
Saat kita keluar dari mobil, ku lihat mobil Dino tiba. Dia memarkirkan mobilnya di belakang mobil mas Dipta. Kami tak segera masuk, melainkan menunggu Dino keluar dari mobil agar kita bisa masuk bareng2.
"Kan-kan...kamu baru saja sampai?" Tanya Dino dengan senyum lebar menghampiriku. Entah kenapa dia jadi memanggilku Kan-kan.
"Hem...kamu juga baru sampai?" Jawabku begitu dia di dekatku.
"Biasa...karyawan magang, berangkat paling awal, pulang paling akhir" selorohnya. "Ayo masuk! Mama pasti udah nunggu." Lanjutnya sambil merangkul bahuku mengajakku masuk.
"Kamu tak melihatku? Kenapa cuma Kania yg kamu sapa?" Suara mas Dipta menghentikan langkah kami. Dino memutar badannya menghadap mas Dipta.
"Eh...mas Dipta, sering ketemu di kantor jadi lupa menyapa ketika di rumah. Selamat malam mas Dipta..." Dino menyapa dengan sedikit membungkukkan badannya, seperti junior menyapa seniornya dalam drama korea. Aku malah jadi terkikik melihat tingkahnya. Mas Dipta cuma mendengus saja menanggapinya. Kemudian berlalu melewatiku dan Dino.
"Assalamu'allaikum..." ucapku sebelum masuk ke dalam rumah.
"Wa'allaikumsalam" jawab mama Ratna menyambut kami. Wajahnya nampak sumringah melihat kedatangan kami, di belakangnya papa Dhani juga terlihat ikut menyambut kami.
Setelah mencium tangan mereka, kami saling berpelukan melepas rindu. Mama Ratna bahkan mencium kedua pipiku, hal yg tak di lakukan bahkan pada anaknya sendiri mas Dipta dan Dino.
Setelah saling menanyakan kabar dan ngobrol sebentar, mama menggiring kami ke meja makan. Aku selalu antusias saat melihat aneka makanan yg berada di atas meja. Apa mbok Asih yg masak sendiri atau di bantu oleh mama?
"Bersihkan badanmu dulu Din, baru nanti nyusul ke sini!" Ucap mama pada anak bungsunya yg sudah mau duduk aja di kursi. Dengan menggaruk tengkuknya Dino berlalu meninggalkan ruang makan.
Ku lihat mama dengan telaten mengambilkan makanan untuk papa.
"Cukup ma, nanti kalo kurang bisa nambah lagi." Kata Papa ketika melihat mama hendak mengambilkan beberapa lauk lagi.
Aku seneng aja melihat interaksi kedua orang tua itu di depanku.
"Ayo Nia, sekarang giliranmu mengambilkan makanan untuk suamimu." Perkataan mama menyurutkan senyum di bibirku. Aku melirik mas Dipta, masih ada sisa2 rasa jengkel di hati mengingat perdebatan kami tadi.
Namun demi citra menantu yg baik di depan mertua, akhirnya aku menuruti permintaan mama.
"Mau banyak apa sedikit mas?" Tanyaku pada mas Dipta sambil mengambil piring kosong di depannya.
"Tak banyak, tidak juga sedikit." Jawabnya
"Segini?" Tanyaku dengan mengisi nasi ke dalam piringnya.
"Tidak, tidak itu terlalu sedikit."
__ADS_1
"Segini?" Tanyaku lagi menambahi nasi dalam piringnya.
"Ow..itu terlalu banyak, kurangi sedikit."
"Apa segini?" Aku sudah setengah jengkel padanya. Mentang2 di depan mama dan papa nya sepertinya dia sengaja mengerjaiku.
"Ya itu cukup"
Fiuh, ternyata acara kerewelannya berlanjut saat aku menawarkan lauk padanya. Sebentar pengen ikan, saat aku akan mengambilkan ikan dia bilang sedang tak ingin makan ikan. Kemudian ingin makan ayam, dia bilang tadi siang sudah lauk ayam. Saat ku tawarkan daging, tadinya dia mau namun saat baru aku mau mengambilnya dia tiba2 berubah pikiran dan kembali ke lauk ikan.
Kalo tak mengingat ada papa dan mama di sana, inginku berkata kasar padamu mas...
Dino akhirnya bergabung saat aku selesai mengambil makanan untuk diriku sendiri.
Acara makan malam pun berlangsung dengan akrab. Selesai makan, kita tadinya berkumpul di ruang tengah sambil minum teh dengan beberapa camilan. Namun acara kumpul2 itu mulai bubar ketika mama tiba2 ada telpon dan berjalan ke kamar untuk mengangkatnya. Papa dan mas Dipta nampak mlipir ke samping rumah, mereka duduk2 santai di samping kolam renang. Aku sendiri sudah pengen liat2 ke belakang rumah, halaman belakang yg ada kolam ikannya dan nampak asri itu bahkan ada sebuah gazebo mungil di sana.
"Kan-kan...kamu mau jalan2 ke sana bersamaku?" Tanya Dino ketika melihatku nampak melihat-lihat pintu belakang.
"Kamu mau?" Tanyaku balik. Dino tertawa.
"Kamu persis anak kecil yg ingin di ajak ke taman bermain" ucapnya di sela2 tawanya.
Aku yg sudah tak sabar ingin ke halaman belakang, jadinya beranjak duluan dari ruang tengah. Aku sengaja berjalan melewati arah pintu samping yg disana terlihat mas Dipta dan papa sedang bicara serius membelakangi pintu yg terbuka. Mungkin soal pekerjaan, aku tak mau mengganggu mereka dan terus saja berjalan. Namun saat kulewati pintu yg terbuka, dengan jelas aku mendengar obrolan mereka. Seketika aku berhenti dan bersembunyi di balik tirai pintu kaca.
"Kamu lihat sendiri betapa mamamu menyayangi Kania, jadi hentikan perasaanmu itu Dip!" Ku dengar papa berbicara dengan tegas pada mas Dipta. Mas Dipta terlihat mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tolong jangan mendesakku lagi pa, aku butuh waktu." Suara mas Dipta terdengar bergetar dan putus asa.
"Berusahalah lebih keras lagi. Jangan sampai Kania pergi karena sikapmu itu." Ucap papa lagi.
Aku masih ingin menguping sebenarnya namun ketika ada suara langkah kaki mendekat, aku buru2 bergeser tempat agar tak terlihat sedang menguping.
"Ku cari2 ternyata kamu disini. Jadi tidak kita ke halaman belakang?" Dino muncul dan aku langsung memasang senyumku.
"Hem, ayo." Ajakku, kita kemudian berjalan menuju halaman belakang.
"Kan-kan...bagaimana perasaanmu pada mas Dipta?" Tanyanya tanpa ku duga. Aku sedikit salah tingkah, ku selipkan rambutku ke belakang telinga untuk menutupi salah tingkahku namun justru membuat semakin terlihat.
"Pernikahan kalian, aku tahu itu di jodohkan mama untuk suatu hal yg aku sendiri tak tahu. Tapi ku harap kamu bahagia Kan..." ucapnya sendu. Aku tersenyum haru ketika ku dengar Dino mengharap kebahagiaanku.
__ADS_1
Kita berjalan menuju gazebo dekat kolam ikan. Kita di sana duduk2 sambil melihat ikan yg berenang kesana kemari. Tapi kelihatannya hanya aku yg melihat ikan, Dino nampak sesekali memperhatikanku. Ketika aku balik menatapnya, dia justru mengalihkan pandangannya.
"Kenapa seperti anak kecil? Apa yg ingin kamu katakan?" Tanyaku ketika terang2 an ku lihat Dino mengalihkan pandangannya.
"Wah, sekarang gantian kamu yg mengataiku seperti anak kecil?" Ucapnya kembali pada mode usilnya. Aku hanya tertawa.
"Kurasa ini sudah malam, ayo kita masuk lagi."ajakku ketika sudah puas melihat-lihat halaman belakang.
Sampai di dalam aku mencati mas Dipta, bermaksud mengajaknya pulang karena sudah malam. Namun belum sampe ketemu mas Dipta nya, mama yg melihatku melongok kesana kemari memberitahuku.
"Dipta di kamarnya Nia. Malam ini kalian menginap saja ya!"
Aku mengangguk pasrah dan berjalan menaiki tangga menuju kamar mas Dipta. Sebelum masuk, aku mengetuk pintu dulu kalo2 di dalam mas Dipta sedang ganti baju. Namun suara mas Dipta terdengar untuk menyuruhku masuk.
Ku lihat mas Dipta sudah segar, habis mandi kelihatannya. Bajunya juga sudah berganti dengan kaos oblong dan celana kolor.
"Kita menginap mas?" Tanyaku
"Hem.." jawab mas Dipta singkat.
"Bisa pinjam bajunya tidak? Aku tak nyaman tidur dengan baju ini dan celana jeans." Ujarku, nampak mas Dipta melihat ke arahku.
"Kenapa tak bawa baju ganti tadi?" Tanyanya sambil berjalan menuju lemari.
"Mana ku tahu kalo kita akan menginap." Jawabku.
Mas Dipta membuka lemarinya dan melihat-lihat isinya kesana kemari.
"Kau bisa memilihnya, mana yg nyaman kau pakai." Ucapnya, aku mendekatinya, dan melihat-lihat isi lemarinya.
"Ku rasa ini bagus, aku tak akan masuk angin." Ku tarik sepasang baju dan celana training warna hitam bergaris merah di lengannya.
"Ya, kamu bisa pakai yg itu." Ucap mas Dipta.
Aku segera ke kamar mandi untuk mengganti baju dan cuci muka, gosok gigi. Selesai ritual itu akupun keluar.
Mas Dipta tertawa melihatku. Bajunya memang nampak kebesaran di badanku. Aku hanya mendengus melihatnya.
"Kelihatannya baju yg dulu ku pakai saat menginap pertama kali di sini lebih pas di badanku." Selorohku membuat tawa mas Dipta terhenti.
__ADS_1
"Kelihatannya waktu itu mas Dipta marah sekali saat melihat baju itu kupakai. Baju siapa itu mas? Apa itu baju punya pacar mas Dipta?" Tanyaku pura2 tak tahu, padahal sebelumnya aku sudah di beritahu mama Ratna siapa pemilik baju itu.