
Mas Dipta yg ku sembur tak bereaksi apapun. Dia malah hanya bengong, entah apa yg dia pikirkan. Dan tiba- tiba dia seperti orang yg semangat gitu, ngambilin mangkok berisi bubur dan kekeh menyuapi aku makan.
"Habis makan, kita ke dokter ya? Periksa." Katanya sambil telaten menyuapi aku bubur sesuap demi sesuap.
"Iya Mbak, mending langsung periksa. Biar tahu apa yg boleh dan tidak boleh di lakukan selama hamil muda.." Mbok Asih malah menambahi. Duh.. yg aku makan itu bubur kan ya? Tapi kok berasa seret..
"Yg hamil tuh Delia, bukan aku. Aku hanya masuk angin aja, habis ini istirahat, agak siangan nanti pasti udah gak papa." Kelitku. Mas Dipta juga, kenapa jadi ikut- ikutan Mbok Asih. Udah mesam- mesem aja dari tadi, binar- binar bahagia begitu terlihat dari kedua matanya.
"Ya gak papa periksa juga, kan nanti bisa sekalian konsultasi kalo memang belum hamil." Mas Dipta kayaknya belum nyerah ngajakin aku buat periksa.
"Aku mau istirahat aja Mas.. aku hanya kurang tidur, sama aku kan dari kemarin siang belum makan. Jadinya drop deh."
"Oke... butuh temen tidur gak?" Tanyanya dengan alis naik turun. Astoge.. nih orang, bikin selera makan orang ilang. Mana masih ada Mbok Asih lagi, aku kan jadi malu- malu mau hehe...
"Wiiss... Mbok tak nyingkir aja. Daripada nanti Mbok yg jadi setan, biar Mas Dipta sama Mbak Kania berduaan aja." Ucap Mbok Asih kemudian pergi dari kamar.
"Mas, kamu gak kerja po?" Tanyaku setelah kepergian Mbok Asih.
"Bentar lagi. Tadinya mau sekalian berangkat kerja, sekalian mengantarmu pulang. Tapi kayaknya lebih baik kamu di sini aja dulu, ada yg ngurusin. Takutnya nanti kamu butuh apa- apa."
Mas Dipta memberikan suapan terakhir bubur di mangkok. Ternyata meski di awal tadi berasa begah di perut dan kayak gak habis gitu, tapi kalo di suapi sama yg tersayang lama- lama habis juga.
"Sudah, kamu sekarang istirahat lagi. Biar cepet sehat." Ucapnya lagi sambil mengusap puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Setelah itu, Mas Dipta berganti baju bersiap mau kerja. Saat akan menghampiriku lagi, ada ketukan dari arah luar pintu. Mas Dipta berbalik untuk membukakan pintu.
Ada Mama yg membawakan cemilan buah yg sudah di iris- iris dalam piring. Dia tersenyum cerah ketika melangkah masuk kamar sambil menatapku.
"Gimana? Sudah enakan?" Tanya Mama duduk di pinggir kasur dekatku.
"Alhamdulillah sudah Ma, ini tadi dah makan bubur sampe habis." Jawabku.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini Mama bawakan buah. Biasanya kan pengen yg seger- seger kalo lagi fase ngidam." Seloroh Mama yg membuatku mendelik. Ini kenapa si Mama juga ikut- ikutan? Haruskah aku memberikan pengumuman, bahwa di perut ini tidak sedang mengandung bayi tapi mengandung angin yg membuatnya jadi kembung?
Mas Dipta nampak terkikik.
"Sudah di aminkan saja, gak usah sewot gitu. Aku berangkat dulu ya." Mas Dipta mengecup keningku, akupun mencium tangannya.
"Hati- hati ya Mas.."
"Iya, nanti kalo pengen apa- apa kirim pesan saja ya. Biar nanti saat pulang aku bisa bawain." Mas Dipta mengelus lembut kepalaku, ku anggukan kepalaku untuk menjawabnya.
Tak lupa, Mas Dipta pun mencium tangan Mama sebelum beranjak dari sana.
"Dipta nitip Kania ya Ma.." ucapnya sambil berlalu.
"Iya hati- hati ya Dip, gak usah khawatir." Jawab Mama.
"Apa kamu butuh sesuatu lagi Nia? Ada satu lagi wanita hamil yg harus Mama urus soalnya." Tanya Mama setelah kepergian Mas Dipta.
"Tidak Ma, terima kasih. Dan sebenarnya Nia gak hamil Ma, cuma masuk angin. Ini nanti setelah istirahat pasti sudah kembali pulih, jadi Mama gak usah khawatir." Ucapku bermaksud membuat Mama agar fokus saja kepada Delia.
"Iya Ma.." jawabku mengiringi kepergian Mama dari kamar.
Perutku berangsur membaik, tak lagi ada rasa mual. Sekarang berganti mata yg begitu lengket ingin segera di pejamkan. Baiklah.. mari kita memejamkan mata sejenak agar tenaga kembali pulih.
Menjelang siang aku terbangun dengan perut yg terasa lapar. Biasanya emang begini, habis sakit terus dikit- dikit laper. Karena badan udah seger, udah fit, dan mata udah gak sepet, aku keluar kamar menuju tempat yg biasanya banyak makanan di sana, ruang makan dan dapur.
Sepi, tak ada orang satupun yg ku jumpai. Rumah segede ini, kalo sepi jadi horor. Tapi mendadak tambah horor, saat aku melihat seonggok eh.. sesosok wanita yg duduk di meja makan menikmati makan paginya atau makan siangnya. Entah, karena waktu begini terlalu nanggung disebut pagi ataupun siang.
Aku melewatinya saja, dan terus menuju area dapur. Membuka kulkas berharap ada sesuatu yg enak di dalam sana.
"Kania.. Kania, kamu mau berbagi denganku?" Tanya wanita yg duduk di meja makan tadi yg tak lain tak bukan adalah Delia.
__ADS_1
Maksudnya berbagi apa? Berbagi suami? Oh, big NO!! Aku tak rela suamiku di bagi- bagi, biar cintanya utuh untukku seperti cintaku padanya. Eh ciyeeeh...
Aku menatapnya dari dalam kitchen bar. Ternyata maksudnya dia adalah menawariku makanan yg sedang di santapnya. Duh sudah su'udzon duluan diriku, tapi gimana ya kalo liat dia dengan senyumnya yg terus mengembang di bibirnya itu membuatku ingin berburuk sangka terus padanya. Astaghfirullah...
Aku duduk berhadap- hadapan dengannya. Aku sudah membawa jus dan beberapa potong kue dari dalam kulkas tadi. Delia sendiri sedang makan oatmeal dengan taburan buah berry dan ada semangkok salad buah di depannya.
"Kamu bisa makan salad buahnya kalo mau.." ucapnya lagi dengan mendorong mankok salad buah ke dekatku.
"Tidak, terima kasih. Aku tadi sudah makan buah." Jawabku dengan mendorong lagi mangkok salad buah ke depannya. Duh salah apa si salad buah itu, dorong sana dorong sini...
"Jadinya, kamu hamil atau tidak? Mas Dipta sudah so happy mengira kamu hamil. Bayangkan kalo kamu tidak jadi hamil, pasti dia akan sangat kecewa." Ucapannya itu alus tapi kok berasa nylekit ke hati ya..
Lalu bagaimana dengan dia, yg pulang- pulang dalam keadaan hamil tanpa tahu siapa yg menghamilinya. Apa gak bikin kecewa semua keluarganya. Hadeeh.. ingin ku berkata kasar, tapi ingat ini rumah mertua dan yg aku hadapi ini wanita hamil.
"Gak tuh.. Mas Dipta gak kecewa. Malah dia semangat untuk bikin terus agar bisa cepet jadi bayi." Jawabku yg aku sendiri kaget kenapa bisa jawab kayak gitu. Semangat bikin bayi? Heol.. omongan macam apa ini?
"Omong- omong, sudah berapa lama kalian menikah?" Tanyanya lagi, kayaknya dia mencari jurus lain untuk merusuh lagi.
"Emh.. hampir 7 bulan. Apa kamu juga selama itu di luar negeri? Lalu apa yg kamu lakukan di sana?" Aku bertanya tulus, tak ada niatan apapun. Aku berpikir, di sana dia sendirian pasti kesepian apalagi dalam keadaan hamil. Siapa yg mencarikan makanan selagi dia mengidam? Apakah itu sebabnya dia jadi kurus begitu?
Namun mendadak aku menyesal dengan niat tulusku itu. Dia hanya tersenyum mencurigakan sambil bersender ke kursi dengan tangannya mengelus- elus perutnya yg jelas membuncit.
"Usianya juga hampir 7 bulan. Mas Dipta tentu akan senang mengetahuinya." Yg ku tanya apa, dia jawabnya apa. Jaka sembung banget, tapi pasti dia bermaksud memberitahu aku.
Tentu saja aku, di sana tak ada lagi orang lain. Lalu apa maksudnya dengan Mas Dipta akan senang mengetahuinya? Astoge.. jangan- jangan.. ah tidak- tidak, jangan berprasangka dulu.
Ku lihat dia sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan. Padahal makanannya belum habis, apalagi salad buahnya malah belum tersentuh sama sekali.
"Aku sudah kenyang, biarkan saja ini di sini. Nanti biar Mbok Asih atau Mbok Pur yg membereskan." Katanya lalu pergi meninggalkan aku yg masih bingung dan meyakinkan diri bahwa niat Delia hanya merusuh saja.
Ku lihat mbok Pur datang ke arah kami, melihat Delia yg pergi meninggalkan meja makan. Ku pikir dia akan memberesi piring bekas makannya dia. Namun, dia malah menggandeng tangan Delia membantunya jalan. Tapi dasar Delia gak tahu terima kasih, dia malah menepiskan tangan Mbok Pur begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa tak di habiskan makannya? Kamu tadi bilang ingin makan makanan itu.." ujar Mbok Pur yg masih sempat ku dengar.
Kenapa mereka nampak begitu dekat, bahkan Mbok Pur memanggil Delia dengan 'kamu'?