
Serangakaian acara pernikahanku sore itu menjadi tangis haru. Setelah semua selesai, sore itu juga mas Dipta ingin memboyongku kembali ke ibukota. Saat ini aku tengah berpamitan pada ibu, aku duduk bersimpuh di depannya. Ibu memberiku beberapa nasehat dengan mata berkaca2, dia juga berkali-kali mengingatkanku bahwa sekarang aku sudah punya suami jadi semua yg ku lakukan harus atas ijin dari suami. Aku hanya mengangguk, tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun.
Selesai berpamitan pada ibu, aku memeluk adikku dan berpesan padanya agar belajar yg rajin dan jangan membantah perkataan ibu. Berganti aku memeluk bibi, pada bibi ku titipkan adik dan ibuku agar sesekali bibiku menengok mereka ke rumah. Tak lupa mbok Nah, wanita yg hidup sebatang kara yg sudah kami anggap nenek sendiri itu, ku mintai tolong untuk menjaga ibuku.
Aku keluar rumah dengan menyeret koperku. Keluarga ku mengikuti di belakangku untuk sekedar melihatku pergi. Ku lihat mas Dipta sudah berdiri di teras depan rumah menjemputku. Dia menyalami tangan ibu ketika mereka sampai di luar. Tak kusangka mas Dipta bahkan mencium tangan ibu, bibi, dan mbok Nah takzim.
"Kami pergi dulu bu." Pamitnya berjalan terlebih dahulu ke arah mobil. Baru aku memyusul di belakangnya. Saat sampai di dekat mobil, mas Dipta bahkan membantuku memasukkan koperku ke dalam bagasi mobil. Tadinya ku pikir dia akan bersikap cuek tak peduli.
Perjalanan kami ke bandara sore itu hanya di isi dengan penuh kecanggungan. Beberapa kali ku lirik mas Dipta yg sedang menyetir mobil, berharap dia melihat ke arahku. Namun nyatanya harapanku hanya sia2. Dan dengan mengumpulkan semua keberanianku, aku mencoba membuka suara untuk memecah kesunyian ini.
" mas...mas Dipta?!" Panggilku, dan berhasil. Dia menoleh padaku sebentar, namun tak berapa lama matanya langsung menatap ke depan lagi.
"Ada apa?" Dia bertanya tanpa menoleh lagi padaku.
"Pekerjaan mas Dipta apa?"
Dia diam sebentar tak langsung menjawab.
"Aku arsitektur" jawabnya singkat. Tak ada umpan balik, obrolan tak berkembang, akupun tak tahu tentang dunia arsitek. Pikiranku buntu, maka ku putuskan untuk melanjutkan sisa perjalanan dengan menatap keluar kaca mobil. Aku bahkan tanpa sadar tertidur, efek dari semalam kurang tidur dan bangun terlalu pagi. Begitu aku bangun, kita sudah berada di area bandara.
Jam 8 malam, akhirnya kita tiba di rumah tante Ratna. Semua anggota keluarga menyambut kedatangan kami tentu saja minus Delia yg aku sendiri tak tahu kenapa dia tak pernah terlihat. Mereka tadi pulang ke ibukota tak lama setelah selesai akad.
Tante Ratna dan om Dhani memelukku, bahkan tante Ratna mencium kedua pipiku. Dino hanya menyalami tanganku dengan tertawa tak menyangka teman masa kecilnya sekarang menjadi kakak iparnya. Kita langsung di giring menuju meja makan, di sana telah siap di atas meja berbagai hidangan menggugah selera makan.
"Mari makan dulu, sebelum kalian masuk kamar" seloroh om Dhani yg membuatku tersenyum tersipu.
"Apa makanan kesukaanmu Nia?" Tanya tante Ratna menatapku hangat.
__ADS_1
"Saya jenis orang yg tak menolak makanan apapun, tante" jawabku tersenyum.
"Bisa di bilang dia ini pemakan segala, ma" Dino ikut menimpali di iringi tawa dari kita semua.
"Dino, sopanlah pada Kania. Dia sekarang kakak iparmu. Dan Nia, rubah panggilanmu, jangan om dan tante. Sekarang akupun ibumu." Tante Ratna menghentikam tawa kami. Dan peringatan dari tante Ratna menyadarkanku bahwa aku telah melakukan kesalahan.
"Baik tan...emh baik Ma.." jawabku. Kemudian acara makan malam saat itu berlanjut sambil sesekali berceloteh penuh keakraban.
Selesai makan, Tante Ratna yg setelah ini ku panggil Mama mendesak mas Dipta untuk segera membawaku ke kamarnya agar segera beristirahat. Ya ampun Ma...aku tahu maksudmu tapi jangan berharap banyak ya, anakmu itu bahkan tak sekalipun melirik ke arahku. Ujarku, tentu saja hanya dalam hati.
Mas Dipta akhirnya mengajakku ke kamarnya, kamar yg letaknya di lantai 2. Kamar yg selama ini di pakainya, mungkin di sana juga akan tercium bau khas mas Dipta. Aku berdebar menapaki setiap anak tangga. Ku tatap punggung bidang laki-laki yg sekarang menjadi suamiku itu. Akankah kepalaku suatu saat nanti bisa bersandar di sana. Astaga... apa yg kau harapkan Nia. Bersyukurlah, karena pernikahan ini ibumu sembuh dari penyakit jangan menjadi serakah! Aku memperingati diri sendiri.
Mas Dipta membuka pintu kamarnya dan masuk duluan sebelum diriku, ketika saklar lampu di nyalakan. Ku lihat seluruh isi kamar itu. Kamar yg luas, dengan ranjang besar yg terlihat empuk di tengah kamar. Ada rak buku yg mepet ke dinding dengan beberapa koleksi buku, sebuah meja belajar lengkap dengan kursinya ada di samping rak. Mungkin di situlah dulu mas Dipta belajar. Ada rak satu lagi di dinding, berisi barang2 koleksi khas anak cowok dan beberapa photo ber pigura.
Koperku di letakkan oleh mas Dipta di dekat lemari besar samping kasur. Sedangkan mas Dipta langsung duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya.
"Mas Dipta mau mandi duluan?" Tanyaku membuka suara. Mas Dipta melirikku sebentar.
Selesai mandi, ku lihat mas Dipta masih terbaring di sofa dengan dengkuran halusnya. Sepertinya dia tertidur. Dengan ragu aku membangunkannya dengan memanggilnya.
"Mas Dipta... Mas Dipta, bangun. Mandi dulu mas" panggilku, namun kelihatannya tak berpengaruh sama sekali. Kemudian ku goyang perlahan bahunya sambil terus memanggilnya.
"Mas Dipta, bagunlah. Mandi dulu!"
Dan akhirnya ada hasilnya, ku lihat lengan yg tadinya menutupi wajahnya perlahan turun. Matanya kemudian terbuka, mengerjap-ngerjap menatapku. Sebelum akhirnya dia bangkit menyeret langkahnya menuju kamar mandi.
Ku dengar gemericik air telah selesai, tidak ku lihat mas Dipta segera keluar dari kamar mandi. Aku tak terlalu menghiraukannya, aku sedang memeriksa beberapa pesan di hp ku ketika sebuah suara seperti memanggilku.
__ADS_1
Mas Dipta yg masih di dalam kamar mandi ku dengar memangil-manggil namaku. Untuk meyakinkanku, aku mendekati kamar mandi. Kembali suara Mas Dipta memanggilku.
"Mas Dipta memanggilku?" Tanyaku di depan pintu kamar mandi.
"Iya Nia, bisa minta tolong tidak?" Ku dengar suara mas Dipta dr dalam kamar mandi.
"Minta tolong apa mas?"
"Aku lupa bawa baju ganti, sedang baju yg tadi sudah basah kena cipratan air. Bisa minta tolong ambilkan baju gantiku di lemari tidak?" Tanyanya, suaranya sedikit bergema karena berada dalam kamar mandi.
"Ooh..iya bisa, tunggu sebentar ya"
Aku berjalan ke sisi lemari, ku buka satu persatu pintu lemari dan mulai mencari baju yg kira2 nyaman di pakai di rumah. Akhirnya aku memilih asal, ku tarik kaos warna putih dan celana kolor warna krem.
"Sudah ini mas" ku ketuk pintu kamar mandi, dan tak berapa lama terlihat pintu kamar mandi sedikit terbuka. Satu tangan mas Dipta keluar dr balik pintu dan segera ku serahkan baju yg ku bawa.
Sesaat kemudian, mas Dipta nampak mulai keluar dr kamar mandi. Aku sudah duduk di ranjang bersandar di sandarannya.
Bila malam pertama di lewati dengan berdebar oleh sepasang pengantin. Maka tidak dengan kami, sepertinya hanya diriku saja yg berdebar. Mas Dipta nampak santai berjalan menuju sofa.
"Belum tidur?" Tanyanya ketika melihatku masih terjaga.
"Sebentar lagi." Jawabku
"Tidurlah, akan ku matikan lampu utamanya biar nyaman di pake tidur." Ujarnya lagi dan tak berapa lama, lampu sudah berganti cahayanya menjadi lebih temaram. Mas Dipta kulihat malah meraih sebuah laptop kemudian duduk di sofa.
"Mas Dipta sendiri gak tidur?" Tanyaku, ku lihat mas Dipta sudah menyalakan laptop di pangkuannya.
__ADS_1
"Aku masih harus memeriksa pekerjaanku. Tidurlah lebih dulu" jawabnya yg sudah mulai fokus melihat layar laptop. Baiklah, aku akan tidur duluan. Selamat bekerja mas, dan bagiku selamat bermimpi. Malam ini bisa tidur di kasur yg empuk dan luas. Selimut tebal yg menghangatkan dari dinginnya hawa pendingin ruangan. Tak berselang lama akupun akhirnya tertidur.
Aku terbangun ketika mendengar suara adzan subuh. Aku melihat ke samping tempatku tidur, mas Dipta tak di sana. Saat ku lihat di sofa, ku lihat sosoknya tertidur di sana. Hatiku mencelos, dia ketiduran atau memang sengaja tidur disana?