
Setelah 10 hari di rawat, akhirnya ibuku di perbolehkan pulang. Alhamdulilah tidak ada infeksi maupun komplikasi, meski usia ibu sudah lanjut. Dengan pengawasan ketat dari keluarga, gaya hidup sehat, minum obat dan 2 minggu sekali terapi kemo ibu semoga lekas pulih. Aku tiada putus berdo'a dan bersyukur atas apa yg sudah dan akan terjadi.
Beberapa hari di rumah, aku di sibukkan dengan merawat ibu. Para tetangga juga seperti tak ada hentinya menjenguk ibu, sekedar menanyakan bagaimana keadaan beliau dan pastilah mendo'akan untuk kesembuhannya. Selama itu pula, bibi hampir tiap hari datang ke rumah. Kalo tak pagi ya sore, meski ku bilang tak perlu tiap hari datang karena aku sendiri tahu kesibukan bibi yg mempunyai jasa katering. Sudah ada mbok Nah tetangga kami yg sudah seperti nenek kami membantu mengurus ibu.
Waktu pun berjalan tak terasa ibu sudah 2 kali menjalani terapi kemo. Dan aku sangat bersyukur dengan perkembangannya. Ibu sudah mampu duduk lama di kursi roda. Ahh...betapa senangnya, mungkin sebentar lagi ibu juga segera bisa berjalan seperti sedia kala. Semoga saja. Bahkan ibu sudah sering kali mengatakan bahwa dirinya sudah sembuh, jadi memintaku kembali ke ibukota melanjutkan apa yg ku tinggalkan.
Pagi ini ku ajak jalan2 ibuku di jalan kampung desa kami. Udara masih begitu segar di sini, begitu banyak pepohonan rindang dan di ujung kampung ada hamparan sawah yg masih hijau menambah suasana begitu asri.
"Nduk..." pangil ibuku ketika sudah sampai di ujung jalan menuju jalan ke sawah. Aku menghentikan dorongan di kursi roda ibuku, kemudian duduk berjongkok di depan ibu.
"Ada apa bu? Apa ibu lelah? Kalo begitu, ayo kita segera pulang" ucapku, kemudian beranjak ingin segera mendorong kursi ibu balik ke rumah. Namun tanganku segera di tahan ibu, akupun mau tak mau kembali berjongkok di depannya.
"Ibu sudah sembuh..sekarang saatnya dirimu melanjutkan hidupmu nduk" ujar ibu sambil mengelus tanganku lembut. Aku tersenyum.
"Ibu...nanti bu, akan ada saatnya nanti Kania pergi. Jadi untuk sekarang tolong biarkan Kania merawat ibu dulu." Jawabku menenangkan ibu. Aku sendiri tak tahu kapan tante Ratna akan datang, jadi sebaiknya aku memanfaatkan waktuku bersama ibu sebelum aku benar2 di nikahkan dengan mas Dipta.
"Lalu bagaimana dengan sekolahmu? Bagaimana dengan biaya pengobatan ibu nduk? Ku dengar kamu meminjamnya dari Ratna." Lanjut ibu dengan kecemasannya.
"Bila nanti ada kesempatan untuk melanjutkan kuliah itu, Nia pasti melanjutkannya bu. Kalo tidak, tak perlu ada yg di sesalkan toh belajar tak hanya melulu di sekolah bu. Mengenai pinjaman dari tante Ratna, Nia pasti membayarnya nanti. Ibu tak usah cemas, ibu hanya harus memikirkan kesembuhan ibu." Jawabku, ku lihat mata ibu mulai berkaca-kaca. Dia mengelus kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah bu, saatnya kita pulang. Matahari sudah mulai terik." Ajakkku berdiri kemudian mendorong kursi roda ibu menuju rumah.
Sampai di rumah, sebelum diriku sendiri mandi aku memandikan ibuku. Setelah semuanya bersih, ku suapi ibuku di depan televisi yg menyiarkan sinetron pagi kesukaan ibu. Baru habis setengah nasi yg di piring, ku dengar ada ribut2 di luar.
"Ada apa itu nduk, coba kamu lihat sana!" Pinta ibuku, aku mengangguk kemudian meletakkan piring di meja sebelum aku keluar.
Saat di luar aku mencari sumber keributan yg ku dengar tadi dari dalam rumah. Ada beberapa mobil mulus terparkir, setidaknya ada 5 mobil di depan rumah beriringan sampai terparkir menutup jalan masuk. Para tetangga keluar juga, melihat apa yg terjadi. Mereka berkerumun saling melongokkan kepala agar tak terlewat akan ada kejadian apa selanjutnya.
Sampai ku lihat, pintu mobil paling depan terbuka dan keluar 2 orang sosok yg telah ku kenali. Tante Ratna dan om Dhani, berjalan menuju kemari menembus kerumunan warga. Sesekali mereka menyalami warga yg masih mengenali mereka dan beramah tamah dengan mereka sebentar.
Aku masih berdiri di teras rumah, mematung ketika melihat satu persatu orang2 yg berada di dalam mobil keluar. Dan aku menangkap sosoknya, sosok yg selama ini sering menari-nari di pikiranku.
Mas Dipta, dia sedang berjalan di depan sana. Berjalan ke arahku. Dia sungguh menawan, dengan penampilan yg rapi. Rambutnya di gel klimis, kumis tipis dan cambang yg sebelumnya ku lihat tumbuh di sekitar wajahnya sekarang sudah bersih tercukur. Baju batik panjang dengan celana hitam kelihatan sungguh proporsional di kenakan olehnya yg memang mempunyai postur tubuh tinggi.
"Assalamu'alaikum..." ucapan salam ku dengar dari om Dhani, tapi seakan lidahku kelu untuk menjawabnya.
"Wa'alaikumsalam" ibuku muncul dari dalam dengan di dorong oleh mbok Nah.
"Kamu ini gimana sih nduk...ada tamu ngucap salam kok malah di cuekin" ibuku ngedumel di sampingku.
__ADS_1
"Ada apa ini ya? Mau cari siapa?" Tanya ibu beruntun pada rombongan yg berdiri di depan teras.
"Mbak Wulan, ini saya Ratna. Kedatangan kami sekeluarga kemari hendak berbicara serius denganmu mbak." Jawab tante Ratna agak mendekat ke arah ibu.
"Ratna? Ratna yg dari ibukota? Yg bangun masjid sama jembatan?" Ibu tiba2 antusias, dia mengangsurkan tangan hendak menjabat tangan tante Ratna.
"Ah..mungkin terlihat saya yg membangun tapi itu semua dari suami saya." Jawab tante Ratna, dia menyambut uluran tangan ibuku.
"Benarkah? Mau dek Ratna atau suaminya, sama saja to. Mari2, silahkan masuk. Maaf rumahnya sempit." Ibu membuka jalan lebar2 untuk mempersilahkan para tamunya masuk. Aku mengikuti ibu masuk, sebelum rombongan tante Ratna masuk. Para tetangga masih pada berkerumun di luar rumah.
Karena kursi rumah tak muat untuk di duduki para tamu, maka kursi itu di keluarkan dan di ganti dengan gelaran karpet. Kita semua duduk lesehan di bawah kecuali ibu tentunya masih duduk di kursi roda.
Bibi dan paman bahkan juga sudah hadir di antara kami. Entah kabar darimana, tiba2 mereka datang tak lama setelah kedatangan para rombongan dari ibukota. Dengan wajah yg cemas, ku lihat bibi duduk di dekat ibuku. Mungkin khawatir akan segera di tagih pinjaman uangnya.
"Selamat datang di rumah kami ini bapak Dhani Rahmat beserta rombongan. Maaf kalo keadaan rumah kami seperti ini. Kami menyambut dengan terbuka meski hanya sederhana. Dengan tak mengurangi rasa hormat, ada apa kiranya bapak Dhani Rahmat beserta keluarga jauh2 datang ke rumah kami ini?" Tanya ibuku, setelah beberapa orang yg tadinya masih bingung duduk dimana sekarang sudah duduk khidmat.
"Baik, sebelumnya kami minta maaf kalo kedatangan kami ini terkesan mendadak dan tanpa memberitahu dulu. Tapi kami juga mengucapkan terima kasih karena sudah menerima kami beserta rombongan dengan baik. Kedatangan kami kemari sebenarnya ada 2 tujuan. Yg pertama, kami ingin menjalin silaturahmi yg baik, yg mungkin tadinya sudah saling kenal karena berpisah lama jadi tak begitu dekat lagi. Kami ingin mengenalkan saya, istri saya, dan anak2 saya pada keluarga bu Wulan. Begitu juga sebaliknya, kami juga ingin mengenal keluarga bu Wulan beserta anak2 dengan lebih dekat. Bagaimana di izinkan tidak bu Wulan?" Tanya om Dhani menjeda setelah pembicaraannya yg panjang. Semua mata menatap ke arah ibuku. Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah, apabila kedatangan pak Dhani dan rombongan dengan niat baik. Tentu saja kami akan menerimanya dengan tangan terbuka." Jawab ibu. Pak Dhani nampak tersenyum menganggukan kepala melihat istrinya, tante Ratna sebelum melanjutkan bicara.
__ADS_1
"Baik, sekarang saya akan menyampaikan tujuan kami yg kedua. Tujuan kedua kami adalah ingin menyampaikan hajat anak sulung kami yg bernama Dipta Dayaka adalah ingin meminang anak perempuan ibu Wulan yg bernama Kania Paramitha. Besar harapan kami, agar ibu sekeluarga meridhoi niat baik kami ini. Sambil menanti jawaban apakah pinangan kami ini di terima atau di tolak, mohon kiranya menerima hantaran dari kami ini yg ala kadarnya. Ini sebagai bentuk keseriusan kami akan niat baik kami ini." Pungkas om Dhani menunjuk beberapa bungkus hantaran yg mereka letakkan di tengah2.
Semua mata beralih menatap ke arahku. Duh...kira2 ku terima apa ku tolak ya?