Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Seperti marathon


__ADS_3

Kita kesiangan, yg sebelumnya berjanji akan membangunkanku sebelum subuh , nyatanya saat aku terbangun dia malah masih asyik merajut mimpi. Jam 5 pagi, sudah di pastikan Ibu telah bangun dan beraktifitas di dapur. Oh ya ampun, antara di kejar waktu untuk segera sholat subuh dan menahan malu.


"Mas..Mas, bangun! Kita udah kesiangan ini." Aku mengguncang bahu Mas Dipta berkali- kali. Mas Dipta menggeliat dan mengerjapkan matanya.


"Mas, ini sudah jam 5. Aku mandi duluan ya, baru nanti Mas Dipta." Aku buru- buru bangun, mengambil baju ganti dari dalam lemari dan menyambar handuk yg semalam di pake Mas Dipta di senderan kursi. Ku lirik Mas Dipta, dia masih bengong ngumpulin nyawanya.


"Haduuh.. fokus Maze, harusnya semalam aku gak percaya gitu aja waktu Mas Dipta bilang mau bangunin sebelum subuh.." dumelku sambil berjalan keluar kamar menuju kamar mandi.


15 menit kemudian aku sudah balik lagi ke kamar. Saat aku melewati Ibu yg di dapur, dia menyapaku dengan bilang bahwa aku tumben kerajinan banget, pagi- pagi udah mandi. Aku hanya bisa nyengir tersenyum sambil berlalu.


Di kamar, ku kira Mas Dipta tidur lagi tapi ternyata dia sedang menungguku dengan duduk di pinggiran kasur.


"Udah Mas, buruan mandi sana." Kataku dengan mengalungkan handuk yg tadi ku pakai di lehernya agar dia tak lupa lagi.


"Duh dek.. ini handuk kenapa bisa basah banget begini? Ini habis kecemplung ya, ada handuk yg lain gak?" Tanyanya mengangkat handuk di lehernya dan melemparnya ke kursi.


Aku mencebik, namun akupun membuka lemari dan mengambilkannya handuk yg masih bersih dari sana.


"Ini, jangan lupa bawa baju ganti. Pake baju nya di kamar mandi sekalian. Masa' keluar cuma mau pake handuk, malu. Ada Ibu soalnya di dapur. Tiara juga pasti dah bangun.."


"Iya.. iya bawel." Mas Dipta mengambil handuk di tanganku dan menyambar baju ganti dari dalam kopernya yg memang di biarkan terbuka dari semalam.


Tak lebih dari 5 menit dia sudah kembali ke kamar. Ku pikir dia tak jadi mandi, saking cepetnya. Tapi melihat wajahnya yg sudah seger dan rambutnya yg masih basah, pastilah dia sudah mandi.


Aku sudah menggelar 2 sajadah di sana, dan sudah mengenakan mukena tinggal menunggu Mas Dipta yg sedang mengenakan sarungnya untuk sholat berjama'ah.


Pagi- pagi sudah seperti marathon saja. Selesai melipat mukena yg ku kenakan tadi, ku dengar hp ku bergetar. Saat ku raih hp ku, ternyata bunyi itu bukan berasal dari hp ku, melainkan hp nya Mas Dipta.


"Mas hp mu bunyi tuh." Mas Dipta yg sedang melipat sarungnya melihatku sejenak.


"Dari siapa?" Tanyanya sambil menaruh sarungnya asal ke tumpukan baju di kopernya. Aku mengambil hp Mas Dipta di atas meja, ku lihat di layar hp nya tertulis 'Mama'. Pastilah itu dari Mama Ratna.


"Dari Mama Mas." Jawabku sambil menyerahkan hp ke tangan Mas Dipta.

__ADS_1


Mas Dipta pun langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum Ma.." ujar Mas Dipta menempelkan hp di telinganya.


"....." suara Mama tak bisa ku dengar.


"Iya, nanti sore sama Kania Ma."


"....."


"Ada apa ya Ma?"


"....."


Mas Dipta melirik ke arahku. Lalu menjauhkan hp nya dari telinganya.


"Nia, aku keluar bentar ya nerima ini." Ujar Mas Dipta kemudian berlalu keluar kamar tanpa menunggu jawabanku.


Aku masih terus menatap kepergian Mas Dipta, meski orangnya sudah tak terlihat. Mendadak hatiku nyeri, melihat Mas Dipta di telpon Mama tapi seperti tak ingin terdengar olehku obrolan mereka. Apa aku masih belum menjadi bagian dari mereka? Pagiku yg tadi bersemangat mendadak jadi layu.


Selang beberapa saat, makanan sudah tersaji di atas meja, aku pun juga sudah menyeduh teh untuk Mas Dipta yg biasanya pagi- pagi gini minumnya teh anget.


"Nia, panggil suamimu sana. Ajak sarapan, kalian nanti jadi balik Jakarta?" Ibu meletakkan piring berisi tempe goreng ke atas meja.


"Jadi Bu, tapi nanti sore. Bentar ya Bu, Nia panggil Mas Dipta dulu." Aku berlalu dari meja makan dan berjalan ke arah luar.


Ku lihat di luar Mas Dipta, sedang duduk di teras dengan melihat ke arah layar hp nya. Sepertinya telpon dari Mama sudah selesai, tapi wajahnya kenapa jadi serius sekali. Ada masalah lagi kah? Mama yg telpon, pasti bukan tentang pekerjaan. Aku mendekatinya perlahan.


"Mas.. " panggilku, dia gelagapan dan buru- buru mematikan layar hp nya. Mendongak dan menatapku sambil tersenyum yg di paksakan.


"Ada masalah lagi ya? Kok serius banget." Aku jadi curiga bin kepo.


"Oh, gak ada kok. Yuk masuk, sarapannya sudah siap ya? Laper banget nih, semalem habis kerja keras soalanya." Ujar Mas Dipta meraih tanganku dan menariknya mengikuti langkahnya masuk ke rumah.

__ADS_1


"Apa sih mas.. gaje banget deh!" Cebikku sudah dengan merona menahan malu.


Sampai di meja makan, di sana Ibu dan Tiara sudah duduk di kursi dan bahkan piring mereka sudah terisi makanan yg siap di santap.


"Duuh.. uwuu banget sih kalian, gandeng- gandeng segala. Dah kayak lagu, yen takdire gandeng yo bakale gandeng.." cerocos Tiara sambil cengingisan. Ibu melihat hanya senyum- senyum saja. Mas Dipta pun malah tersenyum tanpa berniat melepas tanganku. Saat aku menariknya, dia malah semakin kenceng genggamnya. Baru setelah kita duduk, dia melepas tanganku.


Kita sarapan dengan menu seadanya khas kampung, namun sangat terasa nikmat kalo bersama orang- orang yg kita sayangi. Sambil ngobrol ringan, kita menghabiskan sarapan pagi itu.


Selesai sarapan, aku mengajak Mas Dipta muter- muter jalanan kampung dengan motor matic yg ada di rumah. Menghirup udara yg masih asri kurasa bisa menyejukkan pikiran.


"Kita gak pake helm nih?" Mas Dipta masih celingak celinguk, mungki mencari keberadaan helm.


"Gak usah Mas, kita kan cuma menyusuri jalanan kampung. Pelan- pelan saja, sambil bernostalgia jaman kecil dulu." Jawabku. Mas Dipta melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu masuk ke rumah, entah apalagi yg dia cari. Dia keluar lagi membawa jaket tebal di tangannya.


"Pake jaket ya, masih dingin, jangan sampai nanti masuk angin." Mas Dipta memakaikan jaket yg besar padaku, pasti tuh jacket punya dia. Sedang dia ku lihat mengenakan hoodie saja.


"Dah yuk, nanti keburu siang." Kataku, setelah selesai pakai jaket, lalu duduk di boncengan motor. Mas Dipta pun segera duduk di depanku.


"Yuuuk.. pegangan yg kenceng ya!" Katanya mulai menjalankan motornya. Berasa kayak mau ngebut saja, padahal dia jalanin motornya kayak siput, pelaaaan banget.


Kita melewati hamparan sawah yg sudah tampak menguning. Beberapa bahkan sudah mulai di panen. Angin berhembus sepoi- sepoi, masih agak lembab karena berembun di pagi hari.


"Mas, ingat taman yg dulu ada ayunannya gak? Ku rasa, aku dulu bertemu Mas Dipta pertama kali di sana." Ucapku ketika motor berbelok ke jalanan yg agak rame.


"Emang ada taman yg seperti itu di sini?" Tanyanya.


"Ada mas, aku ingat dulu Mas Dipta menggambar di sana. Sepasang burung di atas ranting. Sayangnya taman itu sudah gak ada, berganti dengan mini mart." Aku menunjuk bangunan mini mart yg dari kejauhan sudah terlihat.


"Sebenarnya, aku juga dah lupa kejadian itu sih. Tapi sebelum aku menikah dengan Mas Dipta, percaya atau gak aku mimpiin moment itu lagi lho Mas." Kataku. Kurasakan Mas Dipta mengelus tanganku yg melingkar di perutnya.


"Hem, aku mulai ingat. Waktu itu di rumah lagi berduka, jadi aku menyibukkan diriku di taman itu." Ujar Mas Dipta, yg membuatku bertanya- tanya. Sedang berduka? Apa ada yg meninggal waktu itu? Tapi aku terlalu ragu untuk menanyakannya pada Mas Dipta. Akhirnya kita hanya terdiam melewati mini mart tadi.


Dan secara kebetulan, ada segerombolan ibu- ibu yg kemarin berghibah, mereka mengerumuni seorang pedagang sayur keliling di pinggir jalan. Pas sekali, ketika lewat, bagai slow motion yg memang Mas Dipta bawa motor nya pelan. Aku merapatkan peganganku pada Mas Dipta. Gerombolan yg tadinya ngobrol dengan santer, seketika langsung terdiam. Menatap kami hingga mengikuti arah jalan kami. Aku tersenyum, sengaja menyapa mereka dengan anggukan kepala. Dan seketika mereka gelagapan.

__ADS_1


Nah kan, kena kalian. Jadi kicep kan sekarang, lagian punya salah apa sih diriku pada kalian.


__ADS_2