
"ADA PENYERANGAN!". Teriak salah satu pengawal.
Semua pengawal yang bertugas langsung bergegas mengamankan tamu undangan menuju tempat yang aman.
"Christy", ucap Jeno yang tak tenang sembari matanya menelusuri ribuan orang yang berlalu lalang.
"Dad, mommy", ucap Alkan pada Jeno.
"Boy, ajak yang lain untuk pergi, daddy akan mencari mommy", ucap Jeno.
"Aku ikut", ucap Axel sembari menatap intens ke arah Jeno.
"Kami juga", ucap Alex dan Regan.
"Tidak, kalian jaga yang lain biar aku saja yang mencarinya".
"Tap..."
Belum selesai Regan bicara, Jeno langsung pergi mencari Christy.
Sementara itu, Christy yang mendengar kabar bahwa ada penyerangan ia langsung bergegas merobek gaun yang ia pakai dan langsung mengambil sebuah pistol di balik gaunnya.
"LINDUNGI TAMU UNDANGAN", teriak Christy.
Christy langsung mengamankan berkas yang ia tanda tangani tadi di dalam gaunnya.
Dor...
Pyar...
"Akhh"
Suara tembakan terdengan kembali tetapi kali ini di iringi dengan suara jeritan seseorang.
"Sniper", ucap Christy lirih.
"Selidiki Sniper yang menembak", ucap Christy sembari menekan ear minitor di telinganya.
"Baik".
"Christy", panggil Jeno yang tengah berlari ke arahnya.
"Christy, kamu tidak apa apa kan?" ucap Jeno dengan nada khawatir.
Dari arah berlawanan seorang sniper mengarahkan senjatanya membidik kepala Jeno, akan tetapi hal itu di ketahui oleh Christy. Ia pun segera merangkul tubuh Jeno lalu memutarkan tubuhnya dan mereka pun jatuh bersamaan.
Dor...
Pyar...
Tembakan Sniper itu pun mengenai sebuah vas bunga. Setelah adegan penembakan itu Jeno pun mencoba melihat sekeliling untuk memastikan keadaan.
"Tetap waspada, jangan sampai lengah", bisik Christy yang kemudian di anggungkan oleh Jeno.
"Mereka mengincar berkas yang aku tanda tangani tadi, sebagian dari mereka menyamar sebagai bodyguard kita", lanjut Christy.
"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" Tanya Christy sembari mengubah panggilannya.
__ADS_1
"Hmm, aku tahu".
Mereka berdua langsung berlari melumpuhkan musuh.
"Serahkan berkas itu pada kami, atau nyawa mu yang jadi taruhannya", ucap seorang pria paruh baya.
"Oh kau ternyata, terkejut aku", ucap Christy sambil tersenyum sinis.
"Heh, dasar sampah, ambil saja kalau kau bisa", ucap Christy kembali.
Dor...
Tiba-tiba pria itu menembakkan pistolnya ke arah Christy. Tetapi dengan kepekaannya, Christy berhasil menghindar dari peluru itu. Ia pun menembak ke arah pria itu, tetapi sayangnya pria itu berhasil menghindar.
Suara tembakan, pukulan, dan jeritan sudah tak terbendung lagi. Sudah banyak orang yang tergeletak tak bernyawa di atas lantai aula. Terlihat, masih banyak orang yang menyerang satu sama lain. Satu persatu dari merekan oun tumbang.
"Heh pak tua, lihat sekelilingmu. Orangmu sudah banyak yang tumbang, apa kau tak mau menyerah heh?" Ucap Christy sembari mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Heh, tidak ada kata menyerah bagiku. Sebentar lagi kekayaanmu akan berada di tanganku dan sebelum itu aku akan menghabisimu terlebih dahulu".
"Ck..., khayalanmu terlalu tinggi tuan. Baiklah aku akan mewujudkan keinginanmu lagi pula aku juga sudah bosan dengan gaya bermain mu yang itu-itu saja".
"Tapi kau harus membayarnya dengan nyawamu", ucap Christy sembari memberikan smirk. Tanpa aba-aba ia langsung menyerang pria itu, ia memberikan pukulan beberapa kali pada bagian vital hingga musuhnya tumbang dan memuntahkan darah.
"Uhuk..., sialan", ucap pria itu.
Pria itu pun mencoba bangkit dan kembali menyerang, Christy pun menangkis serangannya kemudian melayangkan pukulan di bagian perut hingga pria itu kembali tumbang hingga tak sanggup bangkit lagi.
"Heh, segitu saja kemampuanmu hmm? Ada kata-kata terakhir?" Ucap Christy sembari menodongkan pistolnya ke kepala lawan.
"Ck..., kau ini suka sekali membual. Baiklah, karena aku baik hati, maka aku melepaskanmu".
Pria itu lantas mencoba menyeret tubuhnya menjauh dari Christy.
"Eits..., mau kemana heh? Aku memang akan melepasmu, tapi tidak di sini".
"Melainkan di neraka", ucapnya kembali.
Dor...
Dor...
Dor...
Tiga peluru menembus tubuh lawannya. Christy pun tersenyum senang melihat pemandangan itu, ia pun menantap sekeliling. Sudah banyak yang tumbang dari kubu lawan dan untung saja para tamu undangan juga sudah diamankan oleh bawahannya.
Disaat ia menatap sekeliling, matanya terfokus pada seorang pria yang tengah mengarahkan pistolnya ke arah Jeno dari kejahuan. Terlihat Jeno sedang sibuk melumpuhkan lawannya hingga ia tak memperhatikan sekitar. Dengan cepat Christy berlari ke arah Jeno untuk menghalau peluru yang akan dilepaskan lawan ia pun langsung memasang badan di belakang Jeno.
Dor...
Dor...
Dor...
Dor..
Empat peluru berhasil ditembakkan oleh lawan. Jeno yang berhasil melumpuhkan lawan terkejut mendengar suara tembakan dari belakang tubuhnya, ia pun lantas membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
Dirinya terkejut bukan kepalang saat mengetahui Christy berada di belakangnya sembari menutup matanya dan terlihat dari kejauhan seorang pria mengarahkan pistolnya kearah Christy, sontak matanya pun membulat.
"CHRISTY!!!" Teriknya.
Christy yang tak merasakan rasa sakit lantas membuka matanya dan menyeritkan keningnya. Ia pun membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi.
Seseorang yang ia kenal berhasil menghalau peluru itu dengan tubuhnya.
"Davian!!" ucap Christy.
Ia pun segera menangkap tubuh Davian yang mulai luruh sebelum jatuh ke lantai.
"Davian, Davian.... bangun!!" Christy berusaha membangunkan Davian yang mulai hilang kesadarannya.
"Tangkap Pria itu", perintah Jeno pada bawahannya.
Bawahannya pun langsung mengamankan pria yang telah menembakkan pelurunya ke arah Davian.
"Davian bangun Davian", ucap Christy sembari menepuk nepuk pipi Davian.
"Ma...a..f", ucap Davian terbata-bata.
Tangisan Christy pun pecah.
"Bertahanlah Vian, hiks".
"CEPAT PANGGIL AMBULANS", perintah Jeno.
"Davian, tetap sadarlah", ucap Jeno.
"Ma...af Li...a, ak...aku su...da..h ter...la...lu me...menge...ce...wa...kan...mu".
"Hust, tidak apa hiks, aku mohon bertahanlah".
"Uhuk". Davian terbatuk mengeluarkan darah.
"A...ku su..dah ti...dak ku...a...t la...gi".
"To...long ma...a...f...kan a...ku, a...ku ti...ti...p se...mu...a...nya...". Setelah mengucapkan beberapa kata, tubuh Davuan terkulai lemas.
"VIAN.... BANGUN VIAN...", teriak Christy saat mendapati Davian yang sudah terkulai lemas di pangkuannya.
Melihat itu, Jeno mencoba mengecek denyut nadi dan nafas Davian.
"Bagaimana?" tanya Christy lirih.
Jeno hanya bisa menggeleng kepala pasrah. Mendapati jawaban yang mengecewakan lantas tangisan Christy semakin menjadi.
"No Vian no..., Please bangun Vian please, hiks... hiks...", raung Christy sembari menggoyangkan tubuh Davian yang sudah tak bernyawa lagi.
Melihat kesedihan istrinya, Jeno langsung memeluk Christy.
"Jeno, Vian.... hiks".
"Sst, yang ikhlas ya sayang", ucap Jeno sembari mengelus punggung Christy dan sesekali mengecup kepalanya.
Tak lama beberapa mobil Ambulans dan juga polisi pun datang, petugas langsung mengangkat Davian ke brankar dan membawanya masuk ke Ambulans. Jeno dan Christy pun ikut menemani jasad Davian di dalam Ambulans.
__ADS_1