Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Panas Dingin


__ADS_3

Ceklek


Aku membuka pintu perlahan, mengintip dari celah pintu yg ku buka sedikit. Tapi tak ada siapapun di sana. Aku jadi mengernyitkan dahi, lalu siapa yg menyalakan lampu?


Aku jadi hanya mematung di depan kamar yg pintunya sudah ku buka lebar- lebar. Sesaat aku merasa bulu di belakang tengkukku meremang. Aku jadi tegang.


"Kamu baru pulang?"


Mendadak suara dari belakang mengagetkanku, aku bahkan berteriak kecil saking kagetnya. Jantungku seakan mau melompat keluar, tubuhku kaku tak berani menoleh ke belakang.


"Nia.. ada apa? Kamu tak apa- apa?" Tanyanya menghampiriku. Aku mengerjap melihatnya.


"Mas.. Mas Dipta?" Mataku melebar lalu mengerjap- ngerjap masih tak percaya dengan yg ku lihat. Apa ini hanya halusinasi.


"Hem.. kenapa pucat sekali?" Tanyanya lagi, aku tak menjawab hanya terus melihatnya seakan kalo aku berpaling sebentar saja, dia akan menghilang.


"Kenapa menatapku seperti itu? Ayo masuk!" Dia menarik tanganku, mengajakku masuk kamar. Di dalam kamar pun aku masih terdiam, terlalu shock, karena aku tak mengira orang yg menyita otak dan pikiranku selama beberapa hari ini sekarang ada di depanku.


"Kenapa malah diam sekarang? Tak seperti pesanmu yg begitu banyak kamu kirimkan padaku."


"Kemarilah !" Mas Dipta merentangkan tangannya, dan detik berikutnya aku langsung menghambur ke dalam pelukannya.


Ku dekap erat tubuhnya, sambil menciumi aroma yg keluar dari tubuhnya. Ya, wangi ini yg benar- benar membuatku merindukan dirinya.


"Apa kamu merindukanku?" Tanyanya masih memelukku, aku tak sanggup berkata- kata, yg ku lakukan hanya mengangguk beberapa kali. Mataku bahkan sudah berkaca- kaca. Mas Dipta terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya. Mas Dipta mengusap rambutku perlahan.


"Mas Dipta kenapa gak bilang kalo mau pulang sekarang?" Tanyaku. Dia mengurai pelukannya, kemudian mengajakku duduk di tepi ranjang.


"Ini mendadak juga. Ketika kerjasama tender berhasil aku langsung pulang. Aku bahkan meninggalkan Leni di sana." Jawabnya, tangannya mulai bermain- main dengan rambutku yg tadi sempat di blow, di gulung- gulungnya dengan jari- jarinya.


"Apa dia tak apa- apa di tinggalkan?" Aku bertanya seolah khawatir.


"Hem.. lagipula semua sudah beres."


"Ada apa dengan rambutmu?" Tanyanya.


"Emh.. aku hanya menatanya sedikit tadi dengan Amel. "


"Apa kamu bersenang- senang hari ini?"


"Bersenang- senang apanya? Amel mengajakku nonton film horor yg sepanjang film aku hanya menutup mata dan telinga. Sampai rumah, tiba- tiba lampu kamar sudah nyala. Mas Dipta tahu, bagaimana takutnya aku. Ku pikir hantu dalam film itu sedang mengikutiku.."

__ADS_1


"Kamu mengira aku hantu?" Mas Dipta sudah terkikik. Aku mencebik.


"Jangan meledekku!" Aku bersungut- sungut.


"Baiklah.. pantas saja tadi mukamu pucat. " Mas Dipta masih tertawa. Aku tambah manyun.


"Apa menurut Mas Dipta itu sangat lucu?" Sewotku.


"Kamu sangat menggemaskan." Jawabnya mengusap pipiku. Tatapan Mas Dipta semakin intens, aku merasa dia semakin mendekatkan wajahnya padaku. Sepertinya aku tahu apa yg akan dia lakukan selanjutnya. Namun, aku langsung berdiri, ingat bahwa aku seharian keringetan dan belum mandi.


"Aku..aku mau mandi dulu." Ucapku, langsung berlari ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian aku keluar dari kamar mandi. Ku lihat Mas Dipta sudah berbaring di kasur. Matanya terpejam, dia sudah tidur? Tiba- tiba rasa kecewa menelusup ke dalam hatiku. Aku masih merindukannya, apa aku kelamaan di dalam kamar mandi? Aku masih ingin ngobrol dengannya, bercengkerama dan melakukan aktifitas yg lain. Oh God, pikiranku, aktifitas yg lain itu seperti apa?


Yah, mungkin mas Dipta kecapekan. Ku selimuti tubuh mas Dipta. Dan mengganti lampu kamar dengan yg lebih redup.


Akhirnya aku pun berbaring di sebelah mas Dipta, ku regangkan otot- ototku sebentar dan mencari posisi nyaman.


"Kania." Suara Mas Dipta mengejutkanku, ku kira dia sudah terlelap tapi ternyata dia hanya merem saja.


"Mas Dipta, ku kira sudah tidur. Ada apa mas?" Tanyaku sambil tidur miring ke arahnya.


"Gak bisa tidur."


"Ini terlalu dingin. Aku butuh sesuatu yg menghangatkan."


"Hah? Masa' sih?" Padahal ac sudah ku setel dengan suhu normal. Bahkan aku yg mudah kedinginan pun merasa biasa saja.


Aku beringsut turun, mau cari remot ac untuk menaikkan suhu nya. Setelah ketemu mas Dipta malah bangun dan menyibakkan selimut yg ku pasangkan tadi.


"Mau apa?" Tanyanya.


"Katanya dingin, aku mau naikin suhu ac nya." Jawabku.


"Jangan di naikin, lebih baik di turunin saja." Dia merebut remot ac dari tanganku dan menekan tombol di sana, seketika ruangan menjadi lebih sejuk.


Ucapan Mas Dipta membuatku bingung, orang kedinginan kok malah di turunin lagi suhunya.


"Mas Dipta lagi sakit ya?" Tanyaku, siapa tahu dia dingin di dalam tapi panas di luar kayak kulkas.


"Gak, sini.. ini sudah dingin beneran." Katanya, dia menyuruhku naik lagi ke atas kasur.

__ADS_1


"Aku mau ambil sweater dulu mas." Aku akan berbalik menuju lemari.


"Untuk apa?"


"Dingin, aku takut masuk angin." Jawabku, suhu ruangan memang semakin lama semakin dingin. Bulu- bulu di tanganku bahkan sudah berdiri semua.


"Gak akan masuk angin. Kan ada aku."


"Hah?"


"Udah cepetan, makanya sini!" Mas Dipta menarik tanganku agar segera naik ke kasur. Aku yg masih belum paham hanya menurutinya dengan wajah yg penuh tanda tanya.


Ku baringkan tubuhku di samping Mas Dipta, dan segera Mas Dipta menyelimutiku. Kemudian dia pun mulai ikut berbaring. Menelusup ke bawah selimut yg tebal bersamaku.


"Tidurnya jangan jauh- jauh. Sini deketan biar lebih anget." Katanya, aku tanpa curiga sedikit pun mulai mendekatkan diriku padanya.


Dan dengan sekali tarikan di pinggangku, dia membuat tubuhku menempel padanya. Dia menangkup seluruh tubuhku, dan membuatku hangat seketika. Namun darahku juga ikut menghangat dan malah menciptakan suasana jadi panas.


"Mas.. a aku sudah tidak kedinginan." Aku malah jadi terbata.


"Baiklah, kita berpelukan saja." Ucap Mas Dipta, dia bergeser memberi jarak di antara kita. Namun tangannya terus melingkar di pinggangku.


Duh, alamat aku takkan bisa tidur. Tubuhku jadi kaku tak bisa bergerak dengan leluasa. Aku mencoba bergeser perlahan, namun dia malah semakin mengeratkan rengkuhannya.


Semenit, dua menit aku mendongak ke atas untuk melihat apakah dia sudah tertidur atau belum. Namun jantungku seakan melompat keluar, kala ku lihat matanya masih terbuka dan sedang menatapku dengan tatapan yg dalam.


"A apa? Kenapa tak tidur?" Tanyaku lagi- lagi terbata. Dia hanya terdiam, namun tiba- tiba tangannya menyentuh wajahku dengan lembut.


Hatiku berdesir, kala dengan perlahan dia mengikis jarak antara kita. Dan dengan lembut dia mengecup keningku. Beberapa saat aku terbuai. Dadaku bergemuruh sesak, detak jantungku sudah tak menentu.


"Kania.." suaranya lirih. Aku mengerjap.


Dia menjauhkan wajahnya lagi, menatapku lekat- lekat. Tangannya kembali terulur mengusap bibirku. Dan dengan perlahan dia menautkan bibirnya dengan bibirku, begitu lembut hingga aku terbawa arus tanpa sadar ku pejamkan mataku.


Dia menelusuri bibirku, melu*mati atas dan bawah secara bergantian. Saat itu pikiranku sudah kosong, aku menikmati sensasi bibirnya yg kenyal, hangat dan basah.


Ku buka sedikit bibirku, memberinya akses agar masuk lebih dalam ke dalam mulutku. Seperti di beri lampu hijau, Mas Dipta langsung menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Dia membelit, menyesap dan menari menelusuri setiap inci di rongga mulut.


Nafasku tercekat, terengah- engah tak bisa mengimbangi Mas Dipta. Ciuman yg tadinya perlahan itu berubah menjadi ciuman yg panas dan menuntut. Suasana pun berubah menjadi panas di sekitar kami, seiring dengan detak jantung yg kian cepat.


Mas Dipta melepaskan ciumannya, tatapan matanya sudah sendu. Aku mengatur nafasku kembali. Kami saling menatap dalam jarak dekat, kening kita menyatu.

__ADS_1


"Kania.. sepertinya aku sudah tak bisa menahan lebih lama lagi." Ucapnya dengan suara serak yg dalam. Nafasnya seperti memburu menahan hasratnya.


Saat tangannya kembali mengusap wajahku, aku seperti tersengat oleh aliran listrik. Oh Tuhan.. bagaimana ini??


__ADS_2