Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Mobil baru


__ADS_3

Mas Dipta mengajak kami, aku dan Amel menuju parkiran gedung kantor itu. Sedang Dino, dia sudah kembali bekerja, ini bulan terakhir dia magang di sana.


Kita melewati mobil Mas Dipta yg memang ku parkir di sana tadi. Aku dan Amel hanya saling pandang, tak mengerti kenapa kita di ajak ke tempat parkir.


Setelah berjalan beberapa saat, kita berhenti di samping sebuah mobil yg terparkir di sana. Mobil berwarna putih itu masih baru nampaknya, terlihat dari plat nomor yg masih putih. Entah mobil siapa, tapi aku naksir juga dengan mobil itu. Pas banget untuk di kendarai seorang wanita macam diriku. Bodinya minimalis di banding dengan mobil Mas Dipta, jadi memudahkan untuk parkir.


"Mau test drive?" Tanya Mas Dipta. Kembali aku dan Amel saling pandang.


"Memang ini mobil siapa mas? Kok mau di test drive." Ujarku. Mas Dipta tersenyum, lalu merogoh kantong celananya. Dia mengeluarkan sebuah kunci mobil, dan langsung memencet tombol kunci di sana.


Aku melongo, apa maksudnya? Mas Dipta beli mobil lagi?


"Sudah terbuka, mau masuk?" Tanyanya setelah membuka pintu mobil.


"Mas, jangan bilang mas Dipta beli mobil ini?" Aku tiba- tiba berdebar. Jangan- jangan mobil ini di beli untukku. Tapi kok gak mungkin.


"Iya, aku beli ini. Untukmu." Jawab mas Dipta dengan santainya.


Antara percaya dan tidak, aku masih melongo. Mas Dipta beli mobil udah kayak enteng aja. Bahkan dia bilang itu mobil untukku. Serius, demi apa? Yg kurasa tak mungkin jadi mungkin.


"Mas Dipta gak bercanda kan?" Aku masih tak percaya, kali aja aku lagi di prank.


"Aku serius!" Jawab mas Dipta.


Spontan aku menutup mulutku, memekik penuh bahagia. Aku bahkan berjingkrak- jingkrak sedikit. Amel pun sepertinya turut senang. Dia mengimbangiku dengan ikut berjingkrak. Sebelum akhirnya kita berpelukan dan tertawa bersama.


"Hei hei.. aku yg ngasih mobil, kenapa temenmu yg di peluk?!" Mas Dipta protes, yg membuat aku melerai pelukanku dengan Amel.


"Sini peluk!" Katanya merentangkan kedua tangannya. Aku langsung berhambur ke pelukan mas Dipta dan bersandar pada da da bidangnya.


"Makasih Mas.. aku sangat senang." Ucapku tulus. Mas Dipta semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalo makasih, brarti cium aku!" Katanya, aku mendongak menatap wajahnya. Dan seakan pas saja posisi kami untuk berciuman, tapi sebuah deheman keras langsung membatalkan niat kami.


"Ehem.. aku tahu kalian sudah halal. Tapi bisakah tak mengumbar kemesraan di depan cewek yg masih jomblo ini. Kalian bahkan hampir mengotori mata suci ini." Amel dengan sewot berbicara.

__ADS_1


Aku melepaskan diri dari pelukan mas Dipta, dan menjadi salah tingkah sendiri. Aku tersenyum, tapi tidak dengan mas Dipta. Dia nampak biasa saja, dana malah melirik tajam ke arah Amel meski cuma sebentar.


"Mau mencobanya?" Tanya mas Dipta, aku mengangguk antusias.


Aku masuk ke mobil dengan duduk di kursi kemudi. Mas Dipta di sebelahku dan Amel duduk di kursi belakang. Aku mengamat- amati sebentar interior mobil itu. Sebelum akhirnya tancap gas melajukan mobil perlahan.


Begitu selesai test drive, aku berhentikan mobilnya tepat di depan gedung kantor. Kita semua turun. Senyum tak pernah lepas dari bibirku.


"Kamu sesenang itu?" Tanya Mas Dipta, aku mengangguk berkali- kali. Mas Dipta jadi terkekeh melihatnya dan mengusap rambutku sebentar.


"Uuh...pasangan ini! Aku masuk mobil lagi aja deh dari pada ngiri." Seloroh Amel, dia lalu masuk mobil dan duduk di kursi depan samping kemudi.


"Sekali lagi makasih Mas." Ujarku kemudian mencium tangannya.


"Hem.. hati- hati, langsung pulang kan?"


"Boleh tidak aku muter- muter bentar dengan Amel? Masih pengen nyetir mobil baru lebih lama." Tanyaku, maklum euforia punya mobil baru masih menggebu- gebu.


"Ya sudah, sebelum malam harus sudah di rumah. Oke?!"


"Mas Dipta pulang jam berapa?" Tanyaku di dalam dekapannya.


"Mungkin akan sangat larut. Kamu tak perlu menungguku." Jawabnya mengurai pelukan.


"Sekarang cium aku!" Ucapnya yg tanpa tedeng aling- aling. Ya ampun.. bagaimana bisa di tempat terbuka begini dia minta cium. Meski sore itu di depan gedung masih sepi, karena belum jam pulang kantor.


"Malu mas di tempat terbuka gini, ada Amel juga." Kataku sudah dengan wajah merona. Sebenarnya obrolan macam apa ini.


"Tak apa yg cepat saja. Tak ada orang di sini, temanmu juga di dalam mobil." Mas Dipta terus mendesak, aku jadi gelisah. Namun pasti dia takkan melepaskan aku sebelum permintaanya itu terpenuhi.


"Mas Dipta tutup matanya." Ucapku mengalah.


"Astaga.. baiklah." Dia langsung menutup kedua matanya.


Perlahan aku mengikis jarak antara kami, dan dengan cepat aku menyatukan bibir kami. Memberi ******* sedikit dan akan segera ku akhiri. Namun tak semudah itu.

__ADS_1


Tangan mas Dipta menahan tengkukku, dan tangan satunya melingkar di pinggangku. Dia melumati bibirku atas dan bawah secara bergantian aku sampai menahan nafas. Saat lidahnya mulai beraksi ingin masuk ke dalam, tanganku segera memukul- mukul pelan da da mas Dipta. Ini takkan berakhir dengan cepat, aku dengan sekuat tenaga mendorong mas Dipta. Dan akhirnya pagutan bibir kamu terlepas.


Aku terhengah- hengah mengambil nafas, mas Dipta malah tersenyum sambil mengusap bibirnya.


"Sudah sana, aku mau masuk dulu." Ucapnya yg sekarang mengusap bibirku yg masih tersisa salivanya.


Aku tak menjawab hanya menatapnya tajam. Mas Dipta malah terkekeh, dia berjalan melewatiku dan mengusap rambutku pelan. Ku tatap kepergianya dengan rasa dongkol, meski tak ku pungkiri kalo hati ini berdesir karenanya.


Aku masuk ke mobil setelah menormalkan kembali raut wajahku. Amel sudah menatapku tajam di sana.


"Kalian sengaja kan?" Tukasnya


"Apa?" Tanyaku sambil menstarter mobil.


"Huft.. jadi pengen cepet- cepet nikah. Biar main sosor di tempat umum tak ada masalah." Ujar Amel.


"Ya ampun di tempat umum? Tapi di sini bahkan tak ada orang." Jawabku yg mulai menginjak pedal gas. Kami meluncur meninggalkan area gedung itu.


"Kamu pikir aku apa?" Amel berteriak yg membuatku kaget hampir aku membanting stir.


"Hei, bisa kecilkan suaramu itu?!" Pekikku. Amel hanya mencebik.


"Carikan aku pria mapan yg bisa ku ajak nikah segera!" Katanya.


"Kamu harus menemukannya sendiri. Carilah orang yg benar- benar mencintaimu, dan menikahlah karena kalian saling mencintai." Jawabku, jangan seperti aku yg mencintai satu sisi. Aku bahkan rela hanya di jadikan pelarian saja darinya. Batinku. Aku fokus melihat depan. Aku sangat hati- hati sekali menyetir mengingat ini mobil baru.


"Iya, menemukan orang seperti suamimu itu memang susah. Dia terlihat sangat menyayangimu. Kira- kira apa adiknya juga bisa seperti itu?" Tanyanya lagi, aku tertegun mendengarnya. Mas Dipta menyayangiku?


"Apa terlihat seperti itu?" Gumamku lirih namun ternyata Amel bisa mendengarnya.


"Ya, ku rasa adiknya itu juga akan bersikap seperti abang nya jika sudah menemukan wanita yg tepat. Aku jadi berharap wanita itu aku." Jawabnya. Aku malah tersenyum, kurasa Amel mengira pertanyaanku tadi tentang Dino.


"Hei kenapa senyum- senyum. Tak ada salahnya aku berharap, jadi agar harapanku itu terwujud, kamu wajib membantuku." Ujarnya yg melihatku senyam senyum.


"Ogah, usaha sendiri dong. Ku kasih bocoran, Dino hanya magang di sana. Sebulan lagi dia akan ke LN untuk melanjutkan S2 nya."

__ADS_1


"Hah, serius?! Bisa tidak dia menikahiku dulu sebelum ke LN?" Ucapnya, aku jadi tertawa mendengarnya.


__ADS_2