Ardelia Christy

Ardelia Christy
Terima kasih


__ADS_3

Hujan rintik seolah turut menggambarkan kesedihan orang yang telah di tinggalkan oleh orang terkasihnya. Setiap pertemuan pasti akan mengalami perpisahan begitu juga di setiap kelahiran pasti akan mengalami kematian.


Terkadang kita tidak bisa meminta dengan siapa kita ingin bersama dan dengan siapa kita ingin berpisah. Tidak ada yang bisa menentang kehendak tuhan.


Suara tangisan mengiringi pemakaman Davian. Semua orang tak menyangka akan hal ini. Demi orang terkasih yang pernah ia kecewakan, dirinya rela mempertaruhkan nyawanya.


Satu persatu orang mulai meninggalkan area pemakaman. Kini menyisakan Christy, Jeno dan Alkan. Di temani hujan, ia menatap makam milik Davian.


"Terima kasih atas semuanya, aku sudah memaafkanmu. Tenanglah disana aku akan selalu bahagia disini", ucap Christy sembari mengelus batu nisan bertulisakan nama Davian.


"Terima kasih banyak karena kau sudah melindungi istriku, aku berjanji akan membahagiakannya tanpa kau minta", ucap Jeno.


"Ayo pulang", ucap Jeno yang sedang memegang payung sembari menuntun Christy.


"Daddy dan mommy duluan saja aku masih mau di sini sebentar saja", ucap Alkan.


"Oke boy, jangan lama-lama", ucap Jeno.


Jeno dan Christy mulai menjauh dari makam Davian.


"Hey paman, aku berhutang budi kepadamu. Terima kasih sudah menghalau peluru itu agar tidak mengenai mommyku. Aku berjanji akan menjaga mommy ku sebaik mungkin", ucap Alkan.


Tiba-tiba hujan pun semakin deras.


"Ayo boy kita pulang, hujan mulai deras!", teriak Jeno yang sedang memegang payung sambil memeluk istrinya.


"Iya dad", jawab Alkan sembari berlari menyusul Jeno dan Christy.


Mereka pun berjalan bersama meninggalkan area makam.


"Dad, nanti mampir ke resto ya, Alkan lapar", ucap Alkan.


"Oke, bagaimana kalau kita makan mie ayam?" Tanya Jeno.


"Oke!", jawab Alkan dan Christy sembari mengacungkan jempol bersamaan.


Mereka lantas tertawa bersama.


Terima kasih Davian, jika bukan karenamu aku mungkin tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan ini, batin Christy.


-----


Sudah satu bulan semenjak kepergian Davian, kehidupan Christy dan keluarga kecilnya semakin bahagia. Kini Christy memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ia mengundurkan diri dari perusahaan 2 minggu setelah kematian Davian.


Kini perusahaannya diambil alih oleh suaminya di bantu juga dengan bocah kecilnya. Huh, bocah itu dari kecil sudah sangat menyukai dunia bisnis, tidak ada salahnya menugaskannya untuk membantu ayahnya. Lagi pula itu keinginannya bukan, dan bocah itu diam-diam rupanya sudah punya perusahaan sendiri ternyata.


Seperti biasa Christy menyibukkan diri di dapur kesayangannya, berkumpul dengan tepung dan bahan membuat kue lainnya. Hobinya kini berubah, ia mulai menyukai berkebun dan membuat kue.


Ting...


Oven kesayangannya mengeluarkan bunyi. Christy pun segera memakai sarung tangan dan membuka oven miliknya. Bau harum kue mulai memenuhi seluruh penjuru ruangan. Ia pun memindahkan kue yang telah ia buat ke sebuah wadah.


"Nina, tolong kamu susun kue ini ke tempat itu, oh iya kue yang dinampan satunya kamu taruh di tempat bekal ya, kalau sudah taruh di kamar saya dan saya mau ke kamar dulu", ucap Christy.

__ADS_1


"Baik non".


Sesampainya di kamar, Christy melangkahkan kakinya menuju ruang walk in closet. Ia pun mengambil satu set setelan formal, rencananya hari ini ia akan mengunjungi kantor suaminya sekaligus mengantarkan bekal makan siang.


Selesai memakai pakaian, Christy pun menata rambutnya. Tak lupa ia juga mengaplikasikan berbagai macam produk make up di wajahnya.


Tok tok...


"Masuk", ucap Christy setelah mendengar ketukan pintu.


Cklek...


"Non, ini kuenya", ucap Nina.


"Tolong taruh di sana", ucap Christy sembari menunjukkan sebuah rak lemari.


Disaat Christy hendak berdiri, tiba-tiba ia merasakan mual.


Huek...


Sembari menutup mulutnya Christy berlari menuju wastafel yang ada di kamar mandinya. Nina yang melihat hal itu langsung membuntuti nonanya.


"Nona, nona ada apa? Nona tidak apa apa kan?" Tanya Nina khawatir.


Huek...


"Aku..."


Huek...


"Ahh, aku tidak apa-apa Nina", ucap Christy sembari menyalakan kran air.


"Nona, saya masuk ya", pinta Nina.


"Masuklah, pintunya tidak.... huek...", ucap Christy yang terpotong oleh rasa mualnya.


Nina pun segera masuk kedalam kamar mandi.


"Nona astaga", ucap Nina.


Nina pun menepuk nepuk pelan punggung Christy.


"Nona wajah Anda pucat, apa perlu saya panggil dokter?"


"Tidak usah Nina, mungkin aku hanya masuk angin saja", ucap Christy kemudian ia membasuh mukanya.


"Mari nona saya tuntun ke kasur", ucap Nina.


Nina pun membantu Christy menuju kasurnya, tak lupa ia juga memberikan segalas air pada Christy.


"Terima kasih", ucap Christy sembari memberikan gelas kosong pada Nina.


"Aku harus pergi ke kantor, sebentar lagi jam makan siang".

__ADS_1


"Tapi nona Anda sedang tidak sehat, biar saya beritahu tuan tentang kondisi Anda".


"Tidak Nina, saya tidak mau tuan mu khawatirm kau tahu sendiri kan se protektif apa kedua priaku itu".


"Ambilkan tasku, aku harus berangkat sekarang", ucap Christy sembari bangkit dari kasur.


"Ini nona", ucap Nina sembari memberikan sebuah tas dan juga paper bag berisikan bekal makan siang kepada.


"Tolong kau jaga rumah, aku berangkat sekaramg", pamit Christy.


"Baik nona".


Christy pun pergi meninggalkan Nina yang khawatir dengan keadaannya.


"Tolong lindungi nona saya, Tuhan", doa Nina.


Mobil yang dinaiki Christy kini sampai di depan gedung perusahaan, ia pun turun sembari menenteng sebuah tas dan juga paper bag. Kedatangannya membuat seluruh karyawan menatapnya kagum. Seperti biasa dirinya akan menuju meja resepsionis terlebih dahulu.


Ya, meskipun dirinya pernah memimpin perusahaan ini, tetapi ia tak lantas berperilaku seenaknya.


"Selamat siang", ucap Christy


"Selamat siang nona Christy, apakah Anda sedang mencari tuan Jeno? Kebetulan beliau ada diruangannya" ucap pegawai resepsions.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih", ucap Christy.


"Sama sama nona", jawab pegawai resepsionis.


Kaki jejang miliknya membawa Christy menuju lift khusus. Ia pun menekan salah satu tombol, setelah itu lift pun menutup.


Ting...


Sampailah dirinya di lantai 30, terlihat ada 2 ruangan di lantai itu. Satu ruangan bertuliskan Ruang Presdir dan ruang lainnya bertuliskan kitchen room. Jangan lupakan 2 meja besar di depan ruangan Presdir, hanya dibatasi oleh sekat kaca transparan tanpa pintu.


"Selamat siang", sapa Christy.


"Siang nona", jawab dua orang yang semula duduk menjadi berdiri karena melihat istri atasannya datang berkunjung.


"Apakah tuan Jeno ada?"


"Ada nona, silahkan masuk saja", ucap salah satu pria bernamakan Belgar.


"Terima kasih, lanjutkan pekerjaan kalian".


Christy pun berjalan masuk ke ruangan suaminya, sebelum masuk ia menyempatkan diri untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok... tok...


"Masuk", jawab Jeno.


Ceklek...


Disaat Christy membuka pintu, terlihat Jeno duduk di kursi kebesaran tengah disibukkan oleh berkas-berkas bernilai triliunan.

__ADS_1


Kini penampilannya benar-benar 180 derajat. Jasnya sudah tergantung di gantungan pakaian, rambut acak-acakan, 2 kancing kemeja sudah terlepas, dasi yang hanya tergantung di leher, kain lengan tergulung sampai siku, dan jangan lupakan kacamata yang bertengger dihidungnya. Sungguh, penampilan Jeno saat ini bisa membuat seluruh wanita terjatuh dalam pesonanya.


__ADS_2