
Mama dan papa pulang ketika menjelang makan siang. Aku mencoba menahan mereka untuk sekalian makan siang di sini. Namun mereka bersikeras untuk pulang. Mereka pulang dengan di antar mas Dipta, karena matahari sudah sangat terik tak memungkinkan mereka naik sepeda. Sepedanya mereka tinggal, nanti akan ada orang yg ngambil.
Mas Dipta kembali tepat saat aku selesai menghidangkan makan siang di atas meja.
"Assalamu'alaikum." Salamnya sembari masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam" jawabku, aku tersenyum menyambut kedatangannya. Mas Dipta melangkah menuju dapur dan melirik sebentar ke arah meja makan.
"Cuci tangan dulu, baru kita makan" ucapku, mas Dipta menurut dan cuci tangan di wastafel.
Saat makan, ku lihat mas Dipta nampak banyak diam. Raut mukanya murung, itu terjadi setelah dia menerima telpon yg entah dari siapa.
"Apa ada masalah?" Tanyaku
"Hem, sedikit." Jawabnya menatapku. Aku ikut khawatir. Masalah apa kiranya, sampai papa dan mama tadi ikut tegang. Apakah masalah kerjaan?.
"Tak perlu khawatir, semua akan baik- baik saja." Kata mas Dipta yg melihatku ikut cemas.
"Kalo baik- baik saja, kenapa mas Dipta begitu murung?"
"Apakah begitu? Mungkin aku butuh di hibur. Jadi hibur aku Nia." Mas Dipta mulai tersenyum.
"Hah? Hibur yg bagaimana? Tolong beritahu aku kalo ada yg bisa ku lakukan?" Ucapku
"Kalo ku beritahu kamu akan melakukannya?" Tanyanya, aku berpikir kenapa tidak. Toh melihat kebahagiaan orang yg kita cintai adalah hal yg membahagiakan. Aku mengangguk.
"Memang apa yg harus aku lakukan?" Tanyaku.
Mas Dipta tersenyum penuh arti. Tapi aku bingung mengartikan senyumannya.
"Nanti malam saja ku beritahu." Jawabnya. Aku manggut- manggut mendengarnya, ku pikir apa kita akan marathon film lagi nanti malam.
Malamnya hujan kembali datang dengan deras bahkan sesekali petir menyambar. Aku yg sudah berada di dalam kamar karena takut jadi keluar lagi dan turun ke lantai bawah. Berharap saja mas Dipta belum masuk ke kamarnya.
Tapi di lantai bawah kosong, bahkan lampu utama sudah di matikan tinggal lampu dapur yg memang selalu di biarkan menyala kalo malam.
Aku kembali ke kamar dengan niat melawan rasa takut. Langsung tidur saja, berbaring di bawah selimut yg hangat pasti akan cepat tidur nanti.
__ADS_1
Baru juga memposisikan diri untuk berbaring, tiba- tiba mati lampu berbarengan dengan petir yg menyambar begitu kencang sampai kaca- kaca ikut bergetar. Aku meraba- raba letak terakhir kali ku letakkan hp ku di sampingku dekat bantal. Namun saking gelapnya, aku tak bisa menemukannya. Aku bisa menemukan bantalnya namun hp tetap tak ku temukan.
Sebenarnya aku hanya membutuhkan senter nya. Agar aku bisa mencari persediaan lilin. Kesal mencari hp tak ketemu, aku memutuskan mengambil lilin di laci meja dekat kaca. Setidaknya aku hafal tata letak kamar ini.
Dengan langkah hati- hati dan tangan mengayun meraba benda yg di depanku aku mulai berjalan. Belum juga jalan jauh aku sudah menabrak kursi yg tak ku kembalikan tadi pada tempatnya setelah ku pakai duduk. Tulang keringku terpentok pinggiran kaki kursi dan menyisakan rasa sakit yg teramat sangat.
Aku berjongkok, meraba tulang keringku dan sedikit memijit area yg terpentok. Begitu sakit hingga tak terasa mataku keluar air mata.
Samar- samar ku dengar pintu kamarku ada yg mengetuk. Aku menoleh ke sana, dari bawah pintu ku lihat ada cahaya yg terang. Itu pasti mas Dipta.
"Masuk, pintu gak ku kunci." Teriakku karena takut tak terdengar sebab bunyi hujan yg deras begitu kencang.
Pintu terbuka, ada sosok yg tak terlihat wajahnya membawa senter sedang menyoroti dalam kamarku. Begitu cahaya senter itu mengenaiku, sosok itu bergegas masuk dan menghampiriku.
"Nia, ngapain kamu jongkok di sini?" Tanya mas Dipta, sosok yg tak terlihat tadi.
"Kejedot kursi" jawabku, mas Dipta malah memperhatikan wajahku dan sekitar kepalaku.
"Dimana yg kejedot?" Tanyanya setelah memeperhatikan sekitar wajahku mengira aku kejedot di area itu.
"Di kaki mas." Aku memunjukkan kakiku. Mas Dipta mengarahkan senternya ke kakiku. Di sana nampak merah dan sedikit bengkak.
"Ku ambilkan es dulu buat ngompres." Mas Dipta hendak berbalik tapi segera ku tahan dengan menarik bajunya.
"Jangan.. maksudku tak perlu." Ujarku, sesungguhnya aku hanya takut di tinggalkan sendiri.
"Tapi nanti bengkaknya tambah parah."
"Emh.. baiklah tapi jangan lama- lama. Dan tolong berikan senter itu. Di sini sangat gelap tadi." Ujarku akhirnya. Mas Dipta hanya mengulum senyum.
"Baiklah, ini akan aku tinggal." Ucap mas Dipta memberikanku senter yg di bawanya kemudian dia berlalu pergi ke lantai bawah mengambil es. Aku heran, dia pergi tanpa penerangan. Memang dia bisa melihat dalam gelap.
Beberapa saat.
Mas Dipta sudah kembali membawa es dan mulai mengompreskan ke kaki ku.
"Bilang kalo terasa sakit." Katanya sibuk mengompres. Aku berselonjor di atas kasur bersandar pada kepala ranjang.
__ADS_1
"A.. aku bisa sendiri mas." Ucapku terbata, tiba- tiba darahku berdesir melihat perhatian darinya. Tapi mas Dipta tak menghiraukan omonganku.
"Apa sudah mendingan?" Tanyanya menatapku setelah beberapa saat dia fokus mengompres. Seakan aku sedang kedapatan fokus menatapnya, aku gelagapan dan hanya menggeleng tapi kemudian mengangguk. Mas Dipta mengerutkan alisnya.
"Mana yg benar, sudah atau belum?" Dia bertanya lagi.
"Sudah kok mas." Jawabku, menurunkan kaki dan duduk berjejer dengannya.
"Sekarang beritahu aku mas!" Ujarku
"Soal apa?"
"Cara untuk menghiburmu. Mas bilang akan memberitahuku malam ini." Aku mendesaknya, namun mas Dipta seperti ragu- ragu mengatakannya.
"Apa kamu yakin mau melakukannya?" Tanyanya.
"Asal tak menyuruhku pergi, aku yakin." Jawabku. Mas Dipta menggeser duduknya jadi lebih mendekat padaku. Tatapan matanya membuat darahku kembali berdesir. Dia begitu dekat, bahkan kaki kita saling menempel.
"Kamu mau berciuman denganku?" Tanyanya. Aku terhenyak, dadaku bergemuruh. Jantungku berdetak begitu kencang.
Mas Dipta menatapku dalam- dalam, tangannya pelan- pelan menyentuh wajahku. Tubuhku seakan kaku, apa mas Dipta terbawa suasana. Aku tak mampu berpikir kala wajah mas Dipta mendekat ke arahku.
Sebuah kecupan lama dan hangat menyentuh keningku. Aku begitu terbuai, hingga mas Dipta menjauhkan wajahnya. Dia masih menatapku.
"Bolehkah?" Tanyanya, bagai tersihir aku menganggukkan kepalaku.
Dan detik berikutnya, pikiranku benar- benar kosong. Mas Dipta kembali mendekatkan wajahnya dan dengan pelan bibirnya menyentuh bibirku.
Aku merasakan sensasi bagai tersengat listrik. Tanganku mencengkeram dengan kuat pinggiran kasur, kala ku rasakan bibir mas Dipta mulai melu mat bibirku. Dan tanpa sadar ku pejamkan mataku.
Ini pertama kali bagiku. Aku pasrah apa yg di lakukan mas Dipta padaku tak tahu harus berbuat apa. Bibir kenyal itu masih terus menelusuri bibirku atas dan bawah, dan perlahan dia menyeruak ingin masuk lebih dalam ke rongga mulutku.
Aku tersentak, ingin menghindar. Namun dengan cepat mas Dipta menahan tengkuk leherku.
Lidahnya menari- nari di dalam mulutku, memilin dan membelit lidahku seakan menggodaku untuk membalasnya. Namun aku hanya terdiam.
Saat suasana sekitar kami menjadi panas, bahkan nafas kami menjadi berat. Mas Dipta mengakhiri ciumannya. Dia menjauhkan wajahnya dariku dengan tatapan tak lepas dariku.
__ADS_1
Kami saling tatap, ketika tiba- tiba lampu kamar berubah menjadi terang. Seketika wajahku jadi merona. Listrik telah kembali menyala.