Antara Aku Dan Suamiku

Antara Aku Dan Suamiku
Bibit Mas Dipta?


__ADS_3

"Aku sudah lupa pernah melihat barang- barangmu ada di sana, jadi untuk apa aku memindahkannya." Jawabku setelah begitu heran dengan sikapnya itu.


Kata- katanya seakan memusuhiku tapi dia selalu menampilkan senyumnya. Benar- benar aneh, bisa gitu ya?


"Katakan saja ada di mana. Barang- barang itu, aku sudah mempersiapkan dari lama. Kamu tak berniat mengambilnya dariku kan?" Katanya lagi dengan menegakkan punggungnya. Tatapanya jadi lebih tajam.


Aku sedang berpikir, kenapa dia ngebet banget dengan barang- barangnya itu. Mau tak mau kan aku jadi curigesyen, sebenarnya apa yg dia simpan itu. Apa mungkin sekotak harta karun?


"Apa mungkin kau membawanya ke rumah ini? Cepat berikan semuanya padaku! Atau kamu mau ambil lagi apa yg ku punya?" Lagi dia bicara sambil memindai setiap sudut rumah ini.


Hah.. aku jadi menyesal, kenapa aku tadi tidak menerima ajakan Amel buat nugas aja. Aku kan jadinya gak harus bertemu dengan si Del del duel ini.


"Mbak, aku tegaskan lagi. Aku tak menyentuh barang- barangmu yg di sana, apalagi mindahin. Lagipula, memangnya aku pernah ambil sesuatu darimu?" Ucapku gusar dengan nada yg ka-zet-el. Pertanyaanya tadi kayak nuduh aku pernah nyuri sesuatu darinya.


"Kamu ambil Dipta dariku, kalo kamu lupa. Aku bahkan sudah berbaik hati padamu untuk tak memaksa dia buat tanggung jawab pada anak ini."


Wah, benar- benar daebak nih perempuan. Setelah ada tragedi kemarin, dia masih berani mengklaim bahwa bayi yg di kandungnya adalah anak Mas Dipta.


"Apa benar anak itu anaknya Mas Dipta? Bukan sugar daddy mu itu?" Aku nyeplos aja gitu. Kalo dia mendadak stress trus pingsan piye? Kemarin kan dia gak boleh tertekan, harus relax, nurutin apa mau dia.


Nah kalo modelan kayak gini, mosok ya aku nurut aja gaes. Kalo gak hamil aja, dia pengen tak hiih, pithes gitu.


"Jangan asal ngomong kamu! Anita hanya iri dan cemburu karena ayahnya lebih menyayangiku ketimbang dia yg anaknya sendiri. Dan aku menganggap ayahnya tak lebih seperti Papa Dhani." Kelitnya.


"Mas Dipta menolak kalo itu anaknya, lagipula tak ada bukti." Kataku yg tak mau percaya gitu aja dengan omongan dia.


"Kania, kamu seorang wanita dan mungkin nanti akan jadi seorang ibu. Ada saatnya nanti kamu harus berjuang demi kehidupan anakmu. Saat ini yg ku lakukan seperti itu. Tak apa kalo anak ini tak di akui oleh bapak biologisnya, namun aku berusaha agar dia mendapatkan hak- haknya. Jadi aku mohon, katakan di mana barang- barangku itu?" Tanyanya lagi, kali ini ku lihat tatapan matanya memohon.


Aku jadi tersentuh dengan kata- katanya. Apakah memang seperti itu menjadi seorang ibu? Dadaku sedikit sesak sekarang.


"Mbak, aku tak mengambilnya. Kenapa tidak kamu tanyakan pada Mama dan Papa atau pada Mas Dipta. Barangkali mereka yg udah mindahin. Mau aku bantu untuk bertanya?" Kataku bersimpati.

__ADS_1


Aku berpikir mungkin itu barang- barang berharganya yg sengaja dia kumpulin untuk sewaktu- waktu ada hal darurat. Tapi hal darurat apa? Bukankah walau dia hamil di luar nikah, dia masih di terima dengan baik di keluarga Papa dan Mama?


Delia tak menjawab, wajahnya sedikit kalut. Dia bahkan *******- ***** jari jemarinya.


"Apa itu sangat penting?" Tanyaku lagi yg melihat raut wajahnya.


"Iya itu penting, setidaknya aku ada pegangan jika terjadi sesuatu yg buruk padaku."


"Sesuatu yg buruk itu seperti apa?"


"Aku hanya anak angkat di sana, kamu pikir aku akan di terima dengan baik lagi ketika aku hamil di luar nikah? Apalagi kemarin ku dengar Anita datang membuat keributan di rumah. Ayahnya adalah salah satu investor besar di perusahaan, kira- kira siapa yg akan kamu pilih jika kamu jadi mereka? Anak angkat yg memalukan atau investor dengan suntikan dana yg besar?" Ucapnya gusar.


Sungguh hatiku jadi goyah. Sesaat yg lalu aku begitu tak menyukai Delia, namun saat ini aku justru begitu iba padanya. Pada anak yg di kandungnya juga. Jiwaku meronta, nyesek dengernya.


"Kalo kamu benar tak tahu, aku akan pergi sekarang." Katanya tiba- tiba, dan dia udah berdiri mau beranjak keluar rumah.


Aku mengikutinya berdiri, dan sesaat mencegah dia keluar rumah. Ada sesuatu yg masih mengganjal dalam hatiku.


Delia menghempaskan tanganku yg mencegahnya pergi. Dia menatapku dalam, namun senyum mulai terbit kembali di bibirnya. Senyum smirk gitu.


"Kamu pikir aku omong kosong? Anak ini adalah darah dagingnya, aku akan pastikan kalo anak ini mendapatkan haknya." Jawabnya dan pergi tanpa bisa ku cegah lagi.


Duileeeh.., gaya bets dah. Sapa juga yg mau mencegahnya. Cuma kan aku jadi brokenheart gitu. Orang yg ku cintai, pengisi dan pujaan hatiku mosok yo dia tega bener berkhianat padaku.


Sebagai sesama wanita aku jadi gegana. Apa yg sebaiknya ku lakukan. Delia hamil dan ngakunya itu bibit dari suamiku, sedangkan suamiku bilang itu bukan anaknya. Aku harus percaya siapa coba? Mungkin ada tes DNA untuk janin ya, tapi aku belum tahu resikonya.


Sore itu Mas Dipta dateng ketika aku melamun di depan tv yg menyala. Dia tiba- tiba udah ada di sebelahku, nyelonjor aja gitu.


"Lihat acara apaan sih, serius banget? Ucapan salamku sampai gak di jawab." Ucapnya.


Aku menoleh ke arahnya, menatap dia dalam. Dan tiba- tiba pengen banget aku nangis.

__ADS_1


"Ini kenapa belum siap? Yg pengen buru- buru ke rumah Mama siapa semalam?" Tanyanya lagi.


"Gak jadi Mas, kita di rumah aja." Jawabku.


"Hah, serius nih? Aku sih oke- oke aja kita di rumah." Katanya sambil mesam- mesem penuh modus.


Apa sih Mas.. aku nih lagi galau kok malah di modusin gitu. Tauk ah, aku nyuekin dia yg mlipir ke kamar. Ngarep banget aku ikutin, emoh ah. Aku diem di tempat, lanjut semedi.


Beberapa saat kemudian, Mas Dipta keluar dari kamar udah keliatan seger. Dia juga udah ganti baju pake baju rumahannya dia. Celana training dan kaos putih polos tipis.


"Nia, betah banget di depan tv. Kamu lihatin tv apa tv yg lihatin kamu. Ngelamun jorok ya.." bisa- bisanya dia malah ngeledek gitu.


Nih orang gak nyadar banget kalo lagi di pikirin. Aku hanya ngelirik aja, ekor mataku ngikuti dia yg menuju meja makan. Dan tanpa beban dia buka tudung saji di atas meja. Hanya ada sandwich sisa sarapan kita tadi pagi.


"Kok akhir- akhir ini aku ngerasa kamu udah jarang masak. Aku kangen nih rasa masakanmu, masak dong Babe." Katanya udah jalan nyamperin aku kembali.


Bab beb bab beb apaan dah. Aku menatapnya dengan sendu, mataku udah mulai berkaca- kaca. Begitu dia melihatku, dia langsung kaget dan terperangah gitu.


"Kania, kamu nangis? Oke, gak masak gak papa. Gak usah nangis gitu dong. Kamu lagi sensitif, lagi pms ya?" Katanya mengusap- usap punggungku lembut. Aku jadi semakin terisak.


"Mas.. mas, misal kalo kita cerai kira- kira aku bisa cepet move on gak ya dari kamu?" Tanyaku terbata karena sambil nangis.


"Huh? Apa, cerai? Gak kamu gak akan bisa move on dari aku. Jangan harap ya, makanya kita gak akan pernah cerai. Kamu ini lagi kesambet ya?" Katanya kaget campur kesal.


"Mas, aku gak mau jadi penghalang seorang anak dari pengakuan bapaknya."


"Anak siapa?"


"Anak Mas Dipta dengan Mbak Delia. Dia butuh pengakuanmu sebagai bapaknya."


"Astaga Kania.. Kamu satu- satunya wanita tempatku menanam benih. Jadi gimana ceritanya aku nanam benih pada dirimu, Delia yg bakal panen?" Dia mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Huh? Tanam benih? Ini ngomongin soal bercocok tanam ya?


__ADS_2