Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Aku akan menunggumu


__ADS_3

Kita sampai di lantai 5, mas Dipta membuka salah satu pintu di sana.


"Ayo masuk!" Ucapnya, aku mengikutinya masuk.


Apartemen ini hampir sama dengan lantai bawah rumah kita. Ada 2 kamar tidur, sofa untuk menerima tamu sekaligus untuk ruang tv. Dan terusan ada ruang makan sekaligus dapur. Tak ada penyekat antar ruang, hanya kamar tidur saja yg tertutup.


Aku melihat- lihat ruangan apartemen itu. Sedang mas Dipta masuk ke salah satu kamar yg tertutup. Puas melihat-lihat aku menyusulnya ke kamar, siapa tahu dia butuh bantuan untuk beres- beres.


"Ada yg bisa di bantu mas?" Tanyaku, ku lihat dia mengambil beberapa buku dari rak dan beberapa tabung gambar berserakan di lantai.


"Tidak, ini sudah selesai." Jawabnya, dia mulai memasukkan barang- barang yg ingin di bawanya ke dalam kardus. Aku membantunya mengumpulkan tabung gambar yg berserakan tadi.


Ketika di rasa barang yg mau di bawa semua sudah masuk dalam kardus, kita keluar kamar. Aku penasaran dengan isi kamar sebelahnya, ku dekati kamar itu. Kalo kamar tidur mas Dipta yg di sana, lalu kamar yg ini buat apa. Batinku.


Ku putar kenop pintu kamar itu, ternyata tak terkunci. Dan perlahan ku buka pintunya. Namun teriakan mas Dipta membuatku berpaling ke arah mas Dipta.


"Niaa....!!" Mas Dipta buru- buru mendekatiku dan menutup kembali pintu kamar yg sempat ku buka tadi. Ada kepanikan di wajah mas Dipta. Aku sangat heran, kenapa mas Dipta begitu panik.


"Kenapa mas? Memangnya kamar apa ini?" Tanyaku, mas Dipta menarik tanganku membawaku menjauh dari depan kamar itu.


"Oh, bukan apa- apa. Hanya saja kamar itu berantakan, banyak debu di sana jarang di bersihkan." Jawabnya


"Oow..." aku hanya mangut- manggut, melirik kamar yg tadi dan entah kenapa aku tak percaya dengan alasan yg mas Dipta katakan. Apa ada sesuatu di dalam kamar itu yg tak boleh ku lihat. Kamar apa itu?


"Sudah, ayo balik!" Ajak mas Dipta. Kita pun keluar dari apartemen itu, menyisakan rasa penasaranku akan kamar yg belum sempat ku lihat isinya itu.

__ADS_1


Berbagai pikiran menghampiri kepalaku, mungkinkah itu kamar pacarnya mas Dipta. Apa mereka pernah tinggal bersama? Apa mereka masih sering bertemu? Di mana sekarang kira- kira orang itu?


Hatiku mencelos, tanganku menggenggam erat seiring dengan pikiranku yg bergejolak. Namun tiba- tiba mas Dipta berkata, hingga membuyarkan pikiranku.


"Ehem.. di lepas dulu ya?"


"Hah? Apa?" Tanyaku bingung.


Mas Dipta tersenyum, lalu menganggkat tangannya dan tanganku yg saling bertaut erat. Mataku membola, segera ku lepas genggaman tanganku darinya. Ya ampun, memangnya sejak kapan kita bergandengan tangan. Jadi sedari tadi yg ku genggam erat itu tadi tangannya. Mukaku merah saking malunya, mas Dipta malah hanya tertawa saja melihat aku salah tingkah begini.


"Aku hanya ingin membuka pintu mobil" katanya lagi, namun aku berlagak tak mendengarnya malah pergi menjauhi dirinya menghampiri pintu mobil bagian penumpang. Tak lama setelah itu kita pergi meninggalkan tempat itu.


Keesokan harinya, aku dari pagi sudah berdebar menantikan acara kencanku dengan mas Dipta. Aku bahkan memilih- milih baju apa yg kira- kira akan ku pakai. Penyakit perempuan, baju satu lemari tapi seperti tak punya baju yg pantas untuk aku kenakan nanti. Semua isi lemari aku keluarkan untuk mencari mana yg cocok.


Sebuah ketukan di pintu membuatku menghentikan kegiatanku.


"Emh..aku sedang beres- beres." Aku berkilah, padahal bukannya beres tapi malah tambah kacau.


"Kamu sedang mencari sesuatu? Apa itu? Mungkin aku bisa membantu." Tanyanya lagi sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Dia melihat- lihat kakacauan yg ku buat.


"Tidak, aku tidak mencari sesuatu. Aku hanya beres- beres." Tegasku lagi yg tak ingin mas Dipta tahu sebenarnya apa yg ku lakukan.


"Baiklah kalo begitu.. aku harus pergi keluar siang ini" Ucapnya.


"Oh.. apa lama?" Tanyaku ingin tahu.

__ADS_1


"Tidak.. maksudnya aku belum tahu. Aku akan ke kantor. Ada kerjaan yg harus aku tangani. Aku belum tahu akan sampai jam berapa tapi ku usahakan jam 4 aku sudah kembali ke rumah." Jawabnya. Aku menganggukan kepala. Masih ada 5 jam lagi untuk sampai jam 4, ku rasa mas Dipta bisa menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa tak apa- apa aku tinggal?" Tanyanya sambil menatap kedua mataku.


"Iya tak apa- apa. Selesaikan pekerjaanmu mas. Kita bisa ketemu nanti, aku akan menunggumu mas." Jawabku.


Mas Dipta menghela nafas lega, dia tersenyum kemudian membelai lembut rambutku.


"Aku berangkat dulu ya." Pamitnya kemudian berlalu dari kamarku.


Aku tersenyum dan membelai kembali rambut bekas belaian mas Dipta. Aku benar- benar berdebar tadi. Ingin rasanya ku museumkan rambutku, agar tak hilang bekas belaian tangannya.


Akhirnya setelah bongkar sana bongkar sini, tak juga menemukan baju yg cocok. Aku memilih kemeja monalisa salur dan celana jeans. Style-ku seperti biasa. Mungkin ini waktunya aku shoping dan mengatur ulang isi lemari. Sebaiknya ku agendakan nanti entah kapan untuk belanja baju, mengajak mama Ratna mungkin pilihan yg bagus.


Setelah makan siangku yg sendiri, aku mengisi waktuku dengan nonton drakor. Beberapa waktu berlalu, hingga 1 jam, 2 jam ,3 jam dan aku mulai gelisah. Pasalnya sudah jam 4 tapi tak ada tanda- tanda kedatangan mas Dipta. Berkali- kali aku melihat jendela rumah sampai keluar melihat ke arah pagar, namun dia belum muncul juga.


Pak Ardi yg sedang di depan melongok ke arahku. Mungkin dia heran melihatku yg bolak balik keluar masuk rumah. Aku hanya tersenyum saja ke arahnya, tak berniat menyapa takut ada yg marah lagi.


Masuk rumah ku lirik hp ku, tak ada pesan sama sekali apa lagi panggilan telpon. Aku menenangkan diri dengan mengambil nafas panjang. Mungkin pekerjaan mas Dipta memang tak bisa di tinggal, jadi yg sabar. Dia kerja untuk hidupmu, untuk kuliahmu, untuk masa depanmu juga. Aku mensugesti diri untuk tak neting.


Jam 5, hilang sudah kesabaranku. Aku marah, kecewa, frustasi dan khawatir. Bahkan beberapa kali aku mencoba menghubunginya namun tak di jawab. Pesanpun di abaikan. Ya, memang seperti ini mas Dipta. Tak pernah menganggapku penting.


Kemeja yg ku pakai sudah tak beraturan bagaimana bentuknya, rambut yg tadi sempat ku catok sekarang sudah kusut dan semrawut. Aku terpekur di sofa, tv masih menyala namun fokusku sudah lama tak di sana.


Jam 6, aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Namun aku sudah tak antusias lagi. Tak lama pintu terbuka, dan munculah sosoknya. Dia masih bisa tersenyum setelah membuatku menunggunya tanpa ada kabar.

__ADS_1


"Nia.. kamu sudah siap? Mau berangkat sekarang?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.


Ya ampun, sejak kapan jam 6 terlihat seperti jam 4.


__ADS_2