
Setelah perjalanan hampir 2 jam, kita berhenti di depan sebuah bangunan berlantai 2. Halaman sekitar nampak begitu asri dan begitu memanjakan mata. Apa bangunan itu rumah seseorang yg Mas Dipta kenal, kalo begitu rumah siapa itu?
Aku turun dari mobil menyusul Mas Dipta yg sudah turun duluan. Ku lihat Mas Dipta menurunkan travel bag dari kursi belakang. Untuk apa dia membawa travel bag segala, apa kita akan menginap? Lalu bagaimana denganku? Aku tak bawa baju ganti, baju yg ku punya, hanya yg melekat di tubuhku. Tapi aku mencoba tenang, belum tentu juga kita akan menginap.
Mas Dipta meraih tanganku, menggandengku saat kita berjalan mendekati bangunan 2 lantai itu. Aku bisa menghirup aroma masakan yg menggugah selera. Cacing- cacing dalam perutku mendadak bangun dan minta di beri makan. Apalagi dari siang tak ada makanan yg masuk.
Seorang pria paruh baya membuka pintu bangunan dan menyambut kami dengan ramah. Mas Dipta menyerahkan travel bag di tangannya pada pria tersebut. Kami masuk ke dalam rumah yg sebagian besar dindingnya terbuat dari kaca sehingga pemandangan di luar masih bisa kita nikmati dari dalam rumah.
"Apa sudah siap semuanya?" Tanya Mas Dipta pada pria tadi.
"Sudah Mas, silahkan langsung saja ke sana." Jawabnya menunjuk dengan jempolnya ke arah belakang rumah.
Mas Dipta mengajakku ke arah yg di tunjuk pria tadi. Kami melangkah keluar melewati pintu belakang rumah dan sampai di halaman belakang yg luas dan hijau.
Di sana ada danau buatan yg nampak jernih airnya, hingga terlihat ikan- ikan kecil di dalamnya. Setelah danau itu, terbentang perkebunan teh hijau yg luas dan sedikit berbukit begitu memanjakan mata. Matahari sore yg bersinar jingga menambah pemandangan yg sangat memukau.
Di dekat danau ada sebuah meja lengkap dengan 2 bangku panjang di kanan dan kiri meja. Tak jauh di sana, ada seorang pria bebeda yg tengah sibuk dengan alat panggang barbeque. Jadi dari sana asal aroma sedap yg membuat perutku semakin melilit tadi.
Aku dan Mas Dipta berjalan mendekati pria yg di sana. Menyapa sebentar, dan ku taksir pria dengan panggangan barbeque tadi masih seusia dengan Mas Dipta. Selesai bercengkerama sebentar, Mas Dipta mengajakku duduk di bangku dekat danau yg ku lihat tadi. Kami duduk saling berhadap- hadapan dengan meja sebagai pemisah antara kami.
Mas Dipta hanya tersenyum menatapku yg sedang kebingungan. Dia melepas kaca mata hitamnya yg dari tadi masih menutupi matanya. Kantung hitam masih terlihat jelas di bawah matanya.
"Rumah siapa ini Mas?" Tanyaku.
"Aku menyewanya." Jawabnya singkat. Aku hanya manggut- manggut saja, aku masih menikmati semua pemandangan yg indah di sekitar yg tak pernah bosan sejauh mata memandang. Sampai tangan kananku yg berada di atas meja di raih Mas Dipta.
__ADS_1
"Kamu suka?" Tanyanya. Oh God.. bagaimana aku tidak suka, dari tadi mataku sudah menatap penuh kagum begini.
"Iya, aku suka." Jawabku, kurasakan Mas Dipta menggenggam tanganku lebih erat.
Tak berapa lama hidangan datang. Mataku benar- benar berbinar menatap menu yg di bawakan oleh pria barbeque tadi. Ada berbagai hidangan yg di letakkan di atas meja. Daging sapi, sosis, aneka seafood, dan berbagai sayuran yg di grill. Aku hampir meneteskan air liur kala aroma makanan menyeruak masuk ke hidungku.
Tak butuh waktu lama, setelah berdo'a di dalam hati, kami langsung menyantap semua hidangan di meja bagai orang kalap, eh atau hanya aku yg kalap?
"Pelan- pelan makannya, semua ini bisa kamu habiskan kalo kamu sanggup." Ucap Mas Dipta menyodorkan air putih padaku yg melihatku seperti susah menelan saking banyaknya makanan yg ada di mulutku. Ya ampuun, gak elegant banget sih aku. Aku makan sudah kayak orang yg gak ketemu makanan selama sebulan. Alhasil aku memelankan tempo makanku sebentar, hanya sebentar karena setelah itupun aku kembali kalap lagi. Secara makanan itu ueendull banget.
Menjelang petang, makanan telah tandas. Aku dan Mas Dipta masih duduk- duduk di sana menikmati langit jingga sambil meneguk minuman lemon hangat setelah memakan makanan yg penuh kolesterol.
"Mas Dipta sering kesini?" Tanyaku ingin tahu, mungkin saja dulu pernah juga melakukan hal seperti ini bersama Delia.
Mas Dipta tak langsung menjawab, dia nampak mengingat- ingat. Mungkin menghitung berapa kali dia menyewa tempat ini.
"Benarkah?" Tanyaku tak percaya. Mas Dipta tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Ini perdana aku memesan tempat dan melakukan hal romantis seperti ini." Jawabnya meyakinkanku. Dia mengusap lembut pipiku.
"Aku merindukanmu, Nia." Ucapnya dengan menatapku lekat. Tangannya terus turun dan menautkan jari jemariku dengan jari- jarinya.
"Kamu bisa menanyakan aku apapun, Nia. Aku akan menjawab semuanya." Ucapnya lagi kemudian mengecup punggung tanganku.
Dadaku berdebar tak karuan mendapat perlakuan darinya yg begitu mesra. Namun aku berusaha menjaga kewarasanku agar tak terhanyut melupakan semua masalah yg ada. Aku sedang menimbang- nimbang, apa yg harus ku tanyakan duluan padanya saking banyaknya pertanyaan dalam benakku. Aku juga harus mempersiapkan hati apabila nanti aku mendapatkan jawaban yg menyakitkan untukku.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya Delia?" Tanyaku akhirnya. Mas Dipta seakan telah siap dengan semua pertanyaan dariku terlihat dari sikapnya yg tenang dan tak mengalihkan pandangannya dariku. Dia beranjak dari duduknya tanpa melepas tautan jari kita, dia lalu duduk di sampingku.
"Ini posisi nyamanku untuk bercerita, karena ini cerita yg panjang." Ucapnya.
Aku hanya terdiam ketika tangan Mas Dipta merangkul pinggangku dan mendekap erat hingga tak berjarak di antara kami.
"Aku ingin mendengarnya sambil melihatmu Mas, ketika kamu bercerita. Kalo kayak gini, aku jadi susah melihatmu." Ujarku mendorong pelan dada Mas Dipta. Aku ingin melihat wajahnya ketika dia mulai menceritakan semuanya, agar aku tahu dia bercerita sebenarnya atau tidak. Itu akan terlihat dari perubahan raut mukanya nanti.
"Hehe..begitu ya? Kamu ingin terus melihat wajahku ya? Tapi aku lagi jelek Nia, mata panda, efek 2 hari kemarin gak bisa tidur." Katanya menyeringai sambil memperlihatkan lingkaran hitam di sekitar matanya.
Aku memutar kedua bola mataku, karena dia malah menganggapnya begitu. Tapi ya sudahlah.
"Memang kenapa gak bisa tidur?" Tanyaku asal, malah jadi menundanya untuk bercerita tadi.
"Serius kamu nanya gitu? Ya tentu saja aku terus kepikiran kamu. Apalagi kalo aku gak bisa liat kamu, bawaanya sesek aja gitu nafasku." Jawabnya dengan wajah serius.
"Hah? Sesak nafas?" Aku terhenyak mengetahui dia sampai sesak nafas.
"Iya, karena separuh nafasku ada di kamu." Katanya, yg membuatku langsung tepok jidat. Malah ngegombal dia, hadeeeh...
"Eh iya lho.. kamu gak tahu kan, aku seperti orang gila yg wara wiri. Aku bahkan terus berada di dalam mobil yg ku parkirkan di depan gerbang rumah papa agar aku bisa melihatmu meski cuma sebentar."
Itu fakta yg baru ku ketahui, pantas saat pagi tadi dia terlihat begitu kacau.
"Tapi mungkin itu balasan bagiku, yg di awal pernikahan kita, aku begitu menyia- nyiakanmu. Maafkan aku, Nia. Mulai sekarang akan aku ceritakan semuanya, tanpa ada yg akan aku tutup- tutupi lagi." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Dia mengambil nafas dalam, sebelum memulai cerita panjangnya.