
Saat ini orang yg tadinya sangat ku rindukan dan ingin segera bertemu dengannya tak lagi ku rasakan. Kalo nanti dia datang, bahkan aku tak ingin melihatnya. Beberapa pesan darinya sengaja ku abaikan.
Semenjak selesai makan malam tadi, aku sudah mengurung diri di dalam kamar. Sebenarnya apa arti diriku bagi Mas Dipta, belakangan ini dia memperlakukanku dengan istimewa hingga membuat aku adalah orang yg spesial untuknya. Namun semua itu ternyata adalah palsu.
Mas Dipta memang tak pernah membicarakan tentang dirinya atau masa lalunya. Ketika aku membahas tentang wanita yg ada di hatinya dia selalu menghindar. Membuatku tak tahu apa- apa tentang Mas Dipta, dan itu semakin membuat sesak di dadaku.
Aku bahkan baru menyadari alasan kenapa barang- barang dan baju- baju Mas Dipta masih banyak berada di apartemen tanpa berniat memindahkannya. Suatu saat pasti dia akan kembali ke sana bersama wanita itu. Wanita pemilik hatinya.
Pikiranku terasa kusut, badanku terasa lelah dan kakiku pun terasa lemas seakan tak kuasa lagi menopang tubuhku. Aku terbaring seperti orang sekarat. Yg ku lakukan hanya menangis.
Dalam keadaan seperti ini, aku jadi teringat Ibu dan Bibiku. Haruskah aku pulang kampung sebentar, sebelum aku kembali kuliah.
Aku tertidur menelungkup. Dan terbangun saat menyadari ada tangan yg melingkar di pinggangku.
Mas Dipta, kapan dia datang? Aku menggeser tubuhku perlahan agar tak membangunkannya. Terus terang aku sangat lelah jika dia terbangun dan harus menghadapi sikapnya seperti tak terjadi apa- apa.
Seharian ini aku berencana akan menghindarinya. Tak ingin terlibat dengannya, khususnya aku ingin menghindari keadaan yg membuat kita hanya berdua saja.
Selesai mandi, aku turun tanpa melihat ke arahnya. Aku akan membantu Mbok Asih saja di dapur. Akan ku sibukkan diriku di sana.
Mbok Asih orangnya lebih terbuka, jadi enak di ajak ngobrol apapun terasa lebih seru dari pada dengan Mbok Pur. Sesekali dia malah menceritakan tentang keluarganya yg ada di kampung.
Mama terlihat keluar dari kamarnya saat semua sudah siap di atas meja.
"Nia, ku kira kamu akan bangun siang hari ini, seperti waktu itu" Mama melangkah mendekat ke arahku.
"Mas Dipta sedang kelelahan Ma." Jawabku dengan senyum sedikit kaku.
"Mama mau minum sesuatu? Teh atau jus?" Aku berjalan kembali masuk ke area dapur.
"Gak usah Nia, kamu ke kamarmu lagi aja. Bangunkan Dipta!"
__ADS_1
Haduh, aku bermaksud menghindari Mas Dipta malah sekarang di suruh bagunin dia. Aku ragu- ragu mengangguk. Saat akan melangkah pergi, ku lihat dari arah berlawanan Mas Dipta sudah datang mendekat dengan wajah khas bangun tidurnya.
"Nia, kamu tak membangunkanku?" Dia menghampiriku tangannya seperti ingin memelukku. Tanpa sadar aku beringsut mundur menghindar. Raut wajah Mas Dipta langsung berubah, dia seperti terhenyak dengan sikapku.
"Kamu tak menyapa Mama? Di sini yg kamu lihat cuma Kania?" Ucapan Mama membuat Mas Dipta mengalihkan tatapannya. Kesempatan ini ku jadikan untuk segera menjauh darinya.
"Ah iya, met pagi Ma, apa kabar?" Sapa Mas Dipta, tapi sesaat kemudian pandangannya beralih lagi ke arahku. Matanya sedikit menyipit menyadari gelagatku yg aneh. Apalagi aku tak mau berkontak mata dengannya.
"Kabarku baik, jam berapa kamu tiba semalam?" Jawab Mama.
"Hampir tengah malam, ku kira ada yg menungguku datang. Tapi semua sudah tidur." Mas Dipta duduk di kursi sambil terus menatapku. Aku berpura- pura sibuk di area dapur.
"Ya, kita semua sudah tertidur. Terutama Kania, sesudah makan malam dia langsung masuk kamar. Kurasa dia kelelahan ikut Mbok Pur siangnya." Mama ikut duduk di kursi makan.
"Mas Dipta mau minum kopi atau teh?" Tanyaku dari dapur.
"Teh saja." Jawabnya.
Aku segera menyeduh teh dalam sebuah teko yg kemudian ku tuang dalam 3 cangkir. Untuk Mama, Mas Dipta dan Papa nanti. Ku hidangkan perlahan di hadapan mereka, cangkir untuk Papa ku letakkan di depan kursi yg sering di pakai Papa. Sesudah itupun, aku kembali ke dapur, entah untuk apa lagi. Padahal tak ada yg bisa di kerjakan di sana.
"Kemarilah Nia, apa yg kamu lakukan di situ?" Panggil Mas Dipta sudah dengan tatapan jengkel. Mama pun juga jadi melihat ke arahku, karena tak enak akhirnya aku menurut juga.
Selama makan pagi itu, aku sama sekali tak ingin terlibat obrolan. Namun apabila ada yg bertanya atau terpaksa aku harus bicara maka dengan singkat aku akan menjawab atau menjelaskannya.
Makan pagi berakhir, setelah semua pergi aku tetap tinggal di sana. Ku bereskan meja makan, membawa piring serta gelas kotor ke wastafel, di sana sudah ada Mbok Asih yg akan mencucinya.
"Saya jadi ngrepotin Mbak Kania terus ini. Dari pagi tadi udah di bantuin mulu. Makasih lho Mbak" Kata Mbok Asih, tangannya sudah penuh dengan busa sabun cuci piring.
"Saya yg makasih Mbok, tiap hari di masakin terus. Baru sekarang bisa bantuin." Aku meletakkan gelas kotor terakhir ke dalam wastafel.
"Mbak Kania ini.. memang itu kan sudah jadi tugasnya saya. Tapi kok Mbak Kania ini luwes sekali to, gak ada kagok- kagoknya ngerjain tugas kasar seperti ini."
__ADS_1
"Walah Mbok.. cuma beberes, nyapu, cuci piring, cuci baju, ngepel seperti ini saya udah biasa Mbok. Dasarnya saya kan orang kampung yg hidupnya susah."
"Mosok iya Mbak?" Mbok Asih melebarkan matanya seperti tak percaya.
"Nia..!" Panggilan itu membuat aktifitasku dan Mbok Asih terhenti. Kita berbarengan menoleh ke sumber suara. Mas Dipta ternyata kembali ke sini.
"Kenapa Mas? Mau di bikinin minum lagi? Kopi mau?" Tawarku.
"Ku tunggu di kamar. Kita harus bicara!" Katanya kemudian berbalik menuju tangga.
Mbok Asih nampak bingung, dia melihat ke arahku dengan sedikit cemas. Tapi aku tersenyum padanya, bahwa takkan terjadi apa- apa.
Aku melangkah menuju kamar, yg di sana sudah ada Mas Dipta. Ketika aku masuk kamar, ku lihat dia duduk di sofa dengan merentangkan tangannya di sandaran sofa.
"Suami datang kenapa tak kamu sambut? Kemarilah!" Dia menepuk sofa di sebelah tempatnya duduk. Tapi aku tak bergeming, aku hanya terus berdiri tanpa mau menatapnya.
"Kau menghindariku? Apa aku berbuat salah padamu?" Tanyanya lagi, kali ini dia bangkit dan berjalan mendekatiku.
"Kamu tak mau menjawab? Bahkan kamu juga tak mau menatapku?" Tangan Mas Dipta menyentuh bahuku. Namun dengan cepat aku menepisnya.
Mas Dipta tercengang, aku sendiri bahkan kaget. Entah kenapa, tiba- tiba perasaan jijik saat merasakan sentuhan Mas Dipta melandaku. Pikiran tentang tangan itu tangan yg sama yg menjamah perempuan lain. Entah apa yg sudah mereka lakukan sebelumnya, bahkan mereka sudah tinggal bersama.
"Ada apa denganmu Nia..kenapa menolakku?" Mata Mas Dipta mencerminkan betapa terluka hatinya atas penolakanku. Dia terdiam menatapku, lalu ku dengar dia mengambil nafas dalam.
"Bicaralah Nia, agar aku mengerti. Jangan mendiamkan aku seperti ini." Ucapnya lagi. Aku yg salah lihat atau karena sesuatu, mata Mas Dipta nampak berkaca- kaca. Tapi dia segera mendongak ke atas seperti ada sesuatu yg di tahannya.
"Aku pengin pulang kampung Mas, aku merindukan ibu." Kataku setelah lama terdiam.
"Apa? Jadi kamu mendiamkan aku hanya karena ingin pulang kampung?" Katanya seperti menemukan sebuah titik terang.
"Iya, tentu boleh Nia. Aku takkan melarangmu. Senin kita berangkat bareng ke bandara." Lanjutnya sambil mengusap kasar wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Sekarang kemarilah, peluk aku!" Katanya lagi. Aku dengan kaku mendekat ke arahnya, namun karena aku tak kunjung memeluknya, Mas Dipta langsung menarik tubuhku dan mendekap erat sekali.