
"Aku gak tahu persisnya kapan, Delia tiba- tiba hadir di rumah kami. Awalnya dia datang pagi dan pulang malam, mengikuti ibunya yg bekerja di rumah kami. Karena perbedaan umur kami yg tak terlalu jauh, kami sering bermain bersama, hingga tumbuh bersama. Papa dan Mama pun menyayanginya karena pembawaan Delia yg ceria kala itu."
"Apa kamu tahu aku mempunyai adik perempuan? Dia beda 10 menit denganku." Tanya Mas Dipta tiba- tiba. Aku yg mendengarnya dengan seksama jadi terhenyak.
"Hah? Adik beda 10 menit? Ah.. Mas Dipta punya adik kembar?" Aku malah balik nanya ke Mas Dipta.
"Iya, dari bayi dia sudah ada masalah dengan kesehatannya. Hampir separo hidupnya di habiskan di rumah sakit dan kamar. Delia sering datang menemani dan menghiburnya, karena sifat Delia yg ceria, hari- hari adikku jadi lebih sering tersenyum. Waktu kita kecil dulu, usaha Papa tak sesukses sekarang, jadi untuk pengobatan adikku, Papa dan Mama harus cari sana sini. Ketika kesehatan dia semakin memburuk dan harus di lakukan operasi, akhirnya Mama memutuskan menjual semua aset- asetnya yg berada di kampung." Mas Dipta menjeda ceritanya. Dia menatapku dan menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telinga.
"Mungkin, saat kamu main ayunan dan aku sedang menggambar di taman waktu itu adalah hari terakhir kami berada di kampung. Setelahnya tak ada lagi yg namanya pulang kampung. Semua tanah dan rumah telah terjual hari itu, berharap uang hasil penjualan itu bisa menyembuhkan adikku." Dia mengambil nafas dalam dan menghembuskan perlahan, mengingat masa- masa sedih dulu memang terkadang membuat dada sesak kembali.
Pantas saja ketika kita jalan- jalan di kampung kemarin, dia mengatakan bahwa hari kita bertemu di taman waktu kecil dulu adalah hari berduka untuknya. Aku mengusap pelan bahunya untuk menenangkannya. Namun bukan tenang yg ku lihat, justru di sudut matanya ku lihat menggenang air matanya yg sekuat tenaga di tahan agar tak menetes.
Berkali- kali dia mengambil nafas dan menghembuskannya.
Aku mengambilkan segelas air putih di atas meja untuknya. Dan dia menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Tak lama setelah kita kembali dari kampung, akhirnya kita mendapatkan jadwal operasi adikku. Namun seakan tak kuasa menahan rasa sakit di tubuhnya, adikku terus memburuk kesehatannya. Dan selang sehari sebelum operasi, dia menghembuskan nafas terakhirnya."
Kali ini air matanya sudah tak lagi bisa di bendungnya, meluncur begitu saja melalui sudut matanya. Dia buru- buru mengalihkan wajahnya, dan segera mengahapus air matanya sendiri.
Aku yg jadi sedih mendengar ceritanya, ikut menitikkan air mata.
"Aku turut bersedih Mas.." ucapku dengan mengenggam tangannya. Aku tak tahu kata- kata penghiburan untuknya setelah dia menceritakan kisah sedihnya.
"Tak apa, itu sudah berlalu. Dia sekarang sudah di surga, tak lagi merasakan sakit." Katanya dan malah menghapus air mataku.
__ADS_1
"Sejak kepergian adikku, adanya Delia sedikit demi sedikit kesedihan kami terobati. Hingga Papa dan Mama memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak. Dan sejak saat itu Delia tinggal di rumah kami."
"Lalu apakah kalian kemudian jatuh cinta? Saling menyukai begitu kalian sering bertemu?" Tanyaku langsung saat dia mengakhiri cerita sedihnya. Mas Dipta menatapku, kemudian membelai rambutku.
"Aku pernah kehilangan adik perempuan yg ku sayangi yg dari kecil bahkan kita tak pernah benar- benar bersenang- senang layaknya anaka- anak. Mama dan Papa begitu hancur ketika adikku meninggal, mengingat hal itu, aku merasa harus menjaga Delia dan tak ingin sesuatu yg buruk terjadi padanya. Jadi sebisa mungkin aku mau dia senang dan bahagia."
Aku jadi mengerutkan alisku mendengar penjelasan darinya.
"Jadi akhirnya kamu mengajaknya pacaran? Untuk menjaganya?"
Mas Dipta menggeleng.
"Aku tak pernah mengajaknya pacaran. Namun, perlakuanku padanya mungkin membuatnya salah menafsirkan ke hal lain. Sejujurnya pada awalnya aku tak keberatan dengan semua salah paham ini. Hingga akhirnya Papa dan Mama mengetahui semuanya, kalo Delia menganggapku lebih dari sekedar kakaknya."
Aku sudah akan bertanya lagi, tapi Mas Dipta merangkul pundakku dan mengajakku beranjak dari sana.
Kami memasuki rumah dan langsung menuju lantai atas. Kami memasuki satu- satunya kamar di sana. Kamar yg luas, seperti halnya lantai bawah tadi. Di sini pun sebagian besar berdinding kaca dengan tirai- tirai sebagai penutupnya.
Travel bag yg tadi di bawa Mas Dipta sudah berada di atas kasur.
"Kau mau mandi dulu?" Tanya Mas Dipta mulai membongkar isi tas nya.
"Apa kita akan menginap?"
"Tentu saja, bukankah sudah ku bilang tadi, aku menyewa villa ini?"
__ADS_1
"Masalahnya aku tak membawa baju ganti Mas"
Mas Dipta mengerlingkan matanya, dan menyeringai penuh makna.
"Ku rasa kau tak perlu pakaian malam ini, aku bersedia menghangatkanmu." Ucapnya, membuatku bergidik ngeri. Secara spontan aku langsung menyilangkan tanganku ke depan dadaku. Mas Dipta malah tertawa melihat reaksiku.
"Aku hanya bercanda. Ini ku bawakan baju ganti untukmu, ambilah sendiri!" Katanya menunjuk travel bag nya.
Aku melihat memang ada beberapa baju gantiku di sana. Dia bahkan membawakanku ganti untuk daleman. Ya ampuun, betapa malunya aku. Apa yg dia pikirkan saat mengepack ini semua.
Aku mengambil daleman dan ku selipkan di antara baju yg akan ku pakai setelah aku mandi nanti.
"Tak usah di sembunyikan, aku bahkan yg memasukkannya ke dalam tas tadi." Mas Dipta ternyata melihat kelakuanku. Dan aku hanya meringis dan berlalu masuk ke kamar mandi.
"Kamu yakin tak perlu ku temani mandinya? Aku merasa ada aura- aura aneh di dalam kamar mandi." Kembali Mas Dipta bersuara saat aku akan menutup pintu kamar mandi. Aku jadi melihat ke beberapa sudut kamar mandi yg luas itu. Meski baru pertama masuk tapi kamar mandi ini bersih dan terang, jadi aura aneh apa yg dia maksud.
"Jangan menakutiku Mas!" Kataku. Mas Dipta malah tertawa dan berjalan mendekatiku.
"Jadi gimana? Mau di temani tidak? Aku akan bermurah hati menemanimu mandi." Katanya penuh maksud. Aku mengernyit dan memutar bola mataku.
"Hish.. bukan di kamar mandi yg ada aura anehnya, tapi Mas Dipta tuh!" Ujarku lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
"Nia.. kenapa harus di kunci?" Mas Dipta menggedor pintu sambil sesekali memutar kenopnya. Namun setelahnya hening, ku rasa dia menyerah jadi kuputuskan untuk melanjutkan aktifitas mandi cantikku.
Saat aku keluar dari kamar mandi, ku lihat Mas Dipta sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya. Bikin mataku tak mampu berpaling darinya, klepek- klepek. Bahkan dia sudah menggelar 2 sajadah untuk kita sholat.
__ADS_1
"Mas Dipta sudah mandi?" Tanyaku.
"Sudah, di kamar mandi bawah tadi. Kalo tidak, mana bisa kita sholat jama'ah. Waktunya mepet Nia." Jawabnya. Aku pun kemudian mengenakan mukenaku dan langsung berdiri di belakangnya, niat mengerjakan sholat maghrib.