Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Sah


__ADS_3

Hampir semua orang terdiam menatap ke arahku. Ku lirik keluargaku, dari raut wajah mereka dapat ku pastikan bahwa mereka terkejut akan tujuan sebenarnya tante Ratna sekeluarga datang ke rumah. Tak menyangka bahwa aku akan di pinang keluarga yg tersohor di kampung kami. Kasak kusuk mulai terdengar dari luar, para warga saling berbisik entah apa yg mereka gosipkan. Mungkin betapa beruntungnya aku, bisa di pinang oleh keluarga kaya dan tersohor di kampung. Aku sempat melirik mas Dipta, lelaki itu hanya memasang wajah datar, bahkan tampak tak tertarik akan jawaban yg akan ku berikan atas pinangannya.


"Nduk...kalo gak yakin, kita bisa minta waktu. Gak harus di jawab sekarang." Bisik ibuku lirih di dekat telingaku. Aku manarik napas dalam, ku raih tangan ibuku untuk sekedar menguatkan diriku melalui tangan hangat beliau.


"Ehemm.." aku berdehem, suasana langsung kembali hening.


"Saya akan menjawabnya sekarang." Genggaman tangan ibu semakin erat di tanganku.


"Bismillahirohman nirohim...aku menerima pinangan dari mas Dipta." Jawabku mantap. Ibu menatapku, begitupun dengan bibi dan paman dengan menyiratkan ketidak percayaan mereka. Namun dari keluarga tante Ratna ku dengar mereka saling berucap hamdalah.


Acara selanjutnya adalah penentuan hari pernikahan kami. Ibu bersikukuh ingin mendiskusikan terlebih dahulu dengan keluarga, namun pihak tante Ratna mendesak ingin segera di gelar prosesi ijab qobulnya. Lama mereka saling mempertahankan pendapat masing2, akhirnya di jeda karena sudah masuk waktu dzuhur. Memberikan waktu untuk beribadah dulu, dan di lanjutkan dengan makan siang. Beruntung punya bibi yg punya jasa katering jadi acara dadakan pun tak ada masalah.


"Nduk, bagaimana ini? Apakah kamu sudah mantap? Bagaimana dengan hatimu? Karena ini dadakan sekali, ibu jadi tak punya waktu untuk membahas ini denganmu." Ucap ibu di sela2 waktu istirahat beliau. Aku jadi kasihan pada ibuku, harusnya beliau bisa segera beristirahat namun pembahasan ini belum selesai juga.


"Ibu..ibu tahu kan bahwa tante Ratna dan keluarga nya adalah orang2 baik? Mereka bahkan terkenal di kampung kita sebagai orang yg dermawan dan berhati mulia. Ini adalah jalan yg baik bagi keluarga kita, Kania akan mencoba menerima ini sebagai jalan hidup Nia. Jadi Nia harap, ibu bisa percaya dengan mereka." Ucapku mencoba membujuk ibu, mudah2 an ibu segera luluh dan menerima pendapat dari keluarga tante Ratna. Dan lagi semoga pembahasan ini tak berlarut-larut agar ibu segera beristirahat.

__ADS_1


Sekitar pukul 2 siang, kita berkumpul lagi melanjutkan pembahasan hari pernikahan. Kulihat di sini ibu sudah lebih tenang dan tak nampak raut kekhawatirannya. Dan saat pembicaraan mulai di buka kembali, ibu sudah berbicara terlebih dahulu.


"Pak Dhani Rahmat sekeluarga kami mengucapkan banyak terima kasih atas niat baiknya, sebelumnya kami minta maaf atas kata2 dan perilaku kita khususnya saya yg tadi. Setelah ini kami akan menerima usulan dari pak Dhani sekeluarga, berharap memang ini adalah jalan yg baik bagi 2 keluarga yg ingin bersilaturahmi." Ucap ibu mangakhiri perdebatan di siang itu.


Acara pun akhirnya berjalan kembali, pembahasan tentang hari pernikahan pun sudah di sepakati. Yaitu 2 hari lagi, karena pihak tante Ratna tak ingin menunda terlalu lama lagi. Sebelum ibu meng iyakan permintaan keluarga tante Ratna, ibu sempat menatapku sebentar. Seakan mencari persetujuan dariku, maka akupun menganggukan kepala tanda setuju. Dan ibu pun akhirnya menerima dengan legowo.


Mengingat kesehatan ibu yg belum pulih, maka kedua pihak keluarga sepakat untuk melakukan akad nikah saja di KUA setempat. Dan berharap ibu segera pulih seperti sedia kala agar nanti bisa di adakan resepsi besar2an.


Pembahasan pun akhirnya berakhir, setelah sesi ramah tamah selesai rombongan keluarga tante Ratna pun meninggalkan rumah. Hari itu terasa begitu panjang dan melelahkan. Mungkin bagi ibu juga yg notabene fisiknya belum sehat sempurna. Maka begitu malam tiba, ibu lansung tertidur tanpa banyak bertanya.


Hari berikutnya, aku di sibukkan dengan persyaratan yg harus di penuhi menjelang akad nikah. Aku di temani tante Ratna yg pagi2 sudah menjemputku untuk mengurus beberapa surat pengantar dari RT/RW setempat, kelurahan, dan terakhir ke KUA. Semua berjalan cepat dan lancar tanpa ada kendala. Efek di temani orang tersohor di kampung.


Menjelang subuh aku sudah di bangunkan oleh telpon dari bibiku yg menyuruhku segera beberes dan bersih2 diri. Padahal akad nikah masih nanti jam 9. Akupun menurut meski mata masih begitu lengket tak mau terbuka.


Selesai sholat subuh, bibi sudah ada di rumah bersama 2 orang perias yg akan mendandaniku. Mereka datang membawa 2 buah koper, mungkin isinya alat tempur mereka. Heran, yg di dandani cuma 1 orang tapi alatnya sampai 2 koper.

__ADS_1


Ketika semua sudah siap, aku berdebar menunggu mobil jemputan yg akan membawaku bersama ibu ke tempat di adakannya akad yaitu KUA. Beberapa kali aku melirik ke cermin demi meyakinkan diriku bahwa sudah oke semuanya. Aku mengenakan kebaya putih tulang yg menjuntai ke bawah semata kaki, jadi tak perlu di pegangi bawahnya ketika aku berjalan. Tatanan rambutpun tak perlu di sanggul, hanya di ikat keatas, di kepang bagian pinggirnya dan di beri aksesoris jepitan rambut berbentuk bunga.


Jadi ketika mobil tiba, kita langsung meluncur menuju KUA. Bibi dan paman di mobilnya sendiri, di sana juga ikut Tiara adikku.


Sampai di KUA, ku lihat semua keluarga tante Ratna sudah lengkap. Ada tante Ratna sendiri, om Dhani, dan Dino. Tunggu...bukankah harusnya juga ada Delia? Lalu di mana dia? Aku melirik ke orang2 yg hadir, namun tak ku lihat orang yg harusnya bernama Delia itu. Mungkinkah dia tak hadir? Di pernikahan kakaknya sendiri dia melewatkannya? Sungguh sebuah teka teki... Namun rasa penasaranku itu seketika lenyap begitu saja kala ku lihat sosok yg berdiri di kursi akad bersama bapak penghulu.


Mas Dipta, dia begitu tampan hari ini, dengan setelan jas berwarna senada dengan kebaya yg ku kenakan dia sedang menatapku. Menatap diriku yg berjalan perlahan menuju ke arahnya. Ya ampun...tiba2 diriku seperti salah tingkah, aku menunduk tak mampu membalas tatapannya. Padahal beberapa kali aku berharap mas Dipta melihat ke arahku, atau hanya sekedar melirik tapi sekarang dia bahkan sedang menatapku. Dan apa yg ku lakukan, menunduk?


Aku kemudian di dudukkan di sebelah mas Dipta, makin berkeringat dinginlah diriku. Serangkaian acara pun segera di mulai hingga akhirnya pengucapan ijab qobul dari pak penghulu pun terdengar. Mas Dipta, dengan satu tarikan napas menyahut ucapan bapak penghulu dengan mantap.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kania Paramitha binti Muji Wibowo almarhum dengan mas kawin tersebut. Tunai."


"Sah para saksi?"


"Sah...sah..."

__ADS_1


"Alhamdulillah.."


Akhirnya akupun resmi menjadi wanita bersuami. Dan mas Dipta resmi menjadi suamiku. Sesuai petunjuk pak penghulu, aku di haruskan mencium punggung tangan suamiku. Maka ku raih tangan mas Dipta dan menciumnya takzim. Begitu pula mas Dipta di haruskan mencium keningku. Aku begitu grogi ketika kami berhadapan, dan perlahan mas Dipta mengecup keningku untuk beberapa saat. Saat itulah seluruh tubuhku merasa gemetar, ada desiran aneh sedang menguasai hatiku. Ku beranikan diri untuk menatap mas Dipta, namun betapa kecewanya diriku. Binar2 bahagia ternyata hanya diriku sendiri yg merasakannya. Mas Dipta hanya tersenyum terkesan di paksa dan setelah itu tak sekalipun dia melihat ke arahku.


__ADS_2