Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Jangan berisik


__ADS_3

Ku lihat Ibu dari arah depan menghampiriku. Aku masih melongok- longok mencari tahu apa yg terjadi.


"Nia, ngapain masih di situ? Buruan sana ke depan, temui suamimu!" Tegur Ibu, yg ternyata dia memang mau menghampiriku.


"Hah? Suami?" Tanyaku yg masih belum konek.


Aku buru- buru berjalan menuju ke ruang tamu. Saat sampai di ruang tamu, aku melihatnya yg tak lain dan tak bukan adalah suamiku, Mas Dipta. Aku melongo menatapnya, kalo- kalo yg ku lihat hanya bayangannya saja.


"Assalamualaikum Nia.." sapa nya. Aku melebarkan mataku.


"Hah? Ini Mas Dipta beneran? Aku gak sedang berhalusinasi kan?" Racauku tak jelas.


"Itu di jawab salamnya.. malah ngomong gak jelas!" Dumel Ibu di sampingku.


"Oh iya.. walaikusalam. Mas Dipta, kok bisa sih?" Aku masih belum percaya, meski jelas- jelas sekarang Mas Dipta di depanku.


"Ya bisa, sini salim dulu!" Mas Dipta mengulurkan tangannya. Aku pun menyambutnya dan menciumnya takzim.


"Kok bisa di sini Mas?" Tanyaku lagi, jelas- jelas kita sepakat kalo besok kita ke Jakarta dan bertemu di sana.


"Ya bisa, naik pesawat trus ke sininya naik taksi tadi." Jawabnya.


"Bukan itu maksudku Mas...


"Sudah sudah.. ini sudah malam, ajak Nak Dipta masuk dulu. Biarkan dia istirahat." Potong Ibu.


Aku pun segera mengajak Mas Dipta masuk kamarku. Ini pertama kalinya Mas Dipta masuk kamarku yg di kampung. Kamar yg sedari kecil sudah ku tempati sebelum mengadu nasib ke Ibukota.


"Kamarnya sempit Mas, apalagi tempat tidurnya. Nanti Mas Dipta tidur di kasur saja, aku tidur di karpet." Usulku mengingat kasur yg di kamarku tak sebesar yg ada di rumahnya.


"Mana boleh begitu, kita berdua harus tidur seranjang dong. Sudah berapa hari tidur sendiri, mana sebelumnya kamu kayak menghindariku." Katanya sambil menyeret kopernya masuk dan menaruhnya di dekat meja belajar yg ada di kamar. Tas yg di punggugnya pun di taruhnya di atas meja.


"Aku gak menghindar ya, Mas Dipta aja yg ngerasanya begitu. Aku bikinin minum ya Mas yg anget- anget, Mas Dipta mau minum apa? Kopi apa teh?"


"Boleh deh, teh anget aja. Aku mau bebersih dulu, kamar mandi nya di mana?"


"Ayok, aku anterin ke sana!"


"Gak usah di anterin, tunjukin aja dimana. Takutnya nanti kamu, aku seret ikut masuk kamar mandi."


"Apa sih mas.. wong aku sekalian mau bikinin minum. Kamar mandinya ada di dekat dapur soalnya."


"Oooh..."


Kita keluar kamar bersama, saat itu keadaan rumah sudah sepi dan sedikit gelap. Aku menyalakan lampu dapur untuk membuat teh.

__ADS_1


"Itu kamar mandi nya Mas." Tunjukku ke arah pojok ruangan. Mas Dipta mengangguk dan menuju ke sana.


Selasai bikin teh, aku menunggu sebentar sampai Mas Dipta keluar dari kamar mandi. Namun dia tak kunjung keluar juga. Padahal tak ku dengar lagi suara gemericik air dari dalam. Aku agak was- was, apa mungkin terjadi sesuatu di dalam.


"Mas.. kok lama?" Panggilku mendekat ke pintu kamar mandi. Tak ada jawaban, namun pintu sedikit terbuka. Aku agak mundur, jangan- jangan benar Mas Dipta akan menyeretku masuk.


"Nia.." panggilnya, kepalanya menyembul keluar. Aku menghampirinya dengan masih menjaga jarak.


"Kenapa Mas?"


"Aku lupa gak bawa handuk, tolong dong ambilin. Masa' iya aku keluar gak pake apa- apa."


"Ooh..iya bentar ya." Aku berbalik mengambil handuk yg di jemuran, dan ku berikan padanya.


Mas Dipta keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggangnya, tapi dia dengan santainya masih menungguku berjalan perlahan sambil membawa tehnya.


"Ya ampun Mas.. ih, buruan ke kamar. Malu, kalo tiba- tiba Ibu atau Tiara keluar ngliat kamu yg kyk gitu!" Kataku geregetan.


"Oh iya ya.." dia langsung berjalan mendahuluiku.


Saat aku masuk kamar, dia sedang membongkar kopernya mencari baju yg nyaman untuk di pakainya.


"Ini di minum Mas." Ku letakkan gelas berisi teh itu di atas meja.


Dia menyesap tehnya setelah selesai memakai baju.


"Kamu gak suka aku di sini?" Malah gantian dia yg nanya.


"Bukannya gitu, tapi kemarin dulu kan bilangnya ketemu di Jakarta." Jawabku.


Tangan Mas Dipta tiba- tiba menelusup di antara ke dua tanganku meraih pinggangku. Dan dalam sekali tarikan aku sudah ada di atas pangkuannya.


"Ish.. Mas Dipta, ini kenapa jadi pangku- pangkuan segala...


"Pengen deket gak ada jarak." Mas Dipta mendusel- duselkan wajahnya ke ceruk leherku yg membuatku terkikik kegelian.


"Pengen barengan ke Jakarta nya besok, tapi kita ke sananya sore aja. Jadi masih ada waktu sehari besok kita di sini." Katanya lagi


"Beneran Mas? Nanti Mas Dipta capek dong, bolak balik, belum lagi nanti senin udah ke Bali lagi."


"Masalah urgent di Bali sudah tertangani, tinggal mantau aja, jadi untuk masalah pekerjaan tak perlu lagi ke sana dalam waktu dekat ini. Mungkin beda cerita kalo nanti ke sana nya sama kamu." Jelasnya sambil menyenderkan dagunya di bahuku.


"Ke sana sama aku? Mau banget, tapi aku senin udah masuk kuliah lagi. Tapi serius masalahnya di sana udah selesai? Brarti Mas Dipta gak akan kemana- mana lagi kan?"


"Hem.. kamu senang?"

__ADS_1


Aku tak menjawab, malah berpaling tapi bibirku menyunggingkan senyum.


"Kok malah diem, kamu seneng gak?" Tanyanya lagi, mempererat lingkaran tangannya di pinggangku.


"Iya iya.. aku seneng. Di habisin minumnya Mas, trus istirahat." Ujarku ingin beranjak dari pangkuan Mas Dipta. Tapi tangan Mas Dipta menahanku.


"Ambilin dong! Minumnya sambil gini aja." Katanya. Aku yg memang lebih dekat ke arah meja, menjangkau gelas yg di atas meja tanpa turun dari pangkuan Mas Dipta.


Aku menyerahkan gelas itu ke Mas Dipta, dan Mas Dipta meminumnya tanpa sisa. Gelas yg kosong ku taruh lagi di atas meja.


"Sudah Mas, sekarang istirahat ya. Udah malem, Mas Dipta capek juga kan."


"Kamu emang gak capek juga ya?"


"Hah? Aku capek ngapain, seharian kerjaku cuma main."


"Kirain kamu capek juga, karena lari- larian terus di pikiranku."


"Ish.. Mas Dipta nih, ngegombal aja. Dah yuk bobok!" Kataku turun dari pangkuan Mas Dipta dan mulai naik ke kasur.


"Kamu udah bersih kan Nia?" Tanyanya lagi, aku mengerutkan alisku.


"Bersih? Mandi maksudnya? Udah dong Mas, emang masih bauk ya?" Aku mengendus- endus lengan dan ketiakku sendiri.


"Kamu bilang minggu lalu lagi mens kan? Berarti sekarang udah bersih." Mas Dipta mulai merangkak naik ke atas kasur.


Aku jadi ingat waktu itu, karena tak mau di sentuh Mas Dipta aku jadi berbohong jika sedang berhalangan.


Mas Dipta perlahan mendekatiku, aku jadi deg- degan. Aku bergeser mundur sampai mentok di tembok.


"Anu Mas.. kamar mandi nya jauh. Nanti kalo mau bebersih repot." Kelitku. Namun nampaknya niat Mas Dipta tidak surut.


"Tak apa, kita nanti bangunnya sebelum subuh trus mandi bareng aja biar cepet." Katanya semakin dekat , bahkan nafasnya sudah berhembus mengenai telingaku. Aku tambah grogi.


"Kamarnya gak kedap suara, di sebelah ada kamar Tiara." Aku bergeser lagi, sampai di pojok.


"Ssst.. makanya jangan berisik. Sini, kamu kok geser- geser terus, masih mau menghindar dariku ya?" Mas Dipta sudah mulai berubah raut wajahnya agak jengkel. Aku akhirnya pasrah ketika dia menarik tanganku untuk lebih dekat ke arahnya.


"Nah.. kalo nurut gini kan enak." Ucapnya sambil menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telinga.


Dan perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku, kurasakan bibirnya menyapu keningku. Agak lama, kemudian dia menciumi kedua pipiku. Dadaku sudah bergemuruh seperti genderang ditabuh sebelum perang. Namun setelah itu tak terjadi apa- apa, mataku yg tadi sempat terpejam perlahan ku buka kembali. Ku dapati Mas Dipta tersenyum jahil sambil menatapku.


"Ish.. Mas, apa sih jail banget!!" Sewotku dengan bibir cemberut. Tiba- tiba Mas Dipta meraup bibirku, aku yg tak siap jadi gelagapan dan menahan nafas saat bibirnya melu*mati bibirku. Sesapan demi sesapan terus dia lakukan, atas dan bawah membuat aku kehabisan nafas.


Aku mendorongnya, akhirnya Mas Dipta melepas pagutannya. Nafasku tersengal- sengal tak mampu bernafas normal. Mas Dipta pun ku lihat juga sedang mengatur nafasnya yg memburu.

__ADS_1


Namun tak lama kemudian, kembali dia memagut bibirku dengan sangat buas. Dan tanpa memisahkan pagutannya, dia mendorongku untuk berbaring. Aku di bawahnya, berhasil di kuasainya. Dan dengan pasrah aku membiarkan dia melakukan apa yg dia inginkan padaku.


__ADS_2