
Xiao Moon berjalan untuk duduk ditepi danau. Jika dia memberikan kejutan itu sekarang, maka beberapa warga tidak akan dapat melihat keindahan itu. Ia menatap Zen yang juga sedang duduk disampingnya, mereka berdua menatap bintang yang bertebaran dilangit.
“Zen menurutmu apakah para Dewa dan Dewi itu juga bodoh?”tanya Xiao Moon.
Zen menoleh kearah Xiao Moon yang sangat bercahaya. Karna dia juga menggunakan perhiasan berlian, berlian itu bersinar saat terkena sinar bulan.
“Menurutku mereka sangat bodoh, tapi terkecuali Dewa iblis”ucap Zen sambil membanggakan.
Xiao Moon berdecak kesal, bagaimana bisa ada terkecuali. Dia lalu menatap Zen mencoba untuk meminta penjelasan, siapa Dewa iblis itu. Sementara yang ditatap hanya pura-pura tidak tau, karna akan sangat sulit dijelaskan.
“Kau, jangan pura-pura polos”marah Xiao Moon. Dengan spontan Zen berdiri dan bergetar ketakutan.
“Ba...baik nona akan a...aku jelaskan, Dewa Iblis itu lebih kuat darimu nona, dia selalu bergaul dengan manusia-manusia disini, tapi suatu ketika Dewa Iblis menghilangkan setengah kekuatannya dan jiwanya pergi ketubuh lain”jelas Zen.
Xiao Moom sedikit heran, Dewa Iblis melakukan apa hingga kekuatannya hilang setengah. Dia hendak bertanya lagi pada Zen tapi Zen sudah menyela terlebih dahulu.
“Jika nona ingin tau banyak, aku akan membawamu kesuatu tempat setelah memberi kejutan”ucap Zen.
Hanya ada anggukan dari Xiao Moon. Jika memang berusaha itu lebih baik, maka Xiao Moon akan melakukan itu. Sembari menunggu warga berkumpul, Xiao Moon merancang rencana untuk kejutan nanti. Dia merangkai rencana itu sebaik mungkin agar tidak ada kesalahan.
***
“Apa kau paham Zen?”tanya Xiao Moon pada Zen.
“Ya nona, aku sudah paham”ucap Zen sambil mengangguk.
Mereka berdua lalu berdiri dan segera memulai titik awal. Pertama-tama Xiao Moon menaiki punggung Zen dan dibawa terbang kelangit. Karna memang tengah malam sudah tiba, para warga sudah berkumpul dan mulai berdoa ditepi danau.
Berbeda dengan Xiao Moon, dia mengeluarkan teratai dari dimensinya dan menjatuhkannya dari langit hingga kedanau bagaikan hujan. Para warga yang ada disana mengira itu adalah sahutan dari para Dewa dan Dewi.
__ADS_1
Seiring jatuhnya teratai, Xiao Moon dan Zen mendarat diatas danau dengan tatapan hangat. Warga yang ada disana bersorak gembira, bahkan ada yang menitikkan air mata. Bagaikan bidadari dan kuda surgawi. Wajah Xiao Moon sangat terang jika para warga menatapnya. Para pria mulai jatuh cinta akan tetapi tidak berani mengungkapkan.
“Ka...kau seorang Dewi?”tanya salah satu warga disana.
Xiao Moon mengambil salah satu teratai yang lebih bercahaya diantara yang lainnya. Entah dia menggunakan sihir apa hingga teratai yang berjatuhan dari langit layaknya hujan teratai.
Didekatinya warga yang berbicara itu lalu memberikan teratai itu pada warga itu. Xiao Moon sungguh kaget, tangannya sangat dingin dan bergetar. Apa mereka semua sama?
“Tangan kalian terlihat dingin dan bergetar, apa yang terjadi?”tanya Xiao Moon halus.
Para warga menatap tangan mereka dan menggenggamnya erat. Tidak ada yang berani dari mereka untuk membicarakan hal itu. Karna Xiao Moon tidak mendapat jawaban, dia memanggil kunang-kunang untuk mengelilingi para warga dan menghangatkan mereka.
“Jika para Dewa dan Dewi tidak pernah datang untuk membantu kalian, jangan pernah sekali kalian melakukan ini lagi”ucap Xiao Moon.
Beberapa para warga disana menunduk sedih sambil menatap kunang-kunang. Mereka berpikir bahwa bukankah sekarang seorang Dewi datang, kenapa tidak boleh melakukan hal ini lagi, sekiranya itulah yang ada dipikiran mereka.
Hal ini membuat rasa kekecewaan Xiao Moon pada Dewa dan Dewi bertambah. Kenapa mereka tidak pernah mengerti dunia atas yang masih membutuhkan mereka. Jika dari itu kenapa tuhan memberikan kekuatan dari Dewa jika bukan untuk saling membantu. Mereka itu suci bukan?
Semua warga yang ada disana perlahan menatap mata Xiao Moon yang berwarna emas menyala. Lalu ketakutan menyelimuti mereka jika melihat terlalu dalam. Disana dapat terlihat wajah kekecewaan dan wajah dingin yang saling menyatu.
“Jangan lalukan hal ini sampai aku bilang lakukan”itulah yang dikatakan Xiao Moon.
Maksudnya adalah, jangan pernah melakukan ini sebelum Xiao Moon berbicara dengan para Dewa. Jika setelah berbicara maka mereka boleh melakukan ini. Xiao Moon merasa kasihan pada para warga jika harus menunggu disini semalaman. Lalu Xiao Moon teringat, dia disini untuk membahagiakan para warga kan.
“Makanlah hidangan buatanku, siapa tau kalian menyukainya”ucap Xiao Moon sambil tersenyum.
Lalu dia memunculkan beberapa makanan dimeja yang sudah disediakan. Makanan itu terlihat menggiurkan, para warga yang ada disana segera tersenyum dan menyantap makanan disana.
“Dewi, mari kita makan bersama”ajak seorang anak kecil disana. Dengan setuju, Xiao Moon mengikuti langkah anak itu hingga berakhir dimeja besar yang sangat panjang. Disana para warga meminta berkat dari Xiao Moon agar hidup mereka menjadi lebih berkah.
__ADS_1
Cukup menggelikan jika para orang tua meminta berkat dari anak kecil berusia 15 tahun. Tapi juga tidak ada yang tau, Xiao Moon itu bahkan lebih tinggi dari Dewa dan Dewi. Xiao Moon mulai bergaul dengan para warga hingga dini hari.
Beberapa dari mereka menguap karna mengantuk. Karna kasihan, Xiao Moon segera membubarkan mereka untuk pergi kerumah mereka masing-masing. Tidak lupa sebelum mereka pergi, Xiao Moon memberikan satu persatu kantong emas.
“Semoga ini cukup untuk kalian”ucap Xiao Moon. Setelah mengucapkan hal itu, bukannya mereka pulang malah masih menunggu. Xiao Moon tau apa maksud dari mereka.
“Baiklah jaga diri kalian baik-baik, aku pergi dulu”ucap Xiao Moon.
Lalu dia menunggangi Zen dan terbang keatas langit di ikuti kunang-kunang. Para warga melambaikan tangan mereka dan menatap kepergian Xiao Moon. Setelah Xiao Moon benar-benar hilang dari pandangan mereka, para warga pun mulai bubar.
***
Di lain tempat, Xiao Moon yang kini dengan penampilan biasanya pergi ke suatu tempat di iringi Zen. Ya, dia ingin mendapatkan buku yang dimaksud Zen dan membawanya pulang. Sekian lama berjalan akhirnya mereka sampai disebuah toko buku yang kotor dan bobrok.
“Jangan memandang penampilan nona, buku-buku disini sangat bermanfaat ketimbang buku ditoko lain”ucap Zen.
Xiao Moon mengangguk kemudian membuka pintu rusak itu pelan-pelan. Jika masuk di dalam, maka akan terlihat tempat yang rapi dan tidak berdebu, meskipun tempatnya jelek. Bisa dibilang toko buku ini sangat komplit.
“Ah ada apa nona kemari petang-petang seperti ini?”tanya seseorang.
Xiao Moon menoleh kearah sumber suara dan mendapati kakek tua berjenggot dengan tongkatnya. “Kakek, aku ingin melihat-lihat buku disini apakah boleh?”tanya Xiao Moon pelan.
Kakek itu hanya mengangguk dan memberikan buku yang Xiao Moon cari-cari. Buku usang yang sangat tebal dan memiliki pola yang rumit. Xiao Moon cukup kaget, bagaimana kakek ini bisa tau. Tapi saat ingin bertanya, toko buku dan kakek itu tiba-tiba menghilang. Kini Xiao Moon hanya berdiri ditengah hutan yang gelap.
“Menghilang, Zen kakek itu menghilang”ucap Xiao Moon tidak percaya dengan apa yang ada didepannya.
“Tapi setidaknya nona sudah mendapatkan buku itu bukan...”ucapan Zen memang betul juga. Lalu dia segera pulang kepenginapan dengan menaiki Zen.
***
__ADS_1
Halo combak lagi ni author, maaf kalau ada yang kurang, typo, maupun tidak nyambung.
Jangan lupa like, komen and sharenya yah biar makin banyak yang baca dan yang like