
Ketika sudah mau akhir pekan, aku jadi lebih bersemangat. Membayangkan akan bertemu dengan Mas Dipta sebentar lagi membuatku berdebar.
Selesai sarapan, aku berencana melakukan perawatan diri sendiri di kamar. Biar nanti lebih fresh dan terlihat segar. Tapi ketika ku lihat Mbok Pur yg bersiap pergi aku jadi mengurungkan niat untuk kembali naik ke kamar.
Mbok Pur pasti akan pergi untuk bersih- bersih ke rumah. Padahal di sana tak ada orang.
"Mbok Pur mau bersih- bersih ke rumah saya ya?" Tanyaku, dia membenarkan tas kulit sintetisnya yg melorot.
"Bukan Mbak, saya mau ke apartemen Mas Dipta. Sudah lama saya tak bersih- bersih di sana."
Aku berpikir sejenak, mengingat apartemen Mas Dipta yg pernah ku kunjungi sekali dengan Mas Dipta waktu itu. Aku juga jadi ingat salah satu kamar di sana yg waktu itu membuatku penasaran akan isinya. Belum ada kesempatan lagi untuk aku pergi kesana. Apa sekarang kesempatan itu datang?
"Saya pergi dulu ya Mbak.." suara Mbok Pur berlalu dari hadapanku.
"Tunggu Mbok Pur, apa saya boleh ikut kesana?" Aku melangkah mendekatinya. Mbok Pur nampak ragu untuk meng-iya-kan permintaanku.
"Saya bilang dulu ke Mama ya, Mbok Pur tunggu di luar sebentar." Aku segera mencari Mama untuk meminta ijin darinya.
Sesudah mendapat ijin dari Mama, aku ke kamar mengambil tas dan kunci mobil. Setelah itu keluar, menghampiri Mbok Pur yg duduk di teras.
"Ayo Mbok!" Ajakku, Mbok Pur mengikutiku di belakang.
Kita masuk mobil dan keluar menuju apartemen Mas Dipta.
"Mbok Pur sudah lama kerja sama Mama Ratna?" Tanyaku saat sudah di dalam mobil.
"Sudah lebih dari 20 tahun Mbak.."
__ADS_1
"Wah, lama banget ya."
Mbok Pur hanya mengangguk menjawabnya. Tak banyak obrolanku dengan Mbok Pur, memang dasarnya Mbok Pur orang yg tak banyak bicara dan lagi sepertinya pembicaraanpun terjadi dari satu arah saja. Mbok Pur menjawab apa yg aku tanyakan saja dan dengan singkat menjawab. Aku juga jadi sungkan bertanya- tanya terus.
Setelah beberapa saat akhirnya kita sampai juga di gedung apartemen. Kita langsung menuju ke lantai 5 gedung itu.
Sampai di dalam apartemen Mas Dipta, aku menahan diri untuk tak langsung menuju kamar yg pintunya masih tertutup dengan rapat itu. Melainkan aku menuju kamar Mas Dipta yg dulu pernah ambil beberapa barang dari sana. Aku juga berniat merapikan kamar tersebut.
"Ada yg bisa di bantu di sini Mbak?" Tanya Mbok Pur dari ambang pintu kamar.
"Belum Mbok, saya berniat merapikan dulu barang- barang ini. Baru nanti di bersihkan." Jawabku merapikan barang- barang yg tercecer di lantai.
Begitu selesai, aku jadi tetarik dengan lemari yg ada di kamar itu. Kira- kira apakah baju- baju Mas Dipta juga masih ada di sana sebagian?
Ku buka lemari itu, dan ku lihat masih ada tumpukan baju di sana dan beberapa ada juga yg di gantung. Semua baju- baju itu masih bagus, dan kelihatannya ada juga yg masih baru belum sempat di pakai Mas Dipta. Tapi kenapa Mas Dipta tak berniat memindahkan baju- bajunya ke rumah? Apa nantinya Mas Dipta akan berniat tinggal di sini lagi?
Saat ku sibak baju yg di gantungan, aku melihat sebuah tabung gambar di balik baju- baju yg tergantung.
Jadi apakah benar pemuda yg waktu itu ku impikan adalah Mas Dipta. Jadi mungkin saja, mimpi itu sebenarnya adalah kejadian sewaktu kita kecil dulu ketika di kampung. Aku akan menanyakannya nanti ketika bertemu Mas Dipta.
"Mbak Kania.." panggilan dari Mbok Pur membuatku tersadar. Aku buru- buru menggulung lagi kertas gambar tersebut kemudian ku masukkan asal ke tempatnya semula.
"Ada apa Mbok?"
"Sudah bisa saya bersihkan kamarnya?" Tanya Mbok Pur masih di ambang pintu. Aku menutup lemari kemudian menghampirinya.
"Iya sudah, masuk saja Mbok. Oya mbok, apa sebelumnya Mbok Pur juga yg membersihkan apartemen ini sewaktu Mas Dipta masih tinggal di sini?"
__ADS_1
"Betul Mbak, kenapa ya?"
"Sering bersihin ke kamar- kamar juga?"
"Iya, kamar ini saya juga yg bersihin."
"Kalo kamar yg sebelah, Mbok Pur pernah kesana?" Aku menunjuk kamar sebelah yg membuatku penasaran.
"Itu, biasanya Mas Dipta akan membersihkannya sendiri Mbak. Jadi sampai sekarang saya tak berani masuk ke kamar itu." Jawaban Mbok Pur semakin membangkitkan rasa penasaranku. Sebenarnya apa yg di sembunyikan oleh Mas Dipta di kamar itu.
"Oh gitu ya.. tapi sepertinya gak di kunci kok Mbok. Saya boleh masuk gak ya?"
"Walau gak di kunci, saya tetap gak berani Mbak. Selain saya tak ingin merusak kepercayaan Mas Dipta kepada saya, ada juga kamera pengawas Mbak. Kalo Mbak Kania, saya kurang tahu di bolehkan masuk apa tidak." Mbok Pur menunjuk cctv yg di pasang di depan pintu kamar, jadi akan jelas siapa saja yg keluar masuk ke sana.
Aku hanya mengangguk, dan membiarkan Mbok Pur masuk ke kamar Mas Dipta untuk bersih- bersih.
Aku melangkah mendekati pintu kamar yg tertutup. Ku perhatikan sebentar cctv yg menyala tepat di atasku. Kira- kira di dalam sana ada apa, sampai- sampai ada cctv yg langsung mengarah ke pintu ini. Aku jadi ragu- ragu mau masuk, namun karena rasa ingin tahu yg tinggi aku tak memperdulikan adanya cctv dan reaksi dari Mas Dipta nantinya.
Ku buka perlahan pintu kamar tersebut. Kamar yg temaram membuat pandanganku tak jelas akan keadaan kamar seperti apa. Ku nyalakan lampu, barulah aku dengan jelas bisa melihatnya. Hatiku sudah berdebar lebih dulu, bayanganku seperti memasuki kamar yg berhantu.
Kamarnya nampak biasa saja, baunya pengap karena mungkin sudah lama kamar ini tak di pakai. Aku masuk lebih dalam ke kamar itu. Dan menyusuri setiap sudutnya.
Hatiku langsung mencelos kala ku lihat ada meja rias di sana, di atas meja masih lengkap alat- alat make up dan beberapa produk skincare. Itu punya seorang wanita, tak mungkin Mas Dipta menggunakan make up ini. Apakah ini punya Mama? Ya, bisa saja ini kepunyaan Mama Ratna, aku mencoba berpikiran positif tapi rasa sesak tiba- tiba menelusup ke dalam dadaku.
Ku lihat ada lemari di sana, aku melangkah mendekatinya dan ku buka pintu lemari itu. Tumpukan baju berjejer rapi di sana, baju- baju khas seorang perempuan. Bahkan di rak bawah ada juga dalaman celana dan bh, ukurannya sedikit lebih kecil dari punya Mama. Jadi tak mungkin ini punya Mama, baju- baju itu juga bukan gaya Mama. Itu lebih seperti ke baju seorang perempuan muda. Pikiran positifku sudah tak kuasa lagi menahan prasangka burukku. Jadi inikah alasan sebenarnya Mas Dipta menutup rapat kamar ini, tak boleh satu orangpun masuk termasuk aku. Air mataku sudah memenuhi mataku, dan tanpa permisi lolos di kedua pipiku.
Di dekat tempat tidur ku lihat ada meja nakas di sana, di atasnya ada beberapa foto. Aku mengusap air mataku, lalu melangkah mendekati ranjang. Di dalam figura kecil- kecil, ku lihat wanita itu. Dia nampak tersenyum bahagia dalam berbagai pose. Ada yg sendiri, ada pula yg berdua dengan Mas Dipta. Foto dengan Mas Dipta pun ada berbagai gaya disana, ada yg sedang duduk di atas sofa, lalu berlatarkan pemandangan, dan ku lihat juga ada yg di pantai. Dari yg hanya berdiri berdampingan, sampai ada juga yg mesra saling berpegangan tangan, berpelukan dan ada juga foto yg menampilkan wanita itu sedang mencium Mas Dipta.
__ADS_1
Tak kuasa lagi aku berdiri melihatnya, tubuhku gemetaran melihat fakta itu. Aku melangkah mundur hingga jatuh terduduk di pinggiran ranjang. Wanita yg cantik, berkulit putih, dan sungguh tak ingin ku akui, tapi dia nampak serasi sekali bersanding dengan Mas Dipta. Ini sungguh menyesakkan, aku berkali- kali menarik nafas dalam agar mengurai rasa sesak ini.
Aku kembali berdiri setelah beberapa saat mengumpulkan tenaga untuk bisa berpikir jernih dan melangkah mendekati pintu kamar. Sebelum keluar aku matikan lampu terlebih dahulu.