Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Proyek pengalihan pikiran


__ADS_3

Aku sudah merindukannya, tak pernah dalam sedetikpun aku berhenti memikirkannya. Bahkan apapun yg kulakukan akan berakhir dengan mengingatkanku padanya. Kira- kira dia di sana juga sama kah seperti aku yg ada di sini. Ku rasa tidak, apalagi fakta bahwa aku hanya mencintai dia seorang tapi dia tidak. Ini sungguh menyesakkan.


Dia orang yg sibuk, sedangkan aku sibuk memikirkan dia. Beberapa kali aku mengirimkan pesan padanya.


Ini sudah jam makan siang, sudah makan siang belum?


Mas, meski sibuk jangan lupa sholat ya.


Mas, mama tadi menelpon. Dia bertanya apakah aku tidak apa- apa sendirian, dan memintaku ke rumah mama agar aku tak kesepian. Tapi ku jawab tak apa- apa sendirian di rumah.


Aku tak masak hari ini, hanya memesan makanan online saja. Mas Dipta sudah makan malam belum?


Dan masih ada beberapa lagi pesan yg ku kirim, hanya mengingatkan dia akan sesuatu hal yg semestinya di lakukan atau menceritakan keseharianku padanya. Tak berharap akan segera di balas, namun aku akan sangat bahagia saat dia langsung membalasnya. Tapi dia kebanyakan membalasnya sudah terlewat begitu lama, atau kalo malam sudah tiba.


Dia juga menelponku, tapi saat hari sudah begitu larut. Meski begitu aku akan sangat bersemangat menerima panggilan darinya. Percakapan kami selalu terputus di tengah obrolan karena dia akan tertidur tanpa sadar. Aku memakluminya, mungkin karena harinya begitu melelahkan.


Berkali- kali aku melihat hp ku, begitu ada notifikasi aku akan buru- buru melihatnya. Tapi saat ku buka itu bukan pesan yg ku tunggu, aku sungguh kecewa.


"Kamu sedang menunggu telpon?" Tanya Amel.


Kita sedang makan siang di dekat kampus.


"Tidak." Jawabku, aku memang tak sedang menunggu telpon tapi menunggu pesanku di balas. Sejak bangun tidur tadi aku sudah mengiriminya pesan, namun jangankan di balas, di lihat saja belum.


"Menunggu pesan? Dari siapa? Suamimu?" Tanya Amel lagi.


Aku tak menjawab, hanya mengangguk dengan wajah murung.


"Berapa lama dia di sana?"


"Ini hari terakhir, mungkin besok dia baru pulang. Tapi sejak pagi dia tak membaca pesanku."


"Dia sangat sibuk mungkin. Sudahlah, cepat makan. Bukankah biasanya bagimu makan adalah nomor 1?" Ujar Amel yg sudah menghabiskan makanan di piringnya.


Aku makan dengan tak berselera. Rasa makanan yg biasanya enak sekarang jadi hambar. Memendam rindu memang sangat menyiksa. Padahal ini baru berapa hari.

__ADS_1


"Kalo sudah, ikut aku. Kita akan melakukan proyek pengalihan pikiran. Biar pikiranmu tak melulu tentang suamimu." Lanjut Amel.


Selesai makan, aku dan Amel meninggalkan area kampus menuju salon ternama yg dekat dari sana. Ini adalah salah satu langkah Amel dalam proyek pengalihan pikiran.


"Merawat diri itu penting. Biar penampilan kita lebih fresh, kalo di luar sudah fresh akan membawa suasana hati kita juga lebih baik." Selorohnya ketika kita mendaftar antrian di meja pendaftaran.


Kita akan melakukan facial dan creambath. Pengennya mau spa sekalian biar bisa pijit- pijit badan, tapi ternyata itu membutuhkan waktu yg lama. Jadi kita memilih perawatan wajah dan rambut saja.


Kita selesai perawatan hari sudah sore. Ku tatap penampilan diriku melalui kaca salon yg besar. Wajahku sedikit kemerah- merahan efek dari facial, namun tak apa- apa besok akan hilang dengan sendirinya. Penampilanku lumayan glow up lah dari pada tadi sebelum perawatan, apalagi tatanan rambutku yg di blow setelah di creambath tadi.


"Langkah ke- 2. Kita ke mall, nonton sekalian cuci mata." Ucap Amel, menarik tanganku menuju mobil.


"Mau nonton film apa emang?" Tanyaku.


"Jangan yg romantis. Nanti gagal proyekku, film horor aja gimana? Itu yg lagi viral, film tentang KKN." Jawab Amel.


"Hah? Kamu sengaja ya. Ogah ah, aku di rumah sendirian tauk!" Tolakku yg udah parno duluan.


"Justru itu, proyekku berhasil brarti. Udah gak papa, nanti kalo kamu takut aku temenin tidur deh." Kelit Amel, dan ku pikir benar juga. Aku akhirnya mengikuti saran Amel.


Jam 18.15 kita masuk studio untuk nonton.


"Aku pernah berencana nonton juga dengan Mas Dipta tapi gak jadi. Eh sekarang jadi nonton tapi malah denganmu." Ucapku sebelum lampu di padamkan.


"Apa? Memang kenapa kalo denganku? Anggap saja ini girls day out. Jadi stop pikirkan soal suamimu itu?" Kata Amel penuh penekanan.


Setelah itu lampu padam. Film horor di mulai. Suasana jadi tegang ketika penampakan hantu wanita mulai muncul. Aku menutup mata sebentar ketika adegan menegangkan. Kadang suara pekikan terdengar dari beberapa penonton lain. Aku lebih memilih tutup mata dan telinga.


Tak terasa film itu pun berakhir, kita keluar dari bioskop sudah hampir pukul 8 malam.


"Kita langsung pulang aja ya?!" Ajakku. Amel mengangguk.


"Jadinya gimana? Mesti di temenin tidur gak?" Tanyanya.


"Gak perlu, aku kebanyakan gak ngliat adegan horornya jadi gak takut- takut amat." Jawabku.

__ADS_1


"Oke kalo gitu, kita pisah di sini aja. Kamu ke parkiran, aku ke depan mall, bapak ojek udah nungguin."


"Hah? Kenapa gak aku anter aja sih Mel?"


"Ini udah malem Kan, lagian arah kita berlawanan. Kalo kamu musti nganter aku dulu, bisa- bisa kamu sampai rumah nanti jam 10-an. Udah ya aku duluan, nih pak ojeknya udah nelpon." Ucap Amel sambil jalan setengah berlari meninggalkanku.


"Makasih hari ini Mel. Ati- ati!" Ucapku sebelum dia menjauh. Amel menoleh ke arahku, dia tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arahku.


Aku pun kemudian berjalan menuju tempat parkir.


Sampai di dalam mobil, aku melihat hp ku yg sejak tadi ku silent. Ada beberapa pesan di sana. Salah satunya dari Mas Dipta. Ada juga riwayat panggilan tak terjawab darinya sebanyak 5 kali.


Kania, kamu di mana? Kenapa tak angkat telpon.


Pesan Mas Dipta masuk jam 6 sore tadi. Brarti waktu aku sudah di mall dan menunggu waktu nonton.


Aku mencoba menelpon balik, namun tak di jawab olehnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan pesan padanya.


Aku bersama Amel tadi nonton di bioskop Mas. Maaf tadi tak mengangkat telponmu.


Setelah itu, ku letakkan hp ku di holder yg ada di dashboard agar sewaktu nanti ada balasan pesan atau telpon darinya aku bisa tahu. Akupun segera melajukan mobil dan pulang.


Namun sampai di rumah pun tak ada balasan pesan maupun telpon darinya. Aku menghela nafas panjang, dan masuk rumah.


Sampai di dalam rumah yg sepi itu aku langsung menuju dapur untuk ambil minum. Lampu dapur nyala, aku tak ingat pernah menyalakannya. Apa mungkin Mbok Pur tadi yg menyalakan. Tak terlalu ku pikirkan, aku kemudian naik ke kamar.


Ketika akan masuk kamar, aku jadi was- was. Pasalnya lampu dalam kamar sudah nyala, terlihat dari sela- sela pintu bagian bawah. Aku tak pernah menyalakan lagi lampu itu sejak kemarin malam aku mematikannya. Mbok Pur tak mungkin juga yg menyalakannya, karena aku tak memperbolehkan dia membersihkan kamar ini.


Dadaku sudah berdegup begitu cepat, tanganku sudah berkeringat. Haruskah aku menelpon polisi, aku tak yakin siapa yg ada di dalam. Sekelebat adegan film horor yg barusan ku tonton pun mulai bermunculan. Mendadak penyesalan datang kala tadi aku menolak saat akan di temani Amel.


Aku sedang dilema di depan pintu kamarku sendiri. Namun akhirnya aku memantapkan hati untuk melihatnya. Aku akan membuka pintu kamar sedikit, lalu kalo kira- kira yg di dalam sana membahayakan, aku akan langsung lari. Kebetulan kunci mobil masih aku bawa.


Aku membaca basmalah, dan dengan tangan bergetar ku putar gagang pintu.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka, dan aku melihatnya seakan tak percaya.


__ADS_2