Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Solusi


__ADS_3

Setelah sholat dzuhur, aku termangu di kursi panjang yang terletak di lorong rumah sakit itu. Bingung bagaimana cara mendapatkan uang yang begitu banyak dalam waktu yang singkat. Menjual rumah? Itu adalah harta satu2 nya yang kami miliki. Dan lagi aku jg tak ingin menjual rumah itu di bawah harga pasaran, itulah yang mungkin membuat rumah itu tak akan segera terjual.


Mencari pinjaman? Akankah ada orang atau instansi memberikan pinjaman tanpa agunan. Sedangkan sertifikat rumah masih di bank sebagai jaminan pinjaman usaha ibu waktu itu.


Di tengah kekalutanku, aku merasakan usapan lembut di punggungku. Ku lihat bibiku yg mengusapnya sembari tersenyum.


"sudah makan Nia?" Tanyanya sambil duduk di sebelahku.


"nanti bi, belum laper" jawabku.


"kapan terakhir kali kamu makan? Kemarin malam, sore atau malah siang? Jangan ikut sakit Nia. Kamu harus kuat, ada ibukmu dan adikmu yg sekarang mengandalkanmu" tutur bibi yg kembali membuat mataku berlinangan air mata.


"andai saya bisa di andalkan bi...bahkan saya sendiri bingung mau bagaimana" ujarku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Berharap tak pecah tangisku.


"istighfar Nia...munajat kepada Gusti Allah agar di beri pertolongannya. Kita tak boleh menyerah selama napas masih berhembus" ucap bibi dengan suara bergetar, menandakan dia sedang menahan tangis.


"bibi...adakah bibi mengenal orang yg bisa meminjakan uang tanpa jaminan? Saya pasti akan membayarnya kembali, meski seumur hidup hanya bekerja untuk melunasinya" ucapku di tengah-tengah sesenggukan tangisku.


"yg sabar Nia, terus berdo'a. Karena pertolongan Allah datang dr arah yg tak di sangka-sangka" bibi terus menghiburku dengan kata-kata yg lembut dan merasuk ke hati. Ya Allah, mungkin ini memang teguran darimu. Selama ini diriku merasa lalai, sibuk mengejar dunia dan sering melupakan kewajibanku sebagai seorang hamba-Mu. Ampuni diriku ya Allah. Jeritku dalam hati.


"sudah, sekarang kamu makan dulu saja. Biar ada energi untuk berpikir jernih. Ini bibi bawakan opor ayam" bibi menyodorkan kotak bekal ke pangkuanku. Aku segera memegangnya agar tak jatuh ke lantai.


"sekarang bibi pulang dulu, nanti habis maghrib kesini lagi bareng Tiara" ujar bibi sambil berdiri. Tiara adalah adikku.


"makasih ya bi...gimana jadinya kalo gak ada bibi. Gak tahu gimana balesnya kita ke bibi" ucapku sebelum bibi melangkah untuk pergi.

__ADS_1


"ngomong apa kamu, Nia? Ya ini yg namanya keluarga Nia.." jawab bibi sambil berlalu dari hadapanku. Bibi adalah adik dari ibuku, dialah saudara kami yang masih satu kota dengan kami.


Malamnya bibi benar-benar kembali bersama Tiara dengan di antar oleh paman, suami bibi. Setelah saling bertanya tentang kabar dan kondisi ibu, bibi menyeret tanganku untuk keluar ruangan dan duduk di kursi taman yang tadi pagi ku duduki bareng Tiara.


"ada apa bi?" Tanyaku penasaran karena pastilah ada sesuatu yang serius yang akan di sampaikan oleh bibiku.


"Nia, kamu sudah ada solusi soal biaya berobat ibumu?" Tanya bibi, aku menghela napas dan memutar mataku.


"aku ada, kamu mau mencobanya?" Potong bibiku lagi setelah melihat wajahku yg putus asa.


Mendadak jantungku memompa dengan cepat, dan tanganku menjadi dingin.


"serius bi? Tentu saya akan mencobanya, apa bi?" Jawabku mulai tak sabar.


"tante Ratna? Sepertinya saya pernah dengar beberapa kali namanya di sebut orang. Memangnya kenapa dia bi? Dia mau minjemin uang buat Nia kah?" Aku tak tahu yg mana tante Ratna ini, karena otakku sedang tak kuat lagi untuk berpikir mengingat orang yg mungkin sudah lama meninggalkan kampung halaman dan tak pernah lagi kembali.


"belum tahu dia mau minjemin atau enggak. Tapi dia orang paling sukses di kampung. Kamu tahu masjid yang megah di dekat kecamatan itu, dia yang bangun lho Nia. Dan renovasi SD tempat SD mu dulu, dia juga yang renovasi, sekarang tengok deh sekolahanmu itu, pasti pangling kamu. Membangun jembatan yang menghubungkan 2 desa, dia juga Nia. Biaya semua di tanggung dari dia. Warga tinggal nikmatin tanpa keluar biaya sepeserpun" jelas bibi panjang kali lebar.


"ya, mungkin dia memang kaya bi. Tapi kira-kira dia mau minjemin uang gak ke Nia?" Tanyaku mulai ragu solusi yang di berikan bibi. Pasalnya memang banyak orang dermawan nyumbang sana nyumbang sini, bangun fasilitas desa ini dan itu tapi kalo di minta tolong meminjamkan uang mereka justru tak mau.


"belum pasti juga sih itu..." jawab bibi menambah kadar keraguanku semakin besar.


"nanti malam deh, coba aku hubungi dia lewat pamanmu. Semoga saja dia mau ...meski masih kerabat tapi kita jarang sih berhubungan" ucapan bibi barusan semakin membuatku pesimis. Jangankan kerabat jauh yang dekat saja kalo jarang komunikasi dan tiba-tiba telpon meminta pinjam uang pasti jawabannya bisa di pastikan. NO!


Malam itu aku dan adikku bergantian menjaga ibu. Setelah dokter selesai memeriksa keadan ibu, ku minta adikku tidur dengan menggelar karpet samping brangkar ibu. Sedangkan aku keluar menuju mushola, melaksanakan sholat isya' dan di lanjutkan dengan memanjatkan do'a lama-lama pada sang pencipta agar di beri kemudahan.

__ADS_1


Tanpa terasa aku tertidur dan bermimpi. Dalam mimpiku, aku kembali menjadi seorang anak-anak berada di taman dan sedang naik ayunan. Aku tak tahu kenapa saat itu taman yg biasanya rame mendadak jadi sepi, aku mulai was-was dan sedikit takut. Namun tiba-tiba ada seorang pemuda yang datang ke taman itu, dia menatapku sekilas tapi kemudian dia duduk di sebuah bangku dan mulai sibuk dengan pensil dan buku gambarnya. Entah apa yang dia gambar, tapi dengan adanya dia perasaanku yg tadinya was-was dan takut mulai hilang.


Aku terbangun saat mendengar suara batuk dari bapak-bapak yg mungkin habis menunaikan sholat malam, karena setelah ku lihat jam yg menempel di dinding mushola saat ini pukul setengah 3 pagi. Ku buka mukena yg masih ku kenakan, mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam.


Pagi menjelang siang, bibi kembali datang dengan membawa makanan, buah dan beberapa camilan. Padahal camilan yang di bawanya semalam masih ada banyak hanya beberapa saja yg sudah kami makan. Terus terang, aura dan hawa rumah sakit membuat kami yg tak sakit menjadi tak nafsu makan dan jadi ikut merasa sakit.


Setelah beberapa saat kami mengobrol singkat, bibi kembali mengajakku keluar. Ada sesuatu yang harus di sampaikan katanya. Kami memilih kursi panjang dekat mushola yg sepi saat ini, karena taman sekarang sedang panas terik matahari.


"Ratna mau bertemu denganmu Nia." Ucap bibi dengan senyum mengembang di bibirnya.


"benarkah bi? Itu artinya dia mau meminjamkan uang kan?" Tanyaku berharap dan ada secercah cahaya di hatiku yg mendung.


"itu belum tahu..makanya dia mau bertemu denganmu dulu" jawab bibi yg membuat senyum di bibirku kembali sirna.


"tante ratna mau ketemu denganku di mana bi?" Tanyaku mulai ke mode pesimis.


"ya di rumahnya dia Nia...kamu balik ke ibu kota terus ke rumahnya sana" jawab bibi, aku mengerutkan alisku.


"kalo setelah ketemu, tante Ratna gak mau minjemin uang gimana bi?"


"yg optimis Nia, kita sudah berusaha. Allah melihat usaha kita, siapa tahu ini adalah jawaban dari segala do'a. Berangkatlah kesana secepatnya. Ratna sudah tanya-tanya banyak hal tentangmu, malah seperti sudah tak sabar pengen ketemu kamu. Pagi ini tadi saja dia kembali menelponku bertanya kapan kamu akan menemui dia." Jelas bibi dan kembali memupuk harapan dalam hatiku.


"baik bi, saya akan menemuinya. Titip ibu dan Tiara sebentar ya bi. Semoga saat kembali lg kesini saya membawa kabar baik" putusku dengan beribu-ribu do'a dalam hati.


"Aamiin..." bibi meng-amin kan ucapanku.

__ADS_1


__ADS_2