
Siang hari aku sudah nampak segar setelah istirahat dari pagi. Tadi pagi ketika Mas Dipta berangkat kerja, waktuku hanya ku habiskan dengan tidur dan tidur. Aku terbangun, kala merasakan ada yg mengusap pipiku. Ketika ku buka mata, ternyata Mas Dipta sudah pulang. Jam menunjukkan pukul 13.45.
"Ayo kita makan! Mau di bawah atau makan di sini lagi?" Dia duduk di pinggir ranjang sambil menungguku mengumpulkan nyawa.
"Di bawah saja Mas." Aku menurunkan kedua kakiku dan duduk berjejer dengan Mas Dipta.
"Ayo! Bisa jalan?" Mas Dipta mengulurkan tangan hendak membantuku berdiri.
"Aku bisa sendiri mas. Mas Dipta turun ke bawah duluan saja, aku mau ke kamar mandi dulu, cuci muka." Aku berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
"Baiklah. Ku tunggu di bawah." Mas Dipta juga keluar dari kamar.
Siang itu kita makan dengan makanan yg di bawa Mas Dipta. Selesai makan, aku kembali ke kamar untuk sholat dzuhur karena sudah mepet waktunya. Mas Dipta bilang dia sudah sholat tadi di kantor.
Sore hari kita sudah sampai di rumah Mama Ratna. Saat tiba di sana, Mama menyambut kami dengan hangat. Apalagi saat melihat Mas Dipta tak melepas tanganku dari genggamannya, makin lebarlah senyuman Mama.
Papa pulang menjelang makan malam. Sedang Dino, dia tak di rumah. Dia sudah berangkat ke LN untuk mengurus keperluannya menjelang kuliah di sana.
Makan malam yg biasanya di isi dengan candaan dan ke usilan Dino, malam ini sedikit berbeda. Papa dan Mas Dipta membicarakan bisnis, sedang aku mendengarkan Mama yg menceritakan bagaimana kehidupannya di kampung dulu.
Saat malam makin larut, obrolan yg sudah berpindah ke ruang tengah itu masih berlanjut. Dari percakapan Papa dan Mas Dipta yg ku tangkap adalah proyek yg ada di Bali harus segera di tangani. Ada beberapa penyelewengan di sana. Obrolan mereka bertambah berat, akhirnya aku dan Mama kembali ke kamar karena mengantuk.
Entah di jam berapa, Mas Dipta mengusik mimpi indahku. Dia menciumi beberapa bagian wajahku dan mendekap tubuhku.
"Apa ini sudah pagi?" Tanyaku dengan nada serak. Mas Dipta terkekeh.
"Ini baru lewat tengah malam." Jawabnya. Tangannya sudah menelusup masuk ke dalam baju tidurku.
__ADS_1
"Mas, tangannya dimana itu.." aku menghentikan tangan Mas Dipta yg sudah berada di salah satu asetku.
"Kenapa? Apa kamu tak mau?"
"Tentu saja.. aku mau." Jawabku malu- malu. Mas Dipta tersenyum lebar. Dia menyibak selimut di atas tubuhku dan membuangnya asal ke lantai.
Malam itu kita melakukan penyatuan lagi dan lagi, bahkan menjelang subuh kita pun melakukannya di bath up kamar mandi. Berdalih ingin mandi bersama agar menyingkat waktu, tapi nyatanya kita keluar dari kamar mandi ketika sudah pagi.
Selesai sholat subuh kita baru sama- sama tertidur. Aku terbangun gara- gara gedoran keras di pintu kamar. Saat itu sudah jam 8.30 pagi. Ku dengar suara Mama memanggil- manggil nama kami dari luar.
"Mas, bangun!" Aku mendorong tubuh Mas Dipta yg seperti tak terganggu oleh suara gedoran Mama. Dia hanya menggeliat dan malah menarikku ke dalam pelukannya.
"Ish.. Mas bagun, tak enak dengan Mama." Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
Akhirnya karena Mas Dipta tak bangun- bangun juga, aku melangkah ke pintu untuk membukanya.
"Iya Ma?" Ku lihat Mama berdiri di depan pintu sambil melipat tangan di dada.
"Bangunkan suamimu, kita sarapan di bawah. Papa udah nungguin dari tadi tuh." Lanjut Mama yg tahu bahwa Mas Dipta belum bangun.
"Baik Ma."
Mama berjalan pergi dari depan kamar. Aku menutup pintu dan mendekati Mas Dipta lagi. Aku malu di depan Mama, menginap di rumah mertua berkali- kali baru sekarang bangun kesiangan.
"Mas, ayo bangun! Ampun deh, sepertinya Mama marah tuh." Aku kembali mendorong- dorong bahu Mas Dipta agar dia segera bangun. Dan akhirnya berhasil, dia mulai mengerjapkan mata.
"Aku mau cuci muka dulu, biar agak seger." Aku melangkah masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Papa dan Mama menatap kami ketika kami memasuki ruang makan. Sebenarnya aku masih kusut dan terasa letih sekali pengen rasanya masih bergelung di atas kasur, apalagi tidurku sangat kurang semalam. Tapi karena tak enak dengan Papa dan Mama jadi aku berusaha terlihat baik- baik saja.
Berbeda denganku Mas Dipta tampak terlihat lebih segar dan tak terlihat letih sama sekali padahal dia tadi begitu bangun langsung keluar kamar tanpa cuci muka dulu sepertiku. Bahkan tidurnya pun hanya sebentar, hanya pagi selesai sholat tadi.
"Maaf Pa Ma.. sarapannya jadi telat gara- gara nungguin kita." Ucapku, tak punya muka ketika di depan mereka. Mas Dipta malah santai saja, dia duduk di kursi seperti tak terjadi apa- apa.
"Tak apa, ayo cepat duduk!" Jawab Papa dengan senyum di bibirnya. Aku baru menyadari kalo senyum Papa sangat mirip dengan senyum Mas Dipta meski secara keseluruhan wajah Mas Dipta sangat mirip dengan Mama Ratna.
"Kamu tak membiarkan istrimu istirahat Dip? Lihat mukanya pucat gitu.." Mama menunjukku dengan dagunya. Aku begitu salah tingkah di perhatikan ketiga orang itu. Untuk menutupinya, aku minum air putih yg ada di depanku. Mama kenapa bicaranya blak- blakan sekali sih, aku jadi sangat malu apalagi ada Papa.
"Rasanya pengen terus Ma." Aku jadi kesedak dan mulai terbatuk gara- gara mendengar jawaban Mas Dipta yg begitu santainya. Ya Tuhan, bisa tidak sih dia menjawab dengan sedikit berbohong. Bilang saja aku sedang kecapekan karena menghadapi ujian. Itu bukan jawaban yg normal, itu hanya akan membuatku semakin malu.
Aku yg tadinya sangat lapar, jadi benar- bemar tak berselera makan. Rasa- rasanya semua mata terus menatapku. Apalagi dengan sengaja Mas Dipta terlihat begitu mesra denganku.
"Kenapa makannya sedikit sekali? Makan yg banyak. Setelah itu kita pulang." Mas Dipta melihat ke piringku yg hanya berkurang sedikit.
Memangnya salah siapa aku jadi tak berselera makan. Biasanya aku paling suka makan, aku tak pernah menyisakan makanan yg sudah terisi di piringku.
"Kalian mau pulang? Tak menginap di sini lagi? Bukankah besok kalian libur?" Tanya Mama, melipat tangannya di atas meja.
"Emh.. hari senin saya ujian Ma. Jadi setidaknya saya harus belajar." Aku memang belum belajar sama sekali. Kemarin- kemarin sibuk mengerjakan tugas, kalo ada waktu luang malah tak bisa fokus gara- gara merindukan Mas Dipta.
"Baiklah kalo begitu. Minggu depan apakah sudah selesai ujiannya?
"Biasanya sampai 2 minggu ujiannya Ma."
"Oh begitu? Tak apa, kamu bisa belajar di sini. Ku pastikan tak ada yg mengganggu. Jadi Dipta, antar Kania ke sini sebelum kamu pergi. Bukankah kali ini akan lama? Mama tak tega kalo dia sendirian di rumah." Ucapan Mama membuatku melongo tak mengerti.
__ADS_1
Mas Dipta akan pergi lagi? Setelah kemarin baru pulang dari Surabaya, kali ini akan kemana? Mama bilang tadi perginya akan lama, berapa lama itu?
Aku menatap Mama, lalu beralih menatap Mas Dipta. Dia tak menghiraukan kebingunganku. Malah menyeruput teh hangatnya. Kenapa dia tak bilang apapun padaku?