Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Siapa wanita itu


__ADS_3

Aku benar- benar tak mengerti maksud keputusan Papa dan Mama menyuruhku berpisah sementara dengan Mas Dipta. Apa yg membuat mereka mengambil keputusan seperti itu, apakah karena aku dan Mas Dipta dulu di jodohkan oleh mereka? Sehingga mereka membuat keputusan itu tanpa persetujuan kami?


Terus terang aku tak menerima keputusan itu. Apalagi jelas- jelas aku tak mau berpisah dari Mas Dipta. Dan ku yakin Mas Dipta pun demikian, tak ingin berpisah denganku. Karena ku lihat dia juga nampak terkejut mendengar keputusan yg di ucapkan Papa.


"Pa, aku mohon jangan pisahkan kami Pa!" Ucap Mas Dipta, ku dengar suaranya pun bergetar. Mataku bahkan sudah berembun.


"Dengan kalian berpisah sementara ini, Papa harap kalian bisa meyakinkan perasaan kalian masing- masing. Kalian akan menyadari, akan membutuhkan satu sama lain atau tidak. Setelah itu baru Papa dan Mama akan mengambil langkah selanjutnya. Apa harus di pertahankan atau memang benar- benar harus berpisah." Lanjut Papa lagi.


Aku benar- benar sudah menangis, dadaku begitu sesak dan nyeri. Ku lihat Mas Dipta pun demikian. Air matanya menetes tak bisa lagi di bendungnya.


"Pa... saat ini aku tak mau berpisah dari Kania Pa. Aku pun sangat membutuhkannya." Mas Dipta memohon dengan tangan saling bartaut di depan dadanya.


"Pa, saya bisa menjelaskan ini..." aku menginterupsi di antara sesenggukanku. Aku menyusut hidungku sebelum memulai penjelasanku.


"Pada awal pernikahan memang berat, itu wajar karena memang tak ada cinta di antara kita. Tapi semakin kita sering bersama, kita bisa menerima satu sama lain. Sekarang aku sangat mencintai Mas Dipta Pa, Ma. Bagaimana mungkin setelah hati kita saling bertaut Papa dan Mama akan memisahkan kita?"


"Untuk kamar wanita lain di apartemen Mas Dipta, Kania memang sudah tahu. Saat itu, sungguh aku tak baik- baik saja. Namun aku sadar bahwa setiap orang pasti punya masa lalu. Aku akan menerima masa lalu Mas Dipta apapun itu, karena kita tak akan bisa merubah apa yg sudah terjadi. Ku rasa Mas Dipta juga sudah tak lagi berhubungan dengan wanita itu. Saya mohon, Papa dan Mama jangan pisahkan kami!" Ucapku apa adanya seperti yg kurasakan.


Namun setelah mendengar penjelasan dariku, Papa justru mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mama meraih tanganku dan menggengamnya begitu erat. Air mata Mama justru semakin deras mengalir dari kedua matanya.


"Maafkan kami Nia.. maafkan kami.." lirih Mama berucap di sela- sela tangisnya.


"Nak Kania, apa kamu tahu siapa pemilik kamar wanita yg ada di apartemen Dipta?" Tanya Papa.

__ADS_1


Aku malah semakin tak mengerti, untuk apa aku tahu siapa wanita itu. Yg jelas dia pasti wanita masa lalu Mas Dipta, yg memang sedari awal aku menyadari kalo Mas Dipta ketika menikahiku di hatinya pasti masih ada wanita itu. Namun sekarang aku yakin, wanita itu sudah hilang sama sekali dari hati Mas Dipta. Terbukti dengan sikapnya yg begitu lembut dan perhatian kepadaku. Apalagi dia juga memohon untuk tak berpisah denganku.


"Wanita itu memang sekarang tak di sini, karena kami mengirimnya ke luar negeri. Tapi dia cepat atau lambat akan kembali lagi ke sini. Dia akan hadir di antara kita, di tengah- tengah kita karena dia adalah bagian dari keluarga ini. Saat itu, Papa harap hati Dipta memang benar- benar sudah untuk istrinya dan tak akan berpaling pada wanita itu lagi." Kata Papa penuh penekanan. Tatapanya tajam mengarah pada Mas Dipta, sedang yg di tatap mengusap kasar wajahnya.


Aku terhenyak mendengar perkataan Papa. Wanita itu bagian dari keluarga ini? Aku tadinya yg tak ingin tahu siapa wanita itu, berbalik sangat ingin tahu siapa dia.


"Siapa wanita itu?" Tanyaku pada semua orang yg di sana. Sesungguhnya hatiku sudah tergelitik dari awal, bahwa ada sesuatu dengan keluarga ini.


Bahwa dari awal sebelum pernikahan, Mama sudah memberiku pesan tersirat untuk bersabar menghadapi Mas Dipta. Yg kala itu Mama menganggap hati Mas Dipta sedang bingung dan hilang arah. Dan sedari awal aku tak pernah melihat saudara perempuan Mas Dipta. Yg kudengar dari Mbok Asih bahwa dia sedang ada di luar negeri. Ingatan- ingatan itu bagai kepingan- kepingan puzle yg tersusun kembali.


"Dia Delia, anak perempuan Mama dan Papa, adik Dipta dan kakaknya Dino. Setidaknya itulah yg kami anggap." Jawab Mama sambil mengusap air matanya.


Jawaban Mama benar- benar membuat mulutku melongo. Aku bagai tersambar petir. Bagaimana mungkin Mas Dipta menaruh hati pada adiknya sendiri. Tadinya memang aku sempat curiga, tapi kecurigaanku itu selalu ku tepis jauh- jauh.


"Nia.. Delia bukan adikku. Papa dan Mama yg menganggap dia adikku." Kelit Mas Dipta.


Aku menatap mereka berganti- gantian. Apa ini? Kenapa semakin ke sini malah semakin membuatku bingung.


"Delia memang bukan adik kandungmu Dip, tapi kalian sudah tumbuh bersama. Bisa- bisanya kalian menghianati kami dengan perasaan kalian itu!" Sentak Papa.


"Bagaimana bisa mencegah suatu perasaan yg tiba- tiba muncul Pa? Andai bisa, Dipta sudah melakukan itu sebelumnya." Mas Dipta kembali menjawab. Ku dengar Mama kembali tergugu menangis.


Mendadak hatiku seperti tercubit mendengar penuturan Mas Dipta. Tadinya aku yakin bahwa hati Mas Dipta saat ini sudah terisi olehku, tapi sekarang keyakinan itu sedikit demi sedikit terkikis. Ku ingat- ingat lagi, bahwa Mas Dipta memang tak sekalipun berucap kata cinta padaku. Aku jadi tersadar, bahwa yg ku yakini belum tentu itu sebuah kebenaran.

__ADS_1


Aku menangis, air mata yg tadi hanya berupa lelehan sekarang membanjiri kedua pipiku. Ini begitu menyakitkan, mengetahui kenyataan yg sebenarnya. Ku tutup wajahku dengan kedua tanganku, agar aku tak terlalu histeris. Selama ini Mas Dipta menganggapku apa, hanya sebagai pemuas nafsu di atas ranjang?!


"Apa kau sadar kau sudah melukai banyak hati di sini? Mama mu, Delia dan sekarang istrimu?!" Papa bicara dengan suara rendah kali ini.


Mas Dipta seakan terhenyak, dia seketika menatap ke arahku. Dan melihat betapa terlukanya aku, dia beringsut mendekatiku. Dengan tatapan yg layu, tangannya terulur ingin meraihku.


"Nia..." panggilnya, namun aku bergeser agar tangan itu tak mengenaiku. Dia seperti tersentak kala aku menghindarinya.


"Kau tak mencintaiku mas? Apa perlakuanmu padaku selama ini bukan cinta?" Tanyaku. Mas Dipta duduk berjongkok di sebelahku. Tatapannya sendu kepadaku, tapi aku tak ingin tertipu lagi.


"Nia, dengarkan aku. Aku tak ingin mengobral kata- kata cinta padamu saat ini. Cukup kau terima semua perhatian dariku, yg ku berikan padamu sungguh itu tulus dari hatiku. Aku ingin masalah hati ini segera selesai, tapi aku harus menunggu kepulangan Delia untuk menyelesaikannya. Percayalah padaku Nia!"


Aku sungguh ingin percaya kata- kata Mas Dipta itu. Namun otakku melarangku untuk melakukannya. Saat ini, mungkin dia bisa saja bilang seperti itu karena Delia tidak ada, tapi bagaimana kalo nanti Delia sudah kembali. Apakah kata- katanya tadi takkan berubah, mengingat waktu yg dia habiskan bersama Delia lebih lama di bandingkan denganku.


"Kurasa keputusan Papa dan Mama memang sudah tepat. Untuk sementara kita harus berpisah dulu. Masing- masing dari kita harus menata kembali hati kita Mas.." ucapku akhirnya. Mas Dipta sangat jelas terluka dari tatapan matanya.


"Menata hati? Apa maksudnya itu, hati siapa yg harus di tata? Bukankah tadi sudah jelas ku katakan. Bahwa aku tulus!" Mas Dipta sedikit meninggi nada bicaranya. Aku jadi benar- benar menempel pada Mama yg memang dari tadi duduk di sebelahku.


"Dip.. berikan Nia waktu!" Ujar Mama sambil merangkul bahuku.


Ku dengar Mas Dipta menghela nafas. Tatapannya tak berpaling dariku, namun kemudian dia bangkit dari duduk jongkoknya. Dan dengan pasrah dia menerima keputusan Papa.


Malam itu juga, dia kembali ke rumah kami. Sedangkan aku masih tetap tinggal di rumah Papa dan Mama. Dengan langkah gontai Mas Dipta keluar dari rumah, sesekali dia menatap kembali ke belakang mencariku. Namun aku tak muncul di sana untuk mengantarkannya.

__ADS_1


__ADS_2