
Dengan pasti Davian pun menyuapi Christy. Sambil menyuapi Christy ia pun menatap Christy sendu, dihatinya ia merasa sakit saat melihat orang yang dicintainya menderita. Apalagi penampilan Christy yang tidak bisa dikatakan baik ini menambah rasa sakit itu. Ia benar benar tak tega melihat keadaan Christy yang seperti ini. Wajah yang pusat dan lesu, mata yang membengkak, dan rambut yang acak acakan.
Sedikit demi sedikit makanan Christy pun mulai berkurang, setelah memastikan makanan Christy benar benar habis, Davian pun mengambil segelas air dan beberapa pil obat lalu memberikannya kepada Christy. Christy langsung meminum obat pemberian Davian.
Setelah meminum obatnya, Christy pun kembali memberikan gelas kosong kepada Davian dan Davian menerima gelas itu lalu menaruhnya kembali.
Tanpa basa basi, Davin langsung menggendong Christy, Christy yang sedang duduk pun terkejut bukan main.
"Turunkan aku", ucap Christy.
Tetapi Davian tidak mendengarkan ucapan Christy, ia pun berjalan menuju brankar kosong yang sudah disediakan untuk tempat tidur Christy lalu membaringkan Christy diatasnya.
"Aku tidak", ucap Christy yang terputus.
"Tidur atau kita pulang sekarang, aku tau kamu belum tidur semalam", ucap Davian sembari menyelimuti Christy.
Selalu saja mengancam begitu, tidak pernah berubah, batin Christy.
"Jangan menggerutu, cepat tidur", ucap Davian yang sedang duduk sambil membaca koran dan seakan tau apa yang ada dipikiran Christy.
Dengan terpaksa Christy pun memejamkan matanya, tak lama ia pun terlelap. Davian yang mengetahui Christy sudah terlelap langsung menutup koran yang ia baca.
"Ko, ambilin laptop di sebelah lu", ucap Davian kepada Diko.
Diko yang sedang asik mabar bersama Angga terpaksa menghentikan permainannya. Diko pun mengambil laptop yang ada disebelahnya dan memberikannya pada Davian.
Setelah memberikan laptop kepada sang pemilik, Diko pun melanjutkan mabarnya bersama Angga, sementara Davian tengah membuka laptopnya dan mengerjakan berkas yang dikirimkan oleh asistennya.
Di lain tempat, Athur, Vano, dan Alkan tengah berada di mansion Christy dan bertepatan pula Samuel, Ardel, David, dan Ratih berada disana.
"Alkan kamu sudah pulang?", tanya David.
"Kakek?", ucap Alkan saat melihat David ada di rumahnya.
"Kakek dan yang lainnya berada disini", ucap Alkan.
"Iya son", jawab Ardel.
"Ayo cepat ganti baju lalu kita makan siang", ucap Ratih.
"Siap Eyang", jawab Alkan.
Alkan pun pergi menuju kamarnya ubtuk berganti pakaian.
"Kalian, makanlah bersama kami", ucap Ardel pada Athur dan Vano.
"Baik nyonya dengan senang hati", jawab Vano.
Tak lama Alkan pun turun dan menghampiri mereka yang berada di ruang makan.
"Ayio kita makan", ucap Samuel.
Mereka pun makan dengan tenang. Setelah selesai makan mereka langsung berkumpul di ruang tengah.
"Bawa barang seperlunya son", ucap Vano pada Alkan.
__ADS_1
"Iya uncle", jawab Alkan sembari menaiki lift.
"Apa kalian akan ke rumah sakit?", tanya Samuel pada Athur.
"Iya Tuan", jawab Athur dengan sopan.
"Kami akan ikut kesana juga", ucap David pada Athur.
Athur pun mengangguk setuju. Tak lama Alkan keluar dari lift sambil membawa sebuat tas ransel di punggungnya. Karena besok adalah hari libur, Alkan berencana untuk menginap di rumah sakit.
"Ayo uncle kita berangkat", ucap Alkan.
"Ayo son", ucap Vanno.
"Opa dan yang lainnya juga ikut?", tanya Alkan pada Samuel.
"Iya son, opa dan yang lainnya juga ikut kerumah sakit", ucap Samuel.
Alkan pun mengangguk paham.
"Paman Reson, kami pergi dulu", ucap Alkan pada Reson.
"Baik Tuan muda", jawab Reson.
Mereka langsung masuk ke mobil masing masing dan mobil mereka pun berjalan keluar area mansion.
---
"Hoam", Christy pun menguap sambil merenggangkan otot ototnya.
Ia langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju toilet untuk membasuh muka. Setelah selesai ia pun keluar dari toilet dan berjalan menuju meja di dekat sofa untuk meminum segelas air.
Christy pun duduk di sofa lalu memakan buah yang ada dimeja sambil melihat kearah Jeno.
Tiba tiba tubuh Jeno mengalami kejang kejnag yang hebat. Karena panik Christy langsung berlari menuju brankar Jeno dan menekan sebuah tombol yang ada disana.
Tak lama seorang dokter dan beberapa suster masuk kedalam ruangan dan langsung melakukan penanganan, Christy pun hanya bisa menunggu di luar sambil menatap khawatir pintu ruangan Jeno.
Air mata membasahi pipi Christy, sungguh jika rasa sakit yang dialami Jeno bisa digantikan, ia rela menjadi penggantinya. Ia rela semua rasa sakit yang dialami orang terkasihnya dipindahkan dalam dirinya, ia benar benar rela.
Tak lama doter yang menangani Jeno pun keluar.
"Dengan keluarga pasien?", tanya Dokter.
Christy pun mengusap air matanya.
"Iya dok, saya", jawab Christy.
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Anda mengenai kondisi pasien", ucap Dokter Rafa.
"Mari keruangan saya", ucap Dokter Rafa.
Christy pun mengikuti dokter Rafa menuju ruangannya.
Ceklek...
__ADS_1
"Silahkan duduk", ucap Dokter Rafa.
Christy pun masuk kedalam ruangan dokter itu dan duduk dikursi yang sudah tersedia.
"Bagaimana dok keadaannya?", tanya Crhristy.
"Begini, untuk saat ini pasien sudah melewati masa kritisnya dan untuk luka yang disebabkan oleh kecelakan tidak mengalami komplikasi", ucap Doktet Rafa.
"Luka yang ada dikepalanya pun sudah membaik, begitu pun dengan patah tulang yang dialami pasien, hanya saja...", ucap Dokter Rafa yang terputus.
"Ada apa dok?", tanya Christy.
"Begini, pasien hanya memiliki satu ginjal", ucap Dokter Rafa.
"Apa!", ucap Christy yang tak percaya.
Ya tuhan, apa lagi cobaan yang engkau berikan kepadanya, batin Christy.
"Jadi selama ini Jeno hanya hidup dengan satu ginjal dok?", tanya Christy untuk mendapatkan kepastian.
"Iya begitulah", jawab Dokter Rafa.
"Tetapi ginjal pasien mengalami komplikasi dan harus segera mencari pendonor ginjal yang pas untuk pasien secepatnya", ucap Dokter Rafa.
"Dok, apa ada pendonor yabg cocok dengannya?", tanya Christy.
"Kami belum mempunyai pendonor ginjal yang pas untuk pasien", ucap Dokter Rafa dengan penuh penyesalan.
Astaga apa lagi ini tuhan, batin Christy.
"Dok, saya mohon lakukan yang terbaik untuknya dok, untuk masalah pendonor ginjal saya akan mencarinya berapa pun biayanya saya tidak peduli dok", ucap Christy.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien", ucap Dokter Rafa.
"Terima kasih dok", ucap Christy.
Christy pun keluar dari ruangan Dokter Rafa dan berjalan kembali menuju ruangan Jeno di rawat.
Saat mendekati ruangan Jeno, dari arah berlawanan Davian, Athur, Vano, Diko, Angga, Samuel, Ardel, David, Ratih dan juga Alkan berjalan ke arahnya.
"Sayang, kamu habis dari mana?", tanya Ardel sembari tersenyum.
"Aku habis dari ruangan Dokter Rafa mom, dia bilang Jeno sudah sadar", ucap Christy.
Semua orang pun bahagia mendengar ucapan Christy. Christy pun semakin tak tega mengungkapkan apa yang sebenarnya dialami Jeno.
"Lalu bagaimana keadaannya?, apakah ada komplikasi?", tanya Ratih.
"Emm, kata Dokter Rafa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi ma", ucap Christy sembari memaksakan diri untuk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu ayo kita masuk, mommy dan mama sudah membuatkan kalian masakan yang enak lho", ucap Ardel.
Mereka pun masuk keadalam ruangan Jeno.
"Ayo sayang masuk", panggil Ratih dari dalam ruangan saat mihat Christy yang terdiam di depan pintu.
__ADS_1
"Ah iya ma", Christy pun masuk kedalam ruangan sembari menutup pintu.