
Luna, Dara dan Maya sedang menuju kelas setelah dari kantin di jam istirahat. Mereka mengobrolkan acara akhir pekan yang akan mengadakan liburan ke villa milik Luna di Bogor.
"Pasti seru, apa lo ikut May " tanya Luna pada Maya yang sedari tadi cuek.
"Gimana ya, ntar gue kalian cueki. Dara berdua sama Lucas, lha lo kan juga sama Alex. Gue di sana cuma jadi obat nnyamuk kalian. Ogah deh." ketus Maya.
"Kan ada ortu gue juga May." Kata Luna yang merangkul sahabatnya itu.
"Ah males ah..."
"Ada kak Kai juga lho. Tapi dia nyusul.Nggak berangkat bareng kita." Kata Luna lagi sambil menaik turunkan alisnya.
"Beneran?"
" Ya kali gue bohong sama lo."
Luna menghentikan langkahnya saat melihat Arion sedang duduk bersandar di bawah pohon bersama beberapa orang temannya.
"Gue pergi dulu gaess." Luna berlari mendekati Arion tanpa menghiraukan panggilan sahabatnya.
Arion langsung duduk di samping Arion tanpa memperdulikan tatapan temen-temen yang ada di sekitar Arion
"Hai Arion." sapa Luna kepada Arion yang sedang bersandar dibatang pohon. Yang rindang itu.
Arion hanya melirik sekilas lalu melemparkan pandangannya lagi ke depan.
"Nih, buat lo." Luna menyodorkan sebotal air mineral yang dia bawa kepad Arion.
Lagi Arion hanya melirik sesaat apa yang diberikan Luna kepadanya. Namun ia tak ada keinginan untuk menyambut minuman dari Luna.
"Nggak usah makasih." kata Arion dingin lalu membuang pandangannya ke samping.
"Gue beliin ini buat lo, Arrrr..terima dong. Lo pasti haus." Luna sedikit memaksa, namun Arion tetep acuh.
Sontak suara riuh dari teman-teman Arion mengganggu pendengaran Luna.
"Widih baru pertama kali gue liat anak konglomerat sekelas Luna ditolak cowok.'
"Hahahahaha......" suara tawa bernada ledekan itu pun di tujukan kepada Luna.
"Udah deh Lun kalo Arion nggak mau mending kasih ke gue. Dari pada di tolak Arion"
Luna menelan salivanya kasar karena, dia merasakan malu saat ini.Tapi dia tetap bersikap biasa aja, menyembunyikan rasa malunya dari semua orang. Dia lalu membuka tutup botol minumannya dan menyodorkannya ke Arion.
Arion yang merasa risihpun segera berdiri dari duduknya dan membersihkan bokongnya yang kotor.
"Gue ke kelas dulu ya?"
Arion segera melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari sana,, tapi Luna bersikeras dan kekeh mengejar Arion.
"Arion tunggu." panggil Luna sambil berlari mengejar Arion, ia tak pantang menyerah untuk mendapat perhatian dari Arion.
__ADS_1
Arion menghentikan langkahnya dan menunggu apalagi yang diinginkan Luna.
"Apa..."
"Ini buat lo, " Luna masih kekeh memberikan minuman itu kepada Luna.
Plash
Arion menepis minuman yang diberikan Luna hingga terjatuh ke tanah.
Seketika semua anak yang berjalan dan sedang riuh bercanda langsung terdiam melihat kejadian yang berlangsung beberapa detik itu. Luna sendiri spontan menutup matanya merasakan beberapa tetes air yang mengenai wajahnya.
"Gue bilang gue nggak mau. Lo punya telinga nggak sih.'
Suara dingin Arion menusuk pendengarannya dan menghujam jantungnya.Ia masih menutup matanya, sampai suara langkah kaki Arion pergi meninggalkannya begitu saja. Perlahan Luna membuka matanya, ia memandang botol air minum yang sudah terkapar di tanah dengan pandangan nanar.
Setengah mati Luna menahan rasa di dada nya. Namun tatapannya yang sendu tak biasa menyembunyikan kepedihan di dalam dadanya. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan buruk dari Arion. Ia sudah dipermalukan di depan banyak orang.
Entah mana yang lebih sakit, di acuhkan, di tolak atau dipermalukan. Tapi satu yang Luna tau Arion menjauhi Luna.
Tak lama setelah kepergian Arion, Luna yang akan perginm dsri tempat itupun mendapat cibiran dari anak-anak yang ada di sana. Mereka menertawakan apa yang baru saja terjadi pada Luna. Tak mereka sangka Luna yang dulu sangat pilih-pilih dalam mencari cowok dan sangat membenci Arion, sekarang mengejar Arion da parahnya lagi dia malah ditolak didepan semua siswa.
" Makan tuh kriteria cowok idaman. "
"Makanya jangan sok-sokan nolak yang suka and ngejar-ngejar lo. Cuma karena nggak sesuai krjteria cowok idaman lo. '
" Sekarang gimana rasanya di tolak di depan umum, nona Luna. "
Lucas yang melihat kejadian itupun segera menyusul ke toilet dan segera menarik tangannya saat Luna keluar. Dia membawa Luna ke tempat yang dirasa sepi.
"Udah gue bilang stop ngejar Arion. Jangan pernah ngerendahin harga diri lo demi cowok. Lo itu cewek nggak sepantesnya ngejar cowok, apalagi cowok itu Arion. Cowok yang sudah lo benci selama ini, cowok yang nggak papa sukai. Jangan diterusin, gue nggak mau lo sakit hati nantinya. "
Luna langsung berhambur memeluk saudara kembarnya dan akhirnya meledaklah tangisnya disana. Dia nggak tau, kalau saudara kembarnya yang cuek begitu mengkhawatirkannya.
*
Malam Harinya di kediaman Luna, yang sedang asik ngobrol dengan Lucas dan kedua orang tuanya, dikejutkan dengan kedatangan Leo yang tiba-tiba nyelonong masuk di rumah besar itu.
"Malam Om, tante. " Sapanya dengan cengiran khas Leo.
"Ada apa? tumben malam-malam datang kemari. " tanya Ghavin sambil memandangi Leo. "
"Om boleh saya ngajak Luna pergi, buat nemeni cari kado ulang tahun buat mama. Soalnya saya kan cowok, jadi nggak ngerti selera cewek. " pinta Leo masih dengan cengiran nya.
Ghavin menarik alisnya ke atas, " Ya udah, pergi sana. Jangan malam-malam pulangnya. "
Luna yang mendapat persetujuan dari papanya pun segera beranjak dari duduknya. Dia segera mengambil tas dan beberapa barang yang ia perlukan. Lalu segera turun dan menemui Leo.
Mereka berdua segera pergi setelah berpamitan kepada kedua orang tua Luna.
Leo membelokkan motornya ke sebuah kafe bukan ke sebuah mall untuk mencari hadiah buat mamanya Leo.
__ADS_1
"Lho kok kesini? katanya mau nyari hadiah buat mama lo. "
"Nggak itu cuma alasan aja buat ngajak lk keluar malam ini. "
Luna mengernyitkan kening mendengar ucapan Leo. Leo segera menarik tangan Luna masuk ke dalam Kafe dan mencari tempat duduk yang nyaman buat mereka berdua ngobrol. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan memesan beberapa makanan Leo segera membuka obrolannya.
"Sory Lun, gue udah denger kejadian tadi di sekolah. "
Luna menunduk mendengar ucapan Leo. Serasa membuka kembali luka yang udah ditorehkan Arion.
"Arion lagi banyak masalah sepertinya. Gue harap lo bisa ngerti. Mungkin bukan maksud Arion nyakiti hati lo. "
"Kenapa lo yang minta maaf, bukan dia. "
"Gue pengen ketemu dia, tapi gue dan temen-temen nggak ada yang tau dimana Arion tinggal sekarang. Arion sekarang nggak seperti Arion yang dulu. Kami semua bisa merasakan perbedaannya, nggak cuma lo. '
Luna menghapus air mata yang tanpa sengaja meluncur di pipinya.
"Kita berdua tau masalah Arion jika itu menyangkut adiknya. Tapi sepertinya, tidak hanya adik Arion yang jadi masalah. Ada masalah yang lebih berat lagi yang di alami Arion. " kata Leo lagi.
Luna memandang Leo dengan intens.
"Apa? apa lo tau masalah Arion selain adiknya? " tanya Luna penasaran.
Leo menggeleng dengan putus asa. "Kita semua nggak tau apa masalah Arion yang sebenarnya, Lun. "
Keadaan menjadi hening sesaat, sebelum Leo membuka mulutnya lagi.
"Hubungan lo sama Alex gimana? "
"Baik-baik aja. Tapi sikap Alex ke gue nggak seperti dulu. Dia dulu perhatian banget sama gue, tapi sekarang udah nggak begitu lagi. Kita juga jarang jalan bareng. "
"Jadi lo, mau ngejar Arion sebagai pelampiasan lo gitu.?" dengus Leo dengan sedikit kesal.
"Nggak gitu, le... Gue pengen Arion bersikap hangat seperti dulu ke gue, nggak cuek seperti sekarang. " ujar Luna sambil menunduk dan memilin bajunya.
"Haaahhh... Ya gitu itu lun, cowok. Seperti contohnya cowok lo Alex. ini menurut pendapat gue ya. Cowok itu biasanya suka bersikal manis di awal untuk menarik perhatian cewek. Lha pas dapet lanjut, tapi udah nggak dapet gregetnya atau bosen ya di tinggal pergi. " Leo menjelaskan kepada Luna hakikat seorang cowok.
"Jahat banget. " gerutu Luna.
Leo hanya menggedikkan bahunya dan menyeruput minuman yang ada di depannya.
"Ya emang gitu. Rasanya tertantang aja buat ngejar cewek pas di awal hubungan. Pas udah jadian tinggal ngerasain sisanya aja. Apalagi ceweknya gampang di rayu. Makin gampang dapetin makin cepet kita bosen dan berpaling ke lain hati. "
Luna menegakkan tubuhnya dari duduknya dsn memandang tajam ke arah Leo.
"Enak banget, habis manis sepah dibuang. Main tinggal aja, main selingkuh aja. Sakit tau. "
Leo mengangguk setuju dengan pendapat Luna.
"Makanya jadi cewek jangan mudah di rayu. Cari cowok yang mau berjuang, sebelum dan sesudah jadian. Semoga Alex nggak seperti itu ya Lun. " Kata Leo sedikit mengejek, membuat Luna mencebikkan bibirnya.
__ADS_1