
Aku sedang menata kue di piring ketika ku dengar mas Dipta mengucapkan salam sambil masuk rumah.
"Walaikumsalam." Jawabku, ku lirik jam dinding. Jam setengah 6, tumben sekali mas Dipta sudah pulang. Biasanya dia pulang paling awal jam 6 an.
"Mas Dipta tumben pulang cepet? Apa lagi ini hari senin." Tanyaku.
Mas Dipta sedang jongkok melepas sepatunya. Setelah menaruhnya di rak, dia berjalan mendekatiku.
"Hem...sengaja. Karena besok aku akan keluar kota." Jawabnya.
Aku menghentikan kegiatanku, namun hanya sebentar. Aku kembali mengeluarkan kue2 dari wadahnya ke piring.
Mas Dipta mencuci tangannya dan mencomot 1 potong kue kemudian memakannya sambil duduk di kursi makan tepat di depanku.
"Keluar kota? Kemana?" Aku bertanya tanpa menatapnya.
"Cuma ke Bandung. 2 hari mungkin" jawabnya. Aku mengangguk. Aku lalu beranjak untuk mengambilkan dia minum.
"Sendiri?" Tanyaku lagi.
"Dengan Leni."
Deg.
Tanganku bergetar, bahkan aku takut gelas yg ku pegang akan terjatuh. Dengan hati2 ku letakkan gelas itu di depan mas Dipta.
"Apa harus dengan wanita itu?" Ku beranikan diri bertanya.
"Leni asistenku, dia yg paling banyak tahu pekerjaanku jadi dia orang yg tepat untuk ikut bersamaku. Di sana aku harus meninjau langsung beberapa proyek." Jawab mas Dipta. Meski alasannya memang profesional tapi hatiku tetap saja sakit.
Leni, secara garis besar dia wanita yg cantik. Penampilannya modis, dan tutur katanya pun sopan. Aku jadi bertanya-tanya, Leni yg secantik itu pun tak di lirik sama mas Dipta, gimana denganku? Lalu seperti apa wanita yg mampu mengisi hati mas Dipta.
"Kue nya beli di mana? Enak." Mas Dipta mengambil 1 potong lagi dan menggigitnya.
"Yang ngasih pak Ardi tadi." Jawabku.
__ADS_1
Mas Dipta seketika menatapku. Kue yg tinggal separo di tangannya dia lempar ke tempat sampah dan mengambil tissu untuk memuntahkan kue yg masih di dalam mulutnya.
Aku panik, ada apa, mungkinkah kue nya tak enak? Tapi tadi dia bilang enak.
Mas Dipta langsung menenggak air putih di depannya hingga habis.
"Kenapa mas? Apa kue nya tak jadi enak?" Tanyaku yg kembali mengambilkan air minum untuknya.
Mas Dipta menatapku, kali ini tatapannya tajam. Aku sampai tak berani menatapnya balik.
"Apa kata-kataku kurang jelas waktu itu Nia? Kenapa kamu masih berhubungan dengan tetangga itu?!" Suara mas Dipta menggeram tajam. Mendadak hawa dingin menerpa diriku sampai membuatku merinding.
"I itu itu...tadi pak Ardi ngasih kue itu sambil balikin wadah makanan yg pernah ku kasih waktu itu" jawabku yg mendadak jadi gagap.
"Harus berapa kali ku bilang, jangan terlalu dekat dengan tetangga itu. Bahkan ketika aku tak ada kalian masih bertemu, bagaimana dengan besok ketika aku di luar kota? Kalian akan bersama setiap waktu?!" Suara mas Dipta bahkan sudah meninggi, napas nya tiba2 memburu.
Keringat dingin sudah membasahi kedua tanganku.
"Aku bukannya sengaja menemuinya mas, aku juga tak merasa dekat dengannya. Dia memberikan kue itu pasti karena merasa tak enak mengembalikan wadah makanan dengan tangan kosong." Aku mencoba menjelaskan pada mas Dipta. Dia sudah berdiri, kedua tangannya bertumpu pada meja. Matanya menatap tajam padaku.
"Apa itu caramu?" Tanyanya.
"Ca..cara apa?" Lagi aku tergagap.
Mas Dipta menarik tangannya dan melipatnya di depan dada.
"Mendekati para laki-laki dengan wajah lugumu itu? Bahkan aku hampir tertipu olehmu" ada seringai mengerikan di bibirnya.
Aku bagai tersengat listrik mendengar ucapan mas Dipta barusan. Ku cengkeram tanganku kuat-kuat. Wajah ku sudah pias. Hatiku bahkan sudah panas, jantungku bahkan seperti berhenti berdetak.
"Apa? Mendekati para laki-laki? Apa seperti itu aku di matamu mas?" Tanpa terasa air mataku lolos begitu saja. Perkataan mas Dipta sungguh melukai hatiku.
"Ku lihat memang begitu. Kau sealalu di kelilingi para laki-laki. Di kampus, di rumah mama, bahkan di sini pun juga. Apa begitu gatalnya dirimu kalo tak menggoda mereka di manapun kamu berada?!" Ucapan mas Dipta mengiris hatiku.
Sungguh tak bisa ku percaya, dia mengucapkan kata-kata seperti itu padaku. Aku sungguh mencintai mas Dipta, mengaguminya dan menghormatinya. Dia lah laki-laki yg mampu menggetarkan hatiku, dan bahkan dia laki-laki pertama yg selalu ku ingat ketika membuka mataku di pagi hari. Laki-laki yg selalu ku sebut namanya dalam do'a-do'aku. Bahkan dia menyita seluruh isi dalam otakku dan hatiku.
__ADS_1
Tapi kenapa dia begitu tega mengucapkan kata-kata yg kejam untukku. Menggoda laki-laki? Apakah itu sama dengan menyebutku sebagai wanita penggoda?
"Apa mas Dipta sudah merasa benar? Mas Dipta pikir hanya dengan membiayai kuliahku dan kebaikan dari mama Ratna membuat mas Dipta bisa mengatakan kata-kata kejam itu padaku? Aku memang mencintaimu mas, bahkan hari-hari ku tersita banyak hanya dengan memikirkanmu. Tapi mas Dipta tak berhak menghina dan memperlakukanku seenakmu!" Aku hampir berteriak mengucapkan kata perkata barusan.
Air mataku sudah tak mampu lagi ku bendung dan mengalir begitu saja dari kedua ujung mataku.
"Apa begitu sulit bagimu untuk menjauhi mereka? Meski kita tak menjalankan kewajiban suami dan istri, tapi setidaknya hargai aku sebagai suamimu" meski ucapan mas Dipta tak lagi meninggi, namun malah semakin membuat luka dalam hatiku begitu dalam.
"Apakah mas Dipta pernah melihatku melakukan hal di luar batas?"
Mas Dipta menurunkan kedua tangannya yg terlipat. Matanya bergerak-gerak menatapku. Sudah tak tajam lagi seperti tadi. Bibirnya bergetar tapi tak ada kata-kata yg keluar.
"Ish...." Desisnya sambil menyugar rambutnya kasar.
Ku usap kedua pipiku yg telah basah. Dan berjalan melewatinya.
"Sejak jadi istri mas Dipta, mas Dipta lah yg jadi prioritas utamaku. Bahkan sejak mata terbuka di pagi hari hingga tidur di malam hari semua yg ku lakukan berpusat pada mas Dipta. Sekarang aku bahkan tak paham semua yg kamu ucaokan mas. Jika memang kemauan mas Dipta aku menjauhi mereka, maka akan ku lakukan itu." Ucapku dan berlalu dari sana.
"Nia..." panggil mas Dipta saat aku akan menaiki tangga. Tapi tak ku hiraukan.
Aku menaiki tangga dan masuk kamar.
Ku baringkan tubuhku, mendadak menjadi lemas sekali. Ku tutup seluruh tubuhku dengan selimut. Dan kembali menangis sepuasnya. Kenapa begitu kejam kata-kata yg di ucapkan mas Dipta padaku.
Ku ingat-ingat kembali, bagaimana sebenarnya ini semua bisa bermula. Namun semuanya justru memgarahkanku akan ingatan pertamaku ketika bertemu mas Dipta. Kenapa aku begitu terpesona akan sosoknya, hingga kata-kata kejam yg keluar dari mulutnya tak membuatku benci kepadanya.
Aku banyak menangis malam itu, hingga entah di jam berapa aku tertidur karena kelelahan. Tanpa mencuci muka, dan mata masih basah.
Ketika aku bangun di pagi hari, matahari sudah menerobos melalui jendela kamarku. Aku kesiangan, dan terburu-buru bangun. Ku lihat jam di layar hp ku. Oh astaga sudah jam 6.30.
Kenapa tidurku begitu lelap, sampai tak terdengar suara apapun yg mengusik tidurku. Dan kenapa mas Dipta tak membangunkanku.
Aku hanya cuci muka, dan mengikat rambutku asal. Buru-buru aku menuruni tangga dan memindai sebentar ruang tamu dan pintu kamar mas Dipta. Masih sepi, bisa jadi mas Dipta juga belum keluar dari kamarnya.
Aku berlari menuju dapur, aku akan membuat sarapan yg cepat saja. Agar bisa segera di makan. Mungkin roti panggang atau roti lapis. Ku hampiri kulkas untuk mengambil bahan-bahanya dari dalam sana.
__ADS_1
Namun, kertas post it yg menempel di depan kulkas membuatku menghentikan segala keterburu-buruanku. Memo yg di tulis di sana membuatku kembali ingat akan kejadian semalam. Dengan terhuyung aku duduk di kursi.
Aku kembali menatap ruangan itu. Ternyata dia sudah pergi.