
Sudah jadi hal biasa setiap malam mas Dipta akan masuk ke kamarku dan tidur bersama. Meski kita hanya benar- benar tidur dan kadang saling memeluk. Entah apa yg membuat sikap mas Dipta berubah begitu lembut dan penuh perhatian padaku. Yg jelas aku merasa di sayang olehnya, hal yg memang selalu ku harapkan darinya.
Meski tak ada kata- kata cinta keluar dari mulutnya, mungkin hatinya memang belum sepenuhnya untukku. Tapi aku menerimanya dengan lapang dada. Aku mengerti, mungkin mas Dipta butuh waktu.
Mbok Pur, asisten yg di bantukan oleh mama pun sudah rutin 2 hari sekali datang membantu kami. Beruntung mbok Pur orangnya tak banyak tanya, dan mengerti privasi kami. Karena tak banyak yg dia bersihkan di sini, menjelang tengah hari pun dia sudah kembali ke rumah mama.
Pagi seperti biasa, kita akan duluan ke tempat kerja mas Dipta dulu baru aku lanjut ke kampus.
"Nanti selesai kuliah ke sini ya!" Katanya, tak seperti biasa dia tumben sekali menyuruhku ke kantornya.
"Aku selesai jam 2 mas." Jawabku
"Iya, terus?"
"Aku nungguin sampai mas Dipta pulang. Aku nanti ngapain di sana?" Tanyaku, mas Dipta pulangnya tak tentu jam nya. Kadang sore, kadang malam bahkan kadang larut malam.
"Aku tak memintamu menungguku pulang. Aku pulang malam nanti." Katanya. Aku malah mengerutkan alisku.
"Terus nanti ngapain aku ke sini?"
"Ada. Kesini saja nanti kalo mau tahu."
"Boleh bawa temen? Amel dari kemaren- kemaren pengen naik mobil ini." Tanyaku, aku ingat wajah Amel kali pertama dia melihatku menyetir mobil sendiri ke kampus dengan mobil mas Dipta. Dia begitu antusias campur takjub tak percaya kalo aku menyetir sendiri dengan mobil yg harganya fantastis itu.
"Hem.. bawa saja." Jawab mas Dipta.
"Sudah sana, hati- hati!" Ucapnya lagi, aku mengangguk dan mencium tangannya.
Dan sudah biasa pula, dia menangkup pipi ku kemudian menyatukan bibirnya dengan bibirku. Yang belum terbiasa adalah jantungku, sudah berkali- kali kita berciuman namun tetap saja rasanya jantung bekrja menjadi lebih cepat. Ciuman mas Dipta memang memabukkan.
Sampai di kampus ku lihat Amel dan Ichan seperti biasa sudah menungguku. Aku berlari kecil memghampiri mereka.
"Kan.. buruan! siang amat datangnya." Amel udah ngomel- ngomel.
"Lah kalian, udah tahu siang malah masih nungguin." Jawabku langsung duluan menuju kelas.
"Tuh kan.. di tungguin malah sekarang ninggalin kita." Sahut Ichan di belakangku. Aku berbalik menatap mereka sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sory sory.. ayo buruan!" Ucapku.
Sampai di kelas kita duduk berdekatan. Ichan di belakngku sedan Amel di sebelahku. Aku melihat ke arah Bagas, yg entah kenapa akhir- akhir ini menghindari kita.
"Dia kenapa, akhir- akhir ini dia menyendiri?" Tanyaku pada Amel.
"Udah gak usah mikirin dia. Lagi jatuh cinta dia." Jawab Amel yg justru membuatku melebarkan mata.
"Sama siapa? Anak sini juga kah? Ceweknya tipe pencemburu ya? Kok ngehindari kita?" Cerocosku setengah berbisik, sebab dosen sudah mulai masuk kelas.
"Jangan hiraukan dia, biarkan saja" jawab Amel yg membuatku kembali melirik ke arah Bagas yg anehnya ternyata dia juga sedang melihat ke arahku.
Ketika waktu pulang tiba, aku segera mengajak Amel ke area parkir kampus. Dia belum ku beritahu kalo ingin ku ajak ke tempat kerja mas Dipta.
"Apa sih Kan? Main tarik- tarik aja." Sewotnya, aku melepas tangannya yg dari tadi ku pegang.
"Mau ikut gak? Ke tempat kerja suami ku?" Tanyaku.
"Ngapain? Ntar aku di kacangin, ogah!" Jawabnya cepat sambil bersungut- sungut.
"Kagak, aku jamin deh. Cuma bentar kok." Desakku, akhirnya dengan segala bujuk rayuku Amel bersedia ikut. Dan dengan antusias dia masuk mobil duduk di kursi sebelahku.
Nyatanya sampai sekarang pun aku tak tahu bagaimana hati mas Dipta, mungkin aku hanya di jadikannya sebagai pelarian sementara karena pacar nya yg sebenarnya tak ada di sini.
"Pantesan waktu itu seperti marah- marah ketika tahu kamu kerja di tempatku." Ucap Amel lagi, mobil sudah melaju meninggalkan gedung kampus siang itu.
"Marah- marah? Mas Dipta marah- marah sama kamu?" Tanyaku penasaran karena waktu itu aku belum sempat menanyakan pada Amel.
"Gak marah yg sampai berkata kasar. Dia awalnya menuduhku yg ngajakin kamu kerja, tapi setelah ku jelaskan dia mengerti juga akhirnya."
"Lagian waktu itu kamu bilang kalo dah dapet ijin dari suamimu. Nyatanya dia gak tahu." Lanjutnya. Aku jadi merasa tak enak pada Amel.
"Iya, maaf ya." Ucapku, mataku ku buat memelas tanda penuh penyesalan.
"Gak papa, suamimu juga dah minta maaf kok. Dah gak usah drama, aku aja pengen di posesif- in sama suami tampan macam suamimu itu."
"Posesif..." gumamku lirih, apa benar seperti itu. Aku malah jadi menertawakan diri sendiri, andai yg orang- orang lihat benar adanya. Tak apa, ini mungkin bayaran atas apa yg sudah ku dapat. Bukankah semua di dunia ini tak ada yg namanya bantuan cuma- cuma.
__ADS_1
"Kenapa ketawa? Kamu kira aku tak bisa dapatin suami macam suamimu?" Cebik Amel mengira aku tertawa karenanya.
"Jangan Mel.. itu terlalu berat. Ku rasa kamu takkan kuat." Jawabku sambil tertawa. Amel jadi tambah sewot. Dia ngedumel lirih tapi ku tanggapi dengan tawa.
Sampai di kantor mas Dipta, kita masuk ke lantai 1 dengan di bukakan pintu oleh pak satpam yg beberapa kali ku lihat menyapa mas Dipta ketika dia turun dari mobil. Di dalam kami di sambut seorang wanita yg berdiri di meja resepsionist. Menanyakan tentang kepentingan kedatangan kami. Aku dan Amel saling pandang, Amel sudah ingin bilang bahwa aku istrinya mas Dipta namun segera ku cegah.
Ku ajak Amel duduk di salah satu sofa panjang yg tersedia di sana. Aku menghubungi mas Dipta bahwa kami sudah ada di lobi. Mas Dipta bilang akan segera turun menemui kami.
Saat kita sedang menunggu, ku lihat dari jauh Dino keluar dari salah satu ruangan yg ada di sana. Kami bertemu pandang, dia nampak terkejut sebelum akhirnya menghampiri kami.
"Kan-Kan.. wah lama gak ketemu. Ada apa kesini?" Tanyanya, sambil tersenyum lebar.
"Din.. iya lama gak ketemu. Ini mau ketemu sama mas Dipta. Tadi pagi nyuruh aku kesini." Jawabku.
"Udah di hubungi belum nih mas Dipta nya?"
"Udah kok, ini lagi nungguin dia."
Amel yg duduk di sebelahku, sudah colak colek pinggangku dari tadi.
"Kenalin napa Kan.. kamu ada kenalan cowok keren gitu masa' diem- diem aja." Ucapnya lirih di dekat telingaku. Aku tersenyum geli padanya. Lalu ku jawab dengan jawaban 'oke' melalui jariku.
"Din, kenalin nih temenku. Temen kampus." Ujarku. Dino mengalihkan pandangannya ke arah Amel, dan dengan tersenyum dia mengulurkan tangannya pada Amel.
"Dino." Ucap Dino
"Amel" sahut Amel dengan suara merdu yg tak pernah ku dengar sebelumnya. Aku bahkan sampe heran kalo Amel bisa berbicara dengan cara seperti itu.
"Temennya Kania ya?" Tanya Amel yg mungkin penasaran.
"Iya, temen kecilnya. Dulu suka main bareng, berenang di kali sambil nyari ikan." Jawab Dino yg melihatku kemudian tertawa.
"Ngarang kamu, aku gak pernah berenang di kali ya. Kamu tuh yg main paksa, orang udah gak mau di tarik- tarik juga biar nyebur." Sahutku, Dino kembali tertawa mengenang nostalgia kita sewaktu kecil di kampung.
"Gilee kamu Kan.. punya stock cowok kece berapa sih?" Kembali Amel berbisik padaku.
"Duh Mel, Dino ini adik mas Dipta. Dia adik ipar aku lho." Jawabku yg membuat wajah Amel jadi cengo'.
__ADS_1
"Hah? Serius?!" Pekik Amel dia menutup mulutnya. Ekspresi kagetnya membuat kita tertawa bersama. Hingga kedatangan mas Dipta tak ku sadari.
"Kalian seneng banget. Lagi bahas apa?" Suara mas Dipta membuat kami kompak menoleh padanya.