Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Surprise makan siang


__ADS_3

Pagi ini karena sudah ada mobil sendiri, aku agak santai berangkat ke kampus. Apalagi aku baru ada jam kuliah saat jam 10 nanti. Aku melanjutkan menikmati sarapanku setelah mengantar mas Dipta ke depan tadi.


Ku dengar pintu di ketuk di iringi dengan salam.


"Walaikusalam." Jawabku kemudian melangkah mendekati pintu. Ternyata mbok Pur yg datang.


Mbok Pur begitu datang dia langsung ambil kemoceng aja.


"Sarapan dulu sini mbok!" Ajakku.


"Sudah tadi mbak sama mbok Asih. Habis sarapan langsung ke sini." Katanya sambil membersihkan meja di ruang tamu. Akupun menyudahi sarapanku.


"Cuci piringnya biar saya saja mbak." Mbok Pur tiba- tiba sudah ada di belakangku saat aku di depan wastafel hendak mencuci piring bekas sarapan.


"Gak papa mbok, cuma dikit kok ini." Jawabku sambil terus mencuci piring.


"Yo wis..kalo gitu saya ijin bersihin lantai 2 ya mbak." Mbok Pur berlalu meninggalkan aku.


"Iya mbok, untuk kamarnya nanti biar saya aja yg beresin ya mbok." Jawabku, mbok Pur hanya mengangguk kemudian menaiki tangga.


Aku menyiapkan bekalku, kali ini aku bawa bekal agak banyak. Nanti saat makan siang aku berencana ke kantornya mas Dipta ngajak makan siang bareng dengan bekal yg ku buat.


Selesai semua, aku naik ke kamar ingin bersiap- siap ke kampus. Ku lihat mbok Pur sedang membersihkan karpet bulu di depan tv dengan vakum cleaner.


Aku ke kamar berganti baju dan memoles sedikit make up di wajahku. Begitu selesai ku raih tas cangklongku yg berisi laptop dan buku- buku. Begitu aku keluar, Mbok Pur sudah tak di sana.


Saat sampai di bawah, ternyata mbok Pur sedang berkutat dengan alat pel.


"Mbok, saya berangkat dulu ya." Pamitku sambil jalan mengambil tas bekalku yg ku letakkan di meja makan, mbok Pur menegakkan tubuhnya untuk menatapku.


"Iya mbak, hati- hati ya." Jawab mbok Pur. Aku mengangguk sambil tersenyum.


Mbok Pur ini ku lihat sebenarnya usianya masih kurang dari 50 tahun, lebih muda dari usia mama Ratna. Namun mungkin karena beban hidup atau yg lain jadi terlihat lebih tua dari umur aslinya. Mbok Pur tipe orang yg harus di ajak ngobrol duluan baru dia bicara, kalo tidak dia hanya akan diem dan bicara seperlunya.


Beberapa saat berlalu, tiba waktu makan siang.


Aku mengemudikan mobilku ke arah kantor mas Dipta dengan kecepatan sedang. Sengaja tak ku kabari dia, biar surprise. Aku hanya berharap dia ada di kantor.


Setelah ku parkirkan mobil, aku masuk ke lobi dengan di bukakan pintu oleh pak satpam yg selalu siaga di depan pintu. Ada mbak- mbak resepsionist yg tersenyum ramah menyambutku, rupanya dia sudah tahu kalo aku adalah istrinya mas Dipta.


"Selamat siang bu Dipta.." sapanya, aku tersenyum.


"Panggil saja saya Kania mbak." Potongku.

__ADS_1


"Oh, baik. Apa bu Kania mau bertemu dengan Pak Dipta?" Tanyanya sopan.


"Iya, apa Pak Dipta nya ada?"


"Beliau sedang ada di luar, mungkin sebentar lagi beliau kembali. Apa Bu Kania akan menunggu?"


"Baiklah aku akan menunggu saja." Jawabku.


"Mungkin Bu Kania akan menunggu Pak Dipta di ruangannya? Ruangan beliau ada di lantai 2, saya akan menelpon asisten beliau untuk menjemput Bu Kania ke sini." Mbak resepsionist mencoba memberi usul. Aku berpikir sejenak, namun segera ku gelengkan kepalaku.


"Tidak, aku akan menunggu di sini saja." Jawabku.


"Baiklah kalo begitu, silahkan Bu.." dia menunjuk sofa yg pernah ku duduki bareng Amel waktu itu.


"Iya, terima kasih." Jawabku dan berjalan menuju sofa.


Aku mengamat- amati lantai 1 gedung itu, selain ruang resepsionist dan ruang publik ada beberapa ruangan tertutup lainnya di sana. Mungkin ada juga ruang pertemuan dan workshop di sana, aku sendiri tak yakin.


Untuk mengurangi kebosanan, aku merogoh tas dan mengambil hp ku dari dalam sana. Baru aku ingin membuka chatingan grup kampus, suara mbak resepsionist memanggilku.


"Bu Kania, Pak Dipta sudah datang." Ucapnya sambil menunjuk arah luar. Mataku mengikuti yg di tunjuknya.


Kacamata hitam bertengger di hidungnya yg mbangir itu. Dengan kemeja warna putih tulang dan celana warna abu muda semakin menambah penampilannya bersinar bagai model. Dia berjalan mantap memasuki lobi kantor.


"Kania? Kamu di sini?" Tanyanya sambil berjalan mendekatiku.


"Iya." Jawabku singkat.


"Kenapa tak memberi kabar? Bagaimana kalo aku perginya lama? Sudah lama menunggunya?" Pertanyaan beruntun darinya.


"Kalo aku kasih kabar dulu gak surprise dong. Aku juga belum lama sampai nya. Mas Dipta sudah makan?"


"Ayo ke ruanganku!" Ajaknya, aku mengikuti langkah panjangnya. Dia berhenti sejenak untuk menungguku, kemudian di ambilnya tas cangklongku dan tas bekal yg kubawa. Dia membawa semua tas itu hanya dengan satu tangan, satu tangannya lagi meraih tangan kananku untuk di gandengnya.


Ya ampun.. sweet banget Mas Dipta ini.


Kita menaiki lift yg akan membawa kita ke lantai 2 tempat ruangan Mas Dipta berada. Sampai di sana nampak sepi hanya ada beberapa orang saja yg melongok ke arah kita. Mungkin karena jam makan siang, jadi hampir semua orang pergi keluar atau ke kantin.


Mas Dipta tak menghiraukan tatapan orang- orang yg penuh rasa ingin tahu, dia terus menggandeng tanganku menuju sebuah ruangan yg ku rasa itu ruangannya.


Sebelum masuk, ku dengar suara memanggil nama mas Dipta. Kami berhenti untuk melihat siapa orang itu. Ternyata asisten mas Dipta, dia nampak berjalan cepat menghampiri kita.


"Sudah sampai Pak? Oh, ada Bu Kania. Selamat siang Bu Kania, apa kabar?" Sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Kabar saya baik mbak." Ku panggil saja dia mbak, karena ku rasa memang umur dia lebih tua dari pada aku. Dia mengangguk sambil tersenyum.


"Emh, makan siang nya mau di pesankan atau mau ke kantin Pak?" Tanyanya pada Mas Dipta.


"Tidak, sepertinya istriku sudah membawakannya." Jawab mas Dipta. Hatiku jadi berbunga- bunga saat mas Dipta menyebut kata 'istriku' di depan asistennya itu. Dia lalu menarik tanganku untuk segera masuk ruangannya.


"Ah kami masuk dulu mbak." Pamitku. Asisten mas Dipta itu cuma tersenyum yg kesannya terpaksa.


"Lain kali kalo kesini kabari dulu ya. Takutnya aku pas ada di luar." Ujar mas Dipta dia menaruh tas yg di bawanya di meja kayu dekat sofa yg berbentuk L, lalu mengambil air putih kemasan yg ada di kulkas mini belakang mejanya.


Ku lihat di pojok ruangan ada kamar mandi, aku menuju kesana hanya untuk cuci tangan.


"Iya, besok aku kabari." Jawabku dari dalam kamar mandi.


"Cuci tangan dulu mas, ayo kita makan." Ajakku setelah keluar dari kamar mandi. Aku sedang di buru waktu karena jam 1 sudah harus ada di kampus lagi.


Ku keluarkan kotak bekal dari dalam tas, ku buka semua tutupnya, dan meletakkan sendok yg akan di pakai Mas Dipta di dekat kotak nasi.


"Sepertinya enak." Ucap mas Dipta yg kemudian duduk di dekatku.


Aku menambahkan beberapa lauk dan sayur ke kotak nasi yg akan di makan mas Dipta, kemudian ku berikan padanya. Dia makan dengan lahap.


"Kenapa cuma melihatku, kamu tak ikut makan?" Tanyanya, aku menggeleng.


"Tadi aku sarapan cukup banyak, jadi masih kenyang." Jawabku.


"Meski begitu jangan sampai telat makan. Sini aku suapi!" Mas Dipta malah menyendokkan nasi dan di sodorkan ke mulutku. Yang akhirnya aku mau tak mau jadi ikut makan beberapa suap dengan di suapi Mas Dipta.


"Sudah mas, sudah kenyang." Aku melirik ke jam tanganku, aduh mepet sekali waktunya. Udah jam segini aja. Aku mengambil satu botol air mineral dan meraih tas cangklongku.


"Aku harus balik sekarang mas, ini sudah mepet banget waktunya." Ucapku sambil berdiri. Mas Dipta ikut berdiri.


"Gak usah balik lagi, di sini aja." Selorohnya. Aku mendelik mendengarnya.


"Gak bisa, seminggu lagi ada ujian. Aku gak mau kalo harus mengulang lagi." Jawabku ingin segera keluar dari ruangannya.


"Aku ke kampus sekarang ya mas, nanti kotak bekalnya di masukin lagi aja ke dalam tas nya. Jangan lupa di bawa pulang." Ucapku lalu melangkah.


Tapi aku berhenti sejenak dan balik lagi menghampiri mas Dipta, ku cium tangannya dan ku kecup pipinya sekilas.


"Kenapa gak bibir?" Tanyanya. Aku tersenyum .


"Kalo di bibir, sudah di pastikan aku akan telat sampai kampus." Jawabku kali ini aku benar- benar keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Hati- hati Nia!" Teriakan Mas Dipta yg masih sempat ku dengar.


__ADS_2