Ardelia Christy

Ardelia Christy
Tinggal


__ADS_3

Kini Alkan tengah tertidur di gendongan Jeno karena lelah sehabis bermain.


"Eh, Alkan tidur?", tanya Christy.


"Hooh", jawab Jeno.


"Tidurin di kamar gw aja, trus langsung ke ruang kerja gw", ucap Christy.


"Woke", jawab Jeno.


Jeno pun membawa Alkan ke kamar Christy, ia pun membaringkan Alkan di kasur milik Christy, setlah itu ia keluar dari kamar dan menuju ruang kerja Christy.


Ceklek


"Gimana?", tanya Christy.


"Nih data datanya", ucap Jeno sambil memberikan beberapa berkas.


"Nama Alkan usia 4 tahun, orang tuanya meninggal saat umurnya 1 tahun karena kecelakaan, kakeknya baru saja tiada karena penyakit jantung, dia tidak memiliki saudara lainnya", ucap Jeno.


"Hmm, dia benar benar kesepian", ucap Christy.


"Iya, gw kasian liatnya, baru umur 4 tahun udah ditinggal keluarganya", ucap Jeno.


"Bukanya dia punya tempat tinggl ya?", tanya Christy.


"Iya, tapi udah dijual buat bayar hutang kemarin", ucap Jeno.


"Lu kenapa, kok kayak ada masalah gitu?", tanya Jeno.


"Ngga gw ngga kenapa kenapa", ucap Christy.


Jeno pun menghela nafas dengan kasar.

__ADS_1


"Aku tau kamu ada masalah, jangan mencoba menutupinya", ucap Jeno.


Christy yang mengetahui cara bicara Jeno berubah, langsung mengendus kesal. Ia tau pria yang dihadapannya ini sedang serius.


"Huh, menyebalkan", ucap Christy.


"Ck, kamu ingin memberitahunya sendiri atau aku yabg mencari tahu sendiri", ucap Jeno


"Yayaya", jawab Christy.


"Dia kembali", ucap Christy.


"Siapa?", tanya Jeno.


"Davian", ucap Christy.


"Wae(apa)? Jinja(benarkah)??", ucap Jeno terkejut.


"Dimana dia menemukanmu?", tanya Jeno.


"Apa dia tau kalau kamu Christy", ucap Jeno.


"Tidak, hanya saja dia yakin kalau aku Christy", ucap Christy.


"Dia bilang, dia yakin kalau aku Christy dan dia akan membuktikannya sendiri", sambung Christy.


"Huh, biarkan saja dia mencari buktinya sendiri, kamu tenang saja aku akan menanganinya", ucap Jeno.


"Jangan terlalu memikirkannya, kamu sekarang memiliki Alkan, jadi jangan membuatnya kecewa padamu", ucap Jeno.


"Hmm, kau benar", ucap Christy.


"Terima kasih", ucap Christy.

__ADS_1


"Untuk apa?", tanya Jeno.


"Untuk semuanya", ucap Christy.


"Jangan berterima kasih padaku, aku sudah menganggapmu adikku sendiri", ucap Jeno sambil memeluk Christy.


Ia tau sekarang Christy membutuhkan sandaran. Christy pun menerima pelukan Jeno.


"Oh ya Jeno", ucap Christy.


"Ada apa?", tanya Jeno yang masih enggan melepas pelukan adiknya itu.


"Bisa kah kau membuat kamar disebelah kamarku untuk Alkan?", tanya Christy.


"Hahaha, kamu tenang saja besok aku akan membuatkan kamar dan melengkapinya dengan barang barang untuk Alkan", ucap Jeno sembari melepaakan pelukannya.


"Ya sudah aku akan kembali ke apartemenku", ucap Jeno.


"Tinggalah disini Alkan pasti senang, dari dari pada kau di apartemen hanya memakan mie instan", ucap Christy.


Memang benar Jeno setiap hari memakan mie instan saat diapartemenya. Bahkan Christy saja bingung kenapa usus pria itu sangat kuat karena setiap hari ia terus terusan memakan mie instan.


"Ayolah, mie instan lebih enak segalanya", ucap Jeno.


"Oh jadi masakanku tidak enak, awas saja kau datang datang memintaku membuatkan kimci", ucap Christy sembari mengulurkan kepalan tangannya.


"Eh, maksudku mie instan lebih enak segalanya kecuali kimci buatanmu", ucap Jeno sambil tersenyum.


"Terserah, tinggalah disini", ucap Christy.


"Baiklah, aku akan menyuruh orang mengambil pakaianku", ucap Jeno.


"Tidak perlu, aku akan membelikannya untukmu", ucap Christy.

__ADS_1


"Yayaya terserah padamu saja"; ucap Jeno.


__ADS_2