Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Menyusul ke hotel


__ADS_3

Aku dan Amel di dalam mobil yg ku kendarai. Kita melaju ke arah kampus. Kami masih sama- sama membisu setelah mengetahui fakta yg sebenarnya. Apalagi aku yg sekarang sedikit senewen dengan Amel yg dengan sok care nya mengira Bagas stress karena cinta tak sampai.


Kita sudah menjenguk Bagas, dan aku menemukan 3 fakta mencengangkan di sana yg tak sesuai dengan omongan Amel kemarin.


Pertama, ku pikir karena kondisinya yg sakit, drop, sampai depresi dia bakal di rawat di rumah sakit. Tapi kok Amel malah mengajakku jenguk ke rumahnya. Jadilah tadi kita jengukin dia ke rumahnya. Rumahnya gede banget, kata Amel Bagas sendirian tinggal di situ. Kita yg parno, karena berpikir mungkin saja Bagas pingsan di dalam rumah, akhirnya menelponnya. Dan dalam deringan kedua, dia langsung angkat, dari suaranya dia tak terlihat sakit dan bahkan kaget saat kita bilang bahwa kita ada di rumahnya nungguin dia.


"Oke oke.. tunggu sebentar, aku langsung gas ke situ. Jangan pada pergi dulu ya!" Katanya sebelum menutup telpon. Jadi gak mungkin banget kan dia sakit. Masa' orang sakit bisa nyetir mobil sendiri dah gitu katanya dia mau langsung gas ke sini.


Kedua, setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya ada sebuah mobil yg langsung masuk ke dalam garasi. Dan ketika ku lihat Bagas yg keluar dari dalam mobil tadi, seketika sebuah lirik lagu korea terngiang dalam kepalaku,


neoman boindan mariya


neol sarang handan mariya..


Berasa liat oppa Lee min ho turun dari mobil di drama 'The Heirs'. Keren gitu si Bagas, dengan penampilan yg rapi nan klimis. Kita sampai pada melongo ngliatnya.


Dan setelah ngobrol beberapa saat, di ketahuilah bahwa dia ambil cuti karena dia harus bantuin kerjaan bokapnya. Bokapnya lagi di luar negeri, lagi berobat gitu. Nah kan, yg sakit sebenarnya bukan Bagas, tapi bapaknya Bagas. Hadeeeh si Amel mah, emang dasar sok tahu!


Ketiga, mengingat fakta pertama dan kedua yg sudah mematahkan omongan Amel kemarin. Aku jadi gak percaya soal Bagas yg punya perasaan terpendam ke aku. Ini agak sulit membuktikannya, soalnya gak mungkin juga aku langsung nanya ke dia,


"Gas, kata Amel kamu suka sama aku, emang bener?" Gak mungkin banget kan, kalo tetiba dia jawab,


"Iya bener, aku suka sama kamu Kan, bucin banget." Habis itu aku musti gimana, apa gak jadi awkward kita nanti. Atau dia justru malah jawab gini,


"Hah? Sopo kowe, kok ke-pede-an amat!" Nah loh, mungkin sakitnya gak seberapa tapi malunya bakal seumur hidup.


Jadi untuk menjaga harga diri dan kehormatan, aku memutuskan tak bertanya dan meyakinkan diri bahwa Amel sudah berkata omong kosong kemarin.


Setelah menghabiskan 2 jus ukuran besar dan sekotak pizza, kita akhirnya pamit. Hm.. emang kita ke sana cuma mau minta makan dan minuman. Makanan habis, langsung pamit mau pulang, gak sopan kan? Tapi gak papalah sama temen ini hehe...


Jadilah sekarang kita di dalam mobil. Amel sesekali melirik ke arahku, kayak gak enak gitu deh dia. Tapi ku biarkan saja, wis terlanjur mangkel aku. Masa', orang yg jelas- jelas sehat segar bugar, dia bilang sakit. Apalagi di tambah bumbu ceritanya yg seakan- akan Bagas jadi sadboy. Ish... pengen aku getok sebenarnya kepalanya itu, biar otaknya balik lagi ke tempat semula.

__ADS_1


"Kan, kamu pasti berpikir kalo aku banyak membual dan omong kosong.." katanya membuka mulut juga akhirnya.


"Nah tuh tahu!" Balasku sewot.


"Maaf deh, aku main ambil kesimpulan sendiri saat aku mencuri dengar pembicaraan Ican di telpon. Saat mendengar kata cuti dan sakit, ku pikir Bagas ambil cuti karena sakit."


"Makanya, konfirmasi dulu semuanya. Kamu tuh kebiasaan grusa- grusu aja! Mana pake ngarang segala, kebanyakan nonton drama ya?"


"Eh tapi ciyus.. yg Bagas sempat suka sama kamu tuh, aku gak bohong. Tapi gak tahu sekarang, udah move on atau belum.."


Aku memutar kedua bola mataku, sudah males aja dengerin omongannya dia. Dan kelihatannya Amel tahu kalo aku sudah tak ingin mendengarnya lagi.


Saat itu jalanan lumayan padat, maklum karena berbarengan saat jam pulang kerja. Rasanya ingin cepat- cepat sampai ketika jalanan sudah mengular begini.


"Kan Kan..." Amel menepuk- nepuk bahuku lalu menunjuk ke arah luar. Aku mengikuti arah yg di tunjuknya.


"Itu mobil suamimu kan?" Tanyanya lagi, aku sedang memperhatikan mobil yg di tunjuknya tadi. Benar, itu memang mobil Mas Dipta. Mobil itu berada di arah berlawanan dengan kami, dan berjalan pelan ketika berbelok menuju sebuah hotel ternama.


"Mungkin meeting, dia bisa saja meeting dengan kolega nya di restoran hotel." Jawabku.


"Ooh.. tapi ini kan sudah jam pulang kantor. Masih bisa meeting ya?"


"Ya masih, kadang mereka membahas pekerjaan sampai malam."


Sebenarnya aku menjawab begitu juga sedang menghibur diri sendiri. Mudah- mudahan apa yg ku katakan ke Amel benar adanya.


Kami sampai di kampus, dan aku cuma nge drop Amel aja yg pengen ambil motornya. Aku langsung kembali melajukan mobilku untuk pulang, berharap sampai rumah nanti Mas Dipta sudah ada di rumah.


.


Namun ternyata tidak, bahkan ketika aku selesai masak kerang yg sesuai request nya, selesai mandi dan mengerjakan sholat maghrib tak ada tanda- tanda kedatangannya.

__ADS_1


Aku memutuskan menunggu kepulangannya di ruang tamu sambil mengerjakan beberapa tugas kuliah.


Sampai ku dengar adzan isya' berkumandang dia tak juga terlihat. Tetiba ada notifikasi masuk di hp ku. Aku segera menyambarnya, mungkin dari Mas Dipta yg memberi kabar bahwa dia pulang telat.


Kekecewaan hinggap di hatiku, bukan dari Mas Dipta, melainkan dari Bagas,


'Makasih ya, tadi dah pada nengokin. Ku pikir kalian takkan ingat lagi denganku.'


Busyeeeng dia mah, di kira pertemanan kita secetek itu.'


'Gak lah, kita kan udah bestie.' Jawabku


'Hehe syukurlah. Kamu lagi apa Kan? Suamimu gak marahkan, kamu lagi chat- an sama cowok lain?'


Dan kami pun lanjut berkirim pesan. Sampai tak terasa waktu sudah jam 10 malam, yg parahnya Mas Dipta belum pulang dan tak ada kabar satupun.


Aku mencoba menelponnya namun tak ada jawaban darinya. Terbersit di kepalaku, apakah Mas Dipta masih di hotel yg tadi sore itu. Pikiranku sudah kemana- mana dan tak tenang, aku sudah bertekad akan nekat menyusul ke sana saja meski peluang bertemu dengannya sangat kecil.


Saat aku masih bingung, mau berangkat sendiri atau meminta Amel menemaniku. Saat itu pula, pesan dari Bagas masuk. Dan tanpa pikir panjang aku menelponnya, ku minta dia untuk menemaniku namun tak ku katakan akan menyusul Mas Dipta. Dia seperti bersemangat gitu menyanggupinya, dan berjanji akan datang 20 menit lagi.


Seperti waktu yg sudah di janjikannya, Bagas memang datang 20 menit kemudian. Dia dengan penampilan kerennya menghampiriku dan membukakan pintu mobil untukku. Hadeeh... seperti mau pergi kencan saja, padahal bila di sandingkan begini. Penampilan kami bagai tuan muda dan pelayannya.


"Kira- kira berapa menit untukmu membawaku ke hotel H?" Tanyaku saat kita sudah berada di dalam mobil.


"Hah? Ke ho.. hotel?" Dia tergagap gitu nanyanya.


"Iya, aku harus secepat mungkin sampai sana tapi dalam keadaan selamat." Jawabku, gak lucu juga kan nanti dia asal ngebut saja tanpa memperhatikan keselamatan.


"Oh oke.. beri aku 15 menit! Aku tahu jalan pintas untuk lebih cepat sampai ke sana."


"Oke deal.." jawabku seakan kita sedang bertransaksi. Aku langsung memasang sabuk pengaman dan berpegangan tangan di kabin mobil.

__ADS_1


Dan wuusshh... mobil segera meluncur.


__ADS_2