Ardelia Christy

Ardelia Christy
Terpukul


__ADS_3

"Bagaimana?, apa kau sudah mendapatkan informasinya?", tanya seorang pria kepada anak buahnya.


"Sudah tuan", ucap sang anak buah.


"Bagaimana keadaannya sekarang?", tanya pria itu.


"Orang yang Anda cari sudah tiada", ucap anak buahnya sambil menunuduk.


"Apa yang kau katakan, hah!", teriak pria itu.


"Maaf tuan, tetapi orang yang Anda cari sudah tiada", ucap anak buahnya.


"APA!", teriak pria itu lagi.


"Katakan padaku bahwa dia masih hidup", ucap pria itu.


"KATAKAN!!!!!", teriak pria itu.


Anak buahnya hanya menundukkan kepalanya.


"KELUAR DARI RUANGANKU !!!", teriak pria itu.


Anak buahnya pun mengangguk dan keluar dari ruangan bosnya itu.


"Ini tidak mungkin", ucap pria itu sambil menggelengkan kepalanya.


"INI TIDAK MUNGKIN!!!!", teriak pria itu.


Pyar....


Brakk...


Prang...


Ia pun membanting semua barang yang ada. Setelah puas meluapkan emosinya ia pun terjatuh dan terduduk di lantai.


"Kenapa kau meningalkanku?, kenapa kau tega meninggalkanku sendirian", ucap pria itu sambil menangis.


"Kau sudah berjanji akan menungguku kembali, kenapa kau mengingkarinya!!!", ucap pria itu.


"Apa kau ingin balas dendam padaku Christy, katakan! Apa kau marah karena aku meninggalkanmu?", ucap pria itu.


"Atau karena pria yang sudah mengkhianatimu itu, kau malah pergi dari duniaku?", ucap pria itu sambil menelungkupkan kepalanya pada lututnya.


"Davian kau, astaga!", ucap seorang pria yang merupakan asisten dari pria itu.


Sang asisten kaget bukan kepalang saat melihat ruangan sahabat sekaligus bosnya sudah tidak berbentuk lagi. Berkas berkas, pecahan kaca dan barang barang lainnya berserakan di lantai. Ia pun menghampiri temannya itu.


"Davian, apa yang terjadi? Kenapa kau menjadi begini?", tanya asistennya.


"Kenan, dia... dia... sudah meninggalkanku", ucap Davian.


"Siapa yang kau maksud?", tanya Kenan.

__ADS_1


"Orang yang aku sayangi sudah pergi", ucap Davian.


"Yang kau sayangi siapa?", tanya Kenan bingung.


"Christy, dia... dia... pergi, dia pergi meninggalkanku untuk selamanya", ucap Davian.


"Hustt, tenanglah", ucap Kenan sambil menggelus punggung temannya itu.


Kenan pun berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu. Ia tau bahwa sahabatnya sekarang sedang terluka.


"Dia pergi, dia......", ucap Davian yang tertahan.


Belum sempat Davian menyelesaikan kalimatnya ia sudah pingsan duluan.


"Astaga Davian, bangun Davian bangun!", ucap Kenan sambil menepuk pipi Davian.


Dengan terpaksa ia pun meraih tangan Davian ke pundaknya dan menuntunnya berjalan menuju kamar yang ada di ruangan Davian. Kenan pun membaringkan Davian di kasurnya.


Kenan pun segera menelpon dokter pribadi Davian. Tak lama sang dokter pun datang.


Tok.... tok.... tok....


Ceklek...


"Dimana dia?", tanya sang dokter yang mengenakan pakaian casual karena permintaan Kenan.


"Dia dikamarnya", ucap Kenan.


Ceklek...


"Bagaimana?", tanya Kenan.


"Dia baik baik saja hanya kelelahan jangan membuatnya banyak pikiran, itu bisa berdampak buruk pada kesehatannya ", ucap sang dokter.


Kenan hanya mengangguk kepala.


"Tetapi kenapa dia seperti ini?, sepertinya dia sangat terpukul hingga membuatnya pingsan", ucap sang dokter.


"Dia kehilangan orang yang ia cintai dok, baru kali ini aku melihatnya seperti ini, dia benar benar sangat terpukul", ucap Kenan sambil melihat kearah Davian.


"Aku turut sedih mendengarnya, baiklah aku harus kembali jika ada masalah hubungi aku langsung", ucap sang dokter.


"Baik dok", ucap Kenan.


Kenan pun mengantarkan sang dokter sampai di depan pintu ruangan Davian. Setelah itu memanggil beberapa cleaning servis untuk membersihkan kekacauan yang diperbuat Davian.


Sudah 2 jam Davian tertidur dikasurnya, ia pun terbangun dari tidurnya.


"Haus", ucap Davian.


Ia pun mengambil gelas berisikan air yang berada di nakas sebelah kasurnya.


Prang....

__ADS_1


Secara tak sengaja ia menyenggol gelas yang berisikan air. Kenan yang mendengar suara benda pecah langsung menuju kamar Davian.


Ceklek...


"Apa yang terjadi?", tanya Kenan.


"Tidak ada, aku haus tapi malah menjatuhkan gelasnya", ucap Davian.


Kenan yang memahami hal itu pun langsung memberikan segelas air pada Davian dan membersihakan pecahan kaca itu agar tak mengenai kaki Davian.


"Aku membawakanmu bubur, kau makanlah dulu", ucap Kenan sambil mengeluarkan bubur yang ia beli tadi.


"Aku tidak ingin makan", ucap Davian.


"Makanlah dulu, setidaknya sedikit saja", ucap Kenan.


"Aku tidak berselera", ucap Davian.


"Ayolah makan bubur ini, aku tidak mau kau sakit dan menyerahkan pekerjaanmu itu padaku, aku tidak sanggup menanganinya", ucap Kenan.


Dengan bujukan maut dari Kenan, Davin akhirnya menurut, ia pun memakan bubur yang sudah ada di depan matanya.


Memang benar Kenan tidak akan sanggup jika harus menangani perusahaan sendiri. Dengan pekerjaannya sebagai asisten Davian itu saja sudah membuatnya pusing 7 keliling, apalagi jika harus disuruh menggantikan Davian untuk menangani perusahaannya ia tidak akan sanggup.


Pernah waktu itu Davian tidak bisa masuk kerja karena ia terserang demam selama 3 hari, dengan terpaksa Kenan mengambil alih pekerjaan Davian. Karena penyakit sialan itu, ia harus membuat ulang jadwal yang sudah ia buat selama seminggu, tak lupa ia juga harus berhadapan dengan para investor investor asing, karena penyakit sialan itu membuat janji temu mereka harus diundur. Dan masih banyak masalah lainnya yang membuatnya tak tidur selama 3 hari karena sibuk mengurusi pekerjaannya itu.


Terkadang ia bingung dengan Davian, bagaimana bisa ia menangani pekerjaan yang begitu banyak dengan mudah. Bahkan dirinya saja tak sanggup menanganinya sendiri.


"Tidurlah aku akan kembali nanti", ucap Kenan.


"Kenan", panggil Davian.


"Ada apa?", tanya Kenan.


"Aku ingin menemuinya", ucap Davian.


Kenan yang mengerti maksud Davian pun lang sung memjawabnya.


"Tidak, aku tidak mengijinkanmu", ucap Kenan.


"Kenapa?", tanya Davian.


"Aku tau kau sangat ingin menemuinya, tetapi waktunya tidak tepat", ucap Kenan.


"Tapi aku ingin menenuinya", ucap Davian.


"Tunggulah beberapa saat, kau masih terpukul karena kehilangan gadismu, aku tidak mau kau semakin terpuruk dalam kesedihanmu", ucap Kenan.


Davin hanya mengangguk.


"Istirahatlah, aku akan melanjutkan pekerjaan", ucap Kenan.


Davin pun menuruti perkataan Kenan, ia sudah menganggap Kenan sebagai keluarganya sendiri, karena ia selalu menemaninya saat ia terpuruk ataupun sedang bahagia. Ia sudah menganggap Kenan seperti kakaknya, jadi jangan heran kalau Davian begitu menyayangi Kenan.

__ADS_1


__ADS_2