Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Cium tangan dulu


__ADS_3

Bila sebelumnya aku yg sering2 curi pandang ke mas Dipta, sekarang berbeda. Dari sejak perjalanan tadi sampai rumah, ku lihat dia sering melirik ke arahku.


Kali ini juga, tidak biasanya dia menemaniku di dapur ketika aku sedang memasukkan barang2 yg di bawakan Mama tadi ke kulkas. Tapi dia hanya wara wiri gak jelas.


"Mas Dipta mau apa?" Tanyaku saat dia sudah menghalangi kegiatanku. Dia hanya berdiri saja di depan kulkas, padahal kulkas sedang terbuka.


"Emh...aku mau ambil minum, iya minum." Jawabnya dan segera dia mengambil botol minuman dari dalam kulkas.


"Kalo sudah, tolong minggir. Mas Dipta menghalangiku."


Mas Dipta bergeser, namun tak pergi dari area dapur. Selesai semuanya, aku cuci tangan dan ingin segera ke kamar, tak menghiraukan mas Dipta yg masih di sana.


"Mau kemana?" Tanyanya, aku menoleh sebentar. Biasa di anggap tak ada, jadi terasa aneh ketika mas Dipta mulai bertanya-tanya.


"Mau mandi lah, bentar lagi maghrib." Jawabku.


Aku terus melangkah menuju tangga.


"Habis itu, kamu nanti turun tidak?" Mas Dipta kembali bertanya. Aku mengerutkan alis.


"Emh...tidak tahu, aku harus belajar juga biar lulus tepat waktu."


"Bukankah ada yg harus kita bicarakan?" Mas Dipta berjalan mendekat.


Aku memutar bola mataku, mengingat-ingat adakah hal yg mendesak yg harus kita bahas.


"Tentang apa?" Tanyaku


"Tadi saat kita makan, dengan jelas aku mendengar bahwa sainganmu berkurang satu..."


"Apa aku juga di larang menyukai mas Dipta?" Sahutku


Mas Dipta nampak terhenyak, dia terdiam lama. Sampai aku berlalu meninggalkannya. Ketika sudah sampai di pertengahan tangga, lirih ku dengar dia bicara.


"Aku tak ingin menyakitimu"


Mas Dipta, sekarang kamu tak membalas perasaanku saja sudah menyakitiku. Lalu apa bedanya dengan nanti.


Paginya, seperti biasa aku pasti lebih dulu bangun dari mas Dipta. Selesai bikin sarapan, baru ku lihat pintu kamarnya terbuka. Dia sudah rapi, pakai kemeja biru langit dan celana hitam dan rambutnya pun klimis.


"Sarapan dulu mas." Sapaku, dia hanya mengangguk. Ku letakkan secangkir teh di depannya.


"Kuliah jam berapa?" Tanyanya setelah menyesap teh angetnya.


"Ini mau berangkat."


"Hem...gak bareng tetangga itu lagi?" Dia bertanya padaku tapi matanya fokus pada makanan.

__ADS_1


"Iya, mungkin nanti kalo ada kesempatan lagi." Jawabku sebenarnya hanya asal, tapi ku sengaja agar dia terpancing. Dia langsung berhenti mengunyah.


"Kamu bahkan menunggu kesempatan itu?" Tanyanya, dia meletakkan sendoknya padahal nasi gorengnya belum habis.


"Aku tak menunggu, tapi tak ada salahnya kalo dia mengajak bareng. Hemat di ongkos, praktis, tidak kena debu jalanan juga."


Ku lihat dia melengos. Apa kira2 pancinganku kena?


"Lalu apa yg kau lakukan sekarang? Berkirim pesan dengannya? Sampai tak makan sarapanmu?" Dia melipat tangan di depan dadanya melihatku yg dari tadi fokus ke layar hp.


"Aku sedang pesan ojek online. Biasa pagi gini susah banget nyantol abang ojeknya." Gerutuku sambil menunjukkan layar hp ku.


"Bareng saja denganku." Perkataan mas Dipta praktis menghentikan jari tanganku yg dari tadi mengutak-atik layar hp. Aku beralih menatapnya.


"Apa? Tapi kenapa?" Tanyaku agak sangsi dengan ajakannya. Pasalnya sebelumnya dia tak pernah mau tahu aku berangkat kuliah gimana.


"Kita searah, takkan rugi juga." Gumamnya, menyeruput tehnya lagi.


Baiklah, itu takkan rugi juga kalo setiap hari kita bareng bukan? Aku tersenyum tipis. Berharap besok bisa bareng lagi.


"Cepat makan, kamu bahkan belum menyentuhnya." Titahnya. Aku mengangguk, lalu menyendok nasi goreng itu banyak2 untuk ku makan. Agar mas Dipta tak lama menungguku.


Mas Dipta pun ikut melanjutkan makannya.


Selesai sarapan kita bergegas berangkat. Saat melewati rumah sebelah, ku lihat pak Ardi juga bersiap berangkat kerja. Aku menurunkan kaca mobil untuk menyapanya. Namun yg ku lakukan nampak tak di sukai oleh mas Dipta. Dia menatap tajam ke arahku sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.


"Memang apa salahnya? Kita hidup bertetangga, tak ada salahnya ramah biar rukun." Lanjutku.


"Ku lihat kamu hanya ramah padanya"


"Karena dia yg paling dekat dengan rumah kita. Pernah bertemu para tetangga yg lain tapi hanya sekali dua kali."


"Ya ya...lanjutkan putri hospitality. Kerja yg bagus." Mas Dipta sedikit meledekku, aku memang kuliah mempelajari hospitality yaitu keramahtamahan dalam dunia pariwisata.


Aku tak menanggapi ledekannya. Sejenak terdiam, dia kembali bersuara.


"Kenapa bawa bekal? Apa uang saku nya tak cukup?" Tanyanya sambil melirik tas bekal yg ku pangku.


"Kalo jajan terus, jiwa hematku meronta seakan tak terima mas." Jawabku. Dia hanya mengangguk saja.


Mobil mulai masuk area kampus.


"Sudah di sini saja mas. Itu teman2 ku di sana." Ucapku sambil menunjuk 2 orang duduk di bangku panjang. Biasanya memang kita saling tunggu untuk masuk bareng.


"Kenapa temanmu cowok semua?" Tanya mas Dipta, matanya melihat ke arah 2 temanku yg ku tunjuk tadi. Mereka Ican dan Bagas.


"Ada 1 cewek, tapi mungkin belum dateng dia."

__ADS_1


"Kalian pasangan kampus?"


Pertanyaan mas Dipta membuatku uring membuka pintu mobil.


"Mereka hanya teman mas. Teman kampus, ada juga dulu teman kerja, bahkan Dino juga temanku." Jawabku menjelaskan. Dia menyenderkan tangannya ke kaca jendela.


"Tak ada yg namanya teman antara pria dan wanita. Di kampus itu hanya kenalan, di tempat kerja namanya partner mungkin atasan atau bawahan. Sedangkan Dino, dia bukan temanmu. Dia adik iparmu." Penjelasan mas Dipta membuatku melongo. Apa dia tak pernah berteman dengan wanita. Lalu bagaimana dia awalnya bertemu dengan pacarnya dulu?


"Sudah sana keluar, kenapa malah bengong? Pulang jam berapa nanti?" Lanjut mas Dipta yg menyuruhku segera pergi namun malah kembali bertanya. Maunya apa sih?


"Aku pulang jam 2 nanti kalo tak ada acara sama anak-anak."


"Anak-anak? Maksudnya mereka? Acara apa? Kalo waktunya pulang, lebih baik segera pulang. Jangan menghabiskan waktu dengan kegiatan tak penting."


Aku kembali tak menyangka, mas Dipta seperti lebih banyak bicara dari pada biasanya.


"Ya baiklah, aku akan pulang tepat waktu nanti." Jawabku sambil menganggukkan kepala.


Ku buka pintu mobil, dan bersiap turun.


"Hei, kenapa tak cium tangan dulu?" Katanya lagi, aku langsung kembali duduk.


Ku ingat-ingat aku mencium tangannya hanya saat setelah kata sah terdengar waktu itu. Setelahnya tak pernah lagi kulakukan. Mas Dipta juga sepertinya tak ada masalah, namun sekarang mendadak dia meminta diriku mencium tangannya lagi. Ada apa ini?


Karena aku tak kunjung menggapai tangannya. Mas Dipta malah meraih tanganku dan menggiringnya agar dahiku menyentuh tangannya.


"Sudah sana turun. Kenapa malah bengong?" Kembali dia menjadi menyebalkan.


Aku akhirnya turun dari mobilnya. Dan saat dia mau melajukan mobilnya dia berseru padaku.


"Nanti pulangnya ati2."


Aku tak menanggapi, hanya bengong melihatnya berlalu. Terlalu shock dengan tingkah laku mas Dipta. Sampai teman2 ku menghampiriku.


"Gila lo Kan, dapat gebetan super kece." Ucap Amel temenku yg entah sejak kapan dia sudah datang.


"Betul gilingan sumpah cyiiin...gak di kenalin ke kita ye kan. Sapa tahu kita kecipratan." Sahut Ican, meski badannya kekar tapi setelah mendengarnya bicara, semua akan tahu kalo dia sedikit kemayu.


"Siapa dia Kan?" Tanya Bagas, cowok tulen yg hobi mengayomi dan cinta damai.


"Dia suamiku." Jawabku singkat, namun sukses membuat shock ketiga temanku itu.


"What?! Suami? Jadi lo udah nikah?" Sahut mereka bergantian. Aku hanya mengangguk.


"Busyet dah...lo muka lugu tapi ternyata suhu!" Kembali mereka berkomentar. Aku hanya tersenyum.


"Sudah sudah...ayo segera ke kelas." Bagas menengahi kehebohan di antara mereka.

__ADS_1


Akhirnya kita jalan beriringan menuju kelas.


__ADS_2