Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Tamu tak terduga


__ADS_3

Hari berlalu, kita sudah balik ke rumah kita sendiri. Senyaman- nyamannya rumah mertua pasti lebih nyaman rumah sendiri. Mau apa juga terserah kita, apalagi di rumah mertua ada si Del del duel itu... ups, maksudnya Delia gaes.


Aku menganggap omongan Delia terakhir kali itu hanya untuk merusuh saja. Agar rumah tanggaku dengan Mas Dipta yg sedang anget- angetnya ini, gonjang- ganjing gitu kali. Hohoho... tidak semudah itu ferguso!


Hari ini weekend, dan tentu saja kami libur. Jam menunjukkan pukul 10. Setelah kegiatan panas kami tadi, sekarang kami sedang rebah- rebahan di atas karpet berbulu yg empuk dengan tv menyala.


Abaikan cucian menggunung dan tugas kuliah seabrek belum tersentuh. Kita bermanja- manja dulu, hidup serumah cuma berdua, keluar masuk ketemu dia lagi dia lagi jadi kalo kepengen tinggal langsung hajar di tempat.


"Mas, makan siangnya kita online saja ya? Aku udah capek nih kalo harus masak.." ucapku, Mas Dipta menggeser lengannya yg ku jadikan bantal untuk meraih ponselnya.


"Mau pesan apa?" Tanyanya sedang membuka aplikasi order makanan online. Aku ikut juga melihat- lihat, namun karena lama memilih akhirnya Mas Dipta memberikan saja hp nya padaku.


Wis, alamat kalap ini aku pesennya. Di kasih kesempatan ya kugunakan dengan baik. Bukankah membahagiakan istri adalah salah satu cara memperlancar rezeki. Jadi Mas Dipta sayang.. bahagiaku cukup sederhana kok, biarkanlah aku memesan makanan sesuka hatiku hehe...


Selesai order makan, ku kasih hp itu kepada pemiliknya. Dan dia tak ingin kepo atas apa yg ku pesan, mungkin tahunya ada makanan aja untuk makan siang nanti.


"Mas, gak pengen tahu apa yg ku pesan?" Tanyaku malah aku yg kepo kenapa dia gak kepo.


"Hem... emang pesen apa?" Dia malah balik nanya.


"Aku pesen banyak, janji gak marah lho ya kalo nanti pesenannya datang." Jawabku, Mas Dipta tersenyum sambil mendusel- duselkan dagunya ke kepalaku.


"Masa' untuk anak sama istri marah.. " jawabnya. Aku memutar bola mataku, ini orang masih mengira aku hamil kayaknya.


"Uh.. so sweet. Tapi maap pak, untuk istri aja kali ya. Anaknya kan belum ada." Ucapku yg membuat Mas Dipta tertawa sambil mengelus perutku.


"Siapa yg tahu.. mungkin saja di sini sudah tumbuh Dipta dan Kania junior." Ujarnya menggelitik perutku.


Aku berguling karena dia tetiba menggelitik di daerah yg rawan geli. Aku memekik dan tertawa lepas bahkan penampilanku mungkin sudah acak- acakan. Dan dia masih belum berhenti gelitikinnya. Aku hampir kejang karena kegelian saat akhirnya mendengar suara pintu di ketuk. Oh God.. untuk siapa saja yg mengetuk pintu di luar sana aku ucapkan terima kasih, karena kamu telah menyelamatkan nyawaku.


Mas Dipta beranjak berdiri dan melangkah menghampiri pintu untuk di bukanya. Aku membenahi penampilanku yg sudah seperti di terpa badai dan angin ribut.

__ADS_1


Ternyata Bapak pengantar makanan. Ada 3 orang yg beridiri di depan pintu, karena aku pesan beberapa makanan di tempat berbeda.


Mas Dipta masuk dengan membawa beberapa kantong berisi makanan.


"Kamu serius memesan ini semua?" Tanyanya dengan wajah yg shock dan kebingungan.


"Hu'um.. tadi kan kamu udah janji gak bakal marah .." aku sudah mbleret duluan di tatap begitu sama Mas Dipta.


Dia menghela nafas gitu dong... Duh, kok jadi nyesel ya. Jadi yg salah siapa dong, dia yg dengan suka rela ngasih hp nya atau aku yg kalap pesen makanan?


"Sayang.."


Cesss, panggilan itu masih bikin aku salah tingkah lho gaes. Pasalnya jarang banget suamiku itu manggil seperti itu, pasti ada maunya nih.


"Kayaknya kita harus beneran periksa deh. Aku khawatir karena tiba- tiba nafsu makanmu berubah. Mungkin ada sesuatu di dalam perutmu itu.."


What? Jadi nafsu makanku gak normal gitu ya maksudnya? Dengan kata lain, aku rakus?


Aku mengambil kantong makanan dari tangannya lalu ku bawa ke meja makan. Mengelurkan semuanya di sana. Mas Dipta menatap makanan apa saja yg ku keluarkan dari kantong plastik satu persatu. Sebelum pintu rumah di ketuk kembali oleh seseorang.


"Hah? Ini masih belum semua? Sebenarnya kamu pesen buat berapa orang sih?" Mas Dipta udah agak ngegas nih ngomongnya. Mengira yg mengetuk pintu jasa pengirim makanan.


"Ini udah semuanya kok. Coba ku lihat itu siapa." Kataku kemudian melipir ke ruang depan, Mas Dipta masih terheran- heran tuh sama pesenan makanan di atas meja. Mau makan yg mana dulu ini, mungkin pikirnya begitu.


Setelah ku buka pintu, aku pun heran melihat siapa yg datang.


"Mbok Pur?" Pasalnya Mbok Pur gak pernah dateng saat weekend gini. Apalagi ini sudah siang banget, dia biasanya dateng pas pagi- pagi ketika semua orang hendak pergi beraktifitas.


"Assalamualaikum Mbak Kania, maaf mengganggu" sapanya dengan sungkan.


"Walaikumsalam, gak ganggu kok Mbok. Ayo masuk!" Ajakku mulai menyingkir dari ambang pintu dan membiarkan Mbok Pur masuk.

__ADS_1


"Ini kebetulan kita mau makan siang Mbok. Pas banget Mbok Pur dateng, jadi bareng- bareng yuk makan siangnya!" Ajakku menggandeng tangan Mbok Pur membawanya ke ruang makan.


"Aduh.. gak usah Mbak. Mbok tunggu di depan aja, Mbak Kania sama Mas Dipta makan dulu saja."


"Ayo Mbok, tolongin aku please. Aku tadi pesen makanan kayaknya kebanyakan, jadinya Mas Dipta udah mengeluarkan laser tuh dari matanya. Mbok Pur bantuin makan ya...?" Ajakku menarik tangan Mbok Pur mendekati meja makan.


Mas Dipta melihat kedatangan kami, dan saat melihat siapa yg datang bersamaku dia mengerutkan dahinya. Namun dia tak bertanya apapun saat itu.


Akhirnya setelah ku paksa dengan berbagai macam cara, Mbok Pur ngalah dan ikut makan bareng kami.


Setelah segitu banyaknya makanan kita makan, perut kita pun berakhir kenyang. Namun tetap saja masih menyisakan makanan, yaitu kulit kerang, cangkang kepiting dan beberapa tongkol jagung, tongkolnya doang hehe...


Selesai makan, Mbok Pur sudah kasak kusuk cemas. Ragu- ragu antara mau ngomong atau tidak.


"Apa Delia yg menyuruh Mbok Pur kemari?" Tanya Mas Dipta tiba- tiba. Seakan dia sudah tahu tujuan kedatangan Mbok Pur.


Mbok Pur yg tadi terlihat cemas sekarang hanya tertunduk kepalanya. Aku jadi kesian melihatnya. Lagian kenapa sih, si Del del duel itu pake nyuruh Mbok Pur yg notabene hanya seorang pekerja di rumah Mama.


"Baik, katakan saja apa yg dia inginkan dariku?" Tanya Mas Dipta lagi dengan suara baritonnya. Mungkin kalo aku yg jadi Mbok Pur sudah ndredek gemeter.


"Sa.. saya minta maaf sebelumnya Mas, tapi saya hanya ingin melakukan hal yg berguna untuknya setelah sekian lama saya menjadi ibu yg tak berguna untuknya."


What? Ini aku gak salah dengerkan? Di luar tuh cerah bahkan matahari bersinar begitu terik, kalian kalo keluar tanpa alas kaki mungkin bisa mlonyoh kaki kalian. Tahu kan mlonyoh? Lonyot gito loh gaes.. Tapi aku berasa mendengar suara geledek.


Jadi Mbok Pur itu ibunya si Del del duel? Oh God.. fakta yg mencengangkan bagiku.


"Saya mohon tolong Delia, Mas. Dia berkali- kali membahayakan dirinya, dan tak mau mendengarkan omongan orang lain selain Mas Dipta. Dia bahkan mengaku kalo bayi yg sedang di kandungnya adalah buah cinta antara dia dan Mas Dipta. Tolong Mas, saya hanyalah seorang ibu yg menginginkan kebahagiaan anaknya, jadi maaf jika saya lancang. Saya mohon kembalilah pada Delia anak saya.." Mbok Pur sudah duduk bersimpuh dangan berurai air mata


Hah? Apa- apakah ini? Seketika nafasku sesak, pandanganku mrepet, berkunang- kunang. Kalo bisa pingsan, aku ingin pingsan saat itu juga.


Mas Dipta bingung antara Mbok Pur yg sudah seumur ibunya bersimpuh di depannya dan menolong istrinya yg mendadak bengek.

__ADS_1


__ADS_2