu ada di sisiku, Nia." Ucapnya.
Aku termangu mendengarnya, bukankah yg harusnya khawatir seperti itu adalah diriku. Kenapa Mas Dipta yg jelas- jelas tahu bagaimana perasaanku padanya malah jadi menggalau begini.
Aku hendak bertanya lagi, apa yg sedang terjadi. Tapi ku urungkan karena kedatangan Mama dan Papa mendekat ke arah meja makan.
Kami pun langsung makan malam dalam suasana yg ku rasakan sedikit kaku. Aku hanya mendengar Papa dan Mas Dipta membicarakan masalah pekerjaan. Mama bahkan tak sedikitpun bertanya pada Mas Dipta tentang kabarnya yg seminggu ini tak ia jumpai.
__ADS_1
"Papa dan Mama ada yg ingin di bicarakan denganmu Dip. Kita ke ruangan kerja dulu ya." Kata Papa setelah semua selesai makan. Aku menatap Papa, Mama dan Mas Dipta berganti- ganti.
"Kamu naiklah dulu Nia, mungkin nanti kami juga akan berbicara denganmu. Untuk saat ini kamu istirahat dulu ya." Ucap Mama lembut, mengerti kebingunganku.
Aku hanya mengangguk saja, tak berani bertanya apapun. Sebelum beranjak dari sana aku menatap Mas Dipta, yg ternyata dia pun juga sedang melihat ke arahku dengan tatapan yg sendu seakan dia tak akan lagi melihatku.
Aku menaiki tangga menuju kamar dengan kepala yg terus bertanya- tanya sendiri. Ku rasa Mas Dipta telah membuat kesalahan, dan sekarang dia seperti sedang di interogasi. Tapi apa kesalahannya itu? Sepertinya aku juga ikut terseret, buktinya tadi Mama bilang dia mungkin juga akan berbicara denganku. Kira- kira apa itu?
Aku memasuki kamar yg ternyata koperku dan koper Mas Dipta sudah berada di sana. Pasti Mbok Asih atau Mbok Pur tadi yg membawanya ke sini. Aku meletakkan tas selempangku di atas sofa lalu beranjak ke kamar mandi untuk segera bebersih.
15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, Mas Dipta masih belum ada tanda- tandanya kembali. Sekarang sudah hampir jam 9 malam, akupun mengambil sajadah dan mukena untuk melaksanakan sholat isya'.
Selesai sholat isya' aku tak lantas berbaring di ranjang. Sebenarnya aku begitu penasaran dengan apa yg Papa dan Mama bicarakan pada Mas Dipta. Namun aku juga tak enak untuk mencari tahu apa yg sedang terjadi. Demi menghilangkan rasa jenuh menunggu, aku membuka layar hp ku dan melihat ada beberapa chat di sana. Dari adikku, yg menanyakan apakah sudah sampai atau belum. Ada juga dari Amel, yg sudah tak sabar mau ketemu besok hari senin. Karena dia juga mengambil semester pendek denganku.
Belum juga aku membalas pesan- pesan yg masuk ke hp ku, aku sudah mendengar pintu kamar di ketuk beberapa kali. Aku meletakkan asal hp ku di atas sofa dan berjalan mendekati pintu kamar.
"Iya mbak, maaf mengganggu. Itu di tunggu Bapak sama Ibu di ruang kerjanya Bapak." Jawabnya. Aku mengangguk mengerti.
Aku dan Mbok Pur berjalan beriringan menuruni tangga. Sesekali ku lirik Mbok Pur yg menurutku raut wajahnya begitu menunjukkan kecemasan. Sebenarnya ada apa dengan semua orang, sampai Mbok Pur yg jarang menunjukkan ekspresi mukanya pun ikut- ikutan cemas.
Aku dan Mbok Pur berpisah di ujung tangga, dia berjalan ke arah belakang menuju kamarnya sedang aku menuju ruang kerja Papa.
Sebelum masuk, ku ketuk dulu pintu yg tertutup itu. Tanpa menunggu jawaban dari dalam.aku segera membukanya. Dan nampak di dalam ruangan itu, Papa, Mama dan Mas Dipta duduk di sofa saling berhadapan. Pembicaraan mereka terjeda kala aku masuk.
__ADS_1
"Papa dan Mama memanggilku?" Tanyaku, ku lihat wajah Mas Dipta ada gurat kesedihan di sana.
"Duduklah Nia!" Titah Papa, aku pun duduk di sebelah Mama yg duduk di sofa yg panjang.
"Maafkan kami Nia.. maafkan kami selaku orang tua Dipta." Ucap Papa lagi membuka pembicaraan malam itu denganku. Mama sudah menangis. Dan aku bingung, sebenarnya apa yg mereka ingin bicarakan. Ku lirik Mas Dipta, dia malah menundukkan wajahnya dalam.
"Ini ada apa ya Pa? Ma?" Tanyaku, suaraku sedikit bergetar. Sudah menduga- duga hal buruk akan terjadi.
"Kita sudah tahu semauanya, Papa dan Mama sudah tahu mengenai hubunganmu dengan Dipta." Jawab Papa lagi. Aku jadi semakin bingung.
"Hubungan yg bagaimana maksud Papa?" Tanyaku tak sabar, tanganku sudah berkeringat dingin. Papa menghela nafasnya.
"Kalian tak pernah menggunakan kamar yg sama selama di rumah kalian. Dan bahkan Dipta membuat kesalahan yg fatal dengan memberikan salah satu kamar di apartemennya untuk wanita lain, dan sampai sekarang masih menyimpan barang- barangnya di sana. Dan parahnya lagi, kamu bahkan sudah mengetahui itu Nia, namun kamu tak marah atau meminta penjelasan apapun mengenai itu pada suamimu." Terang Papa.
Aku mendadak shock dengan penjelasan Papa, mataku berputar- putar tak fokus. Tanganku yg dingin, sekarang tambah bergetar. Apalagi ku dengar Mama sudah terisak, membuat bibirku komat- kamit tak bisa berkata apapun.
"Pa.. papa ta..tahu dari mana?" Susah payah aku berbicara, mulutku seakan kering jadi terbata- bata.
"Tak penting kami tahu dari mana. Yg jelas kami benar- benar kecewa dengan kalian. Terutama dengan Dipta. Kami rasa kalian harus intropeksi diri kalian masing- masing!" Tegas Papa sedikit meninggi nada bicaranya.
"Maafkan saya Pa.." lirih Mas Dipta berbicara, matanya berkaca- kaca penuh penyesalan.
"Papa dan Mama sudah mengambil keputusan.." ucapan Papa menggantung. Jantungku sudah berdetak cepat menunggu kalimat yg akan Papa katakan selanjutnya.
__ADS_1
"Untuk sementara, kalian harus pisah dulu!" Lanjut Papa.
Itu bagaikan petir di siang bolong. Pisah bagaimana maksudnya?