
Aku merenung di dalam kamar yg ku kunci dari dalam. Ku biarkan Mas Dipta di luar sana sedang menggedor- gedor pintu ini sambil beberapa kali mengucapkan kata- kata bujukan agar aku membukakan pintu untuknya.
Ini ku lakukan karena aku sedang mangkel, kecewa, dan marah. Padahal aku belum tahu omongan Mbok Pur bahwa Delia mengandung anak dari Mas Dipta itu benar atau tidak. Aku ini manusia biasa gaes, jadi wajar bagiku kalo aku marah dan kecewa ketika mendengar berita bahwa suamiku akan punya anak dari wanita lain meski berita itu masih belum valid.
Padahal ku yakini kalo Mas Dipta sudah pengen punya anak. Terbukti beberapa kali dia membahas soal anak padaku. Nah sekarang.. dia malah sudah mau punya anak, meski itu bukan dariku. Hiks...
Aku menangis sendirian di dalam kamar, ku selimuti seluruh tubuhku. Tak peduli gedoran di luar meminta untuk membukakan pintu.
Tetiba gedoran itu menjadi hening dan suara Mas Dipta yg tadi teriak- teriak pun tak terdengar. Apa dia sudah lelah membujuk dan merayuku? Sehingga dia memutuskan untuk pergi saja, menemui anaknya yg masih di dalam perut Delia itu mungkin?
Apa dia benar- benar tak peduli lagi padaku? Bagaimana kalo saking sedih dan kecewanya, aku berpikiran sempit dan bertindak yg bukan- bukan? Ish.. sungguh keterlaluan Mas Dipta ini!
Baru aku memutuskan untuk bergerak dan ingin membukakan pintu. Tapi selimut yg ku pakai sudah tersibak duluan. Aku kaget, saat Mas Dipta sudah berdiri di samping tempat tidur.
Aku lupa, kalo kamar yg ku pakai ini adalah kamarnya. Tentulah dia punya kunci cadangannya.
"Bisa tidak kalo mau menangis itu dengerin dulu penjelasan dariku?" Tanya Mas Dipta duduk di pinggir ranjang. Aku mrengut, mengelap air mata yg ndelewer kemana- mana.
Aku kemudian menurunkan kakiku, duduk di sebelah Mas Dipta.
"Apa Mas Dipta senang sudah mau punya baby?" Tanyaku sambil menyusut hidung.
"Jadi kamu percaya kalo itu anakku?" Mas Dipta malah balik nanya.
"Ya gak tahu.. tapi tadi Mas Dipta lebih memilih Mbok Pur daripada aku, udah gitu gak membantah apa yg di katakan sama Mbok Pur." Jawabku sambil mecucu.
Mas Dipta menghela nafas, tangannya terulur mengusap kepalaku dan terus turun ke punggungku.
"Aku sudah menganggap Mbok Pur seperti ibuku sendiri..."
__ADS_1
"Tuh kan... sudah seperti ibu sendiri. Jadi kayaknya aku yg jadi penghalang kalian." Potongku cepat, Mas Dipta malah jadi melongo mendengar ucapanku.
"Astaghfirullah.. jadi salah lagi deh. Bukan gitu maksudku, Mbok Pur itu sudah lama kerja di rumah. Dari aku masih kecil, jadi aku menganggapnya seperti ibuku. Aku membayangkan yg bersimpuh tadi adalah Mama, apa mungkin aku membiarkannya seperti itu?" Terang Mas Dipta.
Masuk akal juga sih, tapi kan aku istrinya. Mbok ya setelah itu aku di tenangkan, di kasih kata- kata yg manis agar aku gak ngambek dan su'udzon.
"Jadi sebenarnya Delia itu hamil anaknya Mas Dipta bukan?"
"Aku akan jawab agar kamu tenang, itu bukan anakku. Tapi tentu saja ini semua gak bisa di selesaikan dengan jawabanku. Ada keluarga yg harus di jelaskan agar mereka percaya, apalagi Delia tetap kekeh menjawab itu anakku."
"Bagaimana dengan orang- orang yg selama ini dekat dengan Delia? Atau bagaimana pergaulannya selama di luar negeri? Apakah ada kemungkinan dari mereka yg melakukannya?" Jiwa detektifku langsung muncul gaes.. kalian pernah lihat drakor 'Mouse' gaes? Anggaplah aku sekarang jadi Go Mu-chi, jangan anggap aku jadi Jung Ba Reum ya gaes, meski dia tokoh utama tapi dia psycopath.
"Aku tak yakin selama dia di sini, meski Delia nampak ceria dan wellcome pada semua orang. Tapi aslinya dia orang yg introvert dan tak punya teman dekat."
"Jadi kemungkinan besar pas berada di luar negeri. Apakah di sana ada orang yg di kenal Delia? Selama ini dia di sana dengan siapa, apa hanya sendirian?"
"Ada Om dan tante ku di sana, tapi selama di sana Delia tinggal di apartemen sendiri."
"Iya, mungkin saja.."
Jawaban Mas Dipta membuat luruh semua jiwa detektifku yg tadi sempat membara. Jadi apakah yg tahu kebenarannya hanya Delia dan Tuhan? Duh Gustiii... kok ya ruwet bener ya?
"Jadi, bagaimana kalo nantinya Mas Dipta di paksa suruh tanggung jawab? Apa Mas Dipta akan meninggalkan aku?" Tanyaku sudah dengan mata yg kembali berkaca- kaca. Aku gembeng gaes...
"Astaga.. kamu ini mengkhawatirkan yg belum terjadi. Lagian masa' ya aku nurut- nurut aja kalo di suruh tanggung jawab. Pastinya aku akan lebih memilih bertanggung jawab pada istriku yg jelas- jelas sedang mengandung anakku."
Aku mendelik, dan hampir tersedak ludahku sendiri. Ini Mas Dipta lagi nge halu atau bagaimana sih?
"Mas.. istri Mas Dipta mana sih yg lagi mengandung? Cuma aku kan istrinya Mas Dipta?"
__ADS_1
Mas Dipta malah tertawa dan mencubit hidungku.
"So cute ih gemesin banget, jadi pengen gigit kamu deh. Ya istriku satu- satunya dong, satu aja gak habis, malah jadi tambah sayang." Jawab Mas Dipta merengkuh pundakku dari samping, dan membisikkan sesuatu padaku.
"Berasa beda aja rasanya, berkali- kali lipat lebih nikmat sayang." Bisiknya tepat di depan telingaku. Aku jadi merona mendengarnya.
"Yuk, di pastiin lagi. Kayaknya ini nanti aku bakalan tahu, kamu beneran hamil apa enggak." Lanjut Mas Dipta penuh dengan modus.
Jiaah... di pikir aku percaya kalo mengetahui kehamilan seseorang bisa dengan cara seperti itu. Dasar Mas Dipta aja tuh yg kepalanya penuh dengan hal mesum.
.
Malam itu Mas Dipta menerima telpon dari Papa. Yg intinya Papa dan Mama menanyakan hal yg sama denganku, dan pastilah Mas Dipta menjawab hal yg sama dengan yg di berikan padaku.
Seperti yg di bilang Mas Dipta, bahwa tak mudah membuat semua keluarga percaya dengan apa yg di ucapkan Mas Dipta. Terutama Mama, dia antara percaya dan tidak. Mungkin karena kasian melihat kondisi anak angkatnya itu.
Dan sesaat telpon tiba- tiba terputus setelah terdengar suara ribut- ribut di seberang telpon. Bahkan ada juga suara jeritan.
Aku dan Mas Dipta hanya saling pandang dan melongo, bertanya- tanya apa yg sedang terjadi di sana.
Mas Dipta kemudian bergegas menuju lemari, mengambil sembarang baju dari dalam sana dan memakainya cepat. Tadi memang Mas Dipta sedang tak pakai baju, karena kita sudah bersiap mau tidur.
"Nia, aku kesana sebentar ya. Kamu tidur duluan, tak perlu menungguku." Ucap Mas Dipta sambil menyambar kunci mobil.
"Huh? Tapi Mas.. aku pengen ikut.." suaraku merengek gitu, biar dia gak tega ninggalin aku.
Mas Dipta berhenti sejenak dari keterburu- buruannya. Dia menghela nafas pelan, dan melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Saat itu aku memakai celana training dan baju spandek putih polos yg nerawang.
Dia akhirnya mengambil jaket nya dari dalam lemari, lalu dengan telaten memakaikannya padaku. Bagian depan dia retsletingkan sampai menutupi leherku, tak cukup sampai di situ tudung jaket pun dia tutupkan ke kepalaku.
__ADS_1
"Sudah aman, ayo! angin malam tak baik untuk wanita hamil."
Wiss... sekarepmu Mas, sing penting aku ikut.