
Xiao Moon menatap kearah belakang kakek itu. Terlihatlah seorang bocah laki-laki dengan wajah datarnya. Dengan tersenyum tipis Xiao Moon mendekati bocah itu dan mensejajarkan posisinya dengan bocah itu.
"aku hanya ingin memberikan informasi penting"ucap Xiao Moon datar juga.
Sungguh kaget bocah itu ketika melihat wajah datar Xiao Moon yang sangat menyeramkan baginya. Dengan cepat bocah laki-laki itu membusungkan dadanya, dia berniat membuat Xiao Moon takut.
Xiao Moon yang melihat itu bukannya takut malah tersenyum geli. Dia lalu mencubit pipi bocah laki-laki itu dengan gemas. Cubitan Xiao Moon membuat pipi bocah laki-laki itu memerah malu.
"hhhh, maafkan anakku nona, dia memang seperti ini"ucap seorang pria dengan seorang wanita disampingnya.
"ayah!"teriak bocah laki-laki itu berlari lalu bersembunyi dibelakang kedua orang tuanya itu.
Xiao Moon hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali menatap kakek itu yang sebagai kepala desa.
"kakek, informasi ini berkaitan dengan keselamatan warga desa disini"ucap Xiao Moon serius.
"apakah itu benar, kalau begitu kita bicarakan dirumahku saja, kalian semua lanjutkan tugas kalian masing-masing"ucap kakek itu pada Xiao Moon juga warga sekitar.
Kakek, bocah laki-laki dan kedua orang tuanya itu mengantar Xiao Moon beserta pasukannya untuk pergi ke kediaman kepala desa ini. Sesampainya disana, Xiao Moon menatap pasukannya itu.
"kalian, jaga setiap sudut desa ini, dan ketua San ikut denganku"ucap datar Xiao Moon.
"baik Queen Alexa!"ucap mereka kompak.
Pasukan Xiao Moon segera melakukan tugas masing-masing. Begitu juga dengan Xiao Moon yang pergi keruang tamu di ikuti oleh ketua San.
Sesampainya diruang tamu, Xiao Moon dengan ketua San dipersilahkan duduk dan dihidangkan minuman dan beberapa cemilan.
"jadi ada apa nona dan tuan ini datang ke desa kecil kami?"tanya pria, menantu kakek kepala desa yang bernama Si Tae.
Xiao Moon menjelaskan dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewat. Terutama tentang pengkhianat dan peperangan yang akan terjadi.
Wajah ketiga orang tua itu kaget bukan main, mereka tidak mengira jika 3 kekaisaran besar dimasing-masing benua itu berkhianat. Apalagi yang dilawan adalah kekaisaran empu atas, istana tempat tinggal penguasa dunia atas.
Dan lebih parahnya lagi, kekaisaran itu berada dibenua tengah, tapi kenapa harus benua tengah(?), kenapa tidak benua timur dan barat saja(?).
Kekaisaran empu atas berada diwilayah benua tengah dikarenakan benua tengah itu adalah benua yang lebih luas diantara yang lain, dan benua tengah adalah tempat yang lebih strategis.
skip
"lantas, apa yang harus kami lakukan, kami tidak akan membiarkan desa kami hancur"sedih kakek kepala desa.
"maka warga desa disini harus meninggalkan desa ini dan berpindah tempat"jawab Xiao Moon.
Belum juga Si Tae ingin menjawab, bocah laki-laki itu yang bernama Si Jing sudah menyela dengan keras.
__ADS_1
"tidak, tidak bisa ini adalah desa kelahiranku, alasan apapun itu aku tidak akan pernah meninggalkan desa ini!"lantang Si Jing.
"putraku, warga desa sedang dalam bahaya, kita harus segera bertindak nak"ucap lembut wanita yang bernama Si Shin.
Si Jing yang merupakan bocah laki-laki itu mendekati Si Shin selaku ibunya. Dengan wajah datar dia duduk disamping Si Shin dan mengambil satu cemilan.
"kalau begitu kita ikut perang, mau tidak mau aku tetap tinggal didesa ini apapun resikonya"ucap Si Jing dengan makanan yang masih dimulutnya.
Xiao Moon menaikkan sebelah alisnya. Jika bocah laki-laki itu tinggal disini, dia malah dalam bahaya. Ketika Xiao Moon berkecamuk dengan pikirannya, Si Jing tiba-tiba terbatuk.
"putraku apa kau baik-baik saja?"tanya Si Shin khawatir.
"aku uhuk tidak apa uhuk"ucap Si Jing dengan terbatuk. Dia batuk bukan karna tersedak, dia terbatuk secara tiba-tiba. Batuknya pun bisa dibilang sangat parah. Saat Si Jing membuka tangannya, terdapat darah disana.
Sontak membuat Si Tae, Si Shin dan kakek itu kaget. Segera Si Shin mengambil gelas dengan air didalamnya dan segera meminumkannya pada Si Jing.
Wajah Si Jing menjadi pucat pasi dan pingsan dengan tiba-tiba. Itu membuat ketiga orang tua itu tambah khawatir.
"cepat panggilkan tabib!"teriak kakek kepala desa. Sementara Si Tae segera membawa Si Jing ke pos medis untuk segera diobati.
Berbeda dengan Xiao Moon, kini dia mengikuti Si Tae dari belakang dan menengok keadaan Si Jing.
"apa tabib belum datang?"tanya Xiao Moon ikut khawatir yang hanya mendapat gelengan dari kakek kepala desa.
"apa ini pernah terjadi pada Si Jing?"tanya Xiao Moon.
"sudahlah istriku anak kita akan baik-baik saja, kenapa tabib belum datang?"tanya Si Tae yang sudah tidak sabar.
Semua orang mulai berlarian mencari tabib. Mereka khawatir tidak akan menemukan tabib karna hari ini para tabib menghadiri sebuah acara yang digelar dibenua Barat.
........
Tidak lama datang salah satu bawahan dari kakek kepala desa itu "ma....maaf tuan, kami sudah mencari ta...tabib dimana-mana tapi tidak menemukan tabib sa....satu pun" ucap bawahan itu terbata dengan rasa takut.
brakk
Si Tae menendang meja secara kasar hingga mengenai kaki bawahan itu hingga terdengar suara retak. Si Tae tidak menghiraukan bawahan itu yang memegang kakinya karna sakit. Dia lebih fokus pada keadaan anaknya itu.
"a....apa, tidak mu...mungkin hiks"tangis Si Shin lalu terjatuh pingsan.
Suasana tambah mengkhawatirkan saat Si Shin jatuh pingsan. Si Tae segera membopong istrinya untuk menuju ke ruang satunya. Sementara Xiao Moon menepuk jidatnya dengan kesal.
'astaga kenapa aku lupa, kan ada aku disini' kesal Xiao Moon dalam batin.
Xiao Moon segera mendekati ranjang Si Jing dan mengecek denyut nadinya serta dahinya. Perilaku Xiao Moon membuat kakek kepala desa heran. Setiap gerak-gerik Xiao Moon tidak pernah luput dari tatapan kakek itu.
__ADS_1
Xiao Moon lantas berdiri dan mengeluarkan satu botol air suci dari dimensinya. Diminumkannya air itu pada Si Jing yang terbaring lemah. Tidak lama kemudian, wajah Si Jing yang Awalnya pucat menjadi lebih segar dan berwarna.
Kedua pria itu kaget dan segera mendekati ranjang Si Jing. Sebenarnya Si Tae sudah kembali dari ruang sebelah, dimana istrinya berada. Dan dia tidak meninggalkannya jika bukan karna keadaan Si Jing yang kritis.
Tapi sekarang berbeda, kekhawatiran kedua pria itu hilang seketika saat melihat Si Jing membuka matanya yang mungil itu.
"ayah, kakek dimana ibu?"tanya Si Jing.
"ibumu sedang istirahat nak"ucap Si Tae mencoba untuk berbohong. Karna jika dia jujur, dia takut Si Jing akan kambuh lagi.
"bolehkah aku bertemu ibu?"tanya Si Jing. Semua orang diam membisu. Mereka tidak ingin jujur jika Si Shin jatuh pingsan. Xiao Moon yang melihat mereka kehabisan kata-kata pun angkat bicara.
"bocah kecil, kamu itu baru saja pulih, tapi sekarang kau ingin cari sakit lagi?, sebaiknya kamu istirahat saja"ucap Xiao Moon. Si Jing yang dipanggil bocah kecil pun sontak menggeleng.
"nona jangan memanggilku bocah kecil...."lirih Si Jing. Perkataan Si Jing membuat Xiao Moon tertawa lepas dan mencubit pipi cuby milik Si Jing yang berusia 6 tahun.
"baiklah, jie jie akan memanggilmu Huaji bagaimana?"tanya Xiao Moon sambil tersenyum. Si Jing membalasnya dengan senyuman, entah kenapa sifat datarnya tidak mempan pada Xiao Moon.
Xiao Moon lantas mengangguk kemudian menyuruh Huaji untuk istirahat. Dia lalu berdiri kemudian menatap kedua pria itu.
"aku akan memeriksa keadaan nyonya Si Shin dan bawahan kakek kepala desa"ucap Xiao Moon pergi di ikuti ke empat ketua kelompok. Sementara Si Tae hanya meneguk ludahnya susah payah.
"aku tidak akan ikut campur menantu"kekeh kakek kepala desa kemudian pergi meninggalkan Si Tae.
"ayah..."rengek Si Tae.
.........
Berbeda sengan Xiao Moon yang bergegas ke pos medis. Dimana orang yang terluka atau sakit akan dibawa kesana.
Sesampainya mereka di pos medis, Xiao Moon segera masuk untuk memeriksa keadaan Si Shin. Diperiksanya Si Shin dengan hati-hati dan cekatan. Setelah diperiksa Xiao Moon memijat keningnya.
'harusnya aku melaksanakan tugas untuk melindungi warga disini, tapi kenapa malah menjadi tabib gini'batin Xiao Moon.
Ketua San yang melihat Xiao Moon memijat keningnya pun sedikit khawatir "Queen, apa Queen sakit, aku akan memanggil ketua Ying untuk memeriksa pasien" khawatir ketua San.
"tidak ketua San, aku baik-baik saja"ucap Xiao Moon. Dia lalu beralih pada pasien bawahan kakek kepala desa ituyang berada diruang sebelah. Dia melihat kaki milik bawahan kakek kepala desa yang terkena meja dengan keras.
Xiao Moon pun merubah matanya menjadi warna putih kusam. Mata itu mampu melihat saraf-saraf atau titik dari meridian dan sebagainya (seperti mata jougan diserial film Boruto).
Mata ini sangat langka dan hanya ada satu didunia, dan Xiao Moon adalah orang yang beruntung. Mata yang bernama Tance qi ini dapat mendeteksi apapun hingga jarak yang sangat jauh, bahkan beribu-ribu kilometer.
****
Author up lagi ni gaes, gmna chapternya terbelit-belit yah, author sengaja agar mengulur waktu agar novel ini tidak cepat tamat.
__ADS_1
Kalau ada typo dan ada yang kurang ataupun membosankan maaf yah. Jangan lupa like komen and sarannya.