
"Kenapa tak jawab? Bukankah sudah ku suruh tunggu? Tapi kau sudah berkeliaran di luar. Dengan siapa kali ini?"
Sekali lagi ucapan Mas Dipta membuat hatiku bagai tertusuk ribuan jarum. Kenapa dia bertanya tapi seakan menyudutkan dan menuduhku. Air mataku berjatuhan dan tak lama sudah menganak sungai. Aku terisak menangis sesenggukan.
"Sa..sakit mas..." rintihku. Mas Dipta terhenyak, matanya tak setajam tadi. Dia mengendurkan cengkeramannya.
Dia akhirnya melepaskan bahuku. Ku dengar dia mengatur nafasnya yg sempat memburu tadi. Aku masih terisak.
"A..apakah sakit sekali?" Tanyanya terbata menunjuk ke arah bahuku. Aku tak menjawab, memang sakit cengkeramannya tadi tapi tak se sakit hatiku.
"Nia.. apakah begitu susahnya menuruti kata- kata ku? Kenapa kamu selalu melakukan hal di luar kehendakku?" Mas Dipta merendahkan suaranya.
Aku terdiam, isakanku sudah berhenti. Aku hanya tertunduk tak ingin melihatnya. Namun tiba- tiba tanganya meraih pipiku, dan mengusap air mataku.
Mas Dipta mengangkat wajahku, hingga aku bisa melihat wajahnya.
"Berhentilah menangis! Sekarang, katakan padaku dengan siapa kamu barusan?"
Hah? Apa yg ku harapkan. Ku tepis tangannya yg masih memegang pipiku. Aku segera berbalik dan menaiki tangga masuk kamar.
"Nia... Kania..." teriaknya memanggilku. Namun tak ku hiraukan.
Ku kunci pintu kamarku, ku dengar derap langkah kaki menaiki tangga dan tak lama gedoran pintu kamarku memenuhi ruanganku.
"Kania.. Nia. Keluar ayo kita bicara!" Ucapnya dari luar kamar. Ku acuhkan teriakan mas Dipta di luar kamar. Dia masih berteriak beberapa kali memanggil namaku dan memintaku membuka pintu kamar. Tak ku hiraukan juga, dan setelah beberapa saat berlalu di luar terdengar hening.
"Baik, istirahatlah. Besok ayo kita bicara." Ujarnya mungkin lelah setelah beberapa kali teriak namun tak juga ku bukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Setelah itu, kamarku kembali senyap. Hanya sesekali terdengar isakanku sendiri. Ya, aku kembali menangis mungkin sampai kering air mata dan tertidur karena kelelahan.
Aku terbangun di hari berikutnya saat matahari sudah tinggi.
Ya ampuun, tidurku seakan orang pingsan. Bahkan alarm hp yg ku setel tak terdengar sama sekali. Seperti biasa, pertama kali mata kebuka yg ku cari hp, untuk melihat ini jam berapa. Ku cari beberapa saat benda pipih itu di meja tak ada, di kasur tak ada bahkan di balik bantal pun tak ada. Aku mengingat- ingat dimana terakhir kali ku letakkan benda tersebut.
Ah,.dari semalam aku tak melihat benda itu. Benda itu ada di dalam tas yg ku pakai kemarin, dan tas itu semalam ku letakkan di meja bawah.
Aku ragu membuka pintu kamar, ku intip sebentar keadaan di luar. Sepi, pasti mas Dipta sudah berangkat kerja bukan. Ku beranikan diri untuk keluar dan turun.
Sampai di lantai bawah, keadaan masih sepi. Ku lirik jam dinding, sudah pukul 10. Kurasa benar, mas Dipta sudah tak ada. Ku lihat di meja ruang tamu tempat aku meletakkan tas ku di sana semalam. Tak ada, apakah mungkin terjatuh? Ku cari di kolong meja, sampai di samping- samping sofa siapa tahu jatuh terpental sampai sana. Namun tetap nihil.
Aku mendengar pintu kamar mas Dipta terbuka. Siapa? Bukankah aku hanya sendiri di rumah. Dan di sana, keluarlah mas Dipta dari kamarnya. Dia melihatku sedang berjongkok di samping sofa dengan penampilanku yg pastilah acak- acakkan. Bangun tidur, belum cuci muka apalagi gosok gigi dan semalaman nangis. Oh Tuhan...malah sekarang di lihat sama orang yg paling ingin ku hindari. Ingin ku kubur diriku sendiri ke dasar bumi saja kalo bisa.
"Kamu sudah bangun?" Tanyanya berdiri di depan pintu kamarnya. Sudah rapi, dan wangi tentunya. Berbanding terbalik denganku.
"Mandilah dulu, lalu kita sarapan." Ujarnya lagi yg tak mendapati jawaban dariku.
Ketika aku turun lagi mas Dipta sudah duduk di meja makan. Ku lihat sudah ada makanan terhidang di meja. Dapat dari mana makanan itu, pesankah atau mas Dipta masak?. Aku mendekatinya namun tak berani menatapnya.
"Duduklah, ayo makan dulu." Katanya.
Sarapan kita nasi goreng dengan sosis dan telur ceplok. Aku tak merasakan, apakah makanan itu enak atau tidak. Hanya sekedar mengunyah dan telan.
Selesai sarapan kita duduk di sofa ruang tamu, ku turuti permintaanya yg ingin bicara denganku.
"Kamu mencari ini tadi?" Mas Dipta mengulurkan sebuah hp padaku dan itu hp ku. Ku raih hp ku sambil bertanya- tanya dalam hati, mungkinkah dari semalam hp ini ada pada mas Dipta.
__ADS_1
"Tadi ada telpon dari temenmu, namanya Amel." Katanya, aku melebarkan mataku. Baru ingat bahwa harusnya jam 10 tadi aku kuliah. Astaga Kania... ada apa denganmu, sampai kuliah saja lupa. Aku merutuki diriku sendiri.
"Kuliah hari ini di batalkan oleh dosennya" ujarnya lagi seakan tahu apa yg ku risaukan. Aku menghela nafas lega.
"Kamu masih gak mau ngomong?" Tanyanya, aku menatapnya dengan sinis. Kemudian ku alihkan pandanganku, agar dia tahu bahwa aku benar- benar marah.
Dia berpindah duduk jadi di sebelahku. Dan tiba- tiba tangannya menangkup pipiku agar menatap ke arahnya.
"Aku minta maaf Kania.. maafkan aku ya?!" Pintanya dengan tatapan yg dalam. Aku mengerutkan alisku.
"Aku telah salah.." katanya lemah, tangannya melepas pipiku. Aku masih sangsi dengan ucapannya. Semalam dia masih bersikeras menuduhku, kenapa pagi ini dia dengan gampangnya berubah pikiran.
"Amel temanmu itu telah cerita padaku." Dia menjawab keraguanku.
"Hah? Apa?!" Sentakku, tak ku sangka Amel yg ku kira setia kawan itu ember pada mas Dipta.
"Iya, lebih tepatnya aku mendesaknya." Ucap mas Dipta. Aku melengos.
"Nia, kamu mau memaafkan aku bukan? Aku memang terbawa emosi, apalagi sewaktu aku di Bandung kamu tak bisa di hubungi. Pesan- pesanku satupun tak kamu buka. Aku jadi gak fokus kerjanya, jadi..." mas Dipta menggantung kalimatnya. Aku yg mendengar jadi menoleh kearahnya. Dia sedang menatapku.
"Jadi apa?" Tanyaku tak sabar. Dan dengan hangat dia tiba- tiba menggenggam tanganku. Aku segera ingin menariknya, tapi malah di eratkannya genggaman itu.
"Aku jadi kepikiran kamu terus." Ujarnya. Mataku jadi membola mendengar ucapan mas Dipta. Mungkin jika aku mendengar ucapan itu sebelum dia menuduhku menggoda para pria, hatiku akan berbunga- bunga dan aku akan menyambutnya dengan gembira bersuka ria. Tapi ucapan itu ku dengar setelah amarahnya yg meledak dan bahkan mengatakan kata- kata yg kejam padaku, aku jadi meragukan semua ucapannya itu.
"Percayalah, aku bahkan langsung pulang ketika pekerjaan di sana selesai. Tapi aku tak mendapatimu begitu sampai rumah. Kamu bahkan pulang sangat larut." Katanya, tatapan matanya ku lihat begitu tulus.
Dia menarik tanganku menempelkannya di dadanya. Ku rasakan degup jantungnya berpacu begitu cepat, aku pikir dia mungkin akan kena serangan jantung. Aku panik, ku tatap wajahnya namun aku malah mendapati senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Mas Dipta baik- baik saja?" Tanyaku memastikan.
"Tidak, aku sedang tak baik-baik saja Nia." Jawabnya membuatku semakin khawatir.