
"Mas Dipta sakit?" Tanyaku. Mas Dipta hanya tersenyum penuh arti. Aku begitu terpana melihatnya. Entah sejak kapan aku jadi mulai ketagihan melihat senyumnya.
"Apa kalo aku sakit kamu akan memaafkanku?"
"Ish..." desisku sambil memutar bola mata.
"Nia, dengarkan aku!" Ucapnya lagi kali ini begitu serius.
"Maafkan aku yg telah berkata kotor padamu. Sesungguhnya hatiku terasa panas ketika melihat dirimu di kelilingi oleh pria, sehingga membuat aku tak bisa mengontrol amarahku. Bahkan aku malah jadi menyakitimu. Aku janji, lain kali tak akan keluar lagi kata- kata kotor untukmu. Aku akan menjamin itu di hidupku. Maka dari itu maafkan saja diriku ya?!" Pintanya lagi serius dan sedikit memaksa di akhir. Matanya terus menatap dalam ke arah mataku, hingga aku terhipnotis dan tanpa sadar menganggukkan kepalaku.
"Alhamdulillah..bener ini ya, kamu sudah maafin ya.." sorak mas Dipta dan tanpa persetujuanku dia langsung memeluk tubuhku, menempelkan dagunya di atas kepalaku.
Aku bahkan tak percaya mas Dipta memelukku sekarang. Oh tidak, apakah rambutku tak bau, apakah aku sudah keramas? Aku bahkan tadi hanya menyisirnya asal. Ya sudahlah, Mas Dipta sedang bahagia karena maafnya di terima jadi berharap saja dia tak terlalu memperhatikan rambutku.
Mas Dipta jadi seperti bersemangat setelah itu. Dia bahkan membantuku masak siang itu. Sesekali ku lirik ke arahnya yg bibirnya seperti tak pernah lepas dari senyum.
"Mas Dipta gak kerja hari ini?" Tanyaku
"Tidak, aku memang ambil hari libur sekarang" Jawabnya
"Aku tak melihat mobil mas Dipta?" Aku ingat semalam saat pulang dari kerja tak ku lihat mobil mas Dipta, makanya ku kira mas Dipta belum pulang.
"Di bengkel, ada insiden kecil kemarin saat pulang, jadinya musti di benerin. Aku pulang naik taksi."
"Insiden apa? Mas Dipta baik- baik saja kan?" Aku mendadak khawatir mendengar kata insiden.
"Hem...baik, tak ada yg sebaik hari ini." Perkataanya membuatku semakin berdebar. Tak seperti mas Dipta yg biasanya, sekarang sikapnya kepadaku jadi lebih manis. Apakah itu rasa bersalahnya?
"Apa yg bisa aku bantu Nia?" Tanyanya. Aku tersenyum, apa sebelumnya dia pernah masuk dapur? Mungkin dia takkan bisa membedakan mana merica dan mana ketumbar.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri mas, kurasa mas Dipta tak perlu membantu. Mungkin yg ada nanti jadi ngrecokin hehe..." jawabku dengan cengiran, bermaksud bercanda.
"Baiklah kalo itu maumu, padahal aku lumayan bisa masak. Sarapan tadi buktinya" terangnya padahal aku tak bertanya.
"Nasi goreng tadi mas Dipta yg masak?" Tanyaku terlihat antusias, karena dia seperti ingin menunjukkan keahlian lain darinya.
"Aku lama hidup sendiri jadi harus bisa, tapi menu- menu yg sederhana saja." Jawaban mas Dipta mengingatkanku akan ucapan mbok Asih kala itu. Bahwa mas Dipta sebelum menikah tinggal di apartemen.
"Mas Dipta tinggal di mana sebelumnya?" Pancingku.
"Aku tinggal di apartemen. Kamu mau ke sana melihatnya?" Mataku melebar mendengar pertanyaannya.
"Apa boleh?" Tanyaku antusias. Mas Dipta tertawa.
"Tentu boleh, kenapa tidak. Nanti sore kita kesana setelah kita ambil mobil di bengkel ya?" Jawabnya. Aku mengangguk menyetujuinya. Tapi mendadak aku ingat bahwa sore aku harus kerja.
"Eh, mungkin lain kali mas. Aku harus masuk kerja, masak baru masuk 2 hari sudah minta libur." Ujarku mencoba memberi pengertian.
"Kamu keluar saja dari sana ya, tak perlu kerja apalagi kamu masih kuliah. Fokus kuliah saja dulu, baru nanti setelah lulus, cari kerja yg sesuai bidang kamu." Nada bicara mas Dipta melembut, tahu aku jadi sedikit sewot tadi.
Akhirnya aku mengalah, aku berpamitan pada mamanya Amel lewat telpon. Dengan meminta maaf dan beralasan ingin lebih fokus ke kuliah akhirnya aku resign dari toko roti itu. Sungguh tak bisa di percaya aku hanya bertahan 2 hari saja kerja di sana.
Mas Dipta nampak senyum penuh kemenangan.
Sorenya kita benar keluar rumah. Sudah seperti mau kencan saja, hatiku berdebar tak karuan. Kita naik taksi menuju bengkel, baru setelah dari bengkel kita menuju apartemen mas Dipta dengan mobil.
"Aku sekalian mau ambil beberapa barang di sana." Ujar mas Dipta ketika kita sudah melaju menuju apartemen. Aku hanya mengangguk menanggapinya.
Perjalanan ke apartemen mas Dipta ini ternyata lebih lama di banding ke rumah mama Ratna. Aku antusias ketika melewati restoran tempatku bekerja dulu. Aku bahkan sampai menoleh ke belakang ketika kita berlalu melewatinya.
__ADS_1
"Kamu ingin pergi ke sana?" Tanya mas Dipta yg melihatku memutar tubuhku hanya untuk melihat restoran itu.
"Aku hanya melihatnya karena penasaran." Kilahku, padahal aku ingin sekali ke sana bertemu teman- teman lamaku di sana.
"Bukankah itu tempatmu bekerja dulu? Kalo kamu mau kita bisa ke sana besok." Ucapan mas Dipta membuat mataku berseri- seri.
"Benarkah? Besok?"
"Hem, bukankah besok hari libur? Ada tempat yg ingin kamu datangi? Sekalian kita keluar besok." Ujar mas Dipta, yg membuat mulutku melongo.
"Kenapa? Ada tidak, kok malah bengong." Tanyanya lagi ketika mendapatiku bengong. Aku takut perlakuan manis mas Dipta ini hanya mimpi.
"Ada, tapi tak ke sana pun tak apa2." Jawabku lirih. Pasalnya aku tak ingin kecewa dengan perasaan yg melambung ini. Di perlakukan manis sedikit sudah terbang, padahal siapa tahu setelah ini akan di hempaskan kembali. Mas Dipta punya pacar, ingat?!.
"Memangnya tempat apa itu? Apa jauh?" Desak mas Dipta.
"Emh.. itu aku ingin ke bioskop. Nonton film" jawabku ragu, dan ku lirik mas Dipta ingin tahu reaksinya. Dia mengerutkan alisnya, sebelum akhirnya ku dengar tawanya. Aku merengut, apakah dia sedang menertawakanku.
"Sory..sory..." ucapnya di sela2 tawanya, dia melihatku yg tampak sewot.
"Aku bukan menertawakanmu, tadinya ku pikir tempat yg ingin kamu datangi itu jauh, perlu perjalanan lama ke sana. Tapi ternyata bioskop. Oke, besok kita nonton, setelah itu kita ke restoran itu buat makan malam." Lanjut mas Dipta setelah menghentikan tawanya.
"Sungguh?"
"Tentu saja. Anggap kita kencan besok." Jawabnya. Aku nampak gembira, hatiku berdebar dan mungkin wajahku bersemu merah mendengar kata kencan. Ya ampun, andai kencan beneran akan seperti apa rasanya.
Mobil sampai di parkiran sebuah gedung tinggi dan besar. Kita keluar dari mobil menuju lantai dasar gedung itu. Seorang security menyapa kita, nampaknya dia sudah hafal dengan mas Dipta. Security itu bergegas memencetkan tombol lift tanda naik untuk kita.
"Terima kasih pak." Ucap mas Dipta, security tersebut hanya membungkuk lalu berpamitan pergi.
__ADS_1
Kita masuk lift yg akan membawa kita ke atas. Mas Dipta memencet angka 5, dan lift terasa bergerak menuju lantai 5.