
Mas Dipta memilih tak menjawabku, dia malah berpaling dan melangkah mendekati sofa. Dia berselonjor di sana dan menutupi wajahnya dengan lengan.
"Baju itu bukankah punya adik perempuan mas Dipta?" Aku bertanya lagi, namun mas Dipta tak bergeming
"Apa mas Dipta mengidap sister complex?" Lagi aku bersuara. Entah kenapa malam ini aku ingin menanyakan banyak hal yg membuatku penasaran semenjak mas Dipta terlihat marah ketika aku memakai baju adiknya.
"Ngomong apa kamu ini Nia?" Akhirnya mas Dipta bereaksi, namun wajahnya masih tertutup oleh lengannya.
"Atau mas Dipta mencintai adik sendiri? Itu tak boleh, jelas itu di larang. Makanya mama Ratna bersikeras ingin menikahkan kita?!" Aku mulai berasumsi.
"Astaga, ada apa denganmu malam ini Nia?!" Mas Dipta meninggikan suaranya, dia sudah duduk di sofa menatapku dengan jengkel.
"Tolong tidurlah, ini sudah malam. Aku sangat lelah hari ini." Mas Dipta kembali merebahkan badannya di sofa, kali ini miring membelakangiku.
Aku menatap punggung mas Dipta dengan bersungut-sungut, mana bisa aku tidur, aku dalam mode sangat penasaran. Namun tak ada yg bisa ku tanyai saat ini. Tak lama, ku dengar nafas teratur mas Dipta, dia sudah terbang ke alam mimpi.
Aku menarik selimut yg di atas ranjang untukku selimutkan pada mas Dipta. Tak tega, karena ruangan begitu dingin di sini. Setidaknya aku memakai baju dan celana tebal jadi tak terlalu membutuhkan selimut.
Akupun membaringkan tubuh di atas kasur, dan mulai menuju alam mimpi. Dengan meringkuk, tanganku bersedekap di dada mencari kehangatan. Sesaat aku tertidur, tubuhku sudah mulai hangat dan semakin nyenyak tidurku.
Saat aku terbangun di pagi hari, aku begitu nyaman bergelung di bawah selimut. Apalagi ku dengar di luar sedang hujan rintik2. Menambah kadar kemalasan untuk bangun.
Eh tunggu, selimut? Kenapa aku jadi berselimut? Aku menegakkan kepala, untuk melihat ke arah sofa. Mas Dipta tak di sana. Lalu di mana dia? Apa dia sudah bangun duluan dan menyelimutiku setelah bangun tadi?
Beberapa pertanyaanku terjawab sudah, ketika ku rasakan ada pergerakan di sebelah tempatku tidur. Dan sepasang kaki menyembul di balik selimut.
Reflek aku langsung menyingkap selimut itu ke bawah. Ku lihat mas Dipta masih terlelap di sana.
"Mas Dipta!!" Panggilku sedikit berteriak. Mas Dipta menggeliat berbalik membelakangiku namun tak berniat bangun.
__ADS_1
"Mas, sejak kapan mas Dipta pindah tidur di sini?" Tanyaku dengan menggoyangkan bahunya.
"Hem...kamu sudah bangun? Biarkan aku tidur 15 menit lagi." Katanya tanpa melihatku. Di tanya apa jawabnya apa.
"Kenapa mas Dipta seenaknya sendiri sih?!" Pekikku, aku benar2 kesal. Dia sendiri yg memutuskan untuk tak tidur seranjang, kenapa sekarang bangun2 dia ada di sebelahku. Apa saja yg sudah dia lakukan saat aku terlelap semalam.
"Baiklah, beri aku 5 menit lagi. Bangunkan aku 5 menit lagi." Jawab mas Dipta mengira aku marah soal dia meminta waktu untuk tidur lagi.
"Mas Dipta benar2 membuatku kesal!" Aku beringsut lalu bangkit dari ranjang.
"Baiklah baiklah, aku bangun sekarang. Ini hari minggu, kenapa aku tak boleh bangun siang saat hari liburku.." dumelnya beringsut mulai bangun dengan malas.
"Mas Dipta kenapa bisa tidur di situ?" Tanyaku lagi saat ku lihat dia sudah benar2 bangun.
"Hem...badanku pegal2 semua harus terus meringkuk tidur di sofa. Ku lihat kamu juga kedinginan semalam jadi kupikir kita bisa berbagi selimut" Jawabnya sambil menyeret langkahnya menuju kamar mandi.
"Jangan berpikir macam2, ranjangnya terlalu luas untuk kamu pakai sendiri." Sambungnya dan masuk ke kamar mandi.
Sore hari kita kembali ke rumah setelah semalam menginap. Sebelum sampai rumah, mas Dipta mengajakku makan dulu di luar agar sampai rumah kita tinggal istirahat. Kita berhenti di sebuah restoran masakan nusantara yg lumayan rame sore itu.
Kita makan dengan menikmati suasana, kemudian pandanganku bertemu dengan seorang wanita yg terus2an melirik ke arah meja kami. Dan tak lama dia berjalan menghampiri kami. Mas Dipta tak tahu, sebab dia duduk membelakangi meja wanita itu. Mataku tak lepas menatapnya.
"Selamat sore pak Dipta..." sapanya ramah dengan senyum cerah ceria, manis menggoda. Mas Dipta menoleh ke sumber suara.
"Leni? Ya, selamat sore juga. Makan di sini juga?" Mas Dipta menjawab datar.
"Iya pak, sama mereka." Wanita itu menunjuk salah satu meja di belakang mas Dipta. Ketika mas Dipta memutar badannya untuk melihat, orang2 yg di meja tersebut kompak menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Hem..kalian double date." Seloroh mas Dipta yg mungkin sebenarnya hanya asal saja. Namun tanggapan wanita itu begitu serius.
__ADS_1
"Tidak pak, saya tidak berpacaran dengan salah satu dari mereka. Kita hanya keluar untuk makan saja." Jawabnya. Mas Dipta hanya mengangguk saja. Wanita itu melirik ke arahku, aku masih menatapnya.
"Dia istriku." Ujar mas Dipta yg melihat wanita itu melirik-lirik ke arahku.
"Oh...selamat sore bu Dipta, saya Leni asisten pak Dipta di kantor." Katanya mengulurkan tangan ke arahku.
"Panggil saja saya Kania." Sambutku dengan senyum yg tak kalah manis dengannya. Bibir memang boleh tersenyum tapi aura kami sudah seperti bertemu musuh saja. Aku sendiri yakin, bahwa asisten mas Dipta ini punya ketertarikan pada mas Dipta.
"Baiklah, saya kembali ke meja saya dulu ya pak." Pamitnya, mas Dipta hanya mengangguk saja karena mulutnya penuh dengan makanan. Aku masih menatap kepergiannya, dan baru beberapa langkah dia sudah kembali menoleh ke arah mas Dipta.
"Mas Dipta selama ini sadar gak kalo asisten mas Dipta itu jatuh cinta sama mas Dipta?" Tanyaku yg sukses membuat mas Dipta batuk2 keselek makanan. Ku ambilkan minuman untuknya.
"Kamu ini ngomong apa Nia? Dia itu asistenku." Jawab mas Dipta setelah minum.
"Memang seorang asisten tidak boleh jatuh cinta pada atasannya?" Tanyaku lagi.
"Dia sudah lama bekerja denganku, dan kita hampir tak pernah membahas hal pribadi. Wajar kalo tak ada perasaan yg tumbuh di antara kita!" Tegas mas Dipta, yg membuatku yakin bahwa Leni hanya cinta bertepuk sebelah tangan saja. Sama nasibnya denganku. Sayang sekali, mas Dipta memang bukan orang yg peka.
"Wajar kalo ada perasaan yg tumbuh di hati asisten mas Dipta itu. Setiap hari ketemu, dari pagi sampai sore. Dan kemungkinan mas Dipta banyak menghabiskan waktu dengannya meski itu suatu pekerjaan. Mungkin sebenarnya asisten mas Dipta itu sudah memberi kode2 pada mas Dipta, agar mas Dipta tahu perasaanya, tapi mas Dipta saja yg tak tahu." Jelasku, mas Dipta melirik ke arahku.
"Memang aku scaner yg bisa membaca kode. Makanya lebih baik bicara yg jelas." Mas Dipta mengambil minum lagi, karena makanan yg dipiringnya sudah tandas.
"Tapi baguslah, kalo mas Dipta tak ada rasa padanya. Setidaknya sainganku berkurang satu." Sahutku, dan
Byurrr...
Mas Dipta menyemburkan minumannya dan jatuh ke atas meja makanan yg masih tersisa.
"Ish...mas Dipta jorok banget! Makananku jadi kena semua nih" sewotku. Mas Dipta nampak mengelap mulutnya dengan tissu.
__ADS_1
"Sory sory...pesen lagi aja ya?"