
Tangan Mas Dipta kembali mengusap wajahku dengan lembut. Saat dia kembali menyatukan bibirnya dengan bibirku, aku seperti tersengat aliran listrik.
Dan akupun tak menyadari kala tubuh Mas Dipta sudah berada di atasku. Ciuman yg tadi lembut berubah jadi buas, bahkan ciuman itu sudah menjalar ke seluruh wajahku. Kening, mata, pipi, dan dagu tak luput di kecupinya.
Aku sudah terbawa arus, ku cengkeram sprei di bawahku saat bibir mas Dipta merayap ke leherku. Di kulumnya, di jilatnya dan di gigitnya pasti meninggalkan banyak bekas di sana.
Tangan Mas Dipta merayap menelusuri jengkal demi jengkal setiap tubuhku, bergerilya kemana- mana.
Saat tangan itu menelusup ke dalam bajuku, dan sudah mengusap da daku, spontan aku memekik tertahan dan mendorongnya, namun badan itu terlalu kokoh. Jangankan bergeser, bergeming pun tidak. Mas Dipta malah kembali menyesap bibirku. Pikiranku seketika kosong.
Dia menyingkapkan bajuku ke atas, dan saat baju itu lolos dari badanku, mas Dipta menghentikan aksinya sesaat. Dia menatap lekat bongkahan kenyal di da daku. Aku merona, tersipu, buru- buru tanganku menyilang menutup ke duanya.
"Jangan di tutup! Aku baru mengagumi keindahannya." Ucapnya mengurai tanganku agar tak menutupi da daku.
"Jangan terus menatapnya, aku malu." Ucapku lirih, Mas Dipta tersenyum.
"Jangan malu, kamu milikku malam ini." Katanya, kemudian membuka bajunya sendiri memperlihatkan da danya yg bidang dan otot- otot perutnya.
Kembali dia meraup bibirku, dan menelusuri leherku. Turun dan menjilati, mengulum dan menghisap puncak da daku secara bergantian. Bahkan tangannya yg satu terus meremasnya.
"Uuuh..." ******* lolos dari bibirku. Aku menggeliat, menelungkupkan punggungku membuat da daku semakin membusung.
Ku cengkeram rambut Mas Dipta, dia dengan rakus menghisapnya bagai bayi yg kehausan.
Tak puas di sana Mas Dipta menelusuri ke bawah. Dia menjilati bagian perut, memutari bagian pusarku dan terus turun ke bawah. Dan dengan cepat dia menurunkan celana ku.
Mas Dipta berhenti sejenak, dia membuka celananya dan kembali menindih tubuhku. Bibirnya melu*mati bibirku sesaat.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya perlahan, pasti akan sakit. Tapi aku takkan berhenti." Bisiknya.
Aku menggigit bibir bawahku kala benda asing menyeruak memaksa masuk di bawah sana. Kala Mas Dipta menghentak berhasil masuk, aku menjerit merasakan sensasi pedih yg luar biasa. Ku cengkeram bahu Mas Dipta sekuat tenaga, menyalurkan rasa sakit yg ku dapat. Lelehan air matapun berhasil lolos dari mataku.
Mas Dipta mengusap air mataku, dia melu*mat kembali bibirku. Menunggu di bawah sana agar terbiasa.
Setelah beberapa saat, kurasakan Mas Dipta mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya memang masih terasa perih, namun seiring dengan pinggulnya yg terus bergerak, rasa sakit itu tergantikan dengan rasa nikmat.
"Maasss..." desahku. Aku menggeliat dan melenguh seiring permainan Mas Dipta yg kadang pelan kadang cepat.
"Kaniaaa.. eemmhh.."
Kami saling mendesah bersahutan kala gerakan Mas Dipta semakin cepat dan menghentak kuat. Aku semakin tak bisa mengimbangi gerakan Mas Dipta, saat ku rasakan semakin panas bagian bawah kami.
"Hmmm ..." Mas Dipta menggeram melepaskan hasrat terpendamnya, menyemburkan ke dalam rahimku.
Nafas kami terengah- engah, bahkan keringat kami saling menyatu. Mas Dipta ambruk di atas tubuhku.
Dia menggeser tubuhnya dan menjatuhkannya di sebelahku. Tangannya melingkar di perutku yg masih polos. Kami terdiam beberapa saat, dan mulai ku dengar dengkuran lirih Mas Dipta. Dia sudah tertidur, mungkin dia kecapekan.
Ku tatap wajahnya, dia begitu tampan. Terbayang akan perlakuannya tadi padaku yg seperti tulus menyayangiku hingga benar- benar membuatku terbuai. Mungkinkah aku sudah di hatinya, apa aku sudah menembus dinding kokoh yg dia buat untukku?
"Aku sangat mencintaimu mas.. tahukah kamu?" Ucapku lirih, ku belai pelan wajahnya yg sudah damai di alam mimpi.
Aku sudah menyerahkan apa yg ku punya untuknya. Kepada pria yg ku cintai dan dia adalah suamiku. Meski aku tak tahu dia mencintaiku atau tidak, aku hanya berharap dia takkan pernah meninggalkanku. Bila suatu saat dia pergi dariku, ku rasa aku akan hancur.
Air mataku menetes perlahan di pipiku. Merasakan da da yg tiba- tiba sesak. Pikiran tentang wanita yg ada di hatinya Mas Dipta, bagaimana kalo dia datang kembali. Apa yg akan Mas Dipta lakukan? Memilih bersama wanita itu kah? Ah, tidak! Lebih baik mati saja aku.
__ADS_1
Ku geser perlahan tangan Mas Dipta, aku beringsut turun dari ranjang dan melangkah tertatih menuju kamar mandi.
Ku bersihkan diriku, mencuci muka agar pikiran- pikiran buruk tak lagi menghampiriku. Ku tatap wajahku di cermin, menguatkan diri jika aku siap mempertahankan Mas Dipta tak peduli tentang masa lalunya.
Ketika memotivasi diri selesai, aku kembali menatap tubuhku di cermin. Begitu banyak jejak kemerahan di tubuhku, terutama leher dan da da. Ya ampun.. apakah besok sudah bisa hilang ini. Kalo tidak, bagaimana aku akan menutupinya terutama di bagian leher.
Setelah memakai kembali bajuku, aku keluar dan mulai merebahkan diri di samping Mas Dipta. Menelusup ke bawah selimut yg sama dengan Mas Dipta. Mencari posisi yg nyaman, memejamkan mata bersiap masuk ke alam mimpi.
Saat terbangun, aku mendengar suara gemericik air. Ku lihat di sebelahku, Mas Dipta sudah tak disana. Sudah pasti yg di dalam kamar mandi adalah dia. Ku nyalakan sebentar layar hp, untuk melihat jam berapa ini. Jam 4.50.
Aku mulai bangun dan duduk bersender di kepala ranjang. Badanku terasa lemas dan seperti tak ada tenaga. Ku regangkan sebentar otot- ototku, agar tak kaku. Memutar badanku ke kanan dan ke kiri sampai terdengar bunyi 'klek klek' dari tulangku. Rasanya lebih enteng sekarang.
Pintu kamar mandi terbuka, dan munculah Mas Dipta. Dia keluar hanya melingkarkan handuk di pinggangnya. Nampak segar, rambutnya basah dan badannya yg tegap pun seperti tak di keringkan dengan handuk. Benar- benar masih basah, hingga airnya menetes di lantai. Aku benar- benar terpana melihat keindahan yg terpancar darinya.
"Apa aku membangunkanmu?" Tanyanya menghampiriku. Aku hanya menggeleng.
"Mau mandi dulu?" Tanyanya lagi sambil mengusap kepalaku. Aku pun menjawab dengan anggukan kepala. Mas Dipta tersenyum.
"Bisa jalan sendiri? Atau perlu ku gendong?"
"Aku bisa sendiri." Kali ini aku menjawab.
"Hem.. baiklah, mandi air hangat akan membuatmu nyaman." Ucap Mas Dipta, dia menyibakkan selimut lalu membantuku turun dari ranjang. Bahkan dia memapahku saat berjalan menuju kamar mandi.
"Apa ada lagi yg bisa ku bantu?" Dia bertanya sebelum aku menutup pintu kamar mandi.
"Tidak mas, aku bisa sendiri. Lebih baik Mas Dipta segera memakai baju sebelum nanti masuk angin." Jawabku yg kemudian aku menutup pintu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan turun sebentar dan berganti baju. Secepatnya aku akan ke sini lagi." Ucap Mas Dipta dari luar kamar mandi.
Ya ampun, dia akan turun ke kamarnya hanya dengan memakai handuk. Beruntung rumah ini hanya ada kita berdua.