
Mas Dipta menjelaskan semuanya setelah kita pulang dari rumah Mama. Dia akan ke Bali seminggu lagi. Dan entah akan berapa lama di sana. Bisa seminggu, dua minggu atau bahkan sebulan.
Banyak proyek yg bermasalah di sana, menjadikan pekerjaan mangkrak tak kunjung selesai. Mau tak mau Mas Dipta akan menyelidiki bahkan menyelesaikan apa yg menjadi penyebab proyek tersebut bermasalah. Bisa jadi hal itu membutuhkan waktu yg tidak sebentar.
Sebenarnya Mas Dipta juga ingin aku ikut, tapi di karenakan aku sedang ada ujian apalagi di tambah rencanaku yg akan mengambil semester pendek membuat dia urung untuk mengajakku. Dia hanya menjanjikan akan pulang ketika akhir minggu. Aku pun jadi tinggal di rumah Mama selama Mas Dipta bekerja di Bali.
Seminggu berlalu, Mas Dipta sudah berangkat ke Bali, aku pun sudah pindah ke rumah Mama dengan menempati kamar Mas Dipta yg terasa luas bila ku pakai sendiri.
Malam ini aku hampir sudah terbawa ke alam mimpi ketika ku dengar hp ku bergetar. Saat ku lihat, Mas Dipta melakukan panggilan video. Mataku yg tadinya sudah merem mendadak jadi terang bak lampu led. Ku benahi sedikit penampilanku sebelum ku geser tanda hijau di layar hp.
"Asallamu'alaikum Mas.." aku langsung melambaikan tangan ketika layarku di penuhi dengan wajah dari pria yg ku rindukan itu.
"Walaikumsalam, belum tidur?"
Ku lihat dia tiduran tengkurap di atas kasur . Dengan rambut yg masih basah, sepertinya dia baru saja selesai mandi.
"Iya belum.. Mas Dipta kenapa belum tidur juga?"
"Aku baru saja sampai di hotel tadi. Banyak yg harus ku urus disini, jadi tak terasa waktu sudah sangat larut."
"Mas Dipta sudah makan malam? Sibuk boleh, tapi jangan sampai lupa makan." Aku prihatin, ini sudah hampir tengah malam namun dia baru sampai di hotel untuk istirahat. Tapi bukannya segera istirahat dia malah menelponku.
"Hem, sudah tadi. Apa ujianmu sudah selesai?"
"Besok hari terakhir." Ku lihat Mas Dipta sudah beberapa kali menguap, namun nampaknya dia masih ingin mengobrol lebih lama denganku.
"Apa yg akan kamu lakukan setelah ujian selesai?"
"Aku belum tahu, tapi aku sudah di ajakin Mama shoping ke mall kalo sudah selesai ujian."
"Baiklah, bersenang- senanglah nanti bersama Mama."
__ADS_1
"Iya."
"Sekarang tidurlah, ini sudah sangat malam."
"Mas Dipta juga segera istirahat. Jangan lupa makan tepat waktu dan jaga kesehatan." Ucapku, sebenarnya tak rela video call ini terputus tapi ku lihat wajah Mas Dipta sudah nampak lelah.
"Hem, kamu juga. Ya sudah ku tutup telponnya. Asallamualaikum."
"Walaikumsalam." Dan terputus panggilan video itu. Aku masih termangu menatap layar hp, ku hela nafas sekejap.
Tak ada kata- kata mesra dari Mas Dipta, bahkan kita sudah tak bertemu beberapa hari ini. Padahal aku sangat merindukannya, merindukan sentuhannya.
Aku kembali berbaring dengan pikiran yg masih melanglang buana. Tentu saja pikiran yg tak jauh- jauh dari Mas Dipta. Dan entah seperti nyata aku terbuai dan bertemu dengan Mas Dipta. Sayangnya, dia tak melihatku padahal aku sudah melambai- lambaikan tangan agar menarik perhatiannya. Namun matanya terus tertuju ke arah pintu yg di sana ada seorang wanita yg dengan anggun melangkah ke arahnya.
Aku menghentak, hingga tak terasa terguling ke lantai , beruntung aku terlilit selimut tebal hingga tak membentur lantai langsung. Ya ampun.. itu cuma mimpi, mungkin aku terlalu cemas hingga mimpi seperti itu muncul.
Sudalah, jangan terlalu banyak pikiran. Yakinlah Mas Dipta di sana untuk bekerja. Aku meyakinkan dan menghibur diri sendiri.
Pertama kita ke salon, untuk mempercantik diri. Salon ini beda dari salon yg pernah ku kunjungi dengan Amel beberapa waktu yg lalu. Salon ini adalah langganan para artis tanah air, biaya jasa di sini pasti sangatlah mahal.
Selesai dari salon kita langsung menuju mall. Di sana kita ke restoran dulu untuk mengisi tenaga sebelum shoping. Rupanya Mama berencana menghabiskan waktu dengan shoping. Kita makan makanan di restoran Jepang.
"Aku sangat senang bisa jalan- jalan lagi sesama perempuan Nia." Kata Mama sambil menyuapkan satu potong sushi ke dalam mulutnya.
"Benarkah Ma? Nia juga senang kalo Mama juga senang." Aku tersenyum melihat binar- binar bahagia di mata Mama.
"Kita harus sering jalan- jalan berdua seperti ini. Membuat Mama merasa kembali punya anak perempuan." Ucap Mama yg membuatku sedikit terhenyak.
"Tapi Ma, bukankah Mama memang punya anak perempuan? Mbak Delia kan namanya?" Kataku spontan, namun reaksi Mama sungguh tak terduga. Dia terbatuk entah tersedak apa, mungkin sushi yg dia makan tadi. Buru- buru aku mengambilkan air minum untuknya.
"Mama tak apa- apa?"
__ADS_1
"Iya, tak papa." Mama kembali melanjutkan makannya setelah batuk- batuknya reda.
"Apa Mama tak pernah jalan- jalan berdua dengan Mbak Delia?" Aku yg terlanjur penasaran memberanikan diri untuk bertanya lagi. Mama melirikku sebentar, kemudian meletakkan alat makannya.
"Dulu kita sering jalan- jalan berdua. Ke salon atau shoping di mall juga, bahkan makanan ini pun kesukaanya." Mata Mama menatap makanan di atas meja. Seakan sedang mengenang masa- masa dia bersenang- senang dengan anaknya itu.
"Kapan kira- kira Mbak Delia pulang Ma? Sepertinya aku lupa dengannya, dulu waktu kecil yg ku ingat hanya Mas Dipta dan Dino. Mungkin karena Mbak Delia cewek jadi dia jarang keluar." Aku mencoba mengingat- ingat memori waktu kecil dulu. Tapi aku tak pernah ingat akan anak cewek Mama yg bernama Delia.
"Sudahlah, habiskan makananmu. Lalu kita segera pergi dari sini." Mama seperti menghindari pembicaraan yg menyangkut tentang anak perempuannya. Yg justru membuatku sangat penasaran.
Apa dia sakit, dan sedang menjalani pengobatan di luar negeri. Tapi kalo dia sakit, kenapa tak ada yg menemaninya. Pernah dulu Mbok Asih, mengatakan kalo Delia ke luar negeri karena di paksa oleh Mama. Bahkan tadinya dia tak mau sampai menangis- nangis, tapi tetap saja akhirnya dia pergi.
Apa yg sedang di tutup- tutupi oleh keluarga Mas Dipta ini tentang Delia. Apa mungkin sebenarnya dia hamil di luar nikah, lalu untuk menutupi aibnya, Mama memaksa dia untuk meninggalkan negara ini? Haduuh, pikiranku sudah kemana- mana.
Selesai makan, kita menuju salah satu outlet pakaian di sana. Mama memilih beberapa, aku pun melihat- lihat.
"Ada yg cocok? Ambilah!" Katanya yg melihatku melihat beberapa koleksi di sana.
"Tidak Ma, tak perlu." Aku langsung melepas tanganku dari pakaian yg sempat ku pegang di deretan gantungan baju di sana.
"Yg mana? Ini?" Mama malah langsung menurunkan baju- baju yg tadi sempat ku lihat- lihat.
"Kamu mau mencobanya dulu? Atau sudah mantap sama pilihanmu ini?" Mama menyerahkan baju- baju tadi padaku.
"Ma, saya tadi hanya melihat- lihat saja. Bukan ingin membeli." Jawabku.
"Tak apa, bungkus saja semuanya ya. Apa mau nambah lagi?" Baju- baju yg di tanganku kembali di ambilnya, dan langsung di bawa ke meja kasir.
Setelah semua terbayar, Mama malah menambahkan satu lagi bungkusan yg tak ku tahu apa isinya.
"Nanti di pakai kalo Dipta pulang ya." Bisik Mama, aku mengernyitkan dahiku. Memang bingkisan apa itu? Kenapa harus menunggu Mas Dipta dulu kalo mau memakainya?
__ADS_1