
Kita sampai di rumah sekitar jam 9 an. Mas Dipta benar- benar hanya ngedrop aku aja di depan rumah, dia bahkan tak turun dari mobil. Setelah ku cium tangannya, dan dia mencium keningku dia hanya berpesan,
"Hati- hati nanti berangkatnya. Kalo bisa jam 4 sudah di rumah ya?!"
Aku hanya mengangguk dan turun dari mobil. Setelah itu dia langsung melajukan kembali mobilnya.
Ku lihat rumah 2 lantai yg sudah lama ku tinggalkan itu, ada rasa rindu menelusup ke dalam hatiku. Rindu kamarku di lantai 2, rindu dapur sederhana di sana, dan rindu berbagai aktifitas yg biasa ku lakukan di rumah itu.
Suasana sekitar nampak sepi, karena di sini para penghuni nya sebagian pekerja, maka jam segini pastilah para tetangga sedang bekerja. Aku memasuki rumah, melewati mobilku yg sudah terparkir di garasi depan rumah.
Sampai di dalam rumah, pertama ku lihat, rumah nampak begitu suram. Karena sudah pasti agak berbeda suasana rumah yg sudah lama tak ada aktifitas di dalam rumah, meski aku yakin Mbok Pur dengan terjadwal sering membersihkan rumah ini.
Koperku yg ku yakin dari rumah Mama di letakkan di samping rak sepatu. Aku langsung menyeretnya menuju lantai atas, menuju kamarku. Aku berniat ganti baju dulu sebelum berangkat kuliah.
Di lantai atas, aku menemukan kamarku yg pintunya di biarkan terbuka begitu saja. Aneh, apa Mbok Pur saat membersihkan lupa menutup pintunya kembali? Ngomong- ngomong soal Mbok Pur, apa dia juga yg bilang ke Papa dan Mama tentang kamarku dan Mas Dipta yg terpisah. Ku kira Mbok Pur itu orang yg tak suka mengadu, ternyata aku salah mengira.
Saat aku masuk kamar, aku di buat terperangah. Karena barang- barangku di sana tak ada. Kasur dan lemari memang masih ada, tapi baju- bajuku yg di dalam lemari tak ada. Buku- buku dan peralatan skincare yg tertinggal tak ada. Meskipun peralatan skincare ku bukan merk yg mahal tapi setidaknya ada dan itu sudah cukup membuat wajahku glowing. Eh ciyee...
Aku masih menyeret koperku ketika aku kembali ke bawah. Di lantai bawah ini ada 2 kamar tapi entah kenapa aku ragu dengan kamar yg selama ini kosong. Dan dengan sedikit lancang aku memasuki kamar Mas Dipta yg pintunya tertutup rapat. Maaf aku masuk ya Mas, cuma mau nyari baju- bajuku. Siapa tahu bisa pindah sendiri ke dalam kamarmu ini.
Dan iya dong... aku bengong sambil melangkah masuk kamar lebih dalam. Kamar yg setahuku dulu rapi, sekarang agak semrawut.
Ada 2 lemari besar di sana, ku lihat lemari yg satu masih kosong dengan pintunya terbuka 1. Di depan lemari yg kosong itu ada 1 koper besar, aku curiga isi koper itu adalah baju- bajuku. Di sisi lain ku lihat ada meja lengkap dengan sebuah kursi yg terselip di bawahnya. Ada beberapa tumpuk buku di atas meja, dan setelah ku lihat lebih jelas lagi, itu adalah buku- bukuku.
__ADS_1
Sebelah meja tadi, ada meja rias dengan kaca yg besar di sana. Di depannya peralatan skincare ku yg hanya di taruh saja di sana, tak tertata rapi.
Jadi maksudnya Mas Dipta ingin sekamar denganku? Tapi kenapa tadi dia tak bilang apapun? Apa yg memindahkan barang- barangku dari lantai atas ke sini, Leni lagi yg mengerjakan?
Karena ku lihat waktu sudah mepet, aku membongkar koper yg ada di sana. Dan kecurigaanku ternyata benar, koper besar yg tergeletak di sana berisi semua baju- bajuku. Ku cari baju yg ingin ku pakai dan berganti baju dengan cepat di sana.
Aku akan protes nanti sore saja, saat Mas Dipta sudah pulang. Sekarang saatnya pergi ke kampus, menuntut ilmu.
.
Aku mengikuti Amel yg berjalan di depanku menuju cafe samping kampus. Dia dengan semangat menggebu akan bercerita mengenai si Bagas. Aku jadi curiga, apa mungkin sahabatku itu menaruh hati pada Bagas.
Saat sampai di cafe, aku langsung memesan beberapa menu karena perut terasa melilit. Dari siang belum makan, terakhir makan nasi goreng tadi pagi. Menu awal aku memilih kentang goreng keju, orang Indonesia belum makan kalo tak ada nasi jadi aku memilih nasi ayam teriyaki untuk makanan utama, dan matcha pannacota sebagai penutup. Untuk minumnya aku memilih jus markisa, wuiihh.. belum datang saja ludahku sudah kemucur membayangkannya.
"Kamu yakin nanti bisa habis tuh pesenan?" Tanyanya, yg ku lihat dia hanya pesan nasi ayam bakar madu dan jus jeruk.
"Yakin aku, laper banget soalnya. Aku perlu tenaga ekstra buat beres- beres nanti di rumah." Jawabku. Dan akhirnya Amel menyerahkan kertas yg sudah tertulis pesanan kami pada pelayan cafe di sana dengan wajah yg gamang. Besok puasa deh, mungkin begitu pikirnya karena duitnya habis buat nraktir aku.
"Apaan? Kenapa si Bagas, kayaknya kamu care banget sama dia?" Tanyaku tak sabar.
"Patah hatinya berlanjut, dia sampai depresi. Makanya dia trus ambil cuti kuliah. Besok mau nengokin dia gak?"
"Serius? Sampai segitunya, kalo cinta di tolak ngapain gak cari yg lain aja sih? Kayaknya cewek yg antri buat dia juga lumayan tuh di kampus."
__ADS_1
"Kalo hati bisa semudah itu berpaling Kan. Nyesek tahu gak? Kamu sih enak, punya suami yg menyayangimu dan kalian saling mencintai, gak pernah ngerasain cinta tak berbalas."
Aku terhenyak mendengar perkataan Amel. Hadeeh... gak semudah itu ferguso. Di awal pernikahan aku juga nyesek, bahkan seperti hampa dan tak ada semangat menjalani hari- hari. Apalagi di awal Mas Dipta sudah membentengi diri tak bisa ku dekati.
Tapi itu sudah berlalu, sekarang dia sudah klepek- klepek tak kuat dengan pesonaku. Jadi biarlah orang lain tahu nya bahwa kita bahagia.
"Ya mbok yao.. kalo orang itu sudah gak mau sama dia, yo wis. Move on gitu, jangan terus meratapi nasib. Hidup kan harus terus berlanjut." Kataku dengan bijak level dewa. Padahal beberapa hari yg lalu, aku juga meratapi nasib.
"Makanya, ayo besok kita jenguk dia. Paling gak dia tahu, ada kita yg mensuport nya. Okay?!" Ucapnya sambil sedikit memaksa.
"Aku ijin sama suami dulu ya, aku chat nanti kalo dia sudah mengeluarkan surat ijinnya." Jawabku
"Iya, sebenarnya aku tuh juga ragu ngajakin kamu, biar dia berhenti berharap gitu. Tapi aku juga kesian sama dia, setidaknya setelah kamu jenguk dia, dia punya semangat dan gak terlalu terpuruk..."
Hah? Aku melongo mendengar ucapan Amel barusan, masih mencoba mencerna dan memahami kata perkata darinya. Kok kayaknya setelah aku menjenguk si Bagas, Bagas bakal punya semangat dan gak terpuruk. Memangnya aku penyemangat hidupnya?
Tapi sungguh aku tak ingin terlalu percaya diri dan di anggap ge-er.
"Berhenti berharap? Emang dia pernah berharap sama aku?"
"Eh anu.. emang aku tadi ngomong gimana? Emh.. jadi gini Kan, duh salah ngomong deh aku.." Amel garuk- garuk kepalanya sendiri dan jadi seperti gak nyaman.
"Sebenarnya Bagas pernah bilang ke aku, kalo dia suka sama kamu. Tapi sejak tahu kamu sudah nikah, dia jadi hilang semangat gitu. Padahal dia sudah berusaha menerima kenyataan. Tapi kok akhir- akhir ini dia drop dan sampai ambil cuti kuliah. Kok sepertinya dia memaksakan diri gitu.. kan kesian Kan."
__ADS_1
Tuh kan.. aku udah feeling sebenarnya. Tapi kok Amel segitunya banget sama Bagas, apa mungkin kecurigaanku di awal tadi benar adanya?