
Hari berlalu, pagi itu aku terbangun berada dalam kamar mas Dipta, beralaskan karpet bulu, dan memakai selimut. Mungkin semalam mas Dipta yg menyelimutiku. Semalam memang beberapa kali aku menge-cek keadaan mas Dipta dan entah di jam berapa aku malah tertidur di sana.
Ku lihat mas Dipta masih terlelap, perlahan ku tempelkan telapak tangan kananku di dahinya. Ku ukur dengan suhu badanku sendiri dengan cara menempelkan tangan kiriku di dahiku. Panasnya sudah turun, bahkan sama dengan suhu tubuhku. Aku akhirnya keluar dengan pelan2, berharap tak membangunkannya.
Hari itu aku berencana pergi ke kampus untuk melapor akan mengikuti kuliah lagi setelah hampir 2 bulan tak kuliah. Ku rasa Mas Dipta juga sudah mulai masuk kerja hari ini. Selesai mandi dan sholat subuh, aku ke dapur untuk bikin sarapan.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Kami bertemu di rumah hanya saat malam, itupun kalo mas Dipta pulang kerja masih sore kita masih sempat untuk makan malam bersama. Bila mas Dipta pulang malam, jarang aku bertemu dengannya, dan sudah di pastikan dia sudah makan malam di luar.
Suatu sore, saat aku baru turun dari ojek online yg menjemputku dari kampus, ku lihat seorang anak kecil yg bermain di depan rumah. Ketika aku datang, anak itu hanya melihatku. Tanpa tahu anak kecil itulah yg nantinya akan merubah interaksiku dengan mas Dipta berubah.
"Hai..." sapaku sambil terus berjalan menuju rumah. Kurasa dia salah satu anak dari tetanggaku.
"Nama tante hampir sama dengan namaku." Katanya. Aku berhenti, berbalik menghadap ke arahnya.
"Oya? Siapa namamu?" Tanyaku penasaran.
"Namaku Rania. Bukankah hanya beda 1 huruf dengan tante?" Ujarnya lagi.
"Wah, kamu sebelumnya tahu nama tante. Tapi tante tak tahu siapa kamu. Rumahmu di mana? Apa kamu sering melihat tante?"
"Tentu saja aku sering melihat tante, rumahku kan cuma di situ." Rania menunjuk rumah yg berada persis di sebelahku. Rumah pak Ardi, tetangga yg pertama kali mengajak kenalan ketika aku dan Mas Dipta baru pindah.
"Kamu anaknya pak Ardi?"
Anak itu mengangguk.
"Kamu mau main ke rumah tante? Kalo mau, pulanglah dulu pamit ke ibumu sana." Aku berpikir untuk mengajaknya masuk, kurasa bagus juga mengajaknya daripada tak ada teman di rumah.
__ADS_1
"Aku sendiri di rumah. Papa belum pulang dari kerja. Biasanya sama nenek, tapi nenek baru pulang kampung." Jawabnya yg membuatku tercenung. Anak yg mungkin baru berumur 8 atau 9 tahun ini sudah di biarkan sendiri di rumah?
"Tak apa tante, Rania sudah biasa. Biasanya Rania main dulu ke rumah teman, nanti pulangnya bareng papa. Cuma hari ini teman Rania baru sakit, jadi tadi dia tak masuk sekolah." Ucap Rania, mungkin dia menyadari perubahan pada raut wajahku atau mungkin hal itu sering di alaminya ketika orang2 tahu tentang dirinya. Ya ampuun...dia ini anak kecil tapi sudah seperti orang dewasa. Aku tersenyum, mencoba bersikap ceria.
"Kalo begitu ayo masuk ke rumah tante. Ku rasa papamu takkan keberatan. Setelah ini, ayo kita masak2 di dapur. Kamu tahu, tante ini hobinya masak dan makan."
"Wah mau tante...aku juga hobi makan hehe"
Sore itu jadi tak sepi lagi, aku masak di dapur dengan di bantu Rania, meski dia lebih ke banyak nanya dan sedikit ngrecokin, khas tingkah anak kecil. Tapi fun aja kita ngejalaninya. Selesai masak kita pun makan dengan lahap dan sesekali terdengar tawanya yg receh. Jadi kayak punya adek lagi.
Ketika hari mulai gelap, belum ku lihat tanda2 kedatangan pak Ardi. Saat adzan maghrib terdengar, ku putuskan mengajak Rania naik ke kamarku. Tak mungkin dia ku tinggalkan di bawah sendirian. Selama aku mandi, ku pinjamkan ponselku padanya agar dia tak bosan dengan bermain game anak2 yg sebelumnya sudah ku instal.
Keluar dari kamar mandi, Rania nampak tertidur di atas kasurku dengan ponsel masih dalam genggamannya. Setelah sholat maghrib, aku turun sebentar untuk melihat apakah pak Ardi sudah pulang atau belum. Biar nanti dia tak bingung mencari keberadaan Rania. Dan benar saja, ku lihat mobil pak Ardi memasuki garasi rumahnya. Aku segera keluar menghampirinya sebelum dia masuk ke rumahnya.
"Pak Ardi!" Panggilku, dia menoleh ke arahku.
"Rania ada di rumah saya pak, tapi sekarang anaknya sudah tidur." Ujarku.
"Emh..Rania tidur di kamar saya pak. Sedangkan suami saya belum ada di rumah." Jawabku dan sepertinya pak Ardi mengerti. Sebetulnya bukan khawatir tentang prasangka mas Dipta yg mungkin dia takkan mau tahu dengan siapa aku di rumah. Tapi aku hanya menjaga omongan para tetangga yg kadang nyinyir apalagi di perumahan yg rumahnya saling berdempet seperti ini.
"Kira2 pak Dipta pulang jam berapa ya bu?"
"Emh..nanti coba saya hubungi suami saya dulu pak. Baru nanti saya bilang ke pak Ardi"
"Wah jadi ngrepotin banget nanti. Gini saja, dari pada bu Dipta wara wiri, saya minta nomer ponselnya bu Dipta saja. Saya janji takkan macem2" pak Ardi memberi saran. Setelah ku pikir2 memang lebih baik begitu, dari pada nanti aku naik turun, mengcapek kan.
"Baik, begitu juga gak papa pak." Akhirnya aku menyetujui usul pak Ardi. Tanpa berpikiran negatif dan biar lebih praktis aku memberikan nomor ponselku pada pak Ardi.
__ADS_1
"Kalo begitu saya balik dulu pak. Mari!" Pamitku
"Iya bu, ini nomornya ibu sudah saya misscall. Nanti tolong di simpen ya bu. Dan mohon segera mengabari saya kalo pak Dipta sudah ada di rumah."
Aku mengangguk kemudian balik kembali ke rumah. Sampai di kamar, aku segera mengirim pesan pada mas Dipta, kira2 dia akan pulang jam berapa. Namun sesaat menunggu, tak ada balasan darinya. Sambil menunggu, ku buka beberapa chat dari temen2. Ada yg temen dari kampus ada pula temen dari tempat kerja di resto yg telah ku tinggalkan.
Tiba2 pesan masuk dari pak Ardi.
Maaf bu Dipta, sudah ada kabar dari pak Dipta?
Aku segera membalasnya.
Belum pak, tunggu sebentar ya. Saya telpon saja mas Dipta nya.
Aku segera men dial nomor mas Dipta, hanya nada sambung terdengar. Tak di jawab, ku ulangi lagi. Dan di panggilan ketiga baru diangkat, namun bukan suara mas Dipta yg ku dengar.
"Hallo, ada yg bisa di bantu?" Suara seorang perempuan. Aku mengerutkan alis, ku lihat layar hp ku sebentar untuk memastikan nomor yg ku pencet benar punya mas Dipta. Dan memang benar, itu nomor mas Dipta.
"Iya hallo...saya Kania istrinya mas Dipta. Mas Dipta nya ada?" Tanyaku, ku tepis semua prasangka yg tiba2 menghampiri dadaku. Siapa wanita ini yg dengan berani mengangkat telpon di ponsel orang lain.
"Ooh, bu Kania. Tapi maaf bu, pak Dipta sedang tak bisa di ganggu. Apa mungkin ada pesan untuk beliau?" Wanita di sebarang sana bertanya lagi. Prasangka itu kembali hadir, apa kiranya yg di lakukan mas Dipta malam2 begini dan tak bisa di ganggu. Ku hela napas sebentar untuk mengurangi sesak di dada.
"Oh iya, aku hanya ingin bertanya. Kira2 mas Dipta pulang jam berapa, soalnya ini anak pak Ardi tidur di rumah." Jawabku berharap nanti di sampaikan pada mas Dipta.
"Baik, akan saya sampaikan. Tapi setahu saya, pak Dipta akan selesai 1 jam lagi. Ada yg bisa di bantu lagi bu?"
"Tidak, itu saja."
__ADS_1
"Baik , selamat malam bu." Dan telpon terputus. Aku masih termenung, siapa tadi? Apa tadi dia tidak mengenalkan dirinya, atau aku yg melewatkannya? Mengapa dia dengan tak sopan mengangkat telpon di ponsel mas Dipta? Oh, ataukah dia wanita itu, wanita yg mengisi hati mas Dipta.
Ini begitu menyesakkan, tanganku sampai bergetar bahkan mataku seketika panas. Aku mengambil napas dalam2, ku usap kasar wajahku. Tidak, jangan berpikiran negatif Kania. Aku mencoba menenangkan diri sendiri.