
Sekembalinya dari kampus, aku menyempatkan belanja sayur dulu. Aku ingin masak beberapa makanan yg ku rasa itu kesukaan mas Dipta karena setiap aku masak menu itu, dia selalu makan dengan lahap. Semur daging dan cah brokoli. Besok hari sabtu, makanya aku belanja sayur agak banyak agar besok tinggal masak. Karena hari sabtu memang aku dan mas Dipta sudah libur.
Begitu sampai di rumah aku langsung masak sampai menjelang maghrib. Mas Dipta pulang ketika hari sudah gelap, aku sudah mandi dan selesai sholat maghrib.
"Bersiaplah! Mama meminta kita untuk datang ke rumah" dia berkata sambil masuk kamarnya. Aku hanya bengong. Barusan tadi dia bilang apa, kenapa sebelumnya tak mengabariku kalo kita di suruh ke rumah mama. Aku tak perlu repot masak tadi. Aku begitu jengkel dengan mas Dipta sekarang. Seakan percuma usahaku untuk mengambil hatinya dengan masakanku.
"Kamu tak dengar tadi? Kita akan ke rumah mama, jadi bersiaplah!" Terdengar lagi suara mas Dipta, dia sudah keluar lagi dari kamarnya dan sudah berganti baju. Aku membalikkan badan dan dengan bersungut-sungut menaiki tangga.
"Kenapa dengan wajahmu? Kamu masih marah denganku?" Tanyanya dari ujung tangga, tapi aku tak menggubrisnya.
Aku hanya mengganti celana pendekku dengan celana panjang dan menyahut tas selempang kecilku. Aku kembali menuruni tangga dan menghampiri mas Dipta yg sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan hp nya.
"Aku tadi sudah masak, sekarang bagaimana dengan masakanku itu?" Tanyaku sewot. Mas Dipta mengalihkan tatapannya dari layar hp nya ke wajahku.
"Jadi itu yg membuatmu sewot? Taruh saja di kulkas, besok bisa di angetin jadi tak perlu lagi masak." Jawabnya. Aku ke dapur, untuk memindah masakanku tadi ke dalam wadah kedap udara. Lalu bagaimana dengan cah brokoli dan nasinya? Seketika ada ide masuk dalam kepalaku. Semua ku pindah ke dalam wadah yg berbeda, semur daging yg tadinya mau ku taruh dalam kulkas pun tak jadi.
"Sudah, ayo mas!" Ajakku dengan membawa 3 wadah yg ku tumpuk. Mas Dipta melirikku sebentar dan saat ingin memalingkan wajah kembali, dia tak jadi dan kembali menatapku.
"Mau kamu bawa itu masakanmu? Bahkan sampe nasi juga kamu bawa?" Tanyanya heran menatap tumpukan wadah di tanganku.
"Tidak, ini nanti mau aku kasih ke tetangga. Dari pada mubadzir." Jawabku sambil ngeloyor keluar rumah mendahului mas Dipta.
Saat mas Dipta mengunci pintu, aku melangkah mendekati rumah pak Ardi. Ku panggil nama Rania dari luar pagar mereka, dan yg keluar nampak bukan Rania melainkan pak Ardi.
"Lho bu Dipta, ada apa ya?" Tanyanya sambil membuka pintu pagar.
"Saya di ajak suami ke rumah mertua, padahal udah terlanjur masak. Dari pada mubadzir ini buat Rania saja. Saya tak menjamin rasanya sesuai dengan selera Rania. Tapi mudah2 an dia suka" jawabku dengan menyerahkan kotak tumpukan itu pada pak Ardi.
__ADS_1
"Waduh, makasih banget ini. Barusan saya berencana pesan makanan online, tapi karena udah ada yg ngirim makanan jadi gak jadi deh." Seloroh pak Ardi di iringi tawanya.
"Kalo begitu, saya pergi dulu pak. Mari!" Pamitku bergegas menghampiri mas Dipta yg sudah menyalakan mobilnya.
"Iya bu, hati-hati.." sahut pak Ardi yg masih sempat ku dengar sebelum aku masuk mobil dan duduk di sebelah mas Dipta.
Ku lihat mas Dipta melirik ke arah rumah pak Ardi, aku mengikuti arah tatapannya itu. Pak Ardi nampak masuk rumah dan menutup pintunya.
"Ayo mas, keburu lewat makan malam!" Ajakku yg membuat mas Dipta akhirnya menjalankan mobilnya menjauhi komplek rumah kami.
"Kalian tampak akrab" kata mas Dipta tanpa menatapku.
"Siapa?" Tanyaku, mas Dipta menoleh ke arahku sebentar dan kembali menatap jalanan di depan.
"Kamu dan tetangga itu" jawabnya.
"Maksud mas Dipta, pak Ardi?"
"Apa aku perlu menjelaskan pada mas Dipta? Sedangkan mas Dipta sebelumnya tak pernah menjelaskan apa-apa padaku." Sahutku yg membuat mata mas Dipta beralih menatapku.
"Soal yg mana?" Tanyanya, aku menghela napas dengan kasar ingat akan rasa sesak di dadaku dulu.
"Malam itu...apa wanita itu pacar mas Dipta?" Aku bertanya dengan mata tak lepas menatap mas Dipta. Aku ingin tahu perubahan di raut wajah mas Dipta.
Mendadak laju mobil menjadi perlahan dan sedikit menepi, padahal kita masih berada di jalan besar. Masih agak jauh dari rumah mama Ratna. Mobil berhenti di pinggir jalan. Ku dengar mas Dipta menghela napas panjang.
"Dia hanya seorang asisten di tempat kerja. Malam itu aku ada meeting dengan pihak developer. Dan hp ku ketinggalan di meja kerja, saat aku kembali ke sana sudah tak ada orang. Aku bahkan tak tahu kalo kamu menelponku, dan dia yg mengangkatnya. Aku baru tahu paginya setelah dia bilang padaku." Jelasnya, namun aku masih meragukan penjelasannya itu.
__ADS_1
"Siapa namanya?" Aku bahkan masih mendesaknya.
"Astaga..kamu masih tak percaya? Namanya Leni, dia asistenku Nia." Jawabnya sedikit jengkel. "Lagipula bukannya kita sepakat menjalani rumah tangga ini dengan tidak ikut campur urusan pribadi masing2?" Lanjutnya. Aku menatap tajam mas Dipta.
"Mas Dipta yg mulai tadi dengan menyinggung soal pak Ardi. Lagipula itu bukan sebuah kesepakatan, aku tak pernah ingat menyepakati sesuatu. Itu hanya keputusan sepihak mas Dipta saja." Omelku. Mas Dipta menatapku, dia seperti tercekat. Bibirnya bergerak-gerak tapi tak tahu mau ngomong apa. Akhirnya dia hanya mengehela nafas.
"Dia seorang duda Nia, sudah pernah menikah. Dan mungkin dia tahu hubungan kita tak baik. Dia pernah masuk kamarmu, ingat? Otomatis dia tahu kalo kita tak tidur sekamar. Aku harap kamu tahu batas-batas nya. Dia bisa saja sengaja mendekatimu." Mas Dipta berucap pelan.
Aku mengerutkan alisku, aku baru tahu bahwa pak Ardi seorang duda. Pantas saja Rania kadang seorang diri di rumah kalo tak ada neneknya yg mengasuh.
"Dulu ku bilang bahwa kamar itu hanya ku pakai untuk belajar. Dan dia tidak mendekatiku. Seperti mas Dipta lihat, tadi aku yg mengantar makanan ke rumahnya"
"Oh astaga...kamu pikir dia akan percaya, kamu bilang begitu. Sedangkan banyak barang-barangmu yg di sana. Sudahlah, jangan terlalu akrab dengannya!"
Memang benar kata mas Dipta, tak mungkin pak Ardi percaya begitu saja. Tapi, ya sudahlah toh pak Ardi tak bertanya apa-apa padaku.
Mas Dipta menyalakan lagi mobilnya dan melajukannya kembali dengan kecepatan sedang.
"Tetangga itu namanya pak Ardi, kenapa mas Dipta terus-terusan menyebutnya dengan tetangga." Aku mendumel lirih, namun ternyata di tangkap oleh telinga mas Dipta. Dia kembali menatapku dan menghela napas.
"Memang kenapa kalo aku menyebutnya begitu? Lagipula apa yg membuatmu dekat dengannya? Anaknya itu? Kamu bersimpati padanya?" Tanya mas Dipta.
"Setidaknya aku punya teman ketika aku pulang ke rumah. Dan nampaknya pak Ardi orang yg baik, dia selalu menawariku memesan makanan online. Agar sekalian saja pesenya." Jawabku.
"Jadi benar kalian saling berbalas pesan? Ya ampun Nia...sudah sejauh mana hubungan kalian?"
"Ngomong apa mas Dipta ini...kita tak ada hubungan apa2. Hanya sesekali saja dia mengirimkan pesan."
__ADS_1
"Jangan lagi berkirim pesan dengannya! Dan berhenti membahas tentang tetangga itu!" Titah mas Dipta namun aku hanya menanggapinya dengan mencebik. Hah...egois sekali dia ini. Dia bilang membebaskan diriku dan tak mau mancampuri urusan masing2. Tapi apa sekarang, apa ini namanya? Seenaknya sendiri dia main perintah-perintah.
Perdebatan kami berhenti ketika mas Dipta membelokkan mobilnya ke halaman rumah besar punya mama Ratna.