Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Mual mual


__ADS_3

Awalnya Mas Dipta pamit, ingin mengajakku kembali ke rumah. Namun, cekalan tangan Delia menghentikan langkah kami terutama Mas Dipta.


"Gak nginep di sini saja Mas? Aku masih kangen.." Tanyanya dengan senyum yg masih tersungging di bibirnya.


What? Apa dia bilang? Kangen.. oke, aku maklum. Karena mereka memang saudara angkat dan sudah lama tak bertemu.


Mas Dipta berusaha melepaskan tangannya, mungkin dia sadar dari tadi aku udah mrengut. Di tambah yg sepertinya Delia ingin nempel terus sama Mas Dipta.


"Mungkin lain kali." Jawabnya sambil meraih tanganku untuk mengajakku pergi dari sana.


Namun ada sebagian hatiku yg menyuruhku untuk tetap tinggal di sana. Mungkin itu adalah rasa penasaranku. Karena sejujurnya tak ingin ku pungkiri, bahwa aku ingin tahu siapa bapak dari bayi yg sedang Delia kandung.


"Mas, sudah lewat tengah malam. Sebaiknya kita tidur di sini saja." Kataku menghentikan tarikan tangan Mas Dipta pada pergelangan tanganku.


"Hm? Baiklah..." jawab Mas Dipta. Sekarang gantian diriku yg menarik tangannya.


Kita naik menuju kamar setelah berpamitan pada Mama dan Papa, dan melewati Delia begitu saja.


Aku lega, karena kamar Delia tidak berada di lantai yg sama dengan kami. Kamar Delia berada di lantai bawah. Parno saja, kalo tetiba saat kita tengah tertidur dia menyusul masuk kamar dan pengen ikut tidur bareng Mas Dipta. Secara Mas Dipta berasa medan magnet baginya, jadi kayak pengen nempel terus gitu.


Paling gak kalo dia di lantai bawah, dia gak mungkin naik tangga di saat perutnya tengah membuncit gitu. Apalagi badannya kayak yg kurus banget gitu, tak seperti ibu hamil pada umumnya.


"Mas, kenapa tadi tak mengabariku sampai larut malam? Bahkan sempat ku telpon tapi tak kamu angkat." Tanyaku saat sudah berada di kamar, tak lupa ku kunci pintu kamar ini.


"Aku bebersih dulu sebentar. Tolong siapin baju gantiku ya.." pintanya dengan suara rendah terkesan lembut. Aku yg tadinya pengen ngegas jadi ngerem dan mengangguk, meng-iyakan permintaan Mas Dipta.


Mas Dipta masuk ke kamar mandi, dan tak lama hanya kurang lebih 10 menit saja dia sudah keluar lagi dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.


"Pria yg tadi itu.. ku harap kamu tak kan menemuinya lagi." Ucap Mas Dipta sambil mengenakan bajunya di depanku.


Aku yg bersandar pada headboard kasur langsung melek seketika dari tidur- tidur ayamku. Bukan karena melihat Mas Dipta yg sedang ganti baju ya.. bukan. Ini sudah jam 1 an lebih jadi wajar kalo aku merasa ngantuk dan berasa mak leerr gitu padahal aku berusaha untuk tak tidur tadi.


"Aku takkan bersamanya tadi kalo Mas Dipta mengabariku atau mengangkat telpon dariku." Aku kesel banget sama nih orang. Seenaknya main larang- larang aja tanpa tahu situasi dan kondisi nya tadi.


"Aku sudah mengirimkan pesan padamu. Apa kamu tak menerimanya?!" Suara Mas Dipta juga ikutan kesel. Dia melempar handuk yg tadi di pakainya ke sembarang arah dan handuk itu berakhir nyangkut di senderan sofa.

__ADS_1


"Woh.. masa' sih?" Aku jadi sedikit ragu. Ku buka hp ku mencari pesan dari dia. Dari watsap, telegram sampai sms tak ada sama sekali pesan dari dia.


"Gak ada tuh! Sebenarnya apa sih susahnya telpon atau nerima telponku tadi? Kalian sedang apa tadi di hotel?" Ketusku sampai menunjukkan layar hp ku ke arahnya agar dia tahu, tak ada pesan sama sekali darinya. Nih..liat, masih mau ngeyel juga? Kzl aku...


Mas Dipta membuka hp nya sendiri, dan seketika matanya berputar, mendesah lirih nafasnya.


"Aku lupa mencet tombol send nya.." ucapnya dan aku mencebik.


"Maaf, aku sedang tak fokus tadi. Dan berjanjilah kamu takkan menemui lagi pria yg tadi." Lanjut Mas Dipta, dia duduk di sebelahku ikut- ikutan bersender pada headboard.


"Aku tak bisa janji.. dia teman kuliahku, nanti tanpa sengaja kita pasti bertemu di kampus. Aku tak mungkin terus- terusan menghindarinya."


"Baiklah, tak apa bertemu asal tanpa sengaja. Dan jangan lagi menghindariku seperti tadi."


"Tadi tuh aku shock, ngliatin kamu di hotel dengan wanita hamil. Dan hanya berdua, kamu sih.. sampai larut malam gak ngabarin aku, aku tuh khawatir.." aku mulai merajuk dengan suara yg manja. Jiaaah... aku bisa juga manja ya? Gak papa deh, sama suami sendiri ini, biar dia tambah gemes sama aku.


Dan berhasil dong.. Mas Dipta mulai mendekat ke arahku, di tariknya tubuhku agar berada dalam dekapannya.


"Maafin aku sayang..." ucapnya, aku mengerjap- ngerjapkan mataku. Langsung kembang kempis seketika kala ku dengar Mas Dipta memanggilku sayang. Ya ampun, kalo gak dalam mode merajuk aku pasti sudah berbunga- bunga saat ini.


"Memang tadinya dia gak mau pulang kesini?"


"Hem... mungkin karena keadaanya yg membuat dia gak mau pulang ke rumah."


"Keadaanya yg sedang hamil maksudnya?"


"Iya seperti itulah.." Mas Dipta sudah ndelosor, membawaku berbaring. Matanya sudah merem- merem, sudah tak kuat menahan kantuknya.


"Siapa yg menghamilinya Mas?" Aku yg penasaran membuat rasa kantukku hilang.


"Emh... entahlah, akan kita tanyakan besok kalo semuanya sudah tenang." Jawabnya dan setelah itu ku dengar dia sudah mendengkur lirih.


Haduh.. malah dia sudah tidur, gimana nasibku yg terlanjur hilang rasa kantukku ini? Aku hanya miring sana, miring sini, telentang dan bahkan mendekap pak suami mencari posisi nyaman. Dan akhirnya aku terlelap karena merasa lelah menunggu matahari yg terasa lama tak kunjung muncul.


Paginya aku terbangun dengan kepala yg terasa berdenyut nyeri. Aku mendapati Mas Dipta sudah tak ada di sampingku. Kemana tuh orang, pagi- pagi bangun sudah menghilang.

__ADS_1


Aku berjalan limbung menuju kamar mandi, tanganku meraih apapun yg bisa ku pakai sebagai pegangan agar tak terjatuh. Meski penuh perjuangan, akhirnya berhasil juga menunaikan kegitan di kamar mandi pagi itu.


Aku menunaikan 2 raka'at sholat subuh ketika jam menunjukkan pukul 6 pagi. Ku rasa aku kesiangan karena tidur menjelang dini hari. Selesai sholat aku masih duduk di atas sajadahku ketika merasakan perut yg bergejolak, serasa ada yg mengaduk- aduk di dalam sana dan tiba- tiba ada dorongan untuk mengeluarkan isi perutku. Berasa sangatt mual.


Aku berlari ke kamar mandi secepat yg aku bisa tak ingin muntah di kamar. Dan


Huwek huwek...


Ku dengar ada langkah tergesa mendekati kamar mandi tempatku berada sekarang.


"Kania! Apa yg terjadi?" Mas Dipta muncul dengan wajah panik, aku sudah kacau. Pengen terus muntah, tapi tak ada yg keluar, menyisakan rasa yg begitu pahit.


Mas Dipta memijat tengkukku dan saat aku sudah lemes tak ada tenaga. Dia melepas mukenaku yg dari tadi masih ku pakai dan langsung mengangkatku menuju ranjang.


"Kamu sakit? Apanya yg sakit?" Tanyanya cemas, memegang keningku dengan punggung tangannya.


"Badanmu agak anget. Apa perutmu juga mual?" Tanyanya sambil menyelimuti tubuhku.


"Iya, pengen muntah tapi gak ada yg keluar." Jawabku. Mas Dipta membuka laci di nakas samping tempat tidur dan mengeluarkan minyak kayu putih dari sana.


"Sini ku olesi perutmu dengan minyak ini." Dia langsung menyibak kembali selimut yg menyelimuti tubuhku dan merogoh ke dalam bajuku untuk mengolesi minyak ke perutku.


Setelah perut, dia juga mengoleskan minyak itu ke tengkukku. Dan sesaat kemudian tubuhku yg tadi berasa dingin mulai berangsur menghangat.


"Mungkin kamu masuk angin. Tunggu bentar ya, biar ku minta Mbok Asih bikin bubur buatmu." Ujar Mas Dipta kemudian beranjak keluar kamar.


Iya, mungkin aku masuk angin. Ku ingat terkhir makan adalah pizza beberapa potong di rumah Bagas kemarin.


Sesaat kemudian Mas Dipta masuk di ikuti Mbok Asih yg membawa nampan berisi bubur dan segelas air putih hangat.


"Gustii.. kenapa to Mbak Kania ini? Wajahnya kok pucet banget.." Mbok Asih mendekat dan meletakkan nampan tadi di atas nakas.


"Mual mbok... rasanya gak enak banget." Jawabku dengan suara serak Mas Dipta membantuku untuk bangun dan menata tinggi bantal di belakangku untuk bersandar.


"Ini minum air putih anget dulu, biar perutnya juga jadi anget." Ucap Mas Dipta mengambilkan gelas air putih dan di suapkan ke diriku.

__ADS_1


"Woalaah.. mual? Selamat ya Mas Dipta, Mbak Kania udah hamil to?!" Pekik Mbok Asih dengan sumringah yg sukses membuatku menyemburkan air di dalam mulutku sampai mengenai muka Mas Dipta.


__ADS_2