Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Persyaratan


__ADS_3

Aku kembali ke ibukota dengan pesawat mengambil penerbangan pagi. Setelah satu jam di udara, akhirnya pesawat yg ku tumpangi mendarat juga dengan selamat. Tak banyak barang yg ku bawa, hanya tas slempang dan paper bag berisi makanan khas kota ku yg nantinya akan ku berikan pada tante Ratna. Dengan berbekal alamat dan shareloc dari tante Ratna aku menuju kesana lewat taksi online yg ku pesan.


Setelah sekitar 45 menit berkendara, kami memasuki sebuah kawasan perumahan elit di ibukota, bahkan gerbang masuk perumahan itu di jaga ketat oleh 2 orang satpam. Pak satpam tak segera membiarkan kami masuk, karena seperti biasa apabila ada tamu di harap meninggalkan ktp di pos. Driver taksi pun dengan legowo mengangsurkan ktp nya sebagai jaminan.


Taksi berhenti di depan sebuah rumah yg pagarnya menjulang tinggi, aku sedikit tertegun dengan bangunan rumah yg hanya terlihat atapnya apabila dari luar. Jantungku berpacu dengan cepat ketika aku turun dari mobil. Sedangkan mobil taksi tadi, telah pergi begitu saja.


Ku dekati pintu pagar bercat putih itu. Dari sela2 jerujinya ku lihat ada seorang satpam berdiri di dalam sana, dia menghampiriku setelah melihatku mendekati pagar.


" ada yg bisa di bantu dek?" Tanyanya dari dalam pagar.


" iya pak, saya mau ketemu dengan tante Ratna. Saya Kania pak" jawabku.


" ow..mbak Kania" ujar pak satpam yg tiba2 merubah panggilan dari dek menjadi mbak. Dia segera membuka pagar besi itu dan mempersilahkan aku masuk.


" silahkan mbak, ibu sudah berpesan tadi kalo mbak Kania datang agar segera di persilahkan masuk" katanya. Begitu aku masuk, ku lihat bangunan megah du depanku. Sudah mirip istana saja, bahkan rumah pak Nugroho orang terkaya di kampung yg orang2 bilang bagai keraton masih kalah jauh dengan bangunan di hadapanku ini.


" mari mbak, sudah di tunggu ibu di dalam!" Ujar pak satpam lagi, aku mengikutinya mendekati bangunan megah itu. Tante Ratna menunggu kedatanganku? Apakah ini pertanda baik, bahwa beliau bersedia meminjamkan uang padaku? Batinku, sedikit merasa lega.


Sampai di depan pintu, pak satpam memencetkan bell untukku. Namun belum sampai pintu di buka dia sudah pamit kembali ke pos nya karena tak berani lama2 meninggalkan pos. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya. Setelah sesaat menunggu, akhirnya pintu di buka. Dan nampaklah wanita yg ku taksir usianya tak beda jauh dengan bibiku. Perempuan itu berpenampilan sederhana dan tak ada kesan mewah padanya, namun dia sungguh bersahaja dan terlihat anggun hanya dengan berdiri dan tersenyum saja.


" selamat pagi...saya Kania, mau bertemu dengan tante Ratna. Sebelumnya..." sapaku padanya namun belum selesai bicara, beliau sudah memotongnya.


" Kania? Masya' Allah nduk...sudah sebesar ini kamu?" Potongnya yg membuatku yakin bahwa beliau inilah tante Ratna.

__ADS_1


" tante Ratna...maaf kan Kania sudah tidak sopan.." ucapku segera ku raih tangan kanan beliau dan meletakkannya di dahiku takzim. Kurasa memang tak sopan karena ternyata dia mengenalku, namun aku sama sekali tak mengingatnya.


" sudah, gak papa. Ayo masuk!" Ucapnya lagi dan tak segan menggandeng tanganku, menggiringku untuk masuk ke dalam rumahnya yg bagai istana ini.


Di dalam ruang tengah ini kami duduk berdampingan di atas sofa panjang yg sangat nyaman dan empuk. Di pojok2 ruangan banyak terdapat ornamen2 unik menghiasi ruangan. Di atas nakas2 panjang, ku lihat banyak berbagai macam koleksi photo di bingkai pigura2 berbagai bentuk. Aku yg tengah sibuk mengamati isi ruangan itu, ternyata pandangan mata tante Ratna tak pernah lepas dari diriku. Terbukti saat aku kembali menatapnya, bibirnya langsung membentuk senyum ramah padaku.


" bagaimana perjalananmu? Apa kamu lelah?" Tanyanya sambil tangannya mengambilkan secangkir teh hangat di atas meja kemudian di angsurkan padaku. Aku buru2 menerimanya, dan menyesapnya sedikit. Tak enak karena sudah di ambilkan minum olehnya.


" tak apa tante, sejujurnya saya sangat berharap akan hasil pertemuan saya dengan tante sekarang" jawabku to the point, karena aku terburu waktu dengan kesehatan ibuku. Aku ingin segera ibu mendapatkan tindakan medis selanjutnya di rumah sakit. Ku lihat tante Ratna tersenyum.


" aku sudah dengar dari Nita tentang ibumu. Terus terang aku tak masalah tentang itu. Hanya saja, aku ada syarat untukmu" jawab tante Ratna. Nita adalah bibiku.


Aku memaklumi akan adanya syarat dari tante Ratna. Sudah sewajarnya karena aku meminjam uang yang jumlahnya tak sedikit. Maka dari itu aku juga sudah menyiapkan semuanya sejak semalam. Sebelum tante Ratna mengutarakan syaratnya, ku serahkan sebuah map yg sedari tadi berada di dalam tas ku.


" itu proposal pengajuan pinjaman dari saya tante. Saya juga sudah membuat daftar aset kami yg berada di kampung sebagai jaminan. Meski ada beberapa yg masih di bank tapi saya pastikan setelah selesai pelunasan nanti, semua akan menjadi hak tante. Untuk sisanya, saya mohon kemurahan hati tante pada saya agar saya bisa membayarnya sambil berjalan. Di lembar terakhir bahkan saya juga sudah membuat perjanjian hitam di atas putih, ada materei nya juga tante, jadi saya harap tante tidak perlu khawatir kalau saya mangkir dari tanggung jawab saya" terangku meyakinkan agar tante Ratna bisa tenang saat meminjamkan uang padaku. Namun saat ku lihat ekspresi tante Ratna justru malah di luar dugaanku. Dia bengong dan bahkan malah seperti orang terkejut. Map yg tadi ku jelaskan panjang kali lebar masih berada di tangannya tanpa ada keinginan untuk membukannya.


" tante...tante Ratna, silahkan di baca proposal dari saya..." ucapku yg seakan menyadarkan tante Ratna dari bengongnya.


" oh...ya ampun Nia...ini bawa saja kembali proposal darimu itu!" Ujarnya dengan menyerahkan map yg bahkan belum di bukanya.


Deg!


Hatiku mencelos, apakah tante Ratna ada tersinggung dengan kata2 yg ku ucapkan. Tanganku bergetar menerima kembali map yg tadi ku berikan pada tante Ratna. Aku sudah tak tahu lagi bagaimaa ekspresi mukaku. Bingung, kecewa, dan bahkan sedih jadi satu.

__ADS_1


" kamu tak mau dengar persyaratan dariku Nia?" Tanya tante Ratna memecah kekalutanku. Aku memberanikan kembali menatap tante Ratna. Perlahan tante Ratna mengambil tanganku ke dalam genggamannya.


" aku menyukaimu Nia, bahkan dulu sewaktu kamu kecil hingga sekarang. Di tambah lagi aku mendengarkan kisah hidupmu dari Nita. Aku jadi sangat menginginkanmu..."


" a apa maksud tante?" Tanyaku ragu, jangan2 dia menginginkan salah satu organ dalamku.


" Kania...kamu ingat anak pertama tante?" Tanya tante Ratna sambil tersenyum, genggaman tangannya ke tanganku kurasa semakin di eratkannya. Aku mencoba mengingatnya, anak pertama tante Ratna? Yg mana, kenapa dia menanyakan soal anaknya, apakah dia sakit? Sakit apa kiranya, apakah dia membutuhkan donor organ dalam? Organ dalam yg mana, ginjal, hati atau jantung? Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati. Menjadi cemas apabila itu memang benar.


" kenapa tanganmu jadi dingjn begini Nia? Kamu sakit?"


" eh...tidak tante. Oya, anak pertama tante...maaf saya mungkin tak ingat. Saya malah ingatnya Dino tante. Memangnya ada apa ya tante?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Dino adalah anak tante Ratna yg paling bungsu kalo aku tak salah ingat. Tante Ratna kembali tersenyum.


" Dino memang lebih seumuran dengan kamu. Tapi meski kamu dan anak pertama tante selisih umur yg agak jauh, kalian dulu sering main bersama"


Aku masih mencoba menggali memori otak yg mungkin tertumpuk memori2 lain yg otakku anggap lebih penting.


" namanya Dipta, Nia..." lanjut tante Ratna yg sudah mulai tak sabar menunggu aku mengingat-ingat.


Dipta, mendengar nama itu mendadak aku jadi mengingat mimpiku malam itu. Mimpi berada di taman dengan ayunan. Mungkinkah pemuda itu Dipta?


" Kania...maukah kamu jadi menantu tante? Jadi istrinya Dipta?" Kembali suara tantebRatna terdengar, namun suara itu menjadikanku seperti orang linglung, bingung, dan sepertinya aku salah dengar.


" hah? Gimana tante? Kania musti gimana?" Tanyaku untuk meminta kejelasan dari tante Ratna.

__ADS_1


" itu syaratku, Nia. Jadilah istri anak pertama tante, Dipta!"


__ADS_2