Antara Waktu Dan Dimensi Xiao Moon

Antara Waktu Dan Dimensi Xiao Moon
Chapter 29


__ADS_3

Setelah memeriksa kaki pada bawahan itu menggunakan mata Tance qi milik Xiao Moon, Xiao Moon mengembalikan matanya menjadi coklat. Tenang saja, tidak ada yang mengetahui jika mata ini muncul.


Xiao Moon segera menyentuh kaki yang dekat dengan bagian tulang yang retak itu. Sementara bawahan itu tidak sadarkan diri karna tidak tahan dengan rasa sakit kakinya itu.


Segera Xiao Moon memfokuskan untuk menyembuhkan kaki bawahan yang lumpuh akibat tulang kakinya retak. Sebuah cahaya hijau muncul dan menyinari telapak tangan Xiao Moon.


Cahaya itu semakin lama semakin membesar hingga ruangan yang ditempati Xiao Moon silau. Itu membuat orang yang ada diluar kaget dan merasa khawatir.


Karna ini pertama kalinya bagi mereka melihat cahaya yang sesilau ini. Bahkan mereka harus menutup mata dengan lengan mereka. Mereka baru membukanya kembali saat cahaya hijau itu berangsur-angsur menghilang.


Segera saja semua orang masuk kedalam ruangan itu dan mengecek apa yang terjadi. Dilihatnya Xiao Moon yang berdiri dengan wajah dingin tertutup topeng setengah wajah.


Jujur bagi mereka sangat bersyukur karna Xiao Moon memakai topeng. Jika tidak mereka akan takut setengah mati bukan main. Wajahnya tertutup topeng saja sudah seram apalagi jika polosan(?).


...........


Xiao Moon menuliskan sebuah resep obat dan memberikannya kepada kepala pos medis.


"paman, tolong belikan bahan-bahan ini untuk pasien di ruang 2 atau pasien itu (menunjuk bawahan kakek kepala desa) "ucap Xiao Moon berlalu pergi setelah kepala pos medis itu menerima secarik kertas.


Xiao Moon hendak pergi ketenda 3, dimana bibi Si Shin berada. Xiao Moon harus segera menyembuhkannya, jika tidak Si Shin akan terkena sakit jantung. Dan itu butuh alat medis dari dunianya dulu.


Sampailah Xiao Moon ditenda 3, terlihat wanita dengan wajah pucatnya sedang terbaring lemah. Ditemani seorang pria yang merupakan suami dari wanita itu.


"paman, bagaimana keadaan Huaji ku?"tanya Xiao Moon pada Si Tae selaku ayahnya.


"dia sedang ditemani kakek, dia sudah baikan, hanya butuh istirahat"ucap Si Tae. Meskipun Si Tae menjawab pertanyaan Xiao Moon, akan tetapi tatapannya tidak. Tatapan Si Tae selalu memandangi Si Shin nya itu.


Xiao Moon menjadi tidak tega melihatnya. Segera dia menuju kesebelah ranjang. Xiao Moon mengeluarkan cahaya putih transparan dari tangannya. Dengan cahaya ini, Xiao Moon dapat menstabilkan jantung milik Si Shin yang mulai lemah.


Cahaya putih transparan itu adalah pisau Qi Spiritual. Itu berguna untuk membuat organ didalam tubuh kita menjadi lebih stabil.


"paman, jangan pernah membicarakan sesuatu hal yang dapat membuat bibi Si Shin kaget"ucap Xiao Moon.


"ba...baiklah, tapi bagaimana dengan keadaan istriku?"tanya khawatir Si Tae.


"paman, bibi Si Shin telah melewati masa kritisnya, akan tetapi belum sepenuhnya sembuh, aku harap paman bisa mengerti keadaan"jelas Xiao Moon.


Si Tae memegang tangan Xiai Moon lalu memeluknya. Sungguh dia sangat ingin mempunyai seorang anak perempuan seperti Xiao Moon. Tapi mau bagaimana lagi, tuhan mengabulkan doanya tapi dengan anak laki-laki.


"hiks hiks, terima kasih nak, terimakasih"ucap Si Tae dengan tangisnya.


"paman, sudahlah, aku akan membuat resep untuk bibi dulu"ucap Xiao Moon lalu pergi untuk duduk disebuah bangku.


Segera Xiao Moon menulis bahan-bahan obat untuk bibi Si Shan. Setelah selesai, Xiao Moon menulis lagi sebuah resep. Kedua resep itu untuk Huaji atau Si Jing dan satunya lagi untuk Bibi Si Shin.

__ADS_1


Segera resep itu diberikannya pada perawat diruang 3. Perawat itu menerimanya dan segera melaksanakan perintah Xiao Moon.


"paman, Huaji dan bibi Si Shin sudah baikan, sekarang aku harus melaksanakan tugasku"ucap datar Xiao Moon.


"dan tugas itu harus mendapat ijin dari paman dan kakek kepala desa"lanjut Xiao Moon lagi.


Paman Si Tae mengangguk lalu menyuruh salah satu perawat untuk menjaga bibi Si Shin. Setelah itu paman Si Tae, Xiao Moon dan ketua San pergi ke tenda 1, dimana Huaji dirawat disana.


........


Sesampainya mereka bertiga ditenda 1, Xiao Moon langsung duduk dihadapan kakek kepala desa. Xiao Moon menatap kakek kepala desa serius.


"kakek, kali ini warga desa dalam situasi darurat, yah meskipun masih lama peperangannya akan tetapi kita harus bertindak cepat"ucap Xiao Moon serius.


Kakek kepala desa menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap Huaji dan mengelus rambutnya.


"tapi... "


"aku setuju"ucap Huaji menyela perkataan kakek kepala desa.


Xiao Moon mengalihkan pandangannya pada Huaji yang berusaha duduk. Xiao Moon segera membantu Huaji untuk duduk.


"kenapa kau bangun cucuku?"tanya kakek kepala desa.


Xiao Moon lantas tersenyum lalu mencubit hidung Huaji yang terkesan kecil itu. Sungguh, Xiao Moon sangat gemas dengan pipi cuby dan hidung kecil milik Huaji.


"jie jie, tapi aku tidak mau desa ini Hancur"sedih Huaji.


"tidak akan, jie jie akan melindungi desa ini, tapi warga desa disini harus pindah terlebih dahulu"ucap Xiao Moon sambil mengelus rambut Huaji. Huaji lantas tersenyum dan mengangguk.


"kakek aku butuh bantuanmu, aku ingin kakek bilang pada warga agar mengemasi barang-barang mereka"ucap Xiao Moon.


Kakek kepala desa mengangguk lantas pergi keluar dan mengumpulkan para warga. Kakek kepala desa lantas serseru dan menjelaskan semua yang terjadi.


Para warga seketika heboh dan takut, akan tetapi ketika mereka mengetahui akan pindah tempat untuk sementara, mereka setuju dan lebih tenang.


Setelah selesai menjelaskan semua, para warga mulau bubar dan membawa harta benda mereka. Semua warga hanya membawa benda penting agar tidak merepotkan.


"bagaimana kek, apa semua sudah siap?"tanya Xiao Moon yang baru saja datang dengan pasukannya.


"sudah nona"jawab kakek kepala desa.


Pasukan Xiao Moon mulai mengelilingi penduduk desa yang jumlahnya tidak seberapa itu. Upaya itu agar penduduk desa tidak dalam bahaya. Sementara pasien yang sakit akan dibawa menggunakan kereta dengan tandu medis.


Kini Xiao Moon tinggal menemui Jendral yang berjaga diperbatasan. Dia melihat salah satu Jendral disebuah tenda. Segera Xiao Moon mendekati Jendral itu.

__ADS_1


"paman, aku pamit terlebih dahulu, aku harap kalian selalu menjaga perbatasan dengan baik"ucap Xiao Moon.


"pasti nona, itu sudah menjadi tugas hamba"balas Jendral itu dengan tersenyum.


Xiao Moon mengangguk lalu berjalan pergi. Dia menghampiri pasukan dan para warga yang sudah berkumpul.


Sesampainya Xiao Moon ditempat berkumpul, Xiao Moon segera memerintahkan mereka untuk mengelilingi warga desa dan membentuk lingkaran.


Cahaya biru mengelilingi mereka yang menutup mata. Cahaya biru itu semakin lama semakin silau dan berangsur-angsur menghilang. Ketika cahaya itu sudah benar-benar hilang, mereka juga menghilang.


........


Xiao Moon dan yang lainnya muncul dihalaman kekaisaran empu atas. Disana sudah disambut oleh kaisar empu atas dan putra mahkota empu atas dengan senyuman.


"Moon, bagaimana?"tanya putra mahkota empu atas datar


"semua lancar"balas Xiao Moon.


Putra mahkota empu atas mengangguk lalu menayap kearah warga itu. Putra mahkota empu atas heran dengan dua kereta dengan tandu medis. Segera dia menghampiri tandu itu dan melihatnya.


Ditandu yang pertama putra mahkota empu atas melihat seorang laki-laki sedang terbaring dengan kaki yang diperban.


Xiao Moon yang melihat putra mahkita empu atas heran pun mendekatinya "dia baik-baik saja, hanya saja tulang dikakinya retak" ucap Xiao Moon.


"lalu tandu satunya?"tanya putra mahkota empu atas.


Xiao Moon lantas membawa putra mahkota empu atas untuk melihat tandu yang kedua. Disibaknya tandu itu dan terlihat seorang wanita terbaring dengan seorang bocah kecil disampingnya.


"Huaji kemari, jie jie ingin memperkenalkanmu pada gege ini"ucap Xiao Moon sambil menarik kerah putra mahkota empu atas.


"kau Huaji?"tanya putra mahkota empu atas.


"jangan panggil aku dengan nama itu, nama itu hanya boleh digunakan oleh jie jie ku, kau bisa memanggilku dengan nama Si Jing"tegas Si Jing dengan wajah datar.


Putra mahkota menaikkan sebelah alisnya dan terkekeh. Hal yang sama dilakukan oleh Xiao Moon, putra mahkota empu atas mencubit pipi cuby milik Si Jing.


"bocah kecil, kau sangat lucu"ucap putra mahkota empu atas terkekeh.


Xiao Moon juga tersenyum melihat sikap Si Jing. Mungkin Si Jing akan menjadi perantara kebahagiaan bagi putra mahkota empu atas dan Xiao Moon.


****


Haiss, chapter ini keknya gak nyambung, maap yah, kalau ada typo atau membosankan juga minta maaf.


Jangan lupa like, komen and sarannya 😘😹🙏😂

__ADS_1


__ADS_2