Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Operasi Ibu


__ADS_3

Perjalanan ke bandara begitu menyenangkan ketika di antar oleh Dino. Dia hampir seusia denganku hanya selisih setahun, tapi sifatnya sungguh ceria dan asyik, berbanding terbalik dengan mas Dipta. Beberapa kali dia juga bertanya tentang diriku, dan saat dia tahu bahwa selama ini diriku juga di ibukota dia terlihat semakin antusias. Bahkan dia tahu resto tempat diriku bekerja. Dia memuji diriku yg pastinya pintar memasak karena bekerja di restoran menjadi juru masak, namun ku jawab hanya dengan tertawa.


Aku pun juga menanyakan beberapa hal tentangnya. Dari situ aku mengetahui bahwa Dino sudah kerja magang di kantor papanya dan sedang menyiapkan kuliah S2 nya. Dan dengan ragu2 aku pun menanyakan tentang saudara perempuannya yg bernama Delia.


" oh..mbak Delia sedang di luar negeri. Dia sedang liburan kurasa.." jawab Dino tapi seperti tak yakin. Namun aku menganggukan kepala menanggapi jawaban Dino.


Dan tak terasa perjalanan kita berakhir, kita telah sampai di bandara. Yg semula Dino ingin turun dari mobil untuk mengantarkanku, tak jadi karena aku bersikeras hanya ingin di antar sampai sini saja. Dino pun akhirnya tak memaksa. Aku tersenyum sebelum akhirnya berpamitan.


" kapan2 di lain waktu aku akan memasak khusus untukmu, agar kamu tahu rasa masakanku." Ujarku sudah di luar mobil.


" heiii..mana mungkin itu terjadi?! Kamu memasak khusus untukku? Yg ada aku bisa di cincang sama mas Dipta. Sebentar lagi kamu akan jadi kakak iparku, pastilah mas Dipta tak akan membiarkan itu terjadi. Kamu tak tahu bagaimana posesif nya dia..." sahut Dino dari belakang kemudi.


" ya sudah, masuk sana. Aku juga mau berangkat kerja, masak karyawan magang terlambat masuk kerja gini" sambungnya. Kemudian mobil itu berlalu meninggalkan aku yg masih tercenung dengan kata2 Dino tadi.


Mas Dipta posesif sama aku? Hah...kok serasa gak mungkin.


Setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya dengan 1 jam saja, aku telah tiba di kotaku. Seakan tak ingin menunda lebih lama lagi aku langsung menuju rumah sakit. Di sana kedatanganku di sambut oleh bibiku yg sedang menunggui ibuku.


Hari itu juga, aku menemui dokter untuk segera mejadwalkan operasi pada ibuku. Dan bagai gayung bersambut, operasi bisa di lakukan esok hari karena sebenarnya tindakan operasi memang sudah perlu di lakukan untuk ibuku.


Aku memberi tahu bibi, adikku, dan tak lupa tante Ratna. Mereka sama2 menjawab dengan do'a agar segera ibu di beri kesembuhan. Aamiin. Tak lupa juga setelah selesai sholat diriku berlama-lama berdo'a agar semua proses lancar dan segera di angkat penyakit ibuku itu. Di sepertiga malam pun kulangkahkan kakiku menuju mushola untuk melakukan sholat sunah 2 raka'at. Banyak2 ku panjatkan do'a untuk kesembuhan ibuku, dan tak lupa do'a mudah2an langkah yg ku ambil ini adalah benar.


Seperti di sirep, setelah memanjatkan banyak do'a, mataku lengket seperti di lem. Akhirnya akupun tertidur di mushola itu masih dengan mengenakan mukena. Dan anehnya, aku kembali memimpikan hal yg sama. Berada di sebuah taman, bermain ayunan, dan kedatangan pemuda yg sibuk dengan gambarannya. Tapi anehnya, ada yg sedikit berbeda dengan mimpi kali ini. Posisi pemuda itu menjadi semakin dekat denganku, bahkan aku bisa melihat apa yg dia gambar. Sepasang burung yg sedang bertengger di atas ranting pohon. Aku memberanikan diri bertanya padanya.

__ADS_1


" itu burung apa?" Tanyaku masih dengan bermain ayunan. Pemuda itu menoleh sebentar ke arahku, namun dia kembali sibuk dengan pensilnya.


" ini bukan burung, ini anak2 ku" jawabnya.


Hah? Pemuda yg aneh, masak burung di bilangnya itu anaknya. Dan aku terbangun dari tidur ketika terdengar suara adzan subuh.


Siang menjelang sore hari dimana operasi ibuku. Aku, adikku dan bibi sedang mengikuti brangkar ibuku yg di dorong menuju ruang operasi. Kami berhenti di depan sebuah ruangan tertutup, sedang brangkar ibuku terus memasuki ruangan itu. Operasi akan memakan waktu 3 sampai 6 jam.


Selama menunggu operasi yg begitu menegangkan, tak putus2 nya aku berkomunikasi dengan tante Ratna. Beliau menghibur, menguatkan, dan menenangkan layaknya beliau ada di sini ikut menunggu. Bibi yg dari tadi melihatku sibuk dengan hp akhirnya bertanya.


" dari siapa sih Nia?" Tanyanya ingin tahu.


" tante Ratna bi, beliau ini baik banget lho. Lihat deh..." ucapku memperlihatkan layar hp ku pada bibiku yg berisi riwayat chat dari tante Ratna.


" hem...apa bibi bilang, dia memang orang kaya yg dermawan dan berhati mulia" ucap bibi selesai membaca chatku bersama tante Ratna. Aku mengangguk tersenyum menanggapi ucapan bibi. Bibi belum tahu, bahwa imbalan uang yg tante Ratna pinjamkan adalah harus menikahi anaknya. Aku jadi teringat tentang mimpi yg sudah 2 kali ku alami itu.


" mimpiin apa kamu? Siapa tahu itu sebuah firasat" jawab bibiku sudah dengan raut cemasnya, mengingat ibu masih di operasi.


Aku kemudian menceritakan mimpiku pada bibi. Setelah tahu cerita mimpiku, raut cemasnya perlahan menghilang berganti dengan senyuman di bibirnya.


"Paling gak itu bukan mimpi buruk. Tak apa2 brarti..." ucapnya


"Yah bibi...kirain bibi tahu arti mimpiku itu" desahku kecewa

__ADS_1


"Kamu pikir, bibi ini ahli tafsir mimpi. Siapa tahu mimpi itu pertanda sebentar lagi kamu menikah dengan pemuda itu dan punya anak sepasang" seloroh bibiku asal. Aku langsung memutar kedua bola mataku. Dan suara adikku tiba2 mengagetkan kami.


"Iya mbak...bener kata bibi!!" Ucap adikku setengah berteriak, dia menunjuk-nunjuk layar ponselnya. Aku dan bibi mengerutkan alis.


" apa yg bener?"


"Dari mbah gugel bilang, kalo mimpi naik ayunan brarti sebentar lagi akan berumah tangga. Yg jadi pertanyaan, siapa pemuda dalam mimpi mbak itu. Mbak Nia kenal gak?" Adikku antusias menjelaskan. Sekarang semua pandangan terarah padaku, aku menghela napas.


"Mana mbak tahu dek, lagian itu juga belum tentu bener..." jawabku.


"Ya siapa tahu itu bener mbak. Inget2 siapa pemuda itu mbak..." adiku masih ngeyel.


"Haduuh dek...ibu juga masih di operasi lho, udah ngomongin rumah tangga." Pungkasku yg membuta hatiku sendiri mencelos. Ingat akan perjodohan dengan mas Dipta.


Suasana kembali hening, sampai menjelang malam pintu operasi akhirnya terbuka. Kali ini suasana lebih rame. Ada paman yg ikut menunggu, dia datang selepas maghrib tadi.


Seorang dokter muncul dari balik pintu tertutup itu.


"Wali dari ibu Wulan?" Ucap dokter itu, aku langsung mendekat. Tak terkecuali adik dan bibiku, meski mereka berdiri beberapa langkah di belakangku namun masih cukup bisa mendengar apa yg akan di sampaikan oleh dokter.


"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Sel kanker kami temukan juga belum menyebar jadi setelah ini dengan beberapa kali kemo, ibu Dian di harapkan bisa sembuh." Ucapan dokter itu bagaikan oase di padang pasir. Suasana tegang mencair, berganti suasana hangat dan saling berpelukan. Bibi dengan paman dan aku dengan adikku. Mungkin dokter juga mau di peluk? Eh tapi nanti ada yg marah tidak?


Ucapan hamdalah silih berganti kami ucapkan.

__ADS_1


"Terima kasih dokter...terima kasih atas kerja kerasnya!" Ucapku tulus, dokter mengangguk dan berlalu.


Sesaat kemudian ibuku keluar dari ruang operasi, di dorong menuju ruang perawatan.


__ADS_2